Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 104 - Demi Air Suci


__ADS_3

"Jadi Legenda itu adalah adikmu...!? Itu artinya dia juga termasuk anak dari Shira..." Ucap Arata, ia mulai menatap kedua tangannya, kedua tangannya itu hampir saja membunuh Shou. Arata mulai merasa bersalah karena ia hampir saja membunuh Shou. "Maafkan aku, Methode."


"Hm? Untuk apa?" Tanya Methode.


"Aku bisa saja membunuh Shou jika gadis yang bersamanya tidak mengganggu..."


"Tidak apa-apa, Arata. Shou adalah sesosok Legenda dengan darah ras Eternal sempuranya, jadi dia memiliki seratus persen darah Eternal. Dia bisa saja membunuhmu jika kau tidak menghentikannya." Ucap Methode. "Ahh... Jadi begitu... Apakah anak itu masih mengincarku?" Tanya Arata.


"Tentu saja, aku menggunakan sihir ilusiku untuk membuat sebuah bola mata yang terbuat dari api sacred, bola mata itu terus mengintai dan melihat semua perbuatan, Shou." Methode mulai memunculkan api sacred-nya melalui tangan kanannya hingga api sacred itu langsung menunjukkan Shou dan Clare sedang berlatih berduaan.


"Shou terus berlatih tanpa henti demi menghentikan dirimu, Arata. Shou itu adikku yang cukup keras kepala jadi aku memohon kepadamu untuk tidak membunuhnya, setidaknya buatlah dia menyerah dan sadar bahwa perbuatanmu itu benar." Ucap Methode. "Aku akan melakukan apa yang aku bisa." Jawab Arata, ia bangkit dari atas tanah lalu ia melirik kepada Methode. "Aku akan kembali membersihkan sampah, Methode."


Methode mulai tersipu merah karena ia ingin sekali ikut bersama Arata untuk membasmi semua sampah itu. "B-Bolehkah aku...? Aku ikut denganmu, Arata...? Aku juga ingin bertarung melawan semua sampah itu!" Ucap Methode, ia bangkit dari atas tanah lalu ia menatap wajah Arata dengan tatapan yang terlihat malu.


"Kenapa kau ingin ikut?"


"Karena aku ingin mengenalmu lebih, Arata." Jawab Methode, Arata mengangguk lalu ia terbang ke atas langit dan melesat ke luar angkasa. Methode mulai mengikutinya dari belakang. "Jangan lupa, Arata... Shou ini cukup berbahaya karena kekuatan Saint Gerhana Bulan-nya, bahkan ia juga pasti akan memiliki sihir warisan ras Eternal."


"Aku tahu... Aku tidak berpikir untuk kalah olehnya, tujuanku itu dilihatnya buruk karena ia tidak pernah mengerti apa yang aku incar." Ucap Arata. Methode mengangguk lalu ia tersenyum seperti suka dengan perkataan Arata yang entah kenapa bisa menyentuh hatinya.



PLANET BORIGARU


Shin sedang memberontak di kota yang bernama Hezelia, kota itu terletak di planet Borigaru. Ia membunuh semua Legenda yang berada di kota itu tanpa memberikan sedikit ampunan, Shin mengayunkan pedangnya beberapa kali ke arah Legenda yang menyerangnya dari segala arah. "Kehidupan kalian harus berakhir karena sudah memandang keluarga Ghifari... Kalian berhak untuk mati karena sudah berburuk sangka kepada keluarga satu ini." Shin mengayunkan pedangnya ke arah kepala Legenda yang berada di depannya hingga seluruh tubuhnya langsung terbelah menjadi dua.


Shin mulai menatap pedangnya yang dilumuri dengan kegelapan dan logam-nya terlumuri oleh banyak darah. Pedangnya bernama Dxydier. Para Super Elite dari kota Hezelia mulai datang dengan mendarat di belakang Shin. Mereka semua langsung mengeluarkan senjata mereka, Shin melirik ke belakang lalu ia tersenyum jahat. "Hmph... Apakah kalian siap untuk mati...?" Tanya Shin.


