Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 148 - Batu Nisan


__ADS_3

Corni mulai membuka kedua matanya lalu ia mulai melihat sekeliling dimana ia sedang berada di dunia dimana ia hanya bisa melihat langit-langit yang berwarna putih bersama awan juga, "... ..." Corni mulai menatap kedua telapak tangannya lalu ia mulai meneteskan beberapa air mata karena sepertinya dia benar-benar berhasil mengalahkan Bamushigaru, "...Aku berhasil."


Corni mulai menangis lalu ia mulai tersenyum karena ia berhasil mengalahkan Bamushigaru, itu artinya kedamaian mulai menyelimuti semesta Touri lagi, "Aku berhasil... Aku benar-benar berhasil..." Corni mulai tersenyum selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bersyukur karena ia benar-benar berhasil, Corni hanya bisa menangis selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang dan bersyukur, "Aku harap mereka semua bisa hidup dengan tenang... Aku hanya bisa melihat mereka dan berharap bahwa kedamaian abadi itu akan benar-benar terjadi."


"... ....!!!" Corni membulatkan kedua matanya ketika kedua penglihatannya mulai beralih ke tempat dimana ia sedang berada di atas tanah yang dilumuri dengan darah, Corni sedang berlutut di tempat itu dengan hujan deras yang mengenai seluruh tubuhnya dan seluruh mayat ras Elf yang berada di sekeliling-nya, "K-Kenapa...!? KENAPA AKU TIDAK BISA BERHENTI MENGINGAT KEJADIAN INI WALAUPUN AKU SUDAH MATI!!!" Teriak Corni keras.


Kedua penglihatan Corni selalu saja membawanya ke tempat yang tidak mau ia kunjungi yaitu medan perang ketika ia bertarung melawan Elf, ia bertarung karena dia disuruh oleh Laikin untuk membasmi semua Elf itu agar mereka semua tidak menciptakan sebuah senjata yang berbahaya seperti meniru Weapon of Ancient Heroes, Corni berhasil membunuh mereka semua dan bahkan menghancurkan desa mereka dengan kekuatannya sendiri, "... ..." Corni hanya bisa diam dan mulai jalan ke depan selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat putus asa.


Tiba-tiba kedua penglihatannya mulai kembali dan menunjukkan dua Legenda yang sedang berdiri tepat di depannya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang, "Ahh...?" Corni mulai menatap mereka berdua dengan tatapan yang terlihat terkejut, ia membulatkan kedua matanya hingga beberapa air mata mulai berjatuh dari kedua matanya.


"Corni..." Ucap seorang laki-laki yang sedang menatapnya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut karena ia melihat seorang gadis yang bisa disebut sebagai istrinya, "... ...!" Corni membulatkan kedua matanya hingga beberapa air mata mulai mengalir lagi dari kedua matanya, "Ini semua salahku... Karena aku sudah membuat kalian mati..." Ucap Corni karena mereka berdua mata oleh seorang ras Elf yang tinggal di desa yang pernah Corni basmi. Jadi Elf itu membalaskan dendamnya demi keluarganya hingga ia langsung membunuh Laikin dan Luna.


Dua Legenda yang sedang berdiri di depannya adalah Laikin dan Luna, "Semua itu salahku... Akulah yang membuat kalian berdua terbunuh..." Ucap Corni.


"Tidak!" Ucap Laikin.


"Apa yang tidak...!? Apakah aku salah!? Apakah aku benar!? Semua ini salahku!!!" Teriak Corni keras kepada Laikin, "Kenapa kau harus mengatakannya...? Sudah jelas bahwa akulah yang membuat kalian terbunuh...!"


"Itu semua salahku karena aku menyuruhmu, Corni!"


"DAN AKU DENGAN BODOHNYA MELAKSANAKAN PERINTAHMU!!!" Laikin dan Luna langsung memeluk Corni dengan sangat erat, "Kau seharusnya sadar bahwa kau melakukannya demi diriku agar aku bisa mencintaimu, Corni..." Ucap Laikin selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


"Mama... Mama memang hebat karena sudah menyelamatkan seluruh semesta dengan menyegel Bamushigaru, melihat Mama melakukan hal itu sudah membuat Luna senang!" Ucap Luna selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang, "Mama pasti memiliki alasan kenapa Mama melakukannya, seharusnya Mama senang bahwa Mama mati melindungi semesta Touri dari ancaman Bamushigaru."


