Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 92 - Pesta Meriah! Yahoo!


__ADS_3

Shira dan yang lainnya kembali pulang menuju semesta Kamitouri, mereka semua berencana untuk merayakan pelantikan Mortem dengan sebuah pesta yang sangat meriah dimana hanya terdapat keluarga Ghifari dan Shiratori saja.


Korrina sudah memasak banyak sekali bermacam-macam makanan lalu ia memanipulasi semua makanan itu menjadi banyak sekali, jumlahnya itu mampu melampui jutaan karena keluarga Shiratori dan Ghifari akan makan hingga puas. Perayaan Legenda terkadang dirayakan dengan sebuah makanan yang banyak.


Mereka merayakan pesta meriah itu di dalam istana milik Alvin yang berukuran sangat besar sekali bahkan lebih besar dari satu kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung. Korrina menaruh semua makanan itu di ruang tamu yang sangat luas dan mewah. Semua anggota keluarga Shiratori dan Ghifari langsung merasa tidak sabar untuk menyantap makanan yang dibuat oleh seorang dewi yang jago dalam memasak segala hal.


Semua anggota Ghifari dan Shiratori duduk di tempat mereka masing-masing, tempat kursi mereka sudah terdapat nama mereka masing-masing. Alvian mulai mengambil gelas yang terisi oleh bir sedangkan beberapa dari anggota keluarga itu memegang gelas yang berisi jus jeruk dan jus anggur. "Hari ini adalah hari pesta pelantikan Memory Mortem menjadi seorang Dewi maha kuasa!!!" Ucap Alvian yang mengangkat gelas itu lebih tinggi.


"BERSULANG!!!" Teriak mereka semua. "SELAMAT MAKAAAAAN!!!" Mereka semua langsung menyantap semua makanan yang ada di depan mereka, mereka semua memakan makanan itu layaknya seperti seseorang yang kelaparan baru saja makan. Korrina dan Mortem hanya bisa berdiri dan menatap mereka semua.


"Hah... Mereka semua lahap sekali."


"Hahaha~ makanan buatan Mama memang terbaik di segala semesta." Mortem terkekeh.


"Kenapa kamu tidak makan?"


"Aku tidak nafsu makan untuk saat ini karena aku ingin berbicara denganmu, Mama. Hanya kita berdua." Ucap Mortem dengan wajah yang terlihat serius. Korrina mengangguk. "Setelah kita berbicara, maukah kamu mengantar mama untuk membeli persedian makanan untuk besok?" Tanya Korrina.


"Tentu saja." Mortem mengangguk. "Alvian, Mama dan Mortem mau pergi sebentar ya." Ucap Korrina selagi memegang tangan kanan Mortem, mereka berdua langsung berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Alvian tidak mendengarkannya karena ia sedang sibuk mengupas cangkang kepiting yang dilumuri dengan saus tiram. "HMMMM!!! INI KENIKMATAN!!!" Teriak Shira yang sedang mengunyah daging naga suci.


"Nyam...!!! Nyam...! Nyam...!!!" Arisu memakan sayurannya dengan sangat lahap, ia perlahan-lahan mulai menyukai dengan sayuran. Shira langsung melirik kepada Alvian karena ia merasakan sesuatu janggal yaitu Alvin ternyata tidak ada di pesta meriah ini. "Loh? Alvin kemana, Alvian?" Tanya Shira.


"Ahh... Ayah sepertinya sedang beristirahat, kau tahu dia menggunakan semua Lenergy-nya demi memunculkan semua penghuni Touri!" Jawab Alvian.


"Kau ada benarnya..." Shira langsung mulai melanjutkan memakan semua makanan yang ada. Semua anggota menikmati makanan yang dibuat oleh Korrina hingga tiba-tiba seseorang mulai membuka lebar pintu ruangan itu. "Apakah pestanya sudah mulai!?" Teriak seorang Legenda.


Semua anggota Ghifari dan Shiratori langsung kebingungan kecuali Alvian karena ia terlihat sangat senang karena melihat mereka semua telah datang. "Pesta yang SEBENARNYA AKAN DIMULAI, YOOO!!!" Alvian bangkit dari kursinya lalu ia menghampiri segerombolan Legenda yang sedang menunggu di luar ruangan itu.


