
"Si-Sial... Aku bukanlah si Crystal Saint yang kalian cari."
"Benarkah?" Deathode menunjuk kedua lengan penyihir itu, lalu ia memaksanya mengeluarkan sihir crystalnya menggunakan sihir Force Spell.
Kedua lengan penyihir itu tiba-tiba mengeluarkan pedang crystal karena sesuai perintah Deathode dengan sihirnya. "Si-Sial..."
"Sepertinya kakak memang benar... Ada seorang penyihir yang berani sekali mengambil kekuatan Saint Crystal." Selvia menghampiri penyihir itu, lalu ia membuka topi penyihir itu agar ia bisa melihat identitasnya.
Dan ternyata itu seorang pria, ia juga dijuluki sebagai penyihir yang berada di kelas S. "Cih..."
"Mengapa kau mengambil kekuatan Crystal Saint itu, walaupun kau tau bahwa dirimu ini kuat?"
"Karena... Semua ini demi untuk menguasi wilayah ini. Wilayah ini akan aku kuasai dengan kekuatan Saint Crystal." Penyihir itu memotong tali-tali yang ada di sekitarnya, lalu ia bangkit dari tanah dengan wajah yang kesal.
"Hmph. Dengarkan ini kau Saint Legenda... Iblis... Kekuatan saint elemental kalian tidak akan berguna melawan kekuatanku ini... Saint Elemental Zero!!!"
"CRYSTAL STORM---"
...
...
"Spell Breaker Despair!" Deathode menggagalkan sihir itu dengan sangat cepat, hingga mampu membuat penyihir itu terkejut dan terjatuh di atas tanah dengan wajah yang ketakutan.
Para penyihir langsung terkejut melihat sihir yang bertingkat maha kuasa yaitu sihir Spell Breaker Despair. Sihir yang mampu menggagalkan segala sihir dengan sekejap.
"SPELL BREAKER DESPAIR...!?" Ashura merasa sangat tidak mempercayai sihir yang Deathode keluarkan. Ternyata Deathode memang benar-benar keturunan dari dewi segala legenda.
"K-Kau ini... Makhluk macam apa kau ini!?" Tanya penyihir crystal itu.
"Dia adalah wujud Eternal kakakku. Shiratori Deathode, menyerahlah pencuri hati crystal... Kartigo Muero." Selvia mengetahui nama penyihir tersebut dan ia menghampiri Kartigo dengan wajah yang serius.
Kartigo bangkit dari tanah dengan wajah yang kesal. "Cih... Rencanaku dalam menguasi Saint Crystal ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja."
Deathode hanya bisa diam disana. "Hmph... Terserah kau, kau memilih takdir dirimu ini menjadi takdir yang lebih menderita yang kuharapkan." Deathode mengeluarkan senjata katananya dari api-api suci.
"Tidak! Kakak!" Selvia mencoba untuk menghentikan Deathode, tetapi dia sudah terlambat.
"Sacred Fate..."
...
...
SWIIIIIIINNNNGGGGGG!!!
"Ah...! Agh...!" Kartigo mulai merasa terkejut dan mulai perlahan terbelah menjadi dua oleh pedang itu.
"AAAAAAGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH...!" Kartigo langsung terjatuh dan mati.
"Hmph. Takdirmu memang sangat menderita ya...?" Deathode menunjuk jantung Saint Crystal itu, lalu jantung tersebut mulai melayang dan terbang menuju Deathode.
Semua penyihir bisa melihat Kartigo terbelah menjadi dua, lalu mereka teriak dengan sangat histeris karena penyiksaan Deathode itu cukup sadis sekali.
"Sisi apa yang kau pilih ini...? Jahat atau baik...?" Tanya Ashura dengan sangat kesal kepada Deathode.
"Aku... Seorang Legenda yang tidak memiliki kebaikan ataupun kejahatan. Aku memiliki sisi sendiri yaitu... Sisi takdir!" Deathode memasukan jantung itu ke dalam dadanya.
BAAAAMMMM!!!
"GRRRRR....!!! AAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!"
Deathode's POV
Tubuhku mulai perlahan terlindungi oleh aura-aura crystal yang sangat kuat. Seluruh tubuhku mulai bergoncang dengan sangat dahsyat dan bahkan merasakan sensasi yang luar biasa.
