Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 36 - Surat Nikah


__ADS_3

~~~5 tahun kemudian~~~



5 tahun lebih ini... Duniaku terasa damai dan bahkan tidak ada satupun kejahatan dan kehancuran yang berani datang lagi.



5 tahun ini... Aku hanya bisa beristirahat dengan mengurus rumahku dan bahkan anak-anakku. Sejak 5 tahun penuh itu, aku dan Shira memiliki 2 anak baru dan mereka bernama... Nytia dan Syna.



Akulah yang harus mengurus anak-anakku karena Shira selalu saja pergi jauh untuk sebuah latihan yang berat dan meninggalkanku bersama anak-anak, itu sih tidak apa-apa...



Apa kita sudah menikah? Hah? Belum... Shira belum memiliki cincin pernikahan untuk diriku, dan aku sangat menantikannya agar aku dan Shira bisa benar-benar sah menjadi suami dan istri.



Sekarang, Mamaku menyuruhku untuk bertemu dengan Shira di wilayah Hintei, wilayah tempat yang sangat dingin untuk dikunjungi.



Anak-anak? Mereka akan dijaga oleh Mama, jadi jangan khawatir... Ini hanya akan fokus kepadaku dan juga Shira, suamiku~



***



Homura berhenti di depan rumah yang Shira pesan di wilayah Hintei. "Cih... Dingin sekali... Api-apiku bahkan tidak bisa membuatku hangat" Homura menekan bell rumah itu dengan sangat cepat karena ia merasa sangat kedinginan.



Shira membuka pintu tersebut dengan wajah yang sangat berbeda karena sudah 3 tahun lamanya dia dan Homura tidak bertemu. "Ahh, Homura... Kamu datang---"



Homura lekas memeluknya dengan sangat erat karena ia merasa sangtt merindukan Shira. "Kamu tidak merindukanku ya...?" Shira menepuk punggung Homura.



"Hmm... Tentu saja aku merindukanmu, bodoh! Anak-anak juga merindukanm." Shira memeluk Homura dengan sangat hangat selagi ia berbicara tentang anak-anak mereka. "Bodoh... Kapan-kapan kamu pulang...!"





"M-Maaf... Aku masih sibuk tentang latihan diseluruh wilayah dan sekarang ini aku sedang beristirahat sebentar."



Homura tersenyum dan merasa senang bahwa Shira memang benar-benar bekerja dengan sangat keras hingga ia tidak lupa untuk beristirahat juga. "Ayo masuk, diluar dingin." Shira mengajak Homura masuk ke dalam rumahnya untuk menghangatkan tubuhnya.





Shira dan Homura memasuki rumah milik Shira, lalu Shira menutup pintu rumahnya agar salju-salju tidak bisa masuk. "Wah... Rumah ini sangat bersih." Ucap Homura selagi ia melihat sekitar.



"Hmmm..." Shira menghampiri dapur. "Kamu mau kopi, Homura?" Shira melirik kepada Homura dengan wajah yang sangat menawan baginya.



"Boleh." Homura mengangguk, lalu Shira menyuruh Homura untuk duduk di atas lantai yang terdapat karpet yang sangat hangat.



Beberapa menit kemudian, Shira dan Homura tidak berbicara banyak, kita hanya meminum kopi kita masing-masing karena masih hangat, kopi hangat itu berefek bagus untuk tubuh mereka yang kedinginan.



Tiba-tiba Homura mulai memikirkan sesuatu dimana Homura di berikan surat pernikahan oleh Mortem, Homura mengeluarkan suratnya dari saku celananya lalu ia memberikannya kepada Shira.



"Hmm? Apa ini?" Shira mengambil surat itu dengan wajah yang kebingungan dan penasaran.



"Surat nikah." Jawab Homura dengan ia melanjutkan meminum kopinya.



Homura melihat wajah Shira yang terlihat langsung terkejut dengan sangat kaget, ia seperti melihat suatu hal yang baru. "EHHHHHH!? SURAT NIKAH!?" Teriak Shira dengan sangat keras hingga membuat kedua telingan Homura sakit.





"Kenapa kamu sampai terkejut seperti itu, Shira?"