"Oi! Alvian, apa yang kau maksud dengan semua ini?! Mama bisa membunuhmu!!!" Teriak Rina, ia mulai menunjukkan wajah yang kesal melihat Alvian membawa semua legenda demi berpesta meriah di istana milik Alvin. "Tenanglah, Kakak, jika semuanya berantakan maka aku akan membersihkannya menggunakan ilusi-ku!" Alvian tersenyum.


"MARI BERPESTA!!!" Teriak Alvian hingga semua Legenda yang ia undang langsung memasuki ruangan itu dan mulai berpesta. Lampu bersinar warna warni mulai memancarkan sinar yang cerah di sekitar dan juga lagu yang terdengar seperti dansa mulai terdengar cukup bersemangat. Semua Legenda itu langsung memajangi ruangan itu seperti ruangan pesta meriah.


"Uwahh... Banyak orang..." Ucap Shira, beberapa Legenda mulai memakan makanan yang tersedia, berdansa, menggila, mabuk, dan semua hal yang selalu dilakukan seseorang yang selalu berpesta. Rina merasa sangat kesal melihatnya, ia diam diam meluncurkan Anti-Illusion disekitar istana itu agar Alvian tidak bisa membersihkan semua kekacauan ini dengan sebuah ilusi.


Rina langsung berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Shira kembali menyantap makanannya dan tiba-tiba ia disentuh di bagian bahu kanannya oleh seseorang, Shira langsung melirik ke belakang dan ia melihat sesosok Neko Legenda yang sedang melambai kepadanya. "Yo, Shira! Kamu baik-baik saja?" Tanya Neko Legenda itu.


"M-M-MEGUMI!?" Shira langsung membulatkan kedua matanya ketika ia melihat sesosok legenda yang pernah membantunya di semesta Yuusuatouri, Megumi adalah sesosok Legenda pertama yang Shira temui. Seketika Shira dan Homura menikah, Megumi memiliki tugas penting di desanya yaitu desa dimana para neko legenda tinggal Nekoramiya dan sekarang ia telah kembali.


"Loh?! Ternyata benar!!! Kau Megumi!!!" Homura menunjuk Megumi yang sedang terkekeh, Methode langsung merasa senang ketika melihat Megumi yang telah kembali dari misi pentingnya. "M-Megumi...?!"


"Kau dari mana saja, Megumi?! Sudah lama sekali ya!!!" Shira bangkit dari atas kursi lalu ia mulai berjabat tangan bersama Megumi. "Ahaha, maaf... Aku memiliki tugas penting di desa Nekoramiya... Desa itu diserang oleh wabah Starlight." Megumi terkekeh.


"Wabah Starlight?" Shira langsung menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sangat kebingungan. Megumi langsung tertawa terbahak-bahak. "Maaf, maaf, sepertinya kamu tidak tahu tentang wabah yang bernama Starlight itu bukan?" Megumi terkekeh.


"Wabah Starlight adalah wabah dimana beberapa bintang-bintang emas besar berkilauan di atas desa Nekoramiya, bintang-bintang itu berputar 360° selamanya demi mengubah kami para ras Neko Legenda menjadi Beast Neko Legend!"


"Beast Neko Legend...?"


"Ya, Sebuah wujud berbahaya para ras Neko Legenda, wujud itu mampu meningkatkan seluruh atribut kita hingga potensi maksimal. Dan juga wujud kita yang seperti kalian ini akan berubah drastis menjadi seekor monster kucing besar yang sangat menakutkan!!!" Ucap Megumi.


"Jika kita para Legenda menatap Starlight terlalu lama maka cahaya dari Starlight itu akan merasuki mata kita dan mulai menyalur menuju hati kita, setelah itu hati kita akan berdetak dengan sangat cepat hingga mampu membuat seluruh tubuh kita bergetar dan merubah kita menjadi sesosok Beast Neko Legend!" Megumi tersenyum lebar.


"Jadi? Apakah kau berhasil menyelamatkan Nekoramiya?" Tanya Shira.


