
SHIRO'S POV
Pesta kemarin berjalan cukup baik juga, tetapi terdapat sedikit perkalihan tentangku dengan dewa sableng yang bernama Alvin itu atau ayah mertuaku...! Terkadang pesta kedatangan musim dingin itu akan diakhiri dengan sebuah kotak hadiah.
Kemarin aku mendapatkan beberapa hadiah yang banyak. Ketiga anak-anakku memberikan aku beberapa buku sejarah dan juga foto keluarga dimana aku sedang bersama anak-anakku dan juga istriku Homura, itu sekitar beberapa bulan yang lalu ketika aku berhasil mengalahkan Rionald.
Homura hanya memberiku sebuah ciuman, tetapi menurutku hadiah itu sudah cukup. Alvin dan Korrina memberikanku hadiah yang sangat besar seperti memberikanku dan Homura sebuah baju petarung khas Legenda atau baju petarung yang hanya pantas untuk di pakai oleh seorang Legenda, baju itu bernama <>, baju yang hampir sama seperti kimono atau yukata tetapi kita Legenda bisa bertarung dengan mudah di baju kisetsu itu.
Alvin dan juga Korrina telah mengetahui tentang diriku yang telah berhasil mengalahkan Rionald dan menghancurkan para Elemental Saints. Mereka juga mengetahui bahwa diriku ini sedang di ancam dan dibenci oleh Legenda Legenia, mereka berdua sama sekali tidak kecewa terhadap diriku tetapi mereka hanya mengatakan sesuatu tentang keadilan, mereka mengatakan sesuatu tentang diriku bahwa aku hanya lebih layak untuk memilih sisi yang sebanarnya aku pilih karena diriku ini adalah seorang ras Eternal, aku tidak memiliki perasaan dan emosi melainkan kemarahan juga kekesalan.
Alvin juga memperingatiku untuk memberitahu Virra bahwa Elemental Saints telah resmi punah karena perbuatan Rionald, aku sudah memberitahunya sejak dulu ketika 5 hari setelah aku mengalahkan Rionald. Virra sejak itu merasa sangat terkejut juga menangis histeris karena murid-muridnya telah mati begitu saja tanpa membuat sebuah sejarah baru melainkan diriku sendiri, ia terus menangis dan menangis hingga aku hanya bisa diam melihatnya menangis selagi berlutut di atas lantai.
Virra tidak sendirian sejak itu, ia sedang bersama Rianna, seorang guru juga tetapi dia mengajar di akademi Sillentesius. Rianna merasa cukup sedih melihat adik kecilnya menangis seperti itu, ia menatapku dan memberiku sebuah hadiah atas kerja kerasku untuk mengalahkan Rionald. Dia menatap lengan kiriku yang sudah tidak berfungsi lagi lalu ia memberikan diriku sebuah hadiah tangan palsu untuk lengan kiriku yang sudah tidak berfungsi.
Hari itu adalah hari dimana aku merasa cukup bersalah karena telah membunuh Saint-Saint itu, Virra bilang bahwa mereka ini sama seperti saudara melainkan rekan dan teman. Beberapa bulan sudah terlewati dan aku sama sekali belum bertemu dengan Virra lagi, bahkan di pesta perayaan juga dia tidak datang.
Delapan hari setelah pesta perayaan itu, Homura sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang berada di perutnya karena sepertinya bayi baru kita akan sebentar lagi lahir, ia sekarang sedang berada di kamarku selagi berbaring di atas kasur yang empuk. Dua hari telah terlewati dan Homura terus menerus berteriak kesakitan hingga aku hanya bisa menjaganya dan tidak bisa tidur dua hari yang lalu ini.
NORMAL'S POV
Hari ini Homura mulai terdengar cukup tenang, ia masih berbaring di atas kasur dan tidak bisa pergi kemana-mana bahkan ia juga sudah tidak bisa berdiri lagi karena seluruh tubuhnya mulai terasa sangat lemas. Shiro selalu menawarinya untuk makan tetapi Homura menolaknya karena semua itu akan percuma karena jika ia makan maka ia akan memuntahkan apa yang ia makan.