"Bukankah kau udah berjanji padaku waktu itu? Apa kau siap menikah denganku?"



"Lalu kamu menjawab 'iya' tanpa berpikir panjang..." Ucap Homura dengan sangat kecewa melihat Shira ternyata tidak siap untuk menikah dengan Homura.



"... ...!" Lama-lama itu hanya membuat Homura marah dan juga kesal melihat Shira yang begitu tidak menyadarinya.



"OKE. Kalau begitu kita anggap hal itu tidak pernah terjadi." Homura menghela nafasnya dengan sangat kesal, lalu ia mengambil surat itu kembali dengan wajah kesalnya.



Setelah Homura mengambil surat itu, Shira dengan cepat merampas surat itu dengan wajah yang sangat panik dan serius.



"PERASAAN CINTAKU KEPADAMU TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH SAMA SEKALI. AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU! AKU INGIN MENIKAH DENGANMU!" Teriak Shira dengan wajah yang sangat serius dan siap untuk bertanggung jawab.



"JADI... JIKA AKU SUDAH MENCAPAI MIMPIKU, AKAN KUBERIKAN SEMUANYA KEPADAMU! ENTAH ITU NAMAKU DI SURAT NIKAH MAUPUN SEMUA YANG AKU MILIKI."





"Oh... Tentu..." Homura mulai terlihat tersipu malu sedikit mendengar perkataan Shira, ia juga cukup merasa senang mendengarnya.



Shira berjalan pergi untuk mencari sebuah pena. "Bentar, aku bawa pena dulu.. "



"Iya..."



Beberapa menit kemudian, Shira menatap surat nikah itu dengan sangat terkejut. "W-Wow... Ini terlihat sangat asli. (Sama seperti didunia asli.)"



Shira mengisi surat nikah itu dengan wajah yang serius. Homura merasa sangat senang bahwa Shira memang ingin menikah dengannya.


__ADS_1


"Beres." Shira memberikan surat itu kepada Homura, lalu Homura mengambilnya dan melihat namanya.



"Shiratori Alvin... S-Shiratori H-Homura..." Homura mencoba untuk mengubah namanya menjadi nama marga Shira.



Shira langsung tersipu malu dengan perkataan Homura. "Y-Ya... Shiratori Homura terdengar bagus." Shira terkekeh.



"Yup. Itu nama baruku. Enak di dengar, aku suka itu." Homura tersenyum, Shira langsung merasa tertembak di hati melihat Homura tersenyum dengan sangat imu sekali.



"Hmm." Shira mengangguk.



"Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Karena ini merupakan suatu keputusan yang cukup besar." Homura tersenyum.



"Tapi kau memiliki mata yang bagus, kau tidak pernah berbohong. Dan selain itu aku sangat mempercayaimu, kau sudah benar-benar terpercaya bagiku, Shira." Homura terkekeh.



"Jika kau tidak keberatan bersamaku... Kumohon jagalah aku." Homura menunduk kepada Shira yang telah sah menjadi suaminya.



"Tentu saja." Shira menunduk kembali kepada Homura dengan wajah yang tersenyum.



Homura bangkit dari karpet dengan wajah yang tersenyum. "Ayo, kita ke kantor administrasi untuk memberikan surat nikah ini agar kita bisa sah menjadi suami-istri."



"Ayo." Shira tersenyum.



***



Mereka pulang dari kantor administrasi itu dan mereka benar-benar telah resmi menjadi suami-istri yang berpasangan. Kartu Homura bahkan menunjukan bahwa namanya menjadi "Shiratori Homura."



Mereka berjalan pulang selagi bergandengan tangana. Shira sedang membawa bunga yang berjumlah banyak, itu adalah bunga yang menunjukan bahwa mereka baru saja menikah dan sah menjadi suami istri. "Ternyata mudah ya..."



"Hmm."



"Aku... Adalah istrimu sekarang. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu kemanapun kamu pergi, aku pasti akan ikut denganmu." Homura meniup sebuah api hangat yang berbentuk hati kepada wajah Shira.



