Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 65 - Jawaban terdapat dimana-mana


__ADS_3

"Shiratori Shuri...!? Apa yang kau maksud dari semua ini!?" Tanya Shiro dengan nada yang kasar, ia mulai meraba kepalanya yang perlahan terasa pusing karena telah mendengar nama Shuri itu.



"Aku tidak pernah mendengar nama itu dengan nama margaku... Aku hanya kenal diriku yang normal Shira, istri-istriku, dan juga anak-anakku yang semuanya memiliki nama marga Shiratori!" Ucap Shiro dengan rautan wajah yang kesal.



"Hmph, itulah kenapa kau selalu tinggal di Dunia Eternal, Shiro." Riziel mulai menepuk kedua tangannya hingga seseorang muncul tepat di sebelah Shiro selagi memegang sebuah helm canggih. Shiro mulai melompat mundur karena ia merasa sangat curika ketika melihat helm itu. "Apa yang ingin kalian lakukan padaku, hah...!?"



"Shiro... Tenangkanlah dirimu sendiri, sudah terlalu lama kau tinggal di dunia kekal itu dan sekarang kau terlihat seperti Legenda yang akan terus mengamuk jika kau tidak menenangkan dirimu sendiri, anakku yang bernama Aziel, dia adalah seorang Saint juga sama sepertimu, Shiro. Sekarang kami akan memakaikan dirimu sebuah helm yang mampu melihat kebohongan atau kejujuran dengan sangat sempurna."



Azriel memakaikan helm tersebut kepada seluruh kepalanya hingga Shiro mulai bisa merasakan getaran kecil di seluruh arah kepalanya. "Getaran apa ini...?" Tanya Shiro.



"Getaran itu mengartikan bahwa kau memiliki sebuah otak, Shiro. Helm itu sekarang bisa mendeteksi kejujuran dan kebohonganmu." Ucap Azriel dengan wajah yang sangat serius.



Riziel juga langsung memakai helm yang sama persis seperti Shiro. Shiro mulai menatap wajahnya dengan tatapan serius karena ia masih tidak bisa mempercayai Legenda yang berada di depannya dan juga di belakangnya. "Jika kau masih tidak mempercayaiku maka kau cobalah untuk mengatakan sesuatu dengan jujur."



Shiro mengejamkan kedua matanya. "Shiratori Arisu adalah anak kandungku..." Itulah ucapan pertama Shiro di mulurnya karena ia sangat-sangat mencintai anaknya. Ketika ia mengatakan hal itu, helm yang dipakainya langsung berubah warna menjadi hijau dan terdapat sebuah lingkaran seperti hologram muncul tepat di atas helm itu yang mengartikan bahwa Shiro berkata dengan jujur.



Riziel mulai bertepuk tangan. "Hebat, hebat... Ternyata kau tidak berbohong terhadap seseorang yang kau belum percaya." Ucap Riziel hingga membuat Shiro sedikit kesal.



"Alat yang cukup manjur ternyata..." Seketika Shiro mengatakan itu, helmnya tiba-tiba berubah menjadi warna merah dan munculah hologram simbol X di atas helmnya. Hal itu membuat Riziel dan Azriel cukup terkejut karena Shiro telah berbohong. Setiap helm itu mendeteksi kebenaran maka helm itu akan mengeluarkan suara 'DING' sedangkan ketika helm itu mendeteksi kebohongan maka helm tersebut akan mengeluarkan suara 'BANG'.



"Apa ini...?" Shiro melirik ke atas, ia mulai menunjukkan wajah yang sedikit terkejut.



"Ternyata kau berbohong, Shiro. Sungguh rendahan!" Ucap Azriel dengan wajah yang kesal hingga membuat Shiro langsung menoleh ke belakang lalu menunjukkan eksperesi kesalnya kepada Azriel. "Apa kau bilang!?"



