Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 118 - Malam yang Kacau


__ADS_3

Di malam hari, mereka semua menginap di penginapan yang cukup mewah. Di malam hari para laki-laki sedang melakukan perang bantal dan perang itu dimulai dengan Alvin yang melempar bantalnya ke arah Arata dan Arata langsung menyerang balik dengan melempar bantalnya hingga semua laki-laki langsung menyerang Alvin bersamaan. "Woi...!!! Curang...!!! Curang...!!!" Teriak Alvin keras karena seluruh tubuhnya sedang di hantam oleh bantal-bantal yang mereka pegang. Alvin langsung berubah menjadi Perfected Limit Breaker X. "PERTARUNGAN DI MULAI SEKARANG!!!" Teriak Alvin hingga ia menyerang mereka semua menggunakan bantal-bantal itu.


"Alvin mengamuk!!!" Ucap Shira dengan ekspresi yang terlihat terkejut. Mereka semua langsung berubah wujud terkuat mereka hingga mereka semua mulai saling menyerang satu sama lain menggunakan bantal-bantal itu. "HAHAHAHAHA!!!" Mereka semua mulai tertawa terbahak-bahak hingga ruangan sebelah dimana ruangan para gadis tidur mulai terdengar, para gadis masih belum tidur karena mereka sedang bermain kartu. "RASAKAN INI...!!! FINAL SHINE PILLOW!!!" Teriak Alvin hingga ia melempar bantal yang dilumuri oleh Lenergy ke depan.


"AKU TIDAK AKAN KALAH, DEWA BODOH!!! WRATH OF PILLOW!!!" Arata melempar bantalnya juga yang sudah dilumuri oleh Lenergy. "SHIROMURA PILLOW!!!" Teriak Shira dengan ia melakukan hal yang sama, mereka semua mulai menggunakan sihir mereka dalam melempar bantal mereka, tiba-tiba semua bantal itu mengenai Korrina yang baru saja masuk ke dalam kamar.


BAMMM!!!


"WANJER!!!" Teriak Alvin terkejut karena Korrina tiba-tiba datang dan ia baru saja terkena oleh semua bantal yang dilumuri oleh sihir mereka masing-masing. Korrina langsung membakar semua bantal itu menggunakan Sacred Flames-nya. Mereka semua langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat ketakutan ketika melihat Korrina datang selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat menyeramkan. "Apakah kalian ini anak-anak...? Apa artinya semua ini...?" Tanya Korrina.


"Ahh... I-Itu... Kita tidak mencoba untuk mengenaimu kok, Dewi Korrina." Ucap Shira yang mulai berkeringat, mereka semua langsung berubah kembali ke wujud normal mereka. "I-Itu benar, kami mencoba untuk mengenai, si tua bodoh itu!" Ucap Alvian selagi menunjuk Alvin yang wajahnya terlihat seperti wajah tanpa dosa. "Loh kok Papa sih?! Yang mulai kalian berdua, hayoooo~" Ucap Alvin selagi tersenyum lebar.


"Bohong." Jawab mereka bersamaan. "Sudah aku bilang bahwa kalian tidak boleh berisik di tempat penginapan ini... Masih banyak dewa dan dewi lain yang tinggal dan mereka bisa saja terganggu karena kalian..." Ucap Korrina.


"Jam tujuh malam gini masih belum ada yang tidur lah, mereka semua pasti sedang menikmati pemandian air panas mereka!" Jawab Alvin.


"Ya... Tapi apakah kalian tidak merasa malu bahwa kalian ini bertingkah seperti anak kecil saja..." Ucap Korrina, ia mulai menciptakan bantal baru. "He...Hehehe... Hehehe...!!!" Korrina mulai tertawa jahat karena ia sepertinya merencanakan sesuatu jahat untuk mereka semua. "Oh tidak, Mama sedang berada di mode gila-nya...!" Ucap Vivin.