Akhirnya, aku memiliki kekuatan Saint Elemental zero... Berani sekali seorang penyihir bodoh mencuri jantung saint crystal ini dari hadapanku.
"Hahahahaha!!! Menakjubkan, Kekuatanku mulai bergejolak dengan sangat kuat..."
"AKU SUKA INI...!!!" Deathode mulai tersenyum dengan sangat amat senang.
Aura-aura putih mulai menghilang dari tubuhku, dan sepertinya aku harus melakukan pemanasan yang cukup untuk mengeluarkan potensi Saint Crystal ini.
"Hmph... Masih belum cukup."
"Hentikan perbuatanmu ini, Deathode!!!" Seorang penyihir baru mulai mendarat di atas tanah tepat depan denganku. Aku mengenalnya dan wajahnya memanglah tidak asing.
"Hmmmmm... Rianna ya?"
"Ahhh! Rianna!!!" Ashura terlihat senang melihat Rianna. Sepertinya Rianna memang seperti pahlawan saja.
"Apa yang telah kau lakukan...?! Jelaskan."
"Tidak banyak. Aku hanya mengambil apa yang kumiliki ini."
Rianna muncul tepat di depanku, lalu ia memukul wajahku, hingga aku terpukul dan terdorong mundur.
"Itu tadi cukup menyakitkan..." Aku tersenyum, kesakitan hanya akan membuatku lebih kuat.
"Tapi... Kesakitan ini hanya akan membangunkan potensi saint elemental zero-ku. GAAAHHHHH!!!" Aku mengeluarkan aura api suciku dengan sangat banyak di sekitarku.
"Sihir itu tidak berguna dalam pertarungan ini. Bagaimana jiga kita bertarung dengan tangan kosong?" Deathode mulai bersiap untuk bertarung dengan kedua tangannya.
"Hmmm... Tentu."
BAAAMMMM!!!
Aku dan Rianna melompat dengan bersamaan. Kita mulai saling memukul satu sama lain, hingga aku memukul wajahnya dan ia langsung memukul balik.
BAAAGGG!!! BAGGG!!! BAAAGGG!!!
Kita saling memukul terus menerus, hingga salah satu dari kami babak belur dan meninggalkan sebuah memar di kedua pipi kita.
BAG!!! BAG!!!
"HEE!!! RASAKAN INI...!!!" Aku berputar dengan cepat, lalu menendang perut Rianna dengan sangat keras.
BAAGGGG!!!!
"Huaaghhhh...!!!" Ia memuntahkan banyak sekali darah dari mulutnya. Walaupun setengah dewi... Dia tidak akan bisa menandingi kekuatan tangan kosongku ini dan kekuatan Saint Crystal.
__ADS_1
Menggunakan sihir kuat atau sihir apapun itu tidak akan pernah berguna kepadaku... "JYAAAHHHH!!!" Aku berputar lalu menendang wajahnya dengan sangat keras hingga ia terpental mundur dan mengenai gedung akademi itu dengan sangat keras.
BAAAMMMM!!!
Aku tersenyum, lalu mendarat di atas tanah dengan wajah yang masih belum memiliki perasaan puas. Aku masih ingin bertarung lebih agar potensi Saint Crystal-ku bangkit!
"Apakah kakak serius tentang ini? Bagaimana kalau Mama datang?" Tanya Selvia dengan wajah yang serius.
"Tidak akan... Percayalah padaku. Ini hanya percobaanku saja." Deathode mulai mengusap keringat yang terdapat di lehernya.
"THUNDER BLAST!!!" Rianna menembak sihir listrik menuju arahku dan itu hanya akan membuatku lebih kuat dan lebih puas.
SWIIIIIISSSHHH!!!
Aku menyerap sihir itu dengan sangat mudah hingga aku merasakan bahwa energi sihirku meningkat. "Hmph... Kau tidak akan pernah mengerti dan belajar dari kesalahan ya?"
"Cih..." Rianna melompat menghampiriku, lalu ia mulai memukul dan menendang seluruh tubuhku dengan cepat.
Aku tidak merasakan kesakitan apapun dari pukulan dan tendangannya. Pukulannya itu seperti kertas yang terlempar ke arahmu, sangat lemah... Itu hanya akan membuatku tidak puas.