"Tenanglah... Tenang... Shiro, helm itu baru saja mendeteksi kebohongan dalam dirimu, itu artinya bahwa helm ini tidak salah lagi bisa mendeteksi kebohongan dan kebenaran kita!" Ucap Riziel.



DING!



Shiro menghela nafasnya. "Terserahlah, aku akan mendengarkan setiap perkataanmu tentang Legenda yang bernama Shiratori Shuri, jika kau mengatakan sesuatu yang akan menghabiskan waktuku maka aku akan pergi."



DING!



Shiro melepas helm-nya lalu ia melemparnya ke belakang karena ia sudah muak mendengar suara menyebalkan itu. Azriel menangkapnya lalu ia menatap Shiro dengan wajah yang kesal melihat sikapnya yang sangat menyebalkan juga. "Cih."



Riziel bergerak menghampiri Shiro selagi tersenyum. "Apakah kau ingin tahu tentang sejarah tentang Shiratori Shuri...? Seorang gadis yang mampu menjalankan marga Shiratori sampai generasi kau ini, Shiro."



Riziel mulai berjalan selagi memutari Shiro, ia mulai menatap wajah Riziel dengan wajah yang terlihat seperti kesal. "Kau seharus malu terhadap dirimu sendiri karena telah menikahi seseorang yang berasal dari keluarga Ghifari... Kau tidaklah layak untuk bertemu atau berteman dengan dewa sialan yang bernama Alvin itu." Ucap Riziel hingga helmnya terus menunjukkan warna hijau dimana ia tidak berbohong sedikitpun.



"Apa yang kau tahu tentang keluarga Ghifari...? Apakah kau pernah bertemu dengannya...? Atau jangan-jangan kau mengetahui sejarahnya juga?" Tanya Shiro.



"Aku mengetahui banyak hal tentangnya karena aku dan dia adalah Legenda yang memiliki sihir kuno...! Aku sudah tinggal ratusan tahun di semesta Touri hingga sekarang aku akhirnya bisa bergerak untuk membalas dendam terhadap seorang Legenda yang bernama Alvin Ghifari itu, tujuannya sangatlah egois karena ia mencoba untuk menyeimbangkan sesuatu sesuai kehendakan dirinya sendiri... AKU SANGAT BENCI LEGENDA ITU...!!!" Teriak Riziel hingga membuat dorongan yang mampu membuat Shiro dan Azriel terdorong mundur sedikit.



"Apa-apaan Legenda ini...? Dia memiliki energi sihir yang sangat besar, dan juga... Apakah dia mengenal Alvin cukup dekat hingga aku bisa merasakan emosi kebencian terhadap Alvin?! "



"Tidak salah lagi... Wujud biasanya ini sangatlah kuat, aku tidak yakin bahwa wujud biasanya itu setara atau dekat dengan wujud terkuat-ku yaitu Saint Revolution, tidak... Ini lebih kuat, 90% lebih kuat dari wujud Saint Revolution..."



"Dia bukanlah Legenda yang biasa jika ia memiliki sihir kuno, dia pasti sama seperti Alvin... Jangan-jangan seorang dewa yang selamat hingga Alvin melupakan sesuatu tentang dirinya ini..." Ucap batin Shiro yang membuat seluruh tubuhnya sedikit bergetar, keringatnya mulai mengalir menuju dagunya lalu terjatuh karena ia baru saja merasakan sedikit kekuatan yang di sembunyikan Riziel.



"Ehem, maaf atas teriakanku tadi, tapi... Shiratori Shiro, kau harus mengetahui jawaban yang sebenarnya." Ucap Riziel dengan wajah yang sangat serius.



"Aku tidak mau mendengar satupun kata yang berkaitan dengan Alvin Ghifari, aku tahu bahwa dia ini adalah dewa dari segalanya yang telah menciptakan ketiga semesta dan juga seorang Legenda yang telah menyeimbangi segala kehidupan..." Shiro menyilangkan kedua lengannya.