"AGH!!!" Jantung Shira tertembak dengan penuh cinta dari Homura, ia juga merasakan kehangatan di wajah yang membuatnya tenang dan rileks. "Ahhhh..."



"Kamu tidak apa-apa?" Homura melihat Shira yang terlihat sangat senang.



Homura terkekeh, lalu ia mulai mendekat dengan Shira, Homura menaruh kepalanya dekat dengan bahu Shira "Hmmm... Hehe..." Homura terkekeh.



"(Apakah ini benar-benar terjadi...?! Dia resmi menjadi istriku!? Gadis yang sangat aku cintai!?)" Shira merasa sangat tidak percaya dengan kejadian ini, Shira langsung memegang bahu kiri Homura dengan tangan kirinya.




"Biarlah... Jomblo ini, ada juga jomblo yang lagi baca ini, dan bahkan author juga jomblo." Shira tertawa dengan terbahak-bahak.



"Hahaha!" Homura mulai tertawa dengan lelucon milik Shira.



Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Shira, itu kecil tetapi cukup sederhana juga. Homura merasa cukup nyaman karena mereka sudah lama tidak berhadapan dengan kejahatan lagi.



Homura melompat menuju kasur milik Shira, lalu ia mulai berbaring di atas kasur yang cukup untuk mereka berdua tidur bersamaan. "Mantap... Kasur ini cukup nyaman."



"Hahaha. (INI SURGA EYYYY!!! TIDUR TERUS BERSAMA ISTRI...!!!)" Ucap Shira yang merasa sangat senang.



"Sayang~ Tidur bareng sini." Homura menawarkan kasur yang ia tiduri kepada Shira dengan wajah yang sangat senang. "Iya, tentu. Tapi kita jangan tidur dulu."





"Hmm?" Homura bangkit dari kasur, lalu ia menatap Shira dengan tatapan yang kebingungan.



"Ganti bajumu jadi piyama dulu." Shira menghela nafasnya karena Homura memakai baju yang sangat hangat, ketika matahari terbit... Homura pasti akan merasakan kepanasan dan berkeringat banyak di pagi hari.



"Oh iya!" Homura langsung menyadari itu.



Beberapa menit kemudian, mereka mengganti baju mereka menjadi baju piyama di ruangan yang sama. Homura bisa menebak wajah Shira yang selalu menatap tubuhnya ini, dia benar-benar mesum.



"Oke. Aku matikan ya lampunya." Shira menekan tombol lampu itu dan lampu kamar tersebut menjadi gelap hingga cukup nyaman untuk tidur.



Homura dan Shira duduk di atas kasur, tiba-tiba Homura mulai merasa terganggu karena ia merepotkan suaminya ini. "Makasih ya untuk hari ini."



"Kenapa?"



"Saat menemaniku... Pasti cukup merepotkan karena kita pindah ke rumah ini untuk sementara."



"Jangan dipikirkan. Itu sangat menyenangkan bagiku."



Homura tersenyum dengan sangat amat bahagia bahwa Shira bahagia juga telah menjadi suaminya. "Oh gitu... Baiklah selamat malam... Suamiku..." Homura tersenyum kepada Shiea, lalu mereka berbaring di atas kasur itu dan mencoba untuk tidur dengan sangat nyenyak.





Beberapa jam kemudian, Shira masih tidak bisa tidur karena jantungnya yang berdebar dengan sangat cepat.

__ADS_1



"(Gila... Istriku yang sangat imut dan kuat ini membuat jantungku berdebar terus... Padahal kita sering tidur bersama di ranjang yang sama, dan bahkan dia itu tidak terkendali di ranjang... Selalu memelukku dengan kedua melonnya yang dapat membunuhku itu.)"



Kebiasaan Homura tidur adalah bergerak dikasur atau tidak mau diam dan juga ia selalu mencuri selimut Shira dan bahkan memeluk wajah Shira hingga Shira sesak nafas karena kedua buahnya.



"Seperti biasanya... Kamu pasti akan cerewet dikasur..."



Homura melepaskan selimutnya dan perutnya mulai terlihat. Shira menyadari hal itu dan ia langsung menghela nafasnya. "Hah... Kau bisa masuk angin loh."



