Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 90 - Upacara Resmi


__ADS_3

Alvin mulai mengepang rambut Mortem menjadi gayang ekor kuda dan setelah itu ia mengusap-usap rambutnya yang terasa lembut dan harum karena Mortem baru saja beres mandi. "Papa... Aku gugup..." Ucap Mortem yang sedang menatap dirinya sendiri di depan cermin.


"Jangan gugup, kau harus senang bahwa semua ini terjadi. Papa merasa sangat bangga hingga tidak bisa mengungkapkan kebanggaan itu dengan sebuah kata." Alvin mulai mengambil sebuah sisir lalu ia menyisir rambut Mortem ke bawah dan ke atas dengan sangat lembutnya. "Apa Papa benar-benar yakin untuk menyerahkan kekuasaan Papa kepadaku?"


"Iya. Papa membutuhkan istirahat penuh, papa ingin merasakan perasaan santai dan tenang lagi... Jadi papa pilih untuk pensiun saja, bukan hanya itu sih alasannya. Masih ada banyak lagi." Ucap Alvin selagi menyisir rambut Mortem lembut.


"Alasan yang paling terpenting papa itu karena papa dibenci oleh penghuni Touri 'kan?"


"Begitulah"


"Kenapa pertahanan Papa menjadi runtuh seperti ini? Bukannya tembok perasaan Papa selalu berdiri tegak dan selalu saja tebal?" Tanya Mortem.


"Ratusan abad lamanya Papa selalu merasakan perasaan ini loh, sudah pasti pertahanan Papa akan runtuh. Tidak ada yang abadi terhadap perasaan, nak, kecuali cinta sih karena Papa dan Mama sudah menikah jutaan abad lamanya." Alvin terkekeh.


"Tuhkan... Jiwa bucin Papa keluar." Mortem terkekeh.


Alvin berhenti menyisir rambut Mortem lalu ia menatap dirinya sendiri depan cermin yang sangat besar. "Kau sudah cantik sekali~ Seperti seorang putri yang akan berdansa di malam hari." Alvin mulai menahan air matanya.


Mortem melirik ke belakang lalu ia tersenyum. "Papa, aku menyayangimu." Mortem memeluk Alvin dengan sangat erat lalu Alvin tersenyum dan mulai menepuk punggungnya. "Papa juga... Papa akan selalu menyayangimu." Alvin tersenyum.


Korrina mulai membuka pintu kamar Mortem. "Kalian jam segini sudah saling menyayangi ya, imutnya." Korrina tersenyum, ia datang bersama Aiko di kedua lengannya. Sekarang Aiko sedang tertidur karena ia baru saja meminum susu milik Korrina.


Mortem melirik kepada Korrina lalu ia tersenyum denyan sangat lebar. "Mama~" Alvin menghampiri Korrina lalu ia menggendong Aiko yang sedang tertidur dengan sangat pelan. "Aku serahkan dandanan-nya kepadamu." Alvin berjalan keluar selagi menggendong Aiko.


"Papa mau kemana?" Tanya Mortem.


"Jalan-jalan di taman." Jawab Alvin yang mulai menutup pintu kamar itu dengan sangat rapat sekali. Aiko mulai perlahan-lahan membuka kedua matanya lalu ia menatap wajah Alvin. "Papa~ Papa~ Papa~" Aiko mulai memegang baju Alvin dengan sangat erat.


"Iya, iya."



Alvin tiba di luar taman istananya, ia sekarang sedang berada di semesta Kamitouri karena upacara itu akan diadakan di titik pusat Kamitouri yang bernama Touri's High Vision atau bisa disingkat dengan nama THV.


Alvin mulai jongkok tepat di depan semak-semak yang dipenuhi dengan bunga mawar yang berwarna emas. "Ini." Alvin mulai mendekatkan Aiko dengan bunga itu lalu Aiko mengambil bunga tersebut. "Gahhhh... Papa~" Aiko mulai menepatkan bunga mawar emas itu di telinga kiri Alvin dan Alvin langsung tersenyum dengan sangat lebar sekali. "Hehehe~ Makasih~"


"Kyaaaaaahhhh~" Aiko langsung memeluk wajah Alvin, hidungnya tertutup oleh perut Aiko dan sekarang ia mulai kehilangan nafasnya karena Aiko terus memeluk wajahnya dengan sangat erat dan tidak mau melepaskannya. "A...!!! Aiko...!!!"