"Seharusnya kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu kepada ayahku, Shiro. Alvin adalah sosok Legenda yang sangat Riziel benci karena beberapa teman pentingnya telah terbunuh habis oleh Alvin Ghifari..." Ucap Azriel.



"Itulah Alvin Ghifari bukan? Ia akan menghabisi seseorang yang ia anggap layak untuk dihabisi, aku lumayan suka dengan tingkahnya itu." Jawab Shiro.



"Kau suka...!? Sepertinya kau sudah terlalu lama bersama dengan keluarga Ghifari. Mereka adalah keluarga yang tidak menerima takdir begitu saja.... Mereka lebih mementingkan keseimbangan dibandingkan kelebihan yang sudah terjadi!" Ucap Riziel dengan wajah yang kesal karena ia tidak suka dengan tingkah laku Alvin, ia kehilangan banyak sekali hal karena perbuatan Alvin yang telah menghancurkan hal-hal penting bagi dirinya.



"Kau sepertinya tidak tahu kenapa semesta Touri ini nyata 'kan? Jika kau tidak maka aku tidak heran bahwa kau ini terus mengatakan hal buruk tentang dewa yang aku percayai dari belakang sang dewa yang maha kuasa, kau ini sangatlah memalukan bagi kita bangsa Legenda seperti kita semua." Ucap Shiro, ia sadar bahwa perkataannya itu cukup berbahaya atau ia bisa saja membangkitkan kemarahan di dalam Riziel. Kebiasaan Shiro yang selalu membuat seseorang panas tiba-tiba muncul.



"Apa yang kau katakan, Legenda sialan?! Kau baru saja mengatakan perkataan yang tidak layak di depan ayahku!!!" Azriel mencoba untuk menyerang Shiro, tetapi Riziel menghentikannya dengan mengangkat tangan kanannya.



"Tenanglah, anakku." Ucap Riziel.



Azriel langsung mulai menenangkan dirinya sendiri, Riziel menghampiri Shiro dengan wajah yang tenang dan juga ia mulai menunjukkan senyuman kecilnya. "Sepertinya aku terlalu berlebihan mengatakan sesuatu tentang Alvin."



"Ya, intinya kau malah mengatakan semua hal tentang Alvin melainkan orang yang bernama Shuri itu." Jawab Shiro.



"Aku berkata dengan sangat jujur, Shiro. Jika kau memilih jalan Alvin maka kau telah menghianati keluargamu sendiri... Shiratori Shuri adalah sosok Legenda yang telah tiada karena tindakan Alvin itu."



"Berhenti dulu, sebenarnya Shiratori Shuri itu siapa? Aku tidak peduli jika dia tidak memiliki sedikit kaitan denganku." Seketika Riziel ingin membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara langkahan yang terdengar seperti palu yang menghantam sebuah besi.



Shiro langsung mencari suara langkahan itu berasal dari mana, ternyata ketika ia melihat ke depan terdapat sesosok gadis yang memiliki mata aneh seperti mata sebuah robot di mata kirinya. Melihat hal itu membuat wajah Shiro tiba-tiba berubah menjadi wajah yang terlihat SEDIKIT khawatir karena ia merasa malang melihat sesosok gadis itu, dia bagaikan sosok kehidupan yang telah di ubah menjadi robot.



Shiro hanya melihat mata kirinya dan juga kedua kakinya yang telah digantikan, kedua kakinya itu seperti kaki buatan dan mata kirinya juga terlihat seperti mata buatan. "Siapa gadis itu...?" Tanya Shiro dengan ia menunjuk gadis yang berada di belakang Riziel.



Riziel melirik ke belakang lalu ia menatap gadis itu yang terlihat seperti terkejut melihat Shiro, ia tiba-tiba tersenyum karena akhirnya gadis itu menunjukkan dirinya sendiri kepada Shiro. "Dia adalah seorang Legenda yang telah bangkit kembali dari kehidupan berkat teknologi tinggi di semesta Xuusuatouri. Dia sekarang setengah legenda dan setengah robot karena kedua kakinya juga mata kirinya telah aku gantikan menjadi kaki dan mata buatan."