"Tentu saja, dengan diriku berubah menjadi Neko Beast Legend, aku menghancurkan semua Starlight yang ada di langit. Untungnya aku sudah terlihatih hingga potensi penuh sejak kecil, jadi aku dapat mengendalikan wujud Beast Neko Legend."

__ADS_1


"Sebenarnya Beast Neko Legenda itu sangat berbahaya... Mereka akan mengamuk dan tidak bisa mengendalikan diri mereka sendiri, seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehat mereka!" Megumi tersenyum.


"Jadi begitu... Neko Legenda ternyata memiliki potensi yang cukup menarik... Aku tidak boleh meremehkannya." Ucap Shira.


"Megumi, bagaimana jika kau mengajak kami ke desa Nekoramiya itu!?" Tanya Methode.


"Hm! Tentu!"



Alvin menanjaki gunung-gunung yang memiliki rumput lembut sekali, ia mulai berbalik arah dan melihat istananya dari kejauhan beberapa ratusan kilometer. Alvin mulai duduk di atas daun-daun yang terasa empuk itu. "... ..." Alvin menghela nafasnya lalu ia mulai mengeluarkan sebuah kubus yang memiliki cahaya hijau di sekitarnya.


"Cage of Memories: Haruka's Best Memo..." Alvin mencoba untuk tidak mengatakannya karena ia sudah janji bahwa ia tidak akan bersedih lagi mengingat Haruka, tetapi kedamaian yang sedang melindungi Touri saat ini mampu membuatnya tidak bisa berhenti mengingat Haruka. "...ries"


Kubus hijau itu langsung menunjukkan menciptakan sebuah hologram, hologram itu langsung memperlihatkan Haruka yang masih kecil. Alvin langsung tersenyum melihatnya karena hologram itu menunjukkan semua ingatan terbaik yang pernah Haruka alami.


"AKU ADALAH SALAH SATU DARI ANGGOTA KELUARGA GHIFARI!!!" Ucap Haruka, ia mulai menaikan auranya.


"Untuk sekarang hingga akhir dari Touri... Kau akan aku adopsi menjadi anggota keluarga Ghifari! Namamu adalah Haruka Ghifari sekarang." Ucap Alvin yang sedang berbicara dengan Haruka yang masih berumur 6 tahunan.


"Ada sesuatu yang spesial tentang dirimu, Haruka." Ucap Korrina kepada Haruka.


"AKU ADALAH ANAK ADOPSI DARI ALVIN DAN KORRINA!!! HARUKA GHIFARI!!!" Teriak Haruka, ia sedang memegang Omni-Slayer dengan sangat erat sekali.


Alvin langsung terkejut ketika melihat adegan itu, hologram itu mulai menunjukkan pertarungan Haruka dan Zoiru, kedua mata Alvin mulai berkaca-kaca ketika melihatnyam. "Ha... Ruka..."


"Kau dilahirkan untuk melindungi mereka yang tidak bisa melindungi mereka sendiri." Ucap Alvin.


Alvin langsung mematikan Cage of Memories itu karena ia sudah tidak tahan untuk melihatnya lagi, ia menjatuhkan kubus hijau itu di atas rumput-rumput. "... ..."


"Seharusnya... Aku yang mengorbankan diriku demi keselamatan Touri... Jika saja aku menyadarinya dari awal..." Alvin mulai mengacak-acak rambutnya. "Jika saja aku tahu bahwa dia sedang mencoba untuk mengorbankan dirinya...!!! Haruka... Pasti bisa selamat...!!!" Alvin mulai meneteskan beberapa air mata di kedua matanya.


"Kau... Dikenang untuk... Selamanya..." Alvin mencoba untuk berbicara sekuat mungkin tetapi tidak bisa karena air mata terus menetes tanpa henti.


...


...


"Papa..." Rina tiba-tiba memeluk Alvin dari belakang, hal itu langsung membuat Alvin terkejut hingga jantungnya berdetak tanpa henti dan air matanya mulai bertambah banyak. "Kamu menangis sendirian disini... Kenapa..." Tanya Rina dengan sebuah senyuman.


"Tidak apa-apa 'kan...? Papa hanya ingin merasakan perasaan ini... Kedamaian yang telah menyelimuti Touri mampu membuat Papa mengingat Haruka..." Ucap Alvin.