Alvin mencoba untuk melepas Aiko dari wajahnya dan beberapa detik kemudian ia berhasil melepaskannya dari wajahnya. "Aduh... Hah... Hah..."


"Loh?" Tiba-tiba suara seorang pria mulai terdengar tepat di depan Alvin. Alvin mulai menatap ke depan dan ia melihat seorang Legenda yang sedang mengigit sebuah bunga di mulutnya selagi menggendong bayi yang sangat cantik. "Lah..." Alvin langsung terkejut melihat itu.


"Shira/Alvin?!" Panggil mereka bersamaan. Alvin langsung bergegas mencabut bunga yang ada di telinganya sedangkan Shira, ia langsung melepaskan bunga yang ada di mulutnya karena mereka tidak mau dilihat seperti seseorang yang aneh karena hanya demi menghibur anak mereka.


"Apa yang kau lakukan disini, Shira!?" Tanya Alvin karena ia melihat Shira sedang berada di semesta Kamitouri dimana semesta itu tidak akan bisa dikunjungi oleh Mortal apapun karena terdapat sebuah barrier mutlak disetikarnya dimana hanya para dewa dan dewi yang bisa menembus barrier itu.


"Ceritanya panjang..."



"Ahhh... Homura ingin bertemu dengan Mortem ya... Wajar sih, dia 'kan anaknya." Ucap Alvin selagi berbicara dengan Shira di ujung pulau dimana jika mereka maju ke depan sedikit mereka akan jatuh ke pulau yang ada di bawah mereka, Kamitouri berisi banyak sekali pulau yang melayang dimana terkadang setiap kota juga akan terletak di pulau melayang itu.


Di depan mereka juga terdapat sebuah air terjun yang mengalir dengan sangat pelan. Alvin mulai menatap air sungai itu dengan tatapan tenangnya, Shira juga sedang menatap air terjun tenang itu.

__ADS_1


Tidak ada keheningan di tempat tersebut karena anak Alvin dan juga anak Shira sedang bermain di belakang mereka. Shira memiliki anak baru dan dia bernama Shiratori Shiori, dia seumuran dengan Aiko yaitu sekitar 11 bulan-an.


Mereka itu bayi yang cukup cerdas karena bisa mengerti perkataan orang dewasa dan mereka juga sudah bisa terbang. "Gaahhhh~ Gahhhh~" Aiko peluk Shiori dengan sangat erat.


"Guuhhh...?" Shiori menatap wajah Aiko dengan tatapan yang sangat kebingungan karena Aiko memeluknya dengan sangat erat selagi menjatuhkan beberapa air liur di perut Shiori.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa datang ke sini? Bukannya hanya para dewa dan dewi yang bisa memasuki semesta Kamitouri..."


"Jangan-jangan kamu meminta sedikit God Lenergy kepada Homura agar kamu dan Shiori bisa masuk ke semesta ini?" Tanya Alvin. Shira langsung mengangguk. "Benar sekali, dewa Alvin. Aku meminjam sedikit God Lenergy."


Sebenarnya, seorang Mortal juga bisa masuk ke dalam Kamitouri, tetapi dengan syarat mereka harus memiliki energi sihir yang mengandung dewa. Seperti God Lenergy, God Tuchi, dan God Oui. Ketiga energi sihir yang dimiliki ketiga ras di Touri. "Aku senang melihat Mortem bisa menjadi dewi Touri, aku tidak menyangka bahwa kau akan pensiun menjadi dewa segalanya, Dewa Alvin."


"Ada alasan, Shira. Alasannya adalah aku sudah lelah dan ingin merasakan kehidupan biasa kembali. Aku sudah lama tidak merasakan kehidupan seperti itu." Alvin tersenyum dengan sangat lebar. "Setidaknya penghuni Touri bisa senang dengan dewi segalanya yaitu Mortem."