Shira mengambil selimut satunya lagi, lalu ia menepatkannya di seluruh tubuhku.



"Hmmmmm...!!!" Homura mencuri selimut Shira dan membiarkan Shira tidur tanpa sebuah selimut, itulah kebiasaannya ketika Homura tidur.



"Hahhhhh... Dasar..."



Keesokan harinya, Homura terbangun lebih awal karena ia tertidur dengan sangat tenang dan juga nyenyak "Hahhh..." Homura menguap sebentar, lalu ia melirik kepada Shira yang sedang tertidur.



"Sayang... Sayang... Sayang..." Homura mencoba untuk membangunkan Shira. "Hmmm..." Shira membuka kedua matanya, lalu ia menatap wajahnya dengan tatapan yang masih lelah.





"Kok selimutku dua? Kau tidak merasa kedinginan?"



"(Kau yang mencurinya!!!) Tidak apa-apa..."



"Ngomong-ngomong, Homura mau bikin sarapan. Tidurlah sebentar." Homura menghampiri dapur dengan wajah yang tersenyum, Shira berbaring di atas kasurnya lagi lalu ia mulai tidur kembali.



***



Mereka makan bersama sebagai suami-istri di meja yang kecil, tetapi cukup sederhana juga. "Hmm! Makananmu mulai terasa enak, Homura. Ini terasa sangat enak." Shira memakan sup buatan Homura dengan sangat lahap.





"Yah... Sebagai istri yang layak, aku harus bisa memasak!" Homura menunjukan celemeknya yang kotor, Shira mulai terkekeh melihatnya.



"Ahh..." Shira tersenyum dengan sangat bangga bahwa Homura bekerja cukup keras untuk belajar memasak. "Sayang... Ada sesuatu yang menggangguku sejak tadi pagi." Homura menepatkan sumpitnya di atas meja.





"Kamu... Masih memanggilku dengan sebutan 'Homura'?"



"Ahh... Maaf, jadi kamu tidak nyaman ya? Aku seharusnya memanggilmu dengan panggilan suami-istri." Shira mulai berpikir nama panggilan apa untuk Homura.



"Homu!" Shira tersenyum.



Homura langsung tersipu dengan sangat merah mendengar ia memanggil panggilannya sejak Homura masih kecil "Homu." itu bahkan adalah panggilan Eina kepada Homura



"WOI!!! DARIMANA KAMU DAPET PANGGILAN 'HOMU' SEPERTI ITU?!"



"Itu sangat memalukan!!!" Homura mulai merasa sangat malu dan tersipu sangat merah bahwa Shira memanggilnya "Homu."



"Tapi 'kan... Kamu ini kuat dan imut BANGET." Shira tertawa.



Homura merasa malu dan juga kesal. Kekesalan Homura bisa dijadikan sayang di dalam hatinya. "Hmph... Yasudah kalau itu maumu, sayang..."



Beberapa menit kemudian, Homura sedang mencuci piring sedangkan Shira sedang menikmati teh hangat yang Homura buat. "Homu..."





"Ada apa, sayang?"



"Aku mencintaimu..." Shira tersenyum.



"Ahh...!!!" Homura langsung tersipu malu mendengar perkataan Shira hingga asap-asap muncul di seluruh kepala Homura karena ia merasa sangat tersipu mendengarnya.



12:00 PM.



Shira sedang berjalan menghampiri kamarnya lalu ia tiba-tiba melihat barang yang terlihat seperti celana dalam milik Homura. "Loh itu!? Apakah...!?"



Shira mengambil itu dengan sangat cepat dan ternyata yang ia pegang hanyalah ikat rambut Homura. "Dih... Sialan..."



"Hmmmm..." Shira mulai mencium aroma dari ikat rambut itu. Aroma itu terasa sangat wangi dan menyengat kedua lubang hidung Shira dengan kenikmatan.



"Kamu tadi baru saja berpikir bahwa itu adalah celana dalamku ya? Jadi kamu bisa pakai itu buat c*li 'kan!?" Homura mulai tersenyum



"AHHH!!!"



__ADS_1


__ADS_2