Sekarang Homura hanya bisa diam duduk di atas kasur selagi menyenderkan punggungnya dengan bantal yang sangat empuk selagi menatap jendela luar sedangkan Shiro, ia sedang duduk di atas kursi selagi menjaga Homura. "... ..." Shiro menjaganya selagi membaca buku.
"Sudah satu minggu lebihnya dan tubuhku mulai semakin melemah, Shiro... Sepertinya bayi baru kita masih merasa nyaman di dalam perutku. Nenek Korrina mengatakan sesuatu bahwa seorang legenda bayi yang masih berada di dalam perut seorang ibu selama 9 bulan lebihnya maka bayi itu akan memiliki potensi yang sangat besar. Bukannya itu bagus...? Kita bisa memiliki keluarga besar yang sangat kuat..." Ucap Homura yang terdengar nadanya seperti kelelahan, ia tersenyum sedikit dan membuat Shiro berhenti membaca bukunya lalu ia menatap wajah Homura yang terlihat tenang.
"Aku tidak peduli dengan bayi kita yang memiliki potensi besar, aku hanya ingin kau dan anakku sehat, Homura. Itulah yang sangat aku inginkan...!" Jawab Shiro dengan wajah yang sangat serius.
"Kita ini bisa apa, Shiro...? Aku tidak bisa melahirkan anak kita secara paksa... Itu berbahaya..." Homura menatap wajah Shiro yang terlihat seperti khawatir, ini pertama kalinya bagi Homura untuk melihat eksperesi Shiro yang berbeda. Wajah Shiro terlihat seperti kelelahan karena ia dua hari belum tidur dan terdapat kantung mata di kedua matanya.
Homura tersenyum lebar seperti menahan rasa kesakitan yang dahsyat di dalam perutnya. "Saat ini, hatiku dipenuhi dengan rasa syukur... Terima kasih telah menjagaku dan selalu berada di sampingku, Shiro."
Shiro hanya bisa menatap wajah Homura dan tidak bisa mengatakan satupun kata dari mulutnya. "... ..."
Homura tersenyum lalu ia mencoba untuk meraba pipi kanan Shiro dengan menggunakan lengan kanannya, Shiro mulai mendekat hingga tangan kanan Homura bisa meraba pipi kanan Shiro yang terasa hangat baginya. "Bisakah...? Kamu tersenyum, Shiro...?" Tanya Homura.
Shiro mengangguk dan mengabulkan permintaan Homura dengan tersenyum layaknya seperti seseorang yang normal. Melihat senyuman itu membuat Homura mengingat tentang Shira, seorang Saint yang pernah ia cintai dan sekarang telah menjadi sosok yang sangat ia lebih cintai yaitu Shiro karena mereka berdua ini sama tetapi memiliki sikap yang berbeda.
"Melihat senyuman itu membuatku bersemangat... Meskipun takut, aku akan tetap berjuang untuk melahirkan anak kita...!" Homura tersenyum.
"Serahkan saja padaku, kau hanya perlu beristirahat dan tidur... Kabulkanlah permintaan terakhirku, Shiro... Ini yang terakhir, aku janji." Homura dan Shiro langsung melakukan janji kelingking hingga membuat Shiro menunjukkan wajah yang terkejut, ia perlahan mendekat lalu mereka mulai berciuman di bibir.
Dengan semua itu terjadi, di malam hari Shiro tidak bisa menahan rasa ingin tidurnya hingga tak lama kemudian jatuh tertidur di atas kasur, kepalanya terletak di atas kasur milik Homura dan itu membuatnya senang bahwa Shiro akhirnya bisa beristirahat. "Sebentar lagi hari ulang tahun pernikahan kita ya... Sungguh cepatnya..." Ucap Homura, Mortem sekarang sedang mendapinginya.
"Homura... Energi-mu... Apa yang terjadi...?" Tanya Mortem.
__ADS_1
"Entahlah, Mama... Aku mulai merasa melemah... Anakku mulai menyerap seluruh tenaga dan energi sihirku tanpa henti, ia terus menghisapnya tanpa memberiku sedikit istirahat..." Jawab Homura dengan wajah yang sangat serius.