"Papa... Ingin... Dianggap oleh kalian semua bahwa papa sudah tidak bersikap egois lagi..." Ucap Alvin hingga mampu membuat Rina terkejut, ia mulai duduk di sebelah Alvin dan menyendarkan kepalanya di lengan kanan Alvin. "Dimasa-masa pensiun ini... Papa tidak memiliki siapapun melainkan menjaga Aiko dan bersama mama..."


"Dulu... Haruka suka datang berkunjung dan menceritakan segala hal yang ia alami di dalam kehidupannya... Tapi sekarang, dia sudah tiada... Papa dan Mama hanya bisa duduk selagi menunggu anak-anak atau cucu-cucu papa datang berkunjung..." Alvin tersenyum kecil, ia terlihat seperti membutuhkan perhatian dari seseorang yang dekat.


"Kenapa papa tidak berbicara tentang itu? Papa membutuhkan perhati---"


"Lihatlah situasi, anakku... Semua anak-anak dan cucu-cucu papa sudah pasti memiliki kesibukannya masing-masing... Termasuk Rina yang sudah memiliki Kuroshin dan hal lain-lainnya..." Alvin tersenyum kecil.


Rina memeluk Alvin erat. "Maaf... Papa... Maaf... Selama ini Rina sudah melupakan papa..." Rina mulai menangis juga. "Selama ini... Rina salah... Rina sudah mengabaikan papa cukup lama..."


Rina dengan sekuat mungkin menahan tangisannya karena ia merasa bersalah, sudah beberapa tahun ia tidak mengunjungi Alvin karena kesibukan dengan putranya dan juga hal-hal penting lainnya. "Jika saja Legenda memiliki masa tua, keinginan terakhir Papa adalah duduk di kursi goyang bersama Mama..."


"Setelah itu... Anak-anak papa dan cucu papa melingkari kita dan melihat kita meninggal bersama karena sudah tua..." Alvin tersenyum.


"Papa... Maafkan aku..." Rina memeluk Alvin erat. "Kau tidak salah nak, seharusnya Papa sadar bahwa masa lalu itu biarkanlah berlalu. Papa hanya menghabiskan waktu yang dapat menyembuhkan segala luka dengan tangisan lemah ini..."

__ADS_1


"Papa seharusnya membiarkan kematian Ibu... Ayah... Kakak... Semua orang yang aku cintai dan percayai termasuk Haruka terlalui, tetapi... Ketika Papa pensiun, papa terus menerus mengingat kematian mereka tanpa henti..." Ucap Alvin.


Rina mulai memegang kedua pipi Alvin hingga Alvin langsung menatap wajah Rina yang terlihat sedang menahan tangisannya. "Papa... Rina janji akan menemani papa lagi hingga papa puas, Rina juga merasakan sangat menyesal karena tidak pernah datang mengunjungi Papa..."


"Rina... Akan menemani Papa hingga papa senang kembali, Rina sebenarnya kangen dengan Papa, Rina ingin mengunjungi Papa tetapi Rina sejak itu tidak memiliki tubuh asli karena Mortem sedang sibuk membasmi monster di Abyss' Realm..."


Alvin tersenyum ketika ia melihat wajah Rina. "Rina..."


"Ada apa, Papa...?" Tanya Rina.


"Tersenyumlah. Senyuman-mu itu dapat menyembuhkan segala luka papa..."


Rina langsung tersenyum dengan sangat lebar, senyuman itu langsung membuat ekspresi Alvin yang tadinya terlihat sedih langsung berubah menjadi tenang. "Terima kasih, sayang..." Alvin langsung memeluk Rina dengan sangat erat.


"Papa puas... Sekarang... Lepaskan... Bukannya ini tempat yang pantas untukmu menangis...?" Tanya Alvin.


Perkataan itu mampu merusak pertahanan Rina untuk tidak menangis, ia mulai memeluk Alvin dengan sangat erat. "Hiks... Hiks..." Rina mulai menghalang wajahnya dengan bahu kanan Alvin.