Shin melesat ke depan lalu ia menendang kaki kiri Legenda yang berada di depannya hingga kaki kirinya langsung patah dan membuat Legenda itu jatuh. Setelah itu Shin memukul perutnya lalu ia menusuk perutnya menggunakan pedangnya dengan sangat dalam. Shin melepas Legenda yang sudah mati itu lalu ia melihat beberapa Legenda meluncurkan sihir mereka menuju arah Shin.


Shin langsung menyerap semua sihir itu menggunakan pedangnya dan setelah itu ia muncul di belakang kedua Legenda yang berada di barisan belakang. Shin menusuk punggung Legenda yang berada di sebelah kanan dengan pedangnya lalu ia menusuk Legenda yang berada di sebelah kiri menggunakan lengan kirinya. "UAAAAGGGHHH!!!" Teriak mereka. Shin langsung membelah tubuh kedua Legenda itu menjadi dua.


Shin mengayunkan pedangnya secepat kilat hingga seluruh tubuh Super Elite Legenda itu langsung terbelah menjadi beberapa bagian, darah-darah mereka mulai berjatuhan dimana-mana. Shin melirik ke belakang dan ia melihat seorang kesatria membawa seekor minotaur yang memiliki warna hijau dan bintik merah di seluruh tubuhnya.


Minotaur itu memegang sebuah kapak besar di kedua tangannya. "Serang dia..." Ucap kesatria itu. Minotaur itu melesat menuju arah Shin lalu ia mengayunkam kedua kapaknya ke arah Shin. Shin menghindari semua serangan itu dengan melakukan beberapa backflip ke belalang, ia mulai berubah menjadi wujud God Mode dimana ia sekarang memiliki God Lenergy.


"Crimson Gale!!!" Tiga ekor crimson yang bernama Crimson Gale muncul di lengan kiri Shin, Ketiga Crimson Gale itu langsung menusuk-nusuk seluruh tubuh Minotaur itu hingga Minotaur itu langsung kesal dan meluncurkan sebuah gelombang api melalui mulutnya dan gelombang itu mengenai seluruh tubuh Shin dan membuatnya terpelanting ke belakang. "Sial...!!!"


Seluruh tubuhnya terbakar dan Shin bisa merasakan kesakitannya, ia langsung melihat kedua kapak itu bergerak menuju arah kepalanya, Shin melompat ke depan lalu ia mengayunkan pedangnya tepat di dahi Minotaur itu. "GRAAGGGHHG!!!" Shin muncul kembali di atas daratan selagi memegang pedangnya dengan sangat erat. "Aku akan mengalahkanmu...!"



Shou dan Rigel sedang duduk di bawah pohon yang besar, Shou baru saja selesai berlatih dengan Clare, ia dipenuhi dengan keringat sekarang karena latihan tadi cukup membuatnya belajar dari kesalahan yang ia buat ketika melawan Clare. Rigel mulai memijit kedua bahu Shou dengan ekspresi yang terlihat malu, wajahnya terlihat sangat merah. "Uhhhh... Nikmat sekali, Rigel. Tubuhku terasa seperti baru kembali karena pijitanmu." Ucap Shou.


"Ini terakhir kalinya aku melakukan hal ini loh, Shou. Aku ini bukan ibumu..."


"Ya, kau bukan ibuku, kau mungkin bisa saja menjadi istriku." Jawab Shou yang sedang menikmati pijitan dari Rigel, pikirannya hanya fokus kepada pijitan itu, ia tidak memperdulikan apa yang Rigel katakan jadi ia hanya membiarkan mulutnya berbicara semaunya.


Wajah Rigel langsung memerah, ia mulai memijit kedua bahu Shou dengan sangat kasar hingga Shou langsung menunjukkan wajah yang kelihatan kesakitan. "AWWW!!! APA YANG KAU LAKUKAN!? TULANGKU AKAN REMUK LAGI...!!!" Teriak Shou hingga Rigel berhenti sebentar memijatnya lalu ia menatap wajah Shou dengan tatapan kesal.