"Begitu ya...? Kau berencana... Untuk menamakan anak barumu itu siapa?" Tanya Mortem dengan nada yang terdengar sedih karena itu artinya bahwa Homura memiliki peluang kecil untuk selamat dalam melahirkan seorang Legenda kecil yang memiliki potensi besar.
"Hehe... Aku dan Shiro sudah menamainya, dia bernama Arisu karena dia adalah seorang gadis kata nenek Korrina, Mama. Nadamu... Apakah aku baru saja mendengar nada kesedihan...?" Tanya Homura.
"Tidak... Aku hanya... Mama hanya... Khawatir... Mama takut kau tidak bisa selamat dalam melahirkan anakmu..." Jawab Mortem dengan wajah yang sangat khawatir.
"Jangan mengkhawatirkan diriku, Mama. Seorang Legenda tidak akan menyerah terhadap apapun... Aku pasti akan selamat, jika tidak... Aku memiliki permintaan terakhir untukmu, Mama..." Ucap Homura dengan wajah yang khawatir, ia tiba-tiba mengambil sebuah buku catatan yang ia sembunyikan di dalam selimut lalu ia memberikan buku itu kepada Mortem.
Mortem mengambilnya lalu menatapnya. "Apa itu...?"
"Mama, berjanjilah bahwa kau tidak akan membuka dan membaca itu ketika aku masih hidup... Dan juga, kau janji untuk tidak memberikan buku itu kepada Shiro ketika aku masih hidup..."
"Mama janji, selalu...!" Ucap Mortem dengan wajah yang sangat serius, tiba-tiba Homura mulai berbaring di atas kasur dengan wajah yang lelah. Mortem mulai mengusap perutnya yang sangat besar lalu mengatakan sesuatu dengan nada yang menyesal dan sedih. "Maafkan, Mama... Maafkan semua dosa yang kuperbuat terhadapmu..."
"Tidak apa-apa... Aku akan selalu memaafkan, Mama." Homura tersenyum untuk terakhir kalinya.
***
Hari kemarin telah berlalu, sekarang pukul sebelas siang dimana Shiro masih tertidur dan mendengar suara tangisan seorang anak yang terdengar seperti suara Eclipse. Shiro perlahan membuka kedua matanya lalu ia tiba-tiba melihat Alvin, Korrina, Mortem, Methode, Syna, dan Eclipse sedang berada di kamarnya.
"Sebagai ibunya... Aku turut berduka cita, Shiro... Istrimu sudah tiada, dia telah meninggal karena melahirkan seorang anak putri yang sehat... Maafkan aku, Shiro..." Ucap Mortem dengan wajah yang suram karena ia telah kehilangan putrinya.
Mendengar perkataan Mortem membuat kedua mata Shiro langsung terbuka lebar dan membulat. Pandangan Shiro mulai menjadi dingin, seluruh tubuhnya langsung terasa lemas hingga detakan jantungnya mulai berdetak dengan sangat cepat, ia tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan sedikit katapun. "... ...!"
Shiro mulai menatap Homura dengan wajah yang kosong, ia tidak bisa menunjukkan wajah sedih melainkan kekosongan dan datar. Ia perlahan mulai meraba leher Homura dan ia sama sekali tidak bisa merasakan detak nadi dari lehernya, ia terus mencoba cara lain untuk mencari tahu bahwa Homura ini benar-benar tidak selamat. "Ti-Tidak mungkin...!!! T-Tidak...!" Jawab Shiro dengan wajah yang kesal.
Alvin dan yang lainnya hanya bisa melihat Shiro yang mencoba untuk menggunakan sihir penyembuhan kepada Homura, tetapi semua perbuatan Shiro itu tidak berguna karena tidak ada siapapun yang bisa menyalamatkan seseorang dari kematian. Bayi yang Homura lahirkan sekarang sedang di gendong oleh Korrina, Shiro hanya memperdulikan untuk mencoba membuat Homura bangun melainkan menggendong putrinya yang baru lahir.
