
Pertarungan yang sangat sengit antara kekuatan Solar Eclipse dan kekuatan dewa maha kuasa dari segala semesta...
Pertarungan yang bisa mengakhiri semua pertarungan dengan sangat cepat... Pertarungan ini berlalu dengan sangat cepat karena... Itu bisa saja menghancurkan seluruh semesta.
Setelah Kakekku membunuh Shiro, ras eternal suamiku... Kehancuran abadi itu tidak akan pernah terjadi lagi karena perbuatan Kakekku. Dan setelah itulah... Damai terus mendatangi Yuusuatouri seperti biasanya dan juga... kakek dan nenek pergi untuk sebuah petualangan lainnnya. Kita semua hidup kembali seperti biasanya lagi. Penuh dengan kedamaian.
"WAAHHHHHHHHHH! WAHHHHHHHHH!!!!" Kelahiran Eclipse telah tiba di genggaman Homura, wajah Homura merasa sangat bersedih dan juga senang melihat bayi putrinya yang ke empat lahir sehat seperti biasanya.
"Sangat imut... Sangat kecil... Sangat suci..." Ucap Homura dengan ia mengelus pipinya.
"Kedua matanya berwarna emas mirip seperti Shiro... Apakah dia ini termasuk anak Shiro juga...?"
"Aku merasa lega bahwa dia lahir sehat... Oh, Eclipse kecilku..."
"Dan aku juga merasa masih sedih bahwa kamu tidak akan bisa bertemu dengan Papa..." Homura meneteskan air matanya dengan sangat banyak dan ia tidak bisa menghentikannya.
Bayi Homura yang baru saja lahir mulai menatap Homura dengan wajah imutnya mungkin ia mencoba untuk menenangkan Homura, "Jangan melihat Mama dengan wajah imut itu..." Homura tersenyum.
"Selamat datang ke dunia Yuusuatouri!" Ucap Homura.
Sejak kelahiran Eclipse. Kedua anak Homura pergi meninggalkan kota Legenia untuk sebuah petualangan dan juga mencoba untuk menenangkan diri mereka karena telah kehilangan Papa mereka.
Syna, Eclipse, dan Homura. Mereka hanya tinggal bertiga di rumah kita yang bisa di sebut dengan rumahku... Kastilku... Para dewa lainnya memiliki urusan mereka sendiri jadi tidak apa-apa. Homura hanya ingin berdoa bahwa Methode dan Nytia bisa selamat di perjalanan mereka.
1 tahun kemudian.
"Langkah pertama sunyi... Langka kedua tak terhingga...!!!" Syna terbang menghampiri pohon yang sangat besar.
"SLASH OF FATE!!!"
SLAAAAAAAASSHHHH!!!
Syna muncul di belakang pohon itu hingga pohon tersebut terbelah menjadi potongan kecil-kecil, "Fuuuhhhh..." Syna melihat katananya dan katana itu adalah pemberian terakhir dari Shira. Syna mendapatkan katana itu ketika ulang tahunnya.
__ADS_1
"Papa... Aku sedang melakukannya... Latihan menjadi seorang legenda layak..." Syna mulai menangis.
"Katana Fate of Despair... Aku pasti akan mengalahkan musuh-musuhku." Syna mulai merasa sangat marah dan kesal, ia terus menghancurkan pohon-pohon itu.
Homura yang sedang menggendong Eclipse melihat Syna berlatih dengan sangat keras. Ia menghancurkan semua pohon-pohon itu menjadi bagian yang tidak bisa Homura lihat, "Syna... Kamu mulai berkembang seperti Papa, ya..."
DAG!!! DAGG!!!
Kedua mata Homura tiba-tiba mulai berganti dan ia langsung melihat sebuah tempat dimana iblis-iblis mati bertebaran seperti debu, tidak ada satupun iblis yang selamat.
Homura sepertinya telah di bawa ke tempat ini dengan sebuah ilusi dari matanya? Ini aneh...
Homura menyadari bahwa Eclipse telah menghilang di genggamannya. "Apa semua ini?" Homura mencoba untuk tidak panik.