Korrina langsung memegang kedua bantal di kedua genggamannya dengan sangat erat hingga membuat mereka semua waspada terhadap serangan yang akan Korrina kerahkan. *SWOOSH!!!* Sebuah bantal melesat dengan kecepatan yang mampu melampui suara ke arah Alvin dan bantal itu langsung membuat Alvin jatuh pingsan di daratan. "Ughhh...!" Araku merangkak menuju arah Alvin lalu  ia mulai mengangkat bantal yang mengenai wajahnya lalu dengan bersamaan mereka menghantam kedua biji Alvin. "UGGHHH!!! MASA DEPANKU......" Alvin langsung pingsan.


"Ahh...! Kita kehilangan bagian penyerang terkuat kita...!" Ucap Rivin. "Kecepatannya... Apakah dia pikir kita ini sedang bertarung apa...?" Tanya Arata karena ia hampir saja tidak melihat kecepatan dari bantal itu. "Kita semua akan tersiksa habis-habisan oleh Mama..." Ucap Alvian selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat ketakutan.


"Hehehe... Hahahahaha!!! Aku harap kalian sudah siap untuk di hukum, laki-laki!!!"


"Apa yang harus kita lakukan, Shira?!" Tanya Arata. Shira mulai mengambil bantal lainnya. "Kita lawan, anggap saja Korrina ini seperti musuh terakhir kita---" Wajah Shira langsung terkena bantal yang Korrina luncurkan hingga Shira langsung tergeletak di atas tanah dengan kondisi yang sudah pingsan. "Shira... Cih...! Akan aku balaskan kematian---" Seketika Arata mengangkat bantalnya, wajahnya juga terkena serangan bantal milik Korrina hingga ia juga ikut terjatuh dan pingsan.


Alvian, Rivin, dan Vivin mulai menatap Korrina dengan tatapan yang terlihat serius. Mereka mulai memegang erat bantal yang ada di kedua genggaman mereka. "Mama, kau tidak akan bisa mengalahkan kami---" Mereka bertiga langsung terkena serangan bantal itu di arah kedua biji mereka. "UAGGHHHHH!!!" Teriak mereka bertiga hingga mereka terjatuh di atas lantai dengan wajah yang terlihat kesakitan.


"Aku menang...!!! AHAHAHAHAHA!!!" Korrina mulai tertawa terbahak-bahak. Tawaan Korrina dapat terdengar di ruangan para gadis. Mortem terkekeh ketika mendengar suara tawaan Korrina yang terdengar cukup keras. Mortem dan Rina sedang bermain kartu sedangkan adik-adiknya sedang bermain hal yang lain, contohnya Vinna dan Korin mereka berdua sedang melakukan hal yang aneh yaitu Vinna yang terus mencabuk pantat Korin. "Hehe~~~ Apakah kau suka itu, kakak!?" Tanya Vinna.

__ADS_1


"Awwww~ Enak~ Lagi-lagi~" Ucap Korin, Vinna terus mencambuk Korin tanpa henti, seluruh tubuh Korin juga telah terikat oleh tali-tali yang Vinna pasang. Rianna sedang membaca buku selagi mencoba untuk membiarkan mereka semua sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, tetapi ia tidak bisa karena suara Korin yang terdengar keras. "Ughhhh... Kak Korin memang aneh..." Ucap Rianna.


Eclipse yang sedang duduk di sebelah Rianna mulai melihat Rianna yang sedang membaca buku tentang percintaan seorang laki dengan laki-laki yang lainnya. "Kak Rianna!!! Kamu sedang membaca apa!?" Tanya Eclipse selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut bahkan wajahnya mulai memerah melihat Rianna yang menyukai hal-hal yang berbau Yaoi atau bisa disebut dengan percintaan sesama jenis yaitu laki-laki. "KYAAAA!!! Aku tidak membaca apapun kok...!" Ucap Rianna, ia mulai menyembunyikan buka yang ia baca tadi, Mortem dan yang lainnya langsung menatap ke arah mereka berdua. "Ada apa, Eclipse?" 