"LEMAH!!!" Aku memukul perut Rianna dengan sangat keras hingga ia terdorong mundur.
"AGGHHH!!!" Rianna terpental mundur. Aku muncul tepat di atas wajahnya dengan sangat cepat, lalu menendang perutnya dengan sangat keras dan kasar.
BAAMMMM!!!
Ia terjatuh di atas tanah dan membuat lubang yang sangat besar besar. "DIVINE FLAMES!!!" Aku menembakkan bola api suci yang sangat besar ke dalam lubang itu.
BAMMMMMMMMM!!!
Bola api itu meledak hingga mengeluarkan asap-asap yang menghalangi lubang besar itu.
...
...
Rianna tiba-tiba muncul dari asap-asap itu. Ia tiba-tiba mencoba untuk memukulku, tetapi aku menghindari serangan tersebut, lalu memegang kedua kakinya dan menghantamnya menuju bawah tanah dengan sangat kasar.
Aku muncul di atas perutnya, lalu menginjak dadanya dengan sangat kasar. "GUUUGGHHH!!!" Rianna memuntahkan darah lagi dari mulutnya dan itu membuatku tersenyum puas.
Setelah melihatnya tersiksa dan terluka, aku segera menjenggut rambutnya dan membantunya berdiri dari tanah.
"Puaskan aku lebih... Rianna!" Aku menyentuh perutnya dengan wajah yang tersenyum lebar.
"DIVINE FLAMES!!!" Aku mengeluarkan sihir itu lagi hingga Rianna terpental mundur dengan sangat jauh, lalu meledak karena sihir apikku.
BAAAAMMMMM!!!
"T-Tidak... Mungkin..." Ashura merasa sangat terkejut bahwa Rianna putri dari Dewa Alvin terkalahkan oleh seorang ras yang tidak memiliki kekuatan dewa sama sekali.
Aku melihat kedua tanganku dan itu belum cukup, aku membutuhkah lebih... "Potensiku belum siap... Berikanlah aku kekuatan penuhmu itu, Rianna."
"Cih..." Rianna bangkit dari tanah dengan kondisi terluka dan baju yang menghalang perutnya telah terbakar hangus.
"Jika satu sihir bisa kau serap... Bagaimana jika kau menyerap lebih dari satu sihir!?" Rianna mulai melayang dan ia mulai mengisi energi sihirnya.
"Ohhhh..." Aku mulai terhibur melihat sihir unik itu.
"Ambilah... Rianna! Magic Transfer...!" Kedua lengan Ashura bersinar dengan sangat terang, ia memberikan energi sihirnya kepada Rianna.
"Ambil milik kita juga! Sensei!!!" Semua penyihir mulai menggunakan sihir Magic Transfer kepada Rianna, mereka semua rela memberikan energi sihirnya kepada Rianna hanya untuk mengalahkan diriku, Aku masih belum bisa menikmati pertarungan ini.
Rianna di atas langit mulai perlahan menyerap seluruh energi pemberian para penyihir itu. "Cih... Kuharap ini berhasil..."
Rianna mulai bersinar dengan sangat terang. "FULL FORCE...!!!" Rianna masih membuat sebuah sihir dari gabungan semua energi sihir yang ia serap dari para penyihir.
"Selvia..."
"Ada apa, kakak?"
"Beri dia energi sihir juga."
"Ehh!? Apa kakak serius!? Itu terlalu berbahaya!" Selvia merasa bahwa diriku ini sedang tidak waras.
"Lakukanlah perintahku ini! Jangan mencoba untuk membantah."
"Terserah... Magic Transfer." Kedua lengan Selvia bersinar, hingga ia memberikan energi sihirnya kepada Rianna.
"Tujuan kalian berdua ini apa sih...?" Tanya Rianna dengan kebingungan bahwa Selvia telau memberi Rianna sebuah energi sihir.
Rianna berhasil membuat sebuah sihir dari semua energi sihir yang ia kumpulkan. "Baiklah..."
"ELEMENTALS OF DESTRUCTION!!!" Rianna membuat bola energi yang sangat besar dan bola itu mengandung banyak sekali sihir elemen dari semua penyihir akademi Sillentesius. Ia melempar bola besar itu ke arahku.
Jika saja aku menghindar... Wilayah ini sudah pasti akan berakhir seperti debu yang berhamburan.