"Luna benar, sekarang kau sudah bersama kami, Corni. Kita bisa hidup dengan damai selagi menikmati waktu kita yang abadi... Kita tidak akan bisa terpisahkan sekarang, kita sudah selamanya bersatu dan kita sudah ditakdirkan untuk beristirahat di alam dimana mereka tidak akan bisa menemukan kami." Ucap Laikin.


"Kita sudah bersama, Mama, Papa. Kita janji bahwa kita tidak akan pernah meninggalkan Mama lagi." Ucap Luna hingga membuat Corni mulai terharu dan menangis layaknya seperti anak kecil, "Ugh... Hiks..." Corni mulai memegang erat baju Laikin menggunakan kedua tangannya, "Mari kita pulang dan beristirahat, Corni."


"Hmm... Aku pulang..."

__ADS_1


"Selamat datang kembali, Corni."


"Selamat datang, Mama..."


***


Shira dan yang lainnya mulai menatap partikel-partikel emas itu lalu mereka mulai diam dan menunjukkan rasa hormat mereka kepada Corni yang sudah menyelamatkan Touri, "Dia ini benar-benar gadis Legenda yang hebat." Ucap Shira selagi menunjukkan ekspresi seriusnya. Alvin mulai menatap langit-langit selagi menunjukkan ekspresi sedihnya, ia mengusap air matanya lalu ia kembali tersenyum dengan penuh semangat, "Ya... Aku bangga kepadanya."


Korrina menghampiri Alvin selagi memegang perutnya yang terasa menyakitkan, "Apakah kau sudah memikirkan tentang keinginanmu untuk Omni-Crystal itu sebelum muncul...?" Tanya Korrina, Omni-Crystal sebentar lagi akan muncul dan siap untuk digunakan, sebuah kristal warna biru tua dan biru muda yang mampu mengabulkan seluruh keinginan atau permintaan termasuk permintaan yang sangat mustahil.


Omni-Crystal hanya akan muncul ketika seseorang mengorbankan banyak sekali nyawa atau ketika tiga semesta itu sudah hancur maka Omni-Crystal akan muncul dan siap untuk digunakan dengan syarat mereka harus mengalahkan seseorang yang mengorbankan banyak sekali nyawa itu dan juga seseorang yang sudah menghancurkan ketiga semesta itu, "Kenapa kau menanyakannya kepadaku...? Bukan aku yang mengalahkan Bamushi---"


SWOOSSSHHHH!!!


Beberapa kristal biru tua dan biru muda mulai muncul di sekeliling mereka dan mulai perlahan-lahan menciptakan kristal yang sangat besar hingga bentuknya tidak beraturan, "I-Itu Omni-Crystal...?" Tanya Shira selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan karena ini pertama kalinya ia bisa melihat kristal yang mampu mengabulkan segala permintaan, Omni-Crystal tersebut mulai bersinar cerah dan siap untuk mengabulkan permintaan apapun, "Ayolah, Alvin! Kau seharusnya memiliki sebuah permintaan yang bagus!" Ucap Korrina


Alvin melirik ke arah Mortem, "Aku bukanlah Omni-Touri, permintaan yang seharusnya dikabulkan itu permintaan Mortem karena dia ini seorang Omni-Touri." Mortem mengangguk lalu ia menghampiri Korrina, "Permintaanku sudah jelas, kembalikanlah seluruh semesta yang ada di semesta Touri beserta kehidupan yang hancur oleh Bamushigaru!" Ucap Mortem kepada Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Korrina langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat kaget ketika ia mendengar permintaan Mortem, "Kau serius...?"


Omni-Crystal mengandung kekuatan yang besar sekali hingga seseorang yang mencoba untuk membuat permintaan kepada Omni-Crystal maka pikirannya bisa saja dikendalikan oleh Omni-Crystal itu tersebut, contohnya Alvin yang masih terpengaruh dengan Omni-Crystal itu, dia pernah membuat sebuah permintaan kepada Omni-Crystal itu hingga dirinya mulai terpengaruhi oleh kekuatan Omni-Crystal tersebut, "Baiklah..." Korrina tidak akan bisa terpengaruh oleh apapun karena dia saat ini masih berada di wujud seratus persen-nya.