"Shiro... Shiro..." Ucap gadis itu selagi ia berjalan menuju Shiro dengan wajah yang terlihat senang.



"Siapa Legenda ini...? Kenapa dia tiba-tiba memanggil namaku?! Membangktikan seseorang dari kematian itu adalah omong kosong, jika kau ketahuan oleh Alvin maka dia akan bertindak secepatnya--" Tiba-tiba gadis itu memeluk Shiro dengan sangat erat, pelukan itu mampu membuatnya berhenti berbicara. Pelukan itu juga mampu membuatnya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.



"Apa... Ini...?" Tanya Shiro, kedua lengannya tiba-tiba bergerak sendiri hingga ia langsung memeluk kembali gadis yang memeluknya.



"Kau tentu tidak akan mengingat gadis yang memelukmu itu karena dia adalah sosok gadis yang telah membuatmu menjadi nyata, Shiro." Ucap Riziel, Shiro langsung menatapnya dengan tatapan yang kebingungan.



"Apa yang kau maksud dengan perkataan itu...?"


__ADS_1


"Syukurlah... Syukurlah... Ternyata kau memang Shiratori Shiro, kau sekarang sudah tumbuh besar dan juga kuat!" Ucap gadis itu selagi menatap wajah Shiro yang terlihat kebingungan.



"Kau... Sebenarnya siapa...?" Tanya Shiro.



"Bukannya jelas, Shiro? Aku adalah ibu-mu loh! Shiratori Shuri, akulah yang telah melahirkanmu!" Ucap Shuri dengan wajah yang sangat senang, mendengar hal itu membuat Shiro tiba-tiba langsung terkejut hingga ia membuka kedua matanya dengan lebar karena ia tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu dengan ibu-nya untuk pertama kalinya.



"Kau terlihat terkejut... Sepertinya hari ini adalah hari dimana kau akhirnya bisa bertemu dengan ibumu ya...? Apakah kau percaya bahwa akulah yang telah melahirkanmu?" Tanya Shuri. Ia mulai membenarkan rambut Shiro yang tidak rapih selagi tersenyum menatap wajahnya yang terkejut.



"H-Hei... Ini bukan waktunya untuk bercanda ya...? Aku hanyalah seorang Eternal yang tidak memiliki ibu atau ayah..." Ucap Shiro dengan ia mulai mengalihkan pandangannya ke arah kiri karena ia mencoba untuk menahan perasaan yang tidak ingin ia tunjukan kepada ibunya.



"Pasti berat ya...? Untuk dirimu hidup menjadi seorang Saint...?" Tanya Shuri. Perkataan itu langsung membuat jantung Shiro berdetak dengan sangat cepat hingga kedua matanya langsung mengeluarkan air mata yang sangat banyak, Shiro mulai menunjukkan emosi kesedihannya tepat di depan Shuri.



"Sungguh berat..."



"Itu sangat menyakitkan... Itu sangat menakutkan... Aku merasakan perasaan yang sedih setiap aku memikirkan tentang ibu dan ayahku... Itu terasa sangat menyakitkan, aku kira aku akan mati secepatnya..."



"Ya..."



"Aku sudah mencoba sekuat mungkin untuk menjadi seseorang yang layak... Berlatih demi menjadi seseorang yang kuat itu sangatlah berat... Aku merasa sangat putus asa untuk terus hidup dipenuhi dengan pertarungan juga pelatihan..." Ucap Shiro selagi menangis.



"Sangat putus asa dan bahkan tidak bisa membuat sesuatu menjadi benar... Sangatlah berat... Itu semua adalah kebenaran... Sejujurnya aku tidak pernah bisa berjuang sekuat mungkin jika aku tidak tinggal di dunia menyakitkan itu..."



"Ya... Ibu tau kok..."