"Apa yang kau maksud dengan istrimu!? Aku bukanlah istrimu, dasar bodoh!" Rigel mukai memukul-mukul seluruh tubuh Shou untuk menghalangi rasa malu dan canggungnya. Shou menahan semua serangan itu selagi menunjukkan wajah yang kesal. "Kau ini sebenarnya kenapa sih!? Kau kerasukan apa!?" Tanya Shou kesal.


Rigel berhenti memukul Shou lalu ia mulai mengembungkan kedua pipinya. "Aku...! Aku...! Aku sebenarnya---"


SWOOOOOSSSHHH!!!


Clare muncul di belakang Shou selagi memegang lengan kanannya yang dipenuhi dengan darah. "Tuan, maaf. Gerbang untuk mengambil air suci tertutup rapat dan tersegel oleh sihir sacred yang sangat berbahaya." Ucap Clare.


Rigel mundur beberapa langkah, wajahnya terlihat seperti tomat karena ia hampir saja mengungkapkan perasaannya kepada Shou. Shou bangkit dari atas tanah lalu ia menghampiri Clare. "Tertutup rapat?" Shou terkejut.

__ADS_1


"Sejak itu gerbangnya selalu terbuka kok, tapi kenapa sekarang tertutup rapat? Siapa yang menutupnya!?" Tanya Shou.


Clare menghela nafasnya. "Seseorang yang menyegel gerbang itu rapat adalah Dewi Korrina Comi." Ucap Clare hingga mampu membuat kedua mata Shou terbuka dengan sangat lebar. "Nenek Korrina!? Jadi air suci itu dijaga oleh nenek tepos itu!?" Tanya Shou dengan ekspresi terkejut.


"Ya... Bagaimana sekarang? Luka-luka kita tidak akan bisa sembuh dengan waktu yang cepat." Ucap Clare, mereka berlatih terlalu berlebihan hingga seluruh tubuh mereka dipenuhi dengan luka. Rigel bangkit dari atas tanah. "Ehem!"


Clare dan Shou langsung melirik ke arah Rigel yang masih terlihat canggung. "Ada apa, Rigel?" Tanya Shou.


"Kita hanya harus meminta tolong kepada Dewi Korrina bukan?" Tanya Rigel. Shou langsung merasa cukup kesal karena ia tidak mau berurusan lagi dengan Dewi tepos, ia selalu saja dikendalikan oleh ilusi milik Korrina. "Ahh iya... Dia sekarang sedang berada di planet Legendarius di kota Solatori" Ucap Clare karena ia bisa merasakan keberadaan Korrina tidak jauh dari tempat latihan mereka berdua.


"Bagaimana, tuan? Mari kita pergi ke tempat itu." Ucap Clare. Shou mulai berpikir beberapa detik lalu ia bernafas berat. "Hahhh... Baiklah, dimana dewi tepos itu berada sekarang?" Tanya Shou.


"Ikut aku." Clare terbang ke atas lalu ia melesat menuju kota Solatori, Shou mulai mengikutinya dari belakang. "Hahh... Aku gagal lagi." Shou menghela nafasnya lalu ia terbang mengikuti Shou dari belakang.



Kota Solatori, di dalam restauran ramen yang sangat mewah dan terdapat papan besar diluarnya yang mengatakan <>, restauran ramen itu mulai mendunia karena papan itu karena terdapat foto tentang Korrina sedang makan ramen di papan itu juga.


Korrina membuka pintu restauran itu selagi menggendong Aiko. "Paman! Aku pesan 5 mangkok besar ramen spesial ulat Yakigana dan 1 mangkok kecil ramen original ya~!" Ucap Korrina selagi menggendong Aiko yang sedang tertidur, semua Legenda yang sedang makan di dalam restauran itu langsung terkejut ketika melihat Korrina.


"DEWI KORRINA...!!!" Semua Legenda yang sedang makan itu langsung bergegas menuju arah Korrina, tetapi ia langsung menatap mereka semua dengan tatapannya hingga mereka semua langsung kembali duduk, tekanan Korrina mendadak besar hingga mampu membuat mereka semua duduk kembali. "Dewi Korrina! Maafkan kami karena sudah bersikap tidak sopan!!!" Teriak para Legenda.