"Wahai Omni-Crystal yang agung...! Kabulkanlah permintaan dewi segalanya yang sudah menciptakanmu sesempurna mungkin!!! Kabulkanlah permintaanku dan laksanakanlah secepatnya...! Kembalikanlah seluruh semesta yang ada di semesta Touri beserta kehidupannya yang sudah hancur dan terbunuh oleh monster yang tinggal di wilayah Oath bernama Bamushigaru!!!" Teriak Korrina keras hingga Omni-Crystal tersebut mulai bersinar dan berputar cepat.


SWOOOOSSSHHH!!!


"UHUUUGGGHHHH!!!" Mereka semua langsung pingsan karena Korrina menghantam punggung belakang mereka menggunakan kedua telapak tangannya, "Kalian tidak boleh mengetahui wujudku dan rahasia tentang Grimoire of Oath." Korrina tersenyum jahat lalu ia menjentikkan jarinya hingga ingatan mereka semua tentang Korrina adalah dewi yang terkuat dan Grimoire of Oath mulai hilang, Korrina menunjuk Alvin dan mengembalikan ingatannya tentang Korrina adalah dewi yang terkuat karena ia membutuhkannya, "Selesai."


***


SWOOOSSSHHH!!!!

__ADS_1


"Ahh...!!!" Shira mulai membuka kedua matanya lalu ia melirik ke atas dimana ia bisa melihat langit-langit yang dipenuhi dengna partikel biru muda dan biru tua, partikel-partikel itu berasal dari Omni-Crystal yang sudah mengabulkan sebuah permintaan. Shira sadar bahwa ia bisa merasakan semua keberadaan Legenda di sekitarnya, ia bahkan bisa melihat rumahnya yang utuh dan semua tanaman yang ada di tamannya, "T-Ternyata berhasil..." Ucap Shira, ia mulai menunjukkan senyuman lebarnya, "Syukurlah..." Shira mulai meneteskan beberapa air mata.


"Shira!!!" Teriak Homura hingga ia mulai memeluknya dengan sangat erat, "Ahh, Homura." Shira tersenyum, "Kita berhasil!!!" Ucap Homura selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bersemangat.


Di sisi lainnya, Haruki bersama dengan kakak-kakaknya melihat partikel-partikel itu dan mereka semua langsung tersenyum lebar karena semesta yang mereka tinggali yaitu Yuusuatouri telah kembali, "Sepertinya semesta Yuusuatouri itu memang abadi, tetapi abadi di akhir." Ucap Dias selagi menunjukkan senyuman lebarnya.


Alvin yang sedang berada di semesta Kamitouri mulai menatap ke bawah dimana ia bisa melihat banyak sekali partikel-partikel biru tua dan biru muda, "... ..." Alvin hanya bisa senyum selagi memejamkan kedua matanya karena semua semesta yang ada di Touri telah kembali, "Kembali seperti semula dengan diriku yang hanya bisa menjaga anak-anak." Ucap Alvin hingga ia berjalan ke belakang lalu ia melihat Korrina yang sedang berdiri di depannya dengan perutnya yang sudah besar, "Korrina, setidaknya kau harus sadar bahwa aku sudah harus menjaga Rina, Aiko, Aqrila, dan Agfi... Sekarang kau ingin cepat-cepat untuk melahirkan bayi yang ada di kandunganmu itu?" Tanya Alvin.


Korrina terkekeh lalu ia mengangguk, "Ya, tapi kita urus itu nanti." Ucap Korrina hingga ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat sedih, "Pemakaman Corni ya...?"


Korrina mengangguk pelan, "Ya..."


***


Semua penghuni Touri mulai berkumpul di satu tempat dimana tempat itu adalah sebuah padang rumput yang luas karena Korrina sudah menciptakan tempat itu dengan menebang semua pohon yang menghalangi hingga saat ini tempat itu luas sekali layaknya seperti padang rumput yang datar, ia berencana untuk menguburkan Corni di tengah kuburan milik Laikin dan Luna. Langit-langit sudah dipenuhi dengan penghuni Touri dan entah kenapa mereka menangis, mungkin Korrina sudah menciptakan buku sejarah tentang Corni dan ia memberikan semua buku itu ke mereka semua menggunakan sihirnya, "... ..." Korrina hanya bisa melihat lubang persegi panjang dimana terdapat sedikit partikel di dalamnya.