Shiro mulai menangis layaknya seperti anak kecil yang tidak akan bisa berhenti menangis. "Tapi... Aku sangat mencintai semesta Touri... Seluruh dunia yang aku tinggali ini sangatlah penting bagiku... Aku merasa putus asa bahwa aku tidak bisa melindunginya tanpa harus dibenci sedikitpun..."



"Aku sangat takut... Aku sangat takut untuk dibenci selamanya...!!! Aku tidak mau mata-mata kebencian mereka menatapku seperti seorang rendahan yang tidak pantas untuk hidup...!"



"Aku sangat membenci diriku sendiri karena tidak bisa melindungi seseorang penting di kehidupanku...!!!" Teriak Shiro dengan sangat keras, Shuri mendengar semua perkataan yang Shiro katakan selagi mengusap puncak kepalanya.



"Maafkan ibu karena telah meninggalkanmu... Tapi, sepertinya aku memilih jalan yang benar untuk menyelamatkanmu terlebih dahulu karena aku bisa melihatmu tumbuh kuat..." Shuri tersenyum. Shiro terus menangis dan menangis hingga ia memeluk Shuri dengan sangat erat karena ia bisa mengatakan semua rasa kesedihan dan juga kesakitannya kepada ibunya yang sedang ia peluk.



"Siapa...? Siapa yang telah membunuh ibu...? Aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku ini!" Ucap Shiro dengan wajah yang sangat serius, seketika Shuri ingin membuka mulutnya tiba-tiba Riziel mengeluarkan sebuah remote yang dapat mengendalikan tubuh Shuri, ia menakan tombol itu lalu tubuh Shuri tiba-tiba terdiam hingga ia tidak bisa mengatakan apapun.



"I-Ibu...?" Tanya Shiro dengan ia menatap Shuri yang terlihat seperti mencoba untuk mengatakan sesuatu. "Sepertinya mesin yang berada di dalam tubuhnya mulai menghilang suara ibumu, Shiro."



Shiro menatap Riziel. "Beritahu aku...!!! Siapa yang telah membunuh ibuku?!" Tanya Shiro dengan wajah yang sangat kesal.



"Alvin Ghifari... Legenda yang telah membunuh ibumu adalah dia... Bukan hanya ibumu saja tetapi dia telah membunuh Ayahmu juga dan seluruh pengguna sihir kuno." Ucap Riziel dengan wajah yang sangat serius hingga membuat Shiro langsung terkejut karena mana mungkin Alvin akan melakukan hal itu kepada ibunya.



Shiro merasa bahwa Riziel mencoba untuk menipunya dengan cara yang sangat mudah untuk ditebak bagi dirinya yang memiliki otak yang cerdas. Alvin dulunya pernah mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan seseorang yang sama sepertinya, itu tidak jauh lagi bahwa seseorang yang sama sepertinya adalah Shuri. "Alvin... Ya...?" Shiro mukai mencoba untuk menipunya balik.



"Situasi ini cukup gawat... Jika aku kabur bersama Ibu maka mereka berdua pasti tidak akan diam saja. Mereka bisa saja melenyapkanku dengan sangat cepat..."



"Melawan mereka juga bukanlah pilihan yang bagus karena mereka berada di level yang jauh berbeda dariku..."




"JANGAN PERCAYA MEREKA, SHIRO!!! SESEORANG YANG MEMBUNUHKU ADALAH ARGUS---" Teriak Shuri yang mencoba sekuat mungkin untuk berbicara akhirnya bisa mengeluarkan perkataan yang ia ingin ucapkan, hal itu langsung membuat Shuri tersengat oleh sengatan listrik yang sangat kuat.



BAMMMMM!!!



"AAGGGGHHHHH...!!!" Teriak Shuri selagi tersengat oleh listrik itu. Riziel dan Azriel langsung terdiam sejenak karena rencana mereka yang mencoba untuk membuat Shiro menjadi rekan mereka telah gagal, mereka sekarang tidak mempunyai pilihan lain selagi membunuh mereka berdua.