Waktu itu adalah waktu yang buruk bagi keluarga Shiratori dan Ghifari, mereka mulai merasa waktu seperti bergerak sangat lambat.
Homura akan di kubur besok pagi setelah selesai upacara pemakaman. Di keesokan harinya, cuacanya mulai memburuk karena salju yang mulai berturunan seperti hujan.
Di dalam ruangan upacara pemakaman. Raja dari Legendarius yang bernama Akagi Souzaru mulai memberikan pidato sebelum memulai upacara pemakaman. "Hari ini kami menyatakan belasungkawa kami, pada saat ini, kami mengucapkan selamat tinggal pada legenda kami dengan penyesalan yang paling dalam."
"Shiratori Homura adalah seseorang yang dilahirkan dengan bakat besar, pikiran yang kuat, dan karakter yang berlimpah. Dengan ini, dia menjalankan peran penting sebagai legenda yang layak."
"Kecemerlangan layanannya akan tetap bersama kami selamanya, semoga dia menemukan kedamaian di dunia lain dan terus membimbing dan melindungi kita." Shiro sedang duduk di atas kursi dekat dengan peti yang berisi bunga dan di dalamnya juga terdapat Homura yang sedang berbaring.
Shiro melihat semua Legenda yang mengenal Homura mulai menangis dengan sangat terharu bahwa seorang Legenda dengan tekad dan semangat yang kuat meninggal dengan sangat cepat, mereka sungguh tidak menyangkanya bahwa hari ini akan benar-benar terhadi.
Shiro juga sekarang sedang menggendong putri baru-nya, ia menatap putrinya yang sedang tidur dengan tatapan yang kosong. "Ari...su..."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setiap Legenda yang meninggal diwajibkan untuk diberi bunga oleh seseorang yang sangat berharga bagi Legenda yang telah meninggal itu, Shiro sedang memegang bunga yang sangat hangat seperti rabaan tangan Homura dan itu membuatnya sedikit terkejut dan merasa hampa merasakan kehangatan bunga tersebut.
Shiro berjalan menghampiri peti Homura yang dipenuhi dengan bunga-bunga, ia perlahan menatap wajah Homura yang terlihat tenang. "Semoga kamu... Bisa menemukan kesenangan di alam sana... Kedamaian juga..."
Shiro mencoba untuk menepatkan bunga yang ia pegang di atas tubuh Homura, tetapi ia tidak bisa karena ia merasa bahwa tangannya seperti tidak mau menepatkan bunga itu. Ia masih tidak menerima kematian Homura yang sangat tiba-tiba.
Kedua mata Shiro tiba-tiba mulai dipenuhi dengan air mata untuk pertama kalinya, ia langsung menunjukkan wajah kesalnya karena tidak menerima kematian Homura. "... ...!" Tangan yang memegang bunga itu mulai bergetar seperti tidak mau menepatkan bunga itu, Shiro masih ingin Homura untuk tetap hidup bersamanya.
Tiba-tiba tangan Shiro yang memegang bunga tersebut mulai terpegang oleh tangan Alvin, hal itu membuatnya terkejut hingga ia melirik kepada Alvin dan Alvin mulai menunjukkan wajah yang sangat serius. "Dia sudah damai di sana, kau seharusnya menerima kematiannya karena jika tidak maka Homura akan merasa sedih di dunia yang ia tinggali saat ini..." Ucap Alvin.
Shiro mengangguk lalu ia mulai menepatkan bunga yang ia pegang di atas tubuh Homura. Setelah bunga itu terletak di atas tubuhnya, Shiro mengharapkan untuk keajaiban akan muncul dan membuat Homura bangkit hidup, tetapi semua itu terjadi karena takdir sudah mengatakan bahwa Homura sudah mati.
"GRAAAAAGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Eclipse dengan sangat keras, ia mulai bangkit dari kursinya selagi menunjukkan wajah yang kesal terhadap seorang dewa maha kuasa yang tidak bisa melakukan apapun terhadap seseorang yang telah mati.