Tapi... Sepertinya aku tidak memiliki kewajiban untuk menghindar, karena... Sihir-sihir itu adalah kunci untuk membangkitkan potensiku ini.
"INI ADALAH KEKUATAN PARA PENYIHIR!!! DEATHODE!!!" Rianna mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Hmph...! Ayo!"
BAAAAAAMMMM!!!
"NNNGGGGHHHH....!!!!" Rianna mendorong dengan sekuat tenaga agar semuanya bisa beres dengan cepat.
Tiba-tiba bola energi yang Rianna tembak berhenti dan mulai mengecil.
Semua penyihir langsung terkejut melihat bola energi itu tiba-tiba mengecil. "HAHH!?"
"Ti-Tidak mungkin... Bagaimana...?"
Mereka menyadari sesuatu tentang bola energi itu mengecil, itu karena Aku sedang menghisap bola elemen itu dengan elemen crystalku. Sekarang crystal-crystalku sedang menyerap bola elemen itu dengan mudah.
"Semua sihir bisa ia serap...?" Rianna merasa terkejut dan tidak mempercayai hal itu.
"HAHAHAHHAHAHAHAHAHHA!!! Terima kasih, Rianna... Dengan semua ini energi sihir ini aku pasti bisa mencapai evolusi selanjutnya!!!"
BAAAAMMMMMMMM!!!
__ADS_1
Bola elemen itu sepenuhnya terserap oleh diriku. Para penyihir merasa ketakutan dan juga terkejut melihat hal itu terjadi. Rianna mendarat di atas tanah dengan wajah yang kesal.
"Hmph... Aku akan memberi hadiah untuk dirimu karena sudah membantuku untuk mencapai ke potensi selanjutnya..." Kedua mata Deathode tiba-tiba berubah menjadi warna ruby dan api-apinya berubah menjadi warna merah darah.
"HAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!! HAHH...!!!"
BAAMMMM!!!!!
Aku membuat angin-angin disekitarku bergerak dengan tidak stabil, hingga batu-batu kecilpun perlahan melayang.
Rianna menghalangi angin-angin yang kuat itu dengan kedua lengannya. "Sebenarnya... Kakak Mortem memikirkan apa...? Mempunyai cucu seperti ini..."
Ashura terlihat histeris karena melihatku yang menghabisi semua bola energi yang Rianna lempar kepadaku. "Dia ini monster, lebih kejam dari iblis... Sebenarnya dia ini apa?!"
Aku tersenyum dan terlihat sangat puas. Potensiku memang benar-benar aktif... Aku merasa... Merasa seperti bisa mengalahkan para dewa dan dewi, tetapi itu belum cukup.
Walaupun aku sudah memenuhi potensi saint crystalku... Aku harus menempuh wujud yang lebih kuat lagi. Tujuanku ini hanya untuk Papa!!!
BAAAMMMMMM!!!
"Dia... Dia... Telah membangkitkan wujud Crystal... Saint of Hope!?" Rianna merasa sangat terkejut melihat itu.
"Kakak...!" Selvia melihat asap-asap yang aku buat mulai menghilang dan aku perlahan mulai muncul dari asap-asap yang menghalangiku itu.

"Bagaimana pendapat kalian semua, para penyihir!?" Aku tersenyum dengan sangat senang.
"Kekuatan Saint Elemental Zero yang akhirnya aku kuasai sejak sekian lamanya... Jika kalian memikirkan tentang namanya... Wujud ini aku namakan..."
"Crystal Saint of Hope!" Aku mulai menyilangkan kedua lenganku. "Yaaa... Crystal Saint of Hope...!" Aku merasa cukup puas memberi nama itu.
"Crystal Saint of Hope...?" Rianna dan para penyihir lainnya mulai terkejut melihat wujudku yang sangat menakjubkan dan juga indah seperti dewi.
"Hahaha... HAHAHAHHAHAHAHAHAHHA!!!" Aku mulai melayang di atas langit selagi tertawa terbahak-bahak karena potensi Saint Crystalku telah bangkit di dalam diriku.
"Aku akhirnya dapat membuat kekuatan Crystal Saint menjadi sepenuhnya milikku..."