"APA YANG KAU LAKUKAN PADA IBUKU!? HENTIKAN---" Tiba-tiba poni rambut Shiro langsung bergerak dengan sangat cepat hingga pipi kanannya langsung terhantam oleh pukulan yang sangat keras hingga ia langsung terpental menuju tembok besi yang sangat kuat.



BAGGGG!!!



"Nrgghh...!" Shiro melirik ke arah dimana ia berdiri tadi, seketika ia melihat tempat ia tadi berdiri, ia melihat Azriel yang sedang bergaya seketika ia baru saja memukul seseorang. Hal itu mampu mengejutkan Shiro karena kecepatan Azriel yang tidak bisa ia rasakan.



Azriel langsung bergerak maju menuju arah Shiro. Kedua mata Shiro langsung bersinar dengan sangat cerah karena ia merasakan sesuatu yang akan menyerangnya dari depan. Azriel mencoba untuk menendang wajah Shiro, tetapi ia menangkisnya kembali menggunakan kaki kirinya.



BAMMMMMM!!!



Tendangan mereka yang teradu mampu membuat ruangan yang mereka berada sekarang bergetar hingga membuat semua barang berantakan bahkan berserakan di atas lantai. "Apakah kau tahu bahwa seorang Saint yang melawan Saint lainnya itu disebut sebagai Saint pelarian...? Apakah kau mau membuat Virra kecewa?" Tanya Shiro.



Azriel langsung melompat mundur. "Bukannya Virra sudah kecewa terhadap seorang Saint yang telah membantai seluruh Saint Elementals!?" Azriel muncul tepat di atas Shiro lalu ia menghantam kepala Shiro menggunakan kedua tinjunya, dengan cepat Shiro berhasil menghindarinya dengan bergerak maju ke depan.



"Sepertinya aku tadi bergerak lambat... Sepertinya wujud penambahan kecepatan Saint Observation mampu membantuku melihat pergerakanmu." Shiro berubah menjadi Saint Observation lalu ia mulai melakukan kuda-kuda bertarungnya.



"Jadi...? Apakah kau berencana untuk berubah juga, Azriel?" Tanya Shiro.



"Tidak perlu... Hanya satu sihir, aku bisa mengalahkanmu dengan mudah." Azriel mulai menunjuk Shiro dengan jari telunjuknya. Shiro langsung bergerak maju menujunya lalu ia memukulnya secara bertubi-tubi. Azriel dengan mudah berhasil menahan seluruh serangan Shiro.



Azriel mulai terpojoki hingga menghancurkan tembok yang berada di belakangnya selagi menahan seluruh serangan Shiro yang berkecepatan seperti kecepatan suara. Azriel menunduk lalu ia menendang Shiro, tetapi Shiro dengan cepat muncul tepat di depannya lalu ia mencoba untuk memukul kepala Azriel menggunakan tinju kanannya.



Azriel melirik ke belakang lalu ia menahan pukulan itu menggunakan tangan kirinya.



BAMMMMMM!!!



"Satu sihir...? Satu sihir apa yang kau maksud? Bukannya kau berencana untuk menggunakannya?" Tanya Shiro.



"Grr..." Azriel mencoba untuk menggunakan sihirnya, tetapi Shiro langsung berputar 360° lalu ia menendang pinggang kiri Azriel dengan sangat keras hingga ia memuntahkan darah di mulutnya. "Agh...!"



Shiro melanjutkan tendangan itu dengan memukul dagunya hingga ia terdorong mundur. "Cih... Sepertinya aku harus mulai serius."



"Meremehkan seseorang adalah pergerakan yang salah dari seorang Legenda..." Azriel langsung terbang menuju Shiro dengan sangat cepat. Di pandangan Shiro ia tiba-tiba melihat Azriel lenyap dari pandangannya sendiri.



"Begitu ya..."