"Semua orang selalu menginginkan jalan cerita yang berakhir bahagia tanpa harus berusaha, biasanya mereka hanya ingin akhir cerita yang bahagia dengan cara yang mudah bukan cara yang menyakitkan tetapi heroik. Akhir yang bahagia itu bukan diakhiri dengan kematian, pengorbanan atau apapun itu, tetapi niat dan semangat kita untuk benar-benar ingin menyelamatkan sesuatu demi menciptakan sebuah akhir cerita yang bahagia." Ucap Korrina yang mulai mengucapkan sebuah perkataan yang pernah Corni tulis di buku harian.


Buku harian itu Mortem temukan di laboratorium milik Elvis, sebelum mereka semua pergi Mortem melihat buku harian itu dan dia langsung menyimpannya. Mortem saat ini sedang berada di sebelahnya selagi memegang kedua Gauntlet Weapon of Ancient Heroes yang replika, Gauntlet itu diciptakan oleh Haruka.


"Mungkin semua mortal dan juga para dewa terkadang akan memiliki cara mereka sendiri dan selera mereka sendiri, kita tidak bisa mengubahnya. Kita yang mempercayai bahwa semangat dan niat itu adalah kunci bagi semuanya hanya bisa menertawai mereka yang tidak setuju. Aku berharap sejak awal bahwa kita semua akan berkumpul bersatu di satu tempat ketika masalah ini selesai dan menikmati waktu-waktu kita di semesta yang sudah damai ini, aku juga berharap bahwa semesta Touri bisa di selimuti dengan kedamaian yang abadi."


"Aku tidak menyangka bahwa semakin majunya waktu maka semakin sulit masalah yang akan dialami oleh semesta Touri, astaga, bagaimana bisa semesta Touri yang dulunya damai abadi ini bisa selalu saja bertemu dengan masalah yang lebih berbahaya dan sulit untuk diselesaikan. Jika saja aku bisa melihat masa depan seperti Haruka, bisa saja aku melihat takdir kematianku itu seperti apa, aku hanya ingin memiliki takdir kematian yang dianggap sangat bermakna bagi semua orang, aku ingin kematianku itu sesudah aku melaksanakan cita-cita anakku yang bernama Luna."


"Aku membuat tulisan ini karena aku yakin bahwa sepertinya aku akan melakukan sesuatu yang bodoh seperti mengorbankan diriku demi menjalankan cita-cita Luna yang ingin menyelamatkan Touri, karena dia sudah mati jadi aku sebagai Ibu-nya akan melanjutkan cita-citanya agar ia bisa hidup tenang di alam kematian. Takdir kematian itu selalu ada dan selalu tidak bisa kita tebak, kita bisa saja mati karena jatuh atau sedang melakukan sesuatu menyenangkan."


"Perjalanan zaman ini terus saja terjadi... membuatku menggaruk kepalaku tentang keberlangsungan semua ini, kenapa zaman dan masa harus tetap maju dan kenapa kita tidak menginginkan zaman dan masa yang sama. Tapi sekali lagi itu adalah takdir yang harus terus terlaksanakan. Semua ras pasti akan mati dengan cara yang berguna dan kematian mereka pasti bermakna. Untuk apa aku ketakutan seperti ini? Aku yakin Mortem, Mama, dan Papa akan datang dan menyelamatkan kita saat Bamushigaru muncul." Korrina membaca tulisan terakhir lalu ia menutup buku itu dan mulai memasukkannya ke dalam lubang kuburan Corni.


Mortem memasukkan kedua Gauntlet itu ke dalam kuburan itu lalu Korrina mulai mengkubur semua itu menggunakan sihir tanah, Mortem dan Korrina mulai mundur beberapa langkah selagi menatap kuburan itu dengan tatapan yang terlihat sedih, Virra menghampiri kuburan itu lalu ia menepatkan sebuah bunga bersinar di atas tanah kuburan Corni, "... ..." Korrina dan semua anggota Ghifari mulai menangis ketika mereka melihat kuburan Corni.

__ADS_1


Termasuk semua penghuni Touri yang membaca sejarahnya sampai tamat dan buku harian Corni yang cukup emosional, "Legends Never..." Ucap Virra selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat sedih, "Dies..." batu nisan Corni mengatakan Legends Never Dies - Kau hanya bisa menyelamatkan semuanya dengan mengorbankan satu nyawa


__ADS_2