Ashura merasa sangat ketakutan melihat wujudku ini. "Ayolah, Selvia! Bergabunglah!!! Hanya karena aku kau pasti bisa mencapai potensi yang sangat besar dan juga luar biasa..." Aku menunjuk Selvia dengan wajah yang tersenyum lebar
"Itu seperti melihat matahari yang sangat terang... Dan tak bisa kau lihat begitu saja dengan kedua mata telanjang."
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, kakak." Selvia menyilangkan kedua lengannya dengan wajah yang kesal.
Aku mulai merasa kecewa mendengar jawabannya yang hanya akan membuatku sangat kesal. "Cih. Tentu saja kau tidak mengerti... Otakmu sangat kecil seperti batu kerikil."
"Jika kau ingin melihat potensi penuh saint crystal... Maka hancurlah wilayah ini!!!" Aku mengangkat kedua lenganku dan berencana untuk menghancurkan Sillentesius.
Aku menunjuk kepada Rianna sebagai korban pertamaku untuk dibunuh. "Kita coba dengan kau, Rianna..."
"Cih..." Rianna merasa sangat kesal melihatku.
"Aku suka wajah itu! OBLIVION CRYSTAL!!!" Aku menembak crystal runcing yang sangat besar menuju arah Rianna.
Normal's POV
Riana tersenyum.
BAAAAAAAAAAAMMMMMMM!!!!
Tiba-tiba crystal itu meledak dengan sangat dahsyat. Deathode mulai tersenyum dengan sangat puas.
"Hahahahaha... HAHAHAHAHAHAHA!!!"
Tiba-tiba Deathode mulai merasakan sebuah kehangatan di seluruh tubuhnya. Crystal yang meledak itu perlahan-lahan membuat asap yang sangat besar.
"Apa...?"
"Kau harus di hukum dengan hukuman berat, Deathode." Tiba-tiba seorang Legenda mulai muncul dari asap-asap itu.
Deathode dan Selvia langsung terkejut mendengar suara itu dan bahkan melihat legenda itu.
"AHHH!? M-MAMA!?" Deathode dan Selvia mulai merasa kaget melihat Homuze yang tiba-tiba datang ke wilayah Sillentesius. Tubuh Homura sedang diambil alih oleh Homuze.
Homuze dengan wajah marah dan kesalnya mulai menakuti Selvia dan bahkan Deathode. Homuze memegang sebuah katana untuk menghukum kedua anaknya yang nakal.

"Kalian berdua... dihukum..." Kedua mata Homuze mulai bersinar seperti api yang menyala di neraka.
"Ah-Ahhh!?" Selvia langsung ketakutan melihat Mamanya yang sedang di wujud Homuze.
"LARRIIII!!! MAMA SEDANG DI WUJUD MENAKUTKANNYA!!" Deathode yang tadinya terlihat menakutkan sekarang ketakutan karena kedatangan Mamanya.
Selvia dan Deathode terbang dengan sangat jauh mencoba untuk melarikan diri dari Homuze
"KEMBALI KE SINI!!!" Homuze terbang mengejar mereka dengan sangat cepat.
BAAAAMMMMM!!! BAMMMMM!!! BAMMMM!!!
Langit-langit yang biru mulai terlihat seperti kembang api yang meledak karena Homuze sedang memberi mereka hukuman dengan sebuah bola api yang panas.
"Hahhhhh... Untung saja Mama mereka datang." Rianna memulihkan kondisinya.
Ashura menghampiri Rianna selagi menggendong Via di belakangnya. "Rianna, kenapa kau tidak menggunakan seluruh kekuatanmu?"
"Untuk apa? Dia ini tidak jahat kok... Dia hanya ingin kekuatan dan sihir lebih untuk mengeluarkan potensi penuhnya."
"Hah!? Jadi kalian berdua hanya bermain-main?"
"Iya... Sepertinya Homuze juga bahkan tidak tahu bahwa ini semua hanya latihan." Rianna terkekeh.
"J-Jadi... Bagaimana dengan kehancuran ini semua? Bahkan akademi Sillentesius pun sudah hancur."
Rianna tiba-tiba menjentik jarinya dan semuanya kembali seperti semula. Ashura langsung terkejut melihat itu. "HAHH!? B-Bagaimana!?"
"Ini semua... Hanyalah ilusi." Rianna terkekeh.
__ADS_1