__ADS_1



Shiro langsung memukul ke depan dengan seluruh tenaga yang ada di tinju kanannya. Seketika ia memukul ke depan ia beruntung bahwa tinjunya mampu memukul perut Azriel dengan tepat sasaran hingga membuatnya terkejut. "GUAGHHH!!!" Azriel memuntahkan darah dari mulutnya lagi.



Shiro berputar lalu ia menendang perut Azriel menggunakan kedua kakinya hingga ia terpental ke belakang dengan cepat. Shiro lalu mendarat di atas lantai. "... ..."



"GUAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Azriel hingga serpihan besi yang berada di sekitarnya mulai melayang. Shiro mulai merasakan energi sihir Azriel yang meningkat. "Cih..."



"Apakah kau meningkatkan sihir yang kau gunakan tadi...?" Tanya Shiro dengan ia mulai menunjukkan kuda-kudanya lagi. Seketika ia selesai menunjukkannya, tiba-tiba Azriel muncul tepat di depannya mencoba untuk menendang dan memukulnya. Shiro beruntung ia berhasil menghindari semua serangan itu dengan melompat mundur.



Azriel dan Shiro mulai saling memukul satu sama lain, Azriel berhasil memukul wajahnya dan Shiro berhasil membalas pukulan itu dengan memukul wajahnya dengan sangat keras.



Azriel melompat mundur, tetapi Shiro tidak membiarkannya untuk kabur. Ia langsung terbang menujunya lalu ia memukul wajah Azriel dengan sangat cepat.



BWUUSSHH!!!



Tiba-tiba terdapat sebuah titik-titik cahaya yang muncul tepat di belakang punggung Shiro. Hal itu terjadi karena Azriel mampu memukul perut Shiro dengan sangat dalam hingga punggungnya mulai bersinar seperti bintang-bintang di malam hari.



Shiro langsung terjatuh di atas lantai lalu ia memegang perutnya dengan kedua tangannya karena ia merasakan kesakitan yang dahsyat di pukulan tadi. "Ugh..."



"Sihir... Sihir apa yang sebenarnya kau gunakan...? Aku yakin bahwa aku sudah memukul wajah jelekmu tadi..." Ucap Shiro selagi mencoba untuk bernafas dengan normal, pernapasannya mulai terganggu karena pukulan tadi.



"Rahasia... Legenda sepertimu seharusnya mengetahui sihir apa yang aku punya..."



"Jangan-jangan kau adalah Saint yang tidak ada di buku sejarah tentang Saint itu ya...?" Tanya Shiro.



"Salah besar." Azriel menendang Shiro, tetapi ia melompat mundur lalu menatapnya dengan wajah yang serius.



"Seketika tadi aku mencoba untuk memukul wajahnya... Posisiku terlihat sama seperti berhasil memukul wajahnya, tetapi hal aneh terjadi dimana tangan kananku tiba-tiba berada di atas kepala Azriel... Walaupun dia cepat, aku masih tidak yakin bahwa tubuhku akan memiliki posisi yang sama..."



"Percuma saja jika kau mencoba untuk memikirkan sebuah rencana...!" Azriel membuka kedua matanya dengan sangat lebar.



SWOOOOOSSHHH!!!



Azriel tiba-tiba berada di belakang Shiro selagi memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Shiro sekarang sedang berada di posisi kuda-kudanya setelah ia menggerakan sedikit bola matanya, seluruh tubuhnya mulai terasa bahwa ia telah terpukul sebanyak seribu kali.



"Kau... Sudah kalah..." Ucap Azriel hingga Shiro memuntahkan banyak darah dari mulutnya lalu ia mulai berubah kembali menjadi wujud normal dan terjatuh di atas tanah.



"Ap... Apa... Itu tadi..." Ucap Shiro dengan ia perlahan mulai kehilangan penglihatannya. Shuri langsung terkejut melihat putranya yang kalah karena sihir yang Azriel gunakan. "Dasar curang!!!"



