Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 20 - Potensi Penuh


__ADS_3

(Masih berada di Selvia's POV.)



Aku kembali pulang dengan wajah yang tidak enak, suram, sedih, ingin marah, dan ingin melakukan bunuh diri. Suara ejekan para Legenda itu masih terdengar dikedua telingaku.



Aku berjalan pergi menghampiri kamarku, aku berencana untuk melakukan sesuatu yang berbahaya, bahkan Papa dan Mama pasti akan marah melihatnya, tapi... Aku harus melakukannya demi diriku dan semua keluargaku.



Sesampaiku di kamar, aku duduk di atas karpet dengan wajah yang ingin menangis, setelah lamanya, aku menangis karena tidak kuat menahan ejekan para legenda itu.



"DENGARKAN KEKUATAN KEGELAPAN DAN KECAHAYAAN DI DALAM HATIKU... AKU MEMERINTAHMU!!!" rambut kiriku mulai berubah menjadi warna putih, sedangkan rambut kananku berubah menjadi warna hitam. Kedua mataku juga berubah menjadi hitam dan putih.



"KALAHKANLAH MUSUHKU!!! HANCURKAN SEMUANYA!!!"



"AKU INGIN BEBAS!!! BESAR DARI PENDERITAAN IBLIS INIIIII!!! DARK AND LIGHT BLOODS!!!" Aku memangil sihir kedua elemen yang digabungkan Dark and Light Bloods sosok cahaya dan kegelapan yang sangat tajam langsung mematahkan tandukku yang terakhir menjadi dua.



JRAATTTT!!!



Kedua penglihatku mulai berubah menjadi tidak jelas, aku tidak bisa melihat apa-apa... Tubuhku... Terasa sangat berat dan mati rasa...



Darah yang sangat banyak mulai keluar dari tandukku... Dan itu membuatku semakin lemah dan mati rasa.



"Aku... Ingin hidup demi Papa dan Mama..." Setelah lama kemudian, aku jatuh pingsan.



(Methode's Pov)



Aku membuka pintu rumahku dengan senyuman yang sangat tidak sabar untuk bertemu dengan adikku dan bermain dengannya lagi. "Selvia! Aku pulang..."



Aku langsung lari menghampiri kamar kita yang terletak di lantai dua, aku lari dengan sangat cepat, hingga aku mengalahkan high scoreku yaitu 1,5 detik. "Selvia! Main yuk---"



...



...



"Ahh..." Kedua mataku melihat sesuatu yang seharus tidak aku lihat...



Aku melihat Selvia pingsan di atas karpet dengan darah yang banyak di karpet itu. Aku langsung mulai panik. "SELVIAAAAAAAAAA!!!" Teriak aku dengan sangat kaget.



(Normal's POV)



Shira mendarat di atas tanah dengan wajah yang sangat serius, ia menurunkan Homura, dan Homura langsung bergegas ke kamar Selvia dengan sangat cepat. "Tunggu, Homura!"



Sesampai mereka di lantai dua, Homura masuk ke kamar Selvia dengan cepat, lalu ia melihat Selvia berdarah dengan sangat banyak di atas karpet "Selvia!?" Homura menghampiri Selvia, lalu ia mengangkatnya dan melihat darah-darah yang keluar itu berasal dari tanduknya.



Shira memasuki kamar itu dan ia melihat Selvia berdarah, Shira langsung terkejut melihat itu. "S-SELVIA!?" Shira menghampiri Selvia dengan wajah yang sangat panik.



Methode hanya bisa melihat dengan wajah histeris dan terkejut. Ia tidak bisa bergerak, ia seperti terkena efek parylyze.



Beberapa jam kemudian, Homura telah berhasil menyembuhkan luka-luka Selvia sepenuhnya, sekarang Homura dan Methode sedang pergi keluar untuk mencari sebuah makanan untuk Selvia.



Shira sedang menjaga Selvia dengan wajah yang sangat khawatir. "Aku tidak akan gagal. Aku tidak akan gagal... Padahal ini baru permulaan untuk melindungi keluargaku..."



Tiba-tiba, perlahan-lahan Selvia membuka kedua matanya dengan wajah yang sangat pucat. "Sayang, kau sudah bangun?" Shira tersenyum.



"P... P... Pa... Pa..." Jawab Selvia yang mencoba untuk berbicara dengannya. Selvia duduk di atas kasur dengan wajah yang sangat pucat.



Selvia perlahan mulai menangis lagi, air matanya mulai mengisi kedua matanya. Shira lekas kaget melihatnya menangis lagi, mungkin ia pikir bahwa tanduknya yang patah itu pasti masih terasa sakit. "Selvia... Apakah itu sakit?!"