Homura berjalan menghampiri barat dimana ia melihat mayat iblis-iblis itu mulai berjumlah semakin banyak, setelah 5 menit Homura berjalan lurus. Tiba-tiba Homura melihat seseorang berdiri di tempat dengan rambut panjangnya yang bergerak karena angin. "Halo...?"
Tiba-tiba Homura menyadari bahwa sosok itu adalah Nytia. "Ahhh...! Nytia!" Homura lari menghampirinya dengan wajah yang senang, "Jangan-jangan... Kamu mengalahkan semua iblis jahat ini ya? Kamu memang hebat seperti Papa."
Tiba-tiba Homura menyadari bahwa Nytia tidak bergerak sama sekali dan bahkan menjawab pujiannya. Nytia hanya berdiri dengan darah-darah yang berjatuhan di tubuhnya.
Homura mulai merasa ketakutan dan memiliki perasaan buruk soal ini. "Nytia... Kamu sudah bekerja keras, mari kita memulihkan dirimu ini." Homura tersenyum.
Homura berhenti di belakangnya dan hal yang ia lihat adalah kedua lengan Nytia telah hilang. Di saat itulah Homura menyadari bahwa Nytia... Putrinya yang ke tiga... Telah meninggalkan Yuusuatouri.
Homura meneteskan air matanya dan ia mulai menangis melihatnya. Pertarungannya yang gegabah dengan seorang diri mengalahkan semua iblis ini... Homura merasa bangga dan juga sedih melihatnya. Bangga karena ia telah berjuang sendiri dan mati sebagai Legenda yang layak untuk di kenang.
Nytia mati dengan tubuh yang masih berdiri... Homura hanya bisa menangis dan tidak bisa melakukan apapun. Sihir pembangkit kehidupan itu tidak nyata, semua itu hanyalah mitos yang dibuat-buat, "Jangan-jangan... Papa membawamu juga ya, Nytia...? Kamu harus pergi meninggalkan Mama dan saudaramu yang lain..."
"Kamu tidak akan berjuang sendiri lagi disana... Disana ada... Papa dan Selvia... Jangan khawatir..."
Homura terjatuh dan mulai berteriak dengan sangat keras, "AHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!! NYTIAAAAAAAAAA!!!"
__ADS_1
***
"Maaf untuk mengganggumu, sayang..." Ucap Homura selagi berkomunikasi dengan Methode, "Tidak apa, Mama. Ada apa...?" Jawab Methode.
"Ini terlalu cepat, tapi... Nytia adikmu telah meninggalkan dunia ini kemarin siang... Dia mati karena bertarung sendirian melawan para iblis jahat.
"Begitu ya... Tidak disangka..."
"Maaf jika ini terlalu mendadak---"
Methode tiba-tiba menghentikan komunikasi itu, Homura langsung terkejut mendengarnya mungkin ia berpikir bahwa Methode sedang merasa bersedih. "Semoga... Semoga... Semoga Methode bisa baik-baik saja..."
Homura mulai menangis lagi dan kehilangan kendali dirinya ini. Homura mulai menghantam meja di depannya dengan sangat pelan. "Ahhh... Ahhhhhhh..."
"Mama... Sebenarnya aku ingin menjadi pahlawan dari dunia ini."
"Hmmm? Pahlawan? Itu terdengar cukup menarik, sayang~"
"Jika kamu ingin menjadi pahlawan... Itu berarti kamu ingin mengorbankan dan menyelamatkan dunia ini dari segala kejahatan ya?"
"Sepertinya begitu~"
Homura terus menangis dan mengingat saat dimana Nytia memiliki tujuan dan mimpi yang sangat besar. "AHHHHHHHHH...!!! AHHHHHHHHHHHHH!!!"
Seluruh ruangan mulai terbakar oleh kemarahannya karena ia lelah selalu kehilangan dengan anggota keluarga. "AHHHHHHHH---"
Tiba-tiba Syna memeluk Homura dengan sangat erat. Api-api Homura mulai menghilang. Homura melirik ke belakang dengan wajah yang terkejut, "Syna..."
Syna menangis selagi memeluknya dengan sangat erat. "Syna... Maafkan Mama, jika kamu melihat Mama seperti ini..."
"Tidak apa-apa... Mama..."
__ADS_1