Azriel melirik kepada Shiro lalu ia menunjuknya, tiba-tiba debu-debu yang bersinar mulai bermunculan di seluruh telunjuk jari Azriel. "Habisi dia, Azriel." Ucap Raziel.



"Baiklah..." Shuri langsung terkejut melihatnya karena Azriel berencana untuk membunuhnya. Ia mencoba untuk bergerak tetapi ia tidak bisa karena ia sekarang sedang berada di bawah kendali Riziel.



"HENTIKAAAAAN!!!"



"Stardust Pi---"



...



...



...



...



"Time of Saint: Stop!" Tiba-tiba sesosok gadis yang berada di belakang Riziel mulai menjentikkan jari kanannya.



CTING!!!



Ruangan yang mereka tepati tiba-tiba membuka karena sihir waktu yang di kerahkan oleh seseorang. Sihir waktu itu sangat kuat hingga Riziel tidak bisa bergerak sedikitpun. Seorang gadis mulai berjalan menghampiri Shuri lalu ia menunjuknya. "Time of Saint: Object Start!" Shuri langsung bisa bergerak kembali.



"A-Apa...!?" Shuri mulai melirik ke segala arah lalu ia menatap gadis itu dan ternyata dia adalah gadis kecil yang sangat imut. "S-Seorang gadis kecil...?" Tanya Shuri dengan ia melihat gadis itu mulai merebut remot yang mengontrol Shuri lalu ia menjatuhkannya dan menginjaknya hingga remot itu hancur.



BZZZ!



Shuri langsung bisa menggerakan seluruh tubuhnya karena alat kendalinya telah hancur di injak oleh gadis itu. "Untuk sekarang mari kita melarikan diri bersama Papa." Ucap gadis itu.



"P-Papa...?" Tanya Shuri dengan kebingungan.



Gadis itu langsung menunjuk Shiro. "Time of Saint: Object Start." Shiro langsung bisa bergerak kembali, tetapi ia sedang berada di kondisi yang sekarat.



"Fully Restored Heal!" Gadis itu langsung menggunakan sihir penyembuh kepada Shiro hingga seluruh tubuhnya langsung bersinar dan juga seluruh lukanya langsung kembali sembuh. Shiro melirik kepada gadis yang menyebuhkannya. "A-Arisu...?"



"Cepatlah, Papa. Energi sihir makin lama makin terkuras..." Ucap Arisu, wajahnya mulai dipenuhi dengan keringat karena energi sihirnya mulai terkuras cukup banyak. Shuri langsung terkejut mendengar kata 'Papa' karena ia merasa sangat terkejut bahwa Shiro memiliki seorang anak yang mampu mengendalikan waktu dan juga menyembuhkan seseorang dengan sempurna.



Shiro bangkit lalu ia menghampiri Arisu. "Untuk sekarang kita simpan pembicaraannya nanti." Shiro mulai meraba bahu kanan Arisu. Arisu lalu menatap Shuri yang terlihat kebingungan.



"Kamu juga harus memegang bahu satunya lagi agar kita bisa melakukan teleportasi menuju tempat Kakek Alvin berada." Ucap Arisu.



Shuri mengangguk lalu ia meraba bahu satunya lagi. Arisu mengejamkan kedua matanya hingga waktu kembali berjalan, Azriel dan Riziel langsung menantap Arisu yang mulai bersinar.



"A-Apa...!?" Riziel langsung terkejut melihat itu.



"Instant Teleportation!" Arisu langsung bersinar dengan sangat cerah hingga mereka bertiga langsung menghilang dengan sangat cepat. Azriel dan Riziel tidak sempat menyerang mereka.



"Sialan...!!! MEREKA MELARIKAN DIRI!!! SIALAN!!! KEPARAT!!!" Teriak Riziel dengan sangat kesal hingga ruangan lab-nya mulai bergetar.



__ADS_1




__ADS_2