"Hahaha... Itu artinya aku masih memiliki kesempatan untuk melampuimu, dewa Alvin!" Shira mulai memukul lengan kiri Alvin selagi menunjukkan sebuah senyuman kecil. Alvin mulai terkekeh. "Aku menunggu momen itu terjadi, Shira. Aku ingin bertarung dengan seseorang yang layak, kapan-kapan kita bertarung lagi."


"Ya, pasti. Itu akan terjadi!" Shira mulai menunjukkan jempolnya.


Aiko mulai melirik kepada Shira yang terlihat sangat akrab dan dekat dengan Alvin, hal itu langsung membuatnya sangat cemburu hingga ia mengembungkan kedua pipinya. "Gwaaaagggghhhh!!!" Aiko langsung terbang menuju arah Shira dan mulai mendorongnya hingga jatuh ke bawah.


"Ehhh...!?" Shira langsung merasa terkejut karena ia tiba-tiba terjatuh ke depan. "HEEEEHHHHHHH!?"


"AHHH!?" Alvin langsung terkejut melihat itu, ia mulai muncul tepat di bawah Shira lalu ia memegang kerah bajunya dan berhasil menyelamatkan Shira yang akan terjatuh menuju pulau dimana hanya terdapat sungai saja.


"Hah... Hah... Hah... Siapa yang mendorongku?!" Tanya Shira.


"Ahaha... Sepertinya kau terlalu dekat dan akrab denganku... Sebenarnya yang mendorongmu itu adalah anakku Aiko, dia sepertinya cemburu kepadamu yang dekat denganku." Alvin mulai terkekeh.


"Ehh!? Kok bisa gitu?!" Tanya Shira. Ia mulai menatap ke bawah lalu ia melihat sungai yang sangat jernih dan memiliki partikel yang sangat emas, sungguh langka sekali bagi Shira untuk melihat air sungai yang memiliki partikel emas. "Sungai itu... Sungai jenis apa itu?" Tanya Shira


"Ehh!? Sungai suci?! Apakah ada efek samping atau sesuatu tentang airnya?!" Tanya Shira dengan wajah yang terkejut, ia terlihat seperti ingin berenang di sungai itu. "Ya, efeknya adalah kau akan kebal terhadal efek negatif seperti racun, terbakar, dan semua hal yang merugikan bagi tubuhmu."


"Jika kau berenang dan meminum sungai suci hinagare maka kau selama 1 tahun penuh akan memiliki kekebalan terhadap efek negatif. Percayalah kepadaku kau akan bersyukur dan juga menyesal dalam waktu bersamaan." Ucap Alvin selagi menahan tawaannya.


"Bodo amat! Berikan aku kekebalan terhadap efek negatif itu!!!" Ucap Shira dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat. Alvin langsung melepas kerah baju Shira hingga ia langsung terjatuh menuju sungai suci itu.


BUUSSSSHHHH...!


Alvin melirik ke atas dan ia melihat Shiori bersama dengan Aiko bermain selagi melayang di atas langit. "Mereka sepertinya berteman." Alvin langsung melirik ke bawah dan mulai tersenyum licik. "Heh..."


"Wahhh...!!! Air-nya sangat seger dan dingin sekali, dewa Alvin!" Shira langsung meminum air sungai itu dengan perlahan dan rasanya cukup asin juga. "Seperti air pantai saja, tetapi rasa keasinan itu hilang beberapa saat. Hebat sekali!!!" Shira mulai berenang di sungai itu.


"Pfffttt..." Alvin mulai melirik kepada sebuah gua yang terletak di sebelah sungai itu. Tiba-tiba sebuah naga yang memiliki kulit keras berwarna emas mulai keluar dari gua tersebut dan mulai berdiri tegak di depan sungai itu. "Shira!" Panggil Alvin.


Shira mulai menatap Alvin dengan ekspresi yang kebingungan. "Ada apa, dewa Alvin?" Tanya Shira.