"Aww..." Selvia lekas memegang tanduknya yang patah dan mulai menangis kesakitan. Shira tidak bisa melakukan apapun. "Sayang..." Shira memegang bahu kanannya dengan wajah yang khawatir.



"Aku membencinya... Aku membencinya...!" Teriak Selvia dengan sangat keras.



"Aku membenci tanduk-tanduk ini... Tanda *iblis* ini..."



"Selvia...?"



"Selvia ingin tanduk ini menghilang saja... Selvia ingin terlahir kembali sebagai seorang Legenda..." Selvia terus menangis, dan Shira bisa melihat wajahnya yang penuh dengan kesedihan. Shira merasa sangat dendam kepada seorang Legenda yang membuatnya seperti ini.



"Selvia... Ada apa, sayang...?" Tanya Shira selagi mengusap air matanya yang berjatuhan.



Selvia langsung memegang tangan Shira yang mengusap-ngusap air matanya dan berkata... "Kenapa... Kenapa? Kenapa Selvia ini iblis?"



"Selvia tidak ingin dibenci oleh semua Legenda..." Selvia langsung memeluk Shira dengan air matanya yang masih berjatuhan. Shira memeluknya kembali dengan penuh kasih sayang dan hanya bisa terdiam.



"(Siapapun yang melakukan hal ini... Aku bersumpah akan membunuh mereka demi anakku...)" Ucap Shira dengan kedua mata tiba-tiba berunah menjadi emas hitam.



Setelah beberapa jam kemudian, Shira dan Homura pergi meninggalkan Selvia dan Methode di rumah sendirian karena mereka sibuk dengan tugas mereka yaitu mengumpulkan member baru.



Methode memasuki kamar Selvia dan ia melihat bahwa Selvia sedang tertidur. Methode menghampiri Selvia dengan wajah yang sedih, ia perlahan-lahan menyentuh tanduk Selvia yang patah. "Kasihan sekali... Selvia..."



Tiba-tiba seseorang mulai menyentuh bahu kanan Methode dengan sangat pelan hingga itu membuat Methode terkejut. "Ahhh!?" Ia langsung menoleh ke belakang dengan wajah yang kaget.



"Shhh...!" Tiba-tiba yang menyentuh bahu Methode adalah Korrina.


__ADS_1


"Nenek Korrina!" Methode tersenyum dengan sangat senang.



"Apa? Kamu senang bertemu aku?" Korrina terkekeh, lalu ia berlutut dan mulai mengusap rambut milik Selvia agar ia bisa tidur lebih damai.



"Tentu saja." Methode tersenyum, ia duduk di atas sebelah Korrina selagi melihat wajah Korrina dengan senyuman senang.



"Papa dan Mama kalian kemana?"



"Mereka semua pergi ke pulau langit Yusouwa. Mereka mengatakan bahwa mereka punya urusan penting."



"Ahh... Mereka memang tidak memperdulikan Selvia ya. Malang sekali adikmu, Methode." Ucap Korrina dengan senyuman.



"Pokoknya... Nenek tidak akan lama disini, tapi nenek ingin memberitahumu tentang sesuatu..." Korrina menoleh kepada Methode, lalu ia tersenyum.



"Jagalah adikmu dan bertarunglah bersama dengan dirinya... Kau harus menjaganya dan juga dia harus menjagamu, Methode. Kau dan adikmu bisa saja menaklukan semuanya jika kalian bekerja sama... Bahkan melindungi keluargamu." Korrina tersenyum.



"Tentu saja... Aku pasti akan melakukan itu. Tapi, aku membutuhkan latihan yang besar dan berat. Aku akan berusaha bersama adikku..." Ucap Methode dengan sangat serius.



"Bagaimana kalau ini..." Korrina memegang kepala Methode dan Selvia. "Unleash Full Potential."



BAAAMMMMMM!!!



Korrina langsung menghilang dari hadapan mereka dengan sangat cepat.



Methode's POV



Kedua mataku terasa berbeda... Itu terlihat seperti aku bisa melihat seluruh semesta. Bahkan tubuhku terasa sangat ringan dan kuat. Aku melihat kedua tanganku lalu mengepalkannya. "Potensiku ya... Saint Fire...?"



Normal's POV



Selvia membuka kedua matanya. Kedua mata mereka sama-sama bersinar sesuai elemen mereka masing-masing. Selvia terbangun dari tidurnya dan ia merasakan bahwa kedua tanduknya tumbuh lagi. "Hmmm..."



Selvia memegang kedua tanduknya dan ia hanya merasakan tanduk kanannya yang tiba