"Jangan dibiasakan, kalian bisa membuat buah hati kecilku bangun." Korrina menghampiri kursi emas khusus dirinya, kursi itu hanya layak untuk diduduki oleh Korrina. Pemiliki toko itu langsung tersenyum ketika melihat Korrina. "Dewi Korrina, menu biasa 'kah?"


"Ya, masih gratis 'kan!?" Tanya Korrina. "Tentu saja! Hanya untuk dewi sepertimu dan bayi kecil-nya yang sedang tidur." Pemilik toko itu bergegas langsung bergegas menyediakan minuman dingin untuk Korrina.


Aiko membuka kedua matanya lalu ia menatap wajah Korrina. "Gaooooooo~" Aiko menarik kerah baju Korrina lalu ia tersenyum. "Sudah bangun ya? Waktunya makan, anakku." Ucap Korrina, ia mencium pipinya lalu ia menepatinya di atas meja.


"Tehehe~ Mama~" Aiko tersenyum, Korrina mulai mengeluarkan ikat rambutnya dari saku rok-nya lalu setelah itu ia mulai mengikat rambutnya menjadi model ponytail. "Waktunya makan!" Ucap pemilik toko itu, ia menyedikan 6 mangkok yang Korrina pesan.


"Uwahhh...!" Mulut Korrina mulai dipenuhi dengan air liur dan wajahnya terlihat seperti bersinar, ia mengambil sumpit yang disediakan. "Ramen yakigana..." Ramen yakigana adalah ramen yang mie-nya diganti menjadi cacing yang memiliki rasa seperti ayam dan nama cacing itu adalah Yakigana. Cacing Yakigana biasanya bisa ditemukan di dalam lautan bagian terdalam.


"Apakah benar air suci di danau Hiyari itu milikmu!?" Tanya Shou.


"Ya, itu benar."


Shou langsung memohon. "Ohh, aku mohon, biarkan aku mengambil sedikit air suci dari danau Hiyari, aku mohon, nenek!!!" Ucap Shou yang terus memohon.


"Aku tidak melihat penolakan, tentu saja boleh." Jawab Korrina dengan sebuah senyuman.


"Ahh!? Benarkah!?"


"Ya, tentu saja."


"Aku sudah berpikir-pikir bahwa kau membutuhkan air itu untuk melawan Shin dan Arata bukan? Kenapa kau tidak bilang saja kepadaku dari awal, Shou?" Tanya Korrina.


"Ahh... Maafkan aku, nenek. Aku kira kau akan melarangku untuk mengambil air suci Hiyari..." Jawab Shou.


"Aku memaafkanmu, Shou. Setidaknya kau mulai berkembang dari sikap busukmu itu." Korrina mengambil sumpitnya kembali.


"Ayo, kita pergi. Aku sudah muak menghabiskan waktu lebih lama lagi... Aku ingin cepat-cepat kembali berlatih dan melawan musuh yang sebenarnya." Ucap Shou selagi berjalan pergi meninggalkan Korrina.


"Tunggu, Shou, kau harus menunggu." Jawab Korrina. Shou langsung melirik kepada Korrina dan ia mulai menunjukkan wajah yang terlihat kesal. "Ada apa? Aku tidak memiliki banyak waktu."


"Kau tidak berencana untuk membatalkan makan siangku bersama Aiko bukan?" Tanya Korrina, Aiko sedang memakan ramen-nya dan ia diam-diam mencicipi ramen milik Korrina. "Ahh iya, aku lupa, kalian nikmati dulu makan siangnya ya~ Aku akan menunggu." Shou duduk disebelah Korrina.


"Kau ingin memesan sesuatu?" Tanya pemilik toko itu.


"Satu air dingin saja."

__ADS_1


"Tidak dengan ramen?"


"Tidak!!!"


"Baiklah!" Pemilik toko itu berjalan pergi.


Korrina mulai meminum minumannya. "Selamat makan!!!" Shou langsung merasa senang terhadap dirinya sendiri karena ia baru saja berhasil membujuk Korrina untuk mengizinkannya mengambil air suci Hiyari.