Alvin mulai menunjuk naga emas itu selagi tersenyum lebar. Shira mulai melirik dan menatap naga yang sedang berdiri tegak itu. "Ehh? Ada naga? Apakah dia jinak?" Tanya Shira.


"Iya, dia aman kok, tapi..." Alvin mulai sekuat mungkin untuk tidak tertawa. Shira mulai menatap naga yang perlahan-lahan mulai melebarkan sayapnya dengan sangat lebar sekali. "Whoa..."


Tiba-tiba naga itu mulai mengeluarkan cairan air yang jernih tetapi memiliki partikel emas disekitarnya atau bisa disingkat dengan mengeluarkan air kencing. Naga itu mulai kencing di depan sungai itu dan bahkan aliran kencingnya itu berada tepat di depan Shira.


Alvin langsung tertawa terbahak-bahak melihatnya karena ia melihat ekspresi Shira yang terlihat sangat terkejut atau shock sekali, mulutnya terbuka dengan sangat lebar dan matanya terlihat mati karena telah mengetahui bahwa sungai itu adalah sungai tempat kencing naga tersebut.

__ADS_1


Shira mulai menggelengkan kepalanya selagi membuka mulutnya dengan sangat lebar, ia mulai perlahan-lahan ingin muntah. "Ugghh... Hoeekk..." Shira mulai menghalang mulutnya.


"Uhhhhhh~ Suci sekali bukan? Air kencing dari seekor naga~" Alvin mulai tertawa terbahak-bahak melihat Shira baru saja berenang di air itu dan bahkan meminumnya.


"Ugghh... HOEEEKKKKK!!!" Shira mulai muntah disungai itu karena ia sudah tidak tahan untuk menahannya.



"Uwaaaahhhh~~~" Homura, Arisu, dan Rina mulai terkejut melihat Mortem yang telah sepenuhnya terdandani oleh Korrina. Ia terlihat sangat cantik dan juga terlihat persis seperti seorang dewi. "Hm, hm, sudah siap untuk menjadi Dewi maha kuasa." Korrina mulai menyilangkan kedua lengannya.


Mortem mulai menatap dirinya sendiri di cermin dan itu membuatnya terkejut karena ia terlihat sangat berbeda sekali. "Ini... Aku...?" Mortem mulai meraba cermin yang ada di depannya lalu ia melirik kepada Korrina. "Aku bangga kepadamu, nak."


"Mama... Terima kasih." Mortem mulai mengangguk.


"Sekarang kamu sudah sepenuhnya siap bukan, Mortem?" Tanya Rina. Mortem mulai mengangguk. "Tentu saja, aku sudah siap kapanpun." Mortem terkekeh.


"Mama, kau terlihat sangat cantik sekali, aku terpaksa harus jujur karena Mama sebentar lagi akan dikenal oleh seluruh penghuni Touri!" Homura mulai menunjukkan jempolnya.


"Hmph. Tentu saja." Mortem mulai menunjukkan jempolnya juga kepada Homura. Alvin dan Shira mulai membuka pintu kamar Mortem selagi memegang anak mereka.


Homura melirik kepada mereka dua dan ia melihat wajah Shira yang terlihat sangat kesal sekali sedangkan Alvin terlihat sangat terhibur. "Loh, ada apa nih? Shira, kenapa wajahmu kesal seperti itu?" Tanya Homura.


"Dewa sableng campur sialan ini menipuku tentang sungai suci Hinagare!!!" Shira mulai menunjuk Alvin yang masih tertawa hingga sekarang. "Hahaha! Kali-kali hiburan, Shira! Aku baru pertama kalinya melihat seorang legenda meminum air kencing SUCI, ahahahahaha!!!"


"GRRRGGGHHHH...!!!"


Korrina, Homura, Mortem, dan Rina langsung menahan tawaan mereka karena mereka tidak menyangka bahwa Shira akan sepolos itu untuk mempercayai Alvin. "Pfffftt...!!!" Mereka langsung menghalang mulut mereka agar mereka tidak tertawa terbahak-bahak dengan sengaja.