"N-Nenek, Kak Ria---" Rianna langsung menghalang mulut Eclipse. "Aman! Aman kok, Kakak~ Hahaha~" Rianna mulai berbisik kepada Eclipse. "Kau tidak akan memberitahunya 'kan?!" Tanya Rianna selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat menakutkan, Eclipse mengangguk lalu ia mengacungkan jempolnya. Rianna tersenyum lalu ia melepaskan Mortem. "Tidak apa-apa kok, Nenek. Aku baru saja melihat Rianna memberiku buku yang sangat bagus." Eclipse mengeluarkan buku tentang cara bertarung dengan senjata.


"Ahh, begitu ya..." Mortem tersenyum.


***


Corni sedang berbaring di atas kasurnya selagi menatap atap-atap dengan kedua matanya yang terlihat mati. "Laikin..." Corni mulai melirik ke arah Gauntlet milik suaminya yang terpajang di tembok-tembok yang ada di depannya, Corni turun dari kasurnya lalu ia menghampiri Gauntlet itu dan mulai mengambilnya. "Heroes...!" Kedua Gauntlet itu langsung terpakai oleh Corni dan itu membuatnya kesal bahwa ia tidak mau melihat kedua Gauntlet yang pernah membunuhnya. "Grrrrggghhhh... Jika bukan karena Saint Heroes, Gauntlet pengorbanan ini, dan para ras Elf sialan itu...!!!" Kedua mata Corni mulai berubah menjadi warna Crimson.


"Semuanya tidak akan terjadi... Laikin dan Luni pasti masih hidup jika Laikin tidak ditakdirkan menjadi SAINT HEROES!!!" Corni mulai kesal hingga  ia langsung memukul dan menghancurkan semua benda yang ada di kamarnya dengan kemarahan yang ia kontrol, Gauntlet itu bersinar dan memberikan efek kehancuran besar di kamar Corni hingga tembok mulai runtuh karena dirinya. "SEHARUSNYA LAIKIN TIDAK PERGI SENDIRIAN MELAWAN PARA RAS ELF MENJIJIKAN ITU...!!! RAS JALANG...!!! RAS YANG HANYA PANTAS DIBERIKAN KEPADA RAS-RAS BEJAD DAN NAFSUAN!!!" Teriak Corni keras hingga ia mulai menghancurkan daratan dan menciptakan lubang yang sangat besar.


"LEBIH BAIK MEREKA TERUS PUNAH!!! AKU SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH KEPADA REN DAN RIN YANG SUDAH MEMBUAT RAS ITU PUNAH!!!" Teriak Corni keras hingga auranya mulai membesar dan membakar rumahnya. "LUNI...!!! JIKA LUNI TIDAK MENGETAHUI TENTANG KEMATIAN LAIKIN MAKA DIA AKAN SELALU BERSAMAKU, TETAPI IA LEBIH MEMILIH BERJUANG UNTUK MEMBUNUH PARA ELF ITU DEMI MEMBALASKAN DENDAM AYAHNYA...!!!" Corni terus menghancurkan rumahnya tanpa henti hingga rambutnya perlahan-lahan berubah menjadi warna crimson dan air matanya berubah menjadi darah hitam.


"GGRRRGGGHHHH...!!! SEKARANG HARUKA YANG MENGORBANKAN DIRINYA DEMI MENYELAMATKAN TOURI...!!! APAKAH SEMUA INI TIDAK CUKUP...!? TAKDIR!!!" Teriak Corni keras hingga kedua Gauntlet-nya langsung terlumuri oleh aura crimson, Corni langsung menghantam daratan dengan sangat keras hingga rumahnya bersama daratan yang ia pukul mulai terbelah menjadi dua.


"Hah... Hah... Hah..." Kedua mata Corni berubah menjadi warna emas yang bersinar-sinar bahkan rambutnya yang berwarna merah mulai bergerak seperti angin-angin mengenai rambut itu. Corni berdiri tegak selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, ia mencoba untuk menghancurkan kedua Gauntlet itu tetapi ia tidak bisa, Corni melepas kedua Gauntlet itu dengan mengatakan 'Heroes' lagi. Corni mulai menatap kedua tangannya dan ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. "Apakah aku tanpa disadari mencapai wujud kuno Saint Heroes...? Bagaimana wujud ini bisa datang kepadaku...? Aku bukanlah seorang Saint Heroes yang murni." Ucap Corni.