"Hweeeeeeeeehhhh....!!! Hweeeeeeeeehhhhhh....!!!!" Rina menangis dengan sangat keras, suara tangisannya mampu membuat Alvin melemah juga, kedua mata Alvin mulai meneteskan beberapa air mata. "Kamu tidak bersalah... Anakku...", Alvin memeluk Rina erat selagi mengelus kepalanya.


"Hweeeeeeeehhhhhhh....!!!! Hweeeeeeeeeeeeeeehhhhhhh...!!!"


"Maaf... Maaf... Maaf, jika papa membuatmu menangis..." Ucap Alvin, tangisan yang ia dengar sekarang itu mampu membuatnya mengingat kejadian Rina lahir. "Sama seperti sejak itu..."


"Rina masih saja rina yang aku sayangi sejak ia lahir ke semesta Touri..." Alvin mencium pipinya lalu ia memeluknya kembali. "Sudahlah... Berhenti menangis..."


Alvin langsung menatap wajah Rina. "Tetaplah bersama papa..." Alvin tersenyum.


"Hmm...!!!" Rina mengangguk.



"Hahhhh... Astaga, antriannya tadi cukup panjang ya." Ucap Korrina yang sedang berjalan menuju istananya selagi memegang barang belanjaan di kedua tangannya. "Iya... Inilah resiko kita jika kita menghabiskan persedian makanan kita........." Nada Mortem langsung berubah drastis ketika ia melihat istananya yang dipenuhi dengan sinar cahaya warna-warni.


"... ...!" Korrina langsung melepaskan barang belanjaannya, ketika itu terjadi Mortem langsung merasakan aura menyengat milik Korrina yang terasa sangat besar. "Mama, tung---" Ketika Mortem mencoba untuk memegang bahu kirinya, Korrina sudah menghilang.


"Ini buruk....!"




Korrina langsung menghantam hancur pintu ruangan itu hingga mampu mengejutkan semua Legenda yang ada di ruangan itu. Alvian langsung membulatkan kedua matanya ketika melihat Korrina yang kembali pulang, kedua matanya telah bersinar berwarna sacred dan pupilnya sudah tiada. "... ..."


"Ibu!!! Aku bisa membereskan semuanya!!!" Ucap Alvian, ia langsung mulai menggunakan ilusinya untuk memperbaiki istana milik Alvin yang sudah berantakan karena pesta, tetapi ilusi itu tidak bisa digunakan karena seluruh istana milik Alvin mengandung sihir Anti-Illusion milik Rina yang sangat kuat.


"... ...!!!" Alvian langsung berkeringat dengan sangat banyak.


"... ..." Korrina menjentikkannya jarinya. SNAP!


BAAAAAAAAAAAAAAMMM!!!


Sebuah shockwave besar mampu mengguncangkan istana milik Alvin hingga mampu mengumpulkan semua Legenda yang berpesta tadi berbaris di depan Korrina, semua Legenda itu langsung menunjukkan ekspresi yang ketakutan. "Kalian semua harus membersihkan tempat ini hingga kembali bersih dan sempurna. Setelah itu kalian semua harus pergi dan tidak menepatkan kaki kalian disini lagi..." Ucap Korrina dengan tatapan kematiannya.


Seorang Legenda menghampiri Korrina dengan wajah yang tenang. "Yo, tenang, dewi Korrina. Mari kita berpes---" Korrina langsung mencekik lehernya dan ia mulai menatap wajah Legenda itu dengan tatapan mematikannya.


Ketika Legenda itu menatap kedua mata Korrina, ia langsung merasa sangat ketakutan karena ia bisa melihat kematiannya dan segala ketakutannya yang ada di kedua mata Korrina. "Ahhhhhhhhh....!!!! AHHHHHHHHH!!!" Teriak Legenda tersebut, Korrina langsung mendorongnya mundur hingga ia terjatuh.

__ADS_1


Dengan melihat itu semua Legenda yang berpesta langsung bergegas membersihkan istana Alvin kecuali keluarga Shiratori dan Ghifari yang sedang berads di Korrina, hanya Alvian saja salah satu anggota ghifari yang ikut bersih-bersih.


Alvin dan Rina memasuki ruangan itu lalu mereka terkejut ketika melihat ruangan luas itu sedang dibersihkan oleh para Legenda. "Ada apa ini!?" Tanya Alvin.


__ADS_2