"Baiklah, sepertinya sudah siap!" Alvin langsung menjentikkan jarinya sebanyak dua kali, baju mereka semua kecuali Mortem mulai berubah menjadi baju khas Legenda yang bernama Kisetsu, Kisetsu berbentuk sama persis seperti kimono dan terkadang banyak sekali legenda petarung yang akan bertarung menggunakan baju Kisetsu. "Ehh...?! Sihir atau ilusi apa ini?!" Tanya Shira.


"Equipment Change." Alvin terkekeh lalu ia mulai menggunakan sihir Transfer World dengan hanya menjentikkan jarinya saja. Mereka tiba-tiba sedang berada di sebuah dimensi dimana hanya terdapat padang pasir saja. "Dunia apa ini...?" Tanya Homura.


"Sihir yang Alvin gunakan adalah Imagination World." Jawab Korrina. Sebuah dimensi yang mampu menciptakan apapun sesuai kehendakkan si pencipta jadi jika Alvin memikirkan sesuatu hal yang ada dipikirannya maka itu akan muncul di dunianya ini.


"Kakak, ternyata kamu sudah siap." Suara seorang gadis mulai muncul di depan belakang mereka semua, Mortem melirik ke belakang dan ia melihat adik-adiknya yang telah berkumpul, bahkan semua cucu Alvin juga telah berkumpul di satu tempat. "Korin..."


"Yo! Kau terlihat sangat cocok untuk menjadi dewi touri sekarang." Korin mulai tertawa.


Mortem tersipu merah ketika dipuji oleh Korin. "T-T-Terima kasih, Korin..." Alvin langsung menciptakan sebuab panggung yang sangat besar di depannya dan ia langsung menjentikkan jarinya lagi hingga ia dan yang lainnya langsung muncul tepat di atas panggung itu. "Alvin, kekuatanmu kok masih terlihat kuar dan aneh seperti itu?" Tanya Shira.


"Jangan salah sangka, semua kekuatan dan sihir yang aku miliki ini murni milikk---"


"Apa kamu bilang...?!" Tanya Korrina dengan kedua matanya yang terbakar. "...Wahh, tentu saja semua sihir ini milik istriku yang cantik dan kuat, ahahaha!" Alvin langsung terkekeh selagi berkeringat cukup banyak, mukutnya terlihat sangat memaksa untuk tersenyun karena ia sedang berada di situasi hidup atau mati.


"Begitu ya..." Shira mengangguk lalu ia menatap padang pasir yang sangat luas itu. "Bagaimana caranya agar semua penghuni Touri tahu tentang pelantikannya?" Tanya Shira kepada Alvin.


"Aku akan memanggil mereka semua di satu tempat ini. Semua penghuni Touri yang berjumlah trilliun-an, mungkin kau akan merasakan banyak sekali aura-aura besar di sekitar wilayah ini karena SEMUA penghuni Touri akan berkumpul di tempat satu ini."


Shira langsung membulatkan kedua matanya dan membuka mulutnya selebar mungkin. "H-HEBAAAAAAT...!!!" Ia mulai merasakan perasaan yang bersemangat tinggi di dalam tubuhnya karena ia tidak sabar untuk melihat semua penghuni Touri berkumpul di satu tempat.


"Berbaris!" Alvin tiba-tiba mulai mengatur tempat berbaris mereka dalam sekejap menggunakan sihir telekinesis-nya lalu ia mulai menghampiri Mortem. "Kamu sudah siap anakku?" Tanya Alvin, ia mulai menepuk bahu kanannya.


Mortem mengangguk. "Aku selalu siap, Papa!" Mortem langsung tersenyum dengan sangat lebar. "Mari kita mulai pelantikkannya!"

__ADS_1


"Touri's Reunion...! Pemanggilan bagi seluruh penghuni Touri!!!" Kedua lengan Alvin mulai bersinar dengan sangat cerah, ia langsung menjentikkan jari kanannya SWOOOSH, hingga tiba-tiba semua penghuni Touri langsung muncul tepat di depan mereka selagi menunjukkan wajah yang kebingungan dan juga terkejut.


__ADS_2