"JIKA KAU ADALAH DEWA YANG MAHA KUASA KENAPA KAU TIDAK MEMBANTU MAMA-KU...!? KENAPA KAU TIDAK MENCOBA UNTUK MELINDUNGINYA!?" Tanya Eclipse dengan wajah yang sangat kesal hingga air matanya terus berjatuhan. Shiro dan Alvin hanya bisa diam selagi melihat Eclipse yang mencoba untuk melawan Alvin, tetapi ia dihentikan oleh Methode.
"KENAPA HARUS MAMA...!? KENAPA...!?" Methode dan anak-anak Alvin lainnya mulai membawa Eclipse pergi karena siapa tahu sesuatu yang tidak akan diharapkan seseorang akan terjadi di ruangan upacara itu. "JANGAN MEMBAWA MAMA PERGI DARIKU...!!!"
"DEWA SEPERTI APA YANG AKAN MENCOBA SEPERTI INI...!?"
"MAMAAAAAA!!!" Teriak Eclipse dengan sangat keras. Shiro hanya bisa melihat putrinya yang berteriak penuh dengan keputusasaan, padahal dia ini masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang lebih dari Homura.
Shiro mulai menunjukkan wajahnya yang sangat kesal, tetapi ia tidak bisa melampiaskam emosi kesalnya kepada siapapun bahkan Alvin karena ia mengerti bahwa seorang dewa maha kuasa itu memiliki batasan yang wajar seperti tidak bisa menghidupkan orang yang mati.
Beberapa jam kemudian, Alvin, Korrina, dan Shiro berjalan pulang menuju rumah Shiro karena mereka baru saja selesai melihat pemakaman Homura. Shiro berjalan dengan sangat pelan hingga ia terlihat seperti tidak memiliki tujuan apapun untuk hidup lagi.
"Tubuh Legendaku yang asli bernama Shira telah terbunuh olehmu dan versi jahat Eternalku juga terbunuh olehmu, Alvin. Kau mengambil semua yang aku miliki... Takdir juga bahkan bisa memukul perutmu dengan keras... Selvia dan Nytia telah meninggal berjuang, dan juga Homura dalam memperjuangkan melahiri Arisu... Sungguh tidak bisa di prediksi begitu saja..."
"Sebenarnya kenapa kita Legenda harus memiliki takdir yang sangat pedih dan menyakitkan...?" Tanya Shiro.
"Hanya satu alasan yaitu kita adalah pejuang dalam membuat sejarah, aku pernah mengalami takdir yang kah alami, Shiro. Aku tahu itu pedih tetapi kau seharusnya tidak pernah untuk berhenti memperjuangkan sesuatu yang ingin kau dapatkan..."
"Kehilangan adalah resikonya... Dan luka adalah batasannya... Kita semua Legenda pasti akan memiliki sesuatu yang tidak bisa kita prediksi dengan mudah. Aku sudah kehilangan banyak, Shiro. Lebih banyak darimu, semua orang yang aku anggap penting bagiku telah tiada... Itu sudah lama sekali... Aku rusak dan putus asa seperti dirimu." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Homura sudah mempercayaimu sebagai suaminya, Shiro. Dan sekarang kau harus menunjukkan bahwa kau ini layak untuk terus setia terhadap Homura yang sudah tertidur dengan damai... Kau harus terus berjuang dan mencari tujuan yang kau inginkan..." Ucap Korrina dengan wajah yang serius.
Shiro masih belum bisa menangis terharu atau menangis seperti anak kecil, wajahnya masih terlihat sangat kosong dan juga suram. "Ya... Aku akan tetap berjuang, demi Homura..." Ucap Shiro selagi menatap Arisu yang masih tertidur.
"Mulai dari sekarang... Aku ingin menjadikan anak ini sebagai anakku yang terkuat... Anak yang mewarisi ibu dan ayahnya lebih... Aku dan Homura yang digabungkan menjadi anak yang bernama Shiratori Arisu!"
#Tetaplah menjadi pembaca yang setia dalam membaca novel Yuusuatouri
#Aksi dari novel ini sangatlah detail (Author akan berjuang!)
__ADS_1