"Overboosting Ancient Heroes..." Ucap Corni. Sebuah wujud kuno yang dimiliki oleh Saint tipe Heroes, wujud ini sangatlah kuno dan akan bisa di capai ketika para Saint Heroes menemukan takdir dan potensi mereka yang sebenarnya. Wujud ini memiliki penampilan sesuai sihir yang mereka miliki contohnya Corni sihir Crimson, rambutnya akan berubah menjadi warna merah darah tetapi kedua matanya akan terus emas yang menandakan kekunoan seorang Saint Heroes. "... ..."


"Sepertinya kau benar-benar sudah ditakdirkan untuk menjadi Saint Heroes, kakak." Ucap seorang gadis yang berada di sebelah Corni selagi menyilangkan kedua lengannya. Corni langsung melirik ke arah seorang gadis yang memanggilnya dengan sebutan kakak. "Virra... Apa yang kau lakukan di sini, bukannya kau sibuk dengan urusanmu sendiri?!" Tanya Corni. Corni tidak hanya melihat Virra, ia juga melihat seorang laki-laki yang pernah ia temui yaitu Haruki. "H-Haruki...!?" Corni langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.


"Kami membutuhkanmu, Corni. Tugasku sekarang adalah untuk mengumpul para Saint Heroes yang ada termasuk dirimu sebelum semuanya berakhir." Ucap Virra, ia berjalan menghampiri Corni. "Berakhir? Apa ada masalah lainnya yang mengancam keseimbangan Touri?" Tanya Corni.


"Tidak... Ras Elf... Ras yang pernah membunuh suamimu mencoba untuk mencuri Weapon of Ancient Heroes. Kau harus datang dengan kami sebelum kau diserang oleh para ras itu." Ucap Virra.


"Ras Elf!?" Corni langsung membuka kedua matanya dengan sangat lebar, Corni mulai menatap Virra dengan tatapan yang terlihat serius. "Beritahu aku... Dimana ras Elf itu berada? Dengan senang hati aku menghancurkan kepala mereka seperti semangka yang dipukul oleh tongkat." Ucap Corni selagi memukul telapak tangan kirinya.

__ADS_1


***


Eclipse mulai menatap langit-langit di malam hari dan itu terlihat indah baginya karena ia melihat beberapa bintang yang sedang bersinar cerah. "Firasat apa ini...? Kok aku merasakan firasat yang cukup baik ketika melihat bintang itu...?" Tanya Eclipse kepada dirinya sendiri, ia langsung melihat bintang yang bersinar itu melesat ke arah lain. "Bintang jatuh!?" Eclipse langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.


Eclipse melihat bulan yang bersinar dengan sangat cerah dan itu membuatnya senang. "Moonlight..." Ucap Eclipse yang menggunakan sihir bulannya, bulan itu langsung bersinar cerah dan memberikan Eclipse beberapa Lenergy yang berjumlah banyak sekali. "Ahh..." Eclipse kembali berendam di pemandian air panas.


Rianna melirik ke arah Eclipse yang terlihat seperti menikmati air panas itu. "Sepertinya kamu menikmati air suci panas ini ya?" Tanya Rianna selagi menunjukkan senyuman lebar di wajahnya. Eclipse mengangguk lalu Rianna mulai fokus ke arah dadanya yang memiliki ukuran cukup besar, Rianna mulai menatap dadanya sendiri dan itu terlihat rata sama seperti Korrina yang sedang melebarkan kedua lengannya. "Kehidupan Legenda tidak jauh dari berlatih, istirahat, makan, dan pemandian air panas ya? Dan tidur secukupnya."


"Ya, jangan terlalu keras dalam berlatih atau tubuhmu akan cepat lelah... Jangan pernah beristirahat terlalu lama atau kau akan mudah lengah. Fokus dengan tujuan yang harus kau lakukan." Ucap Rianna yang pandangannya masih fokus ke arah kedua melon milik Eclipse.