"Uwahhh... Mie dari ramen ini... Terlihat sangat lezat... Bahkan sup-nya terlihat seperti benih kehidupan Alvin..." Ucap Korrina pelan.


"Apakah nenek sudah selesai?" Tanya Shou yang tidak sabar untuk pergi.


"Oh iya... Maaf, makanlah sampai nenek kenyang ya." Shou langsung melirik ke arah lain selagi menunggu Korrina menghabiskan makanannya.


Korrina mulai mengaduk ramennya menggunakan sumpitnya. "Uwahhh... Lihatlah tekstur dari mie ini... Sungguh menakjubkan." Korrina berencana untuk memakannya, tetapi Shou mengganggu dan menanyakan hal yang sama. "Sudah ya?" Tanya Shou.


"Belum, aku sudah bilang... Ini baru saja pemulaian." Korrina menghela nafasnya.


"Baiklah, maaf..." Shou melirik ke arah lain satu detik lalu ia menatap Korrina lagi. "Jika kau mau, kau langsung saja memakan semuanya dengan cepat tanpa harus menikmatinya."


"Tidak mau..." Korrina mulai mengaduk-aduk ramen-nya lagi. "Warna kuah-nya mulai berubah warna menjadi---"


"Apakah kau sudah selesai, nenek?"


Korrina mematahkan sumpitnya lalu ia memegang kedua bibir Shou menggunakan tangan kanannya. "SHOU!!! JIKA KAU TERUS MENGGANGGUKU SEPERTI ITU MAKA AKU TIDAK AKAN BISA MEMAKAN RAMEN-KU DAN KAU HARUS MENUNGGU LEBIH LAMA!!!" Ucap Korrina, kedua matanya terbakar oleh api sacred karena Shou yang bersikap tidak sabar.


"Ahh...!!!" Shou terkejut.


Rigel datang dengan wajah yang terlihat lelah. "Dewi Korrina, maafkan Shou yang bersikap tidak sabaran ini." Ucap Rigel.


"Shou, jika kau terus mengganggu dewi Korrina maka dia akan berubah pikiran dan membatalkan untuk membawamu mengambil air suci Hiyari." Ucap Rigel.


Korrina melepas Shou. "Rigel benar, kau harus bersabar, Shou!" Ucap Korrina.


"Ahaha... Baiklah... Aku akan duduk diam dan menunggu." Shou tersenyum lalu ia mulai terdiam selagi menunggu Korrina makan dengan sabar.


"Menghabiskan waktu saja..."


Beberapa menit kemudian, Korrina mengusap mulutnya dengan sapu tangannya. "Ahhh... Lezat sekali, aku kenyang." Ucap Korrina. Shou langsung melirik ke arah Korrina. "Jadi!? Bisakah kita pergi---"


Korrina langsung menyentil dahi Shou. "Awww!!!" Shou langsung memegang dahinya yang terasa sakit sekali, itu terasa ia baru saja tersengat oleh listrik.


"Sikap ketidaksabaranmu itu adalah kelemahanmu juga, Shou. Aku masih bisa mendeteksi kelemahan darimu jadi aku tidak akan memberikanmu air suci itu."


"Apa!? Ayolah!!! Aku sudah menunggu hampir satu jam dan kau tidak boleh membatalkannya!" Ucap Shou.


"Dengan syarat..."


"Apa itu?" Tanya Shou.


"Kau berjanji untuk bersikap sabar hanya untuk satu hari saja!" Ucap Korrina.


"Aku janji...!!!" Ucap Shou. Korrina mengangguk lalu ia tersenyum, ia menggendong Aiko lalu ia langsung menepatinya di atas kepalanya. "Mari kita pergi." Korrina meraba kepala mereka hingga mereka bertiga langsung terlindungi oleh aura sacred dan aura sacred itu meluncur ke atas langit.


SWOOOOOOOOOSSSSHHHH!!!



AUTHOR'S NOTE: Clare tidak ada di restauran ramen tadi karena ia sedang berada di mode istirahatnya jadi ia tidak memunculkan keberadaannya, tetapi ia masih tetap bersama dengan Shou.

__ADS_1


__ADS_2