"Sepertinya dadaku tumbuh lagi." Ucap Methode hingga membuat Rianna dan Korrina melirik ke arahnya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut. Mereka berdua mulai mendekatinya hingga Korrina langsung memegang kedua dada Methode. "Ahahaha~ Sepertinya kedua buah ini membesar karena kamu sudah menikah dengan Arata dan bahkan punya anak bersamanya, Methode!!!" Ucap Korrina selagi memainkan kedua melon Methode.


"N-Nenek...!!! Hentikan...!!! Geli...!!!" Teriak Methode. Mortem menghela nafasnya lalu Rina mulai memegang lengan kanannya. "Apa bedanya sih besar dan kecil terhadap dada...? Menurut Rina biasa saja." Ucap Rina.


"Entahlah..." Jawab Mortem.


***


Beberapa menit kemudian, Eclipse sedang berada di luar selagi membuka botol susunya, ia mulai meminum botol susu itu sampai habis. "Ahh... Segar---" Eclipse tiba-tiba melihat Corni dan Virra di depannya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. Eclipse langsung menunjukkan ekspresi yang kebingungan. "Loh...? Kak Virra dan Kak Corni...?! Tunggu...!!! BAGAIMANA KALIAN BISA---" Corni langsung menutup mulut Eclipse. "Ssssttt..."


"Eclipse, jika liburan kalian sudah selesai maka beritahu Shira untuk mengunjungiku di rumahku." Ucap Virra selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. "Aku butuh bantuanmu dan Shira saat ini." Eclipse langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. "Kenapa aku...? Memangnya aku bisa apa?" Tanya Eclipse.


"Eclipse." Panggil Homura, Virra dan Corni langsung menghilang seperti ninja dengan melompat ke atas atap. Eclipse melirik ke belakang lalu ia melihat Homura sedang memegang dua botol susu. "Apa yang sedang kau lakukan di luar? Cepat masuk, di luar dingin tau." Ucap Homura dengan ia berjalan masuk ke dalam penginapan, Eclipse melihat Virra dan Corni yang berada di atas atap, mereka berdua mulai mengacungkan jempol mereka. "Baiklah." Eclipse mengangguk lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah penginapan.


Beberapa menit kemudian, sebelum mereka tidur, mereka harus makan malam dengan hidangan yang lezat. Para laki-laki mulai memakan makanan mereka dengan sangat lahap hingga mereka semua saling rebutan. Mereka semua merebut makanan yang terbesar dan terlezat, di saat inilah mereka semua bersikap egois.


Alvin, Arata, dan Shira melihat gurita besar yang berada tepat di depan mereka, mereka bertiga melesat menuju arah gurita itu lalu mulai memegang tentakelnya. "Hehe~" Alvin langsung mulai tersenyum lebar. Arata dan Shira mulai memakan tentakel gurita itu sedangkan Alvin ia langsung menarik tentakel yang sedang menghalangi mulut gurita itu. "Aku akan memakan semua rasmu, gurita!!!" Ucap Alvin hingga seluruh tubuhnya langsung terkena semprot tinta melalui mulut gurita itu.


Seluruh tubuh Alvin terkena oleh tinta itu hingga seluruh tubuhnya sekarang hitam. "Ah...!!! TIDAK...!!!" Teriak Alvin hingga Shira dan Arata mulai menahan tawa mereka melihat Alvin yang mendapatkan kesialan lainnya. "Papa...!?" Rina langsung terkejut ketika melihat seluruh tubuh Alvin hitam, Korrina bahkan mulai panik ketika melihat Alvin dipenuhi dengan tinta. "Ini buruk...!"

__ADS_1


"Grrrgghhh...!!! Dasar tentakel tidak bernyawa...!!!" Alvin akan merasa kesal jika makanan yang ia suka menolak untuk di makan. Seluruh piring dan sendok mulai bergetar karena kemarahan Alvin yang mulai terkumpul, bahkan meja mulai bergetar hingga jendela-jendela di penginapan itu retak. "PERSETAN DENGAN SEMUANYAAAA!!!" Teriak Alvin keras hingga ia langsung berubah menjadi wujud Perfected Limit Breaker X-nya dan mampu menghancurkan tempat penginapan itu.


BAMMMMM!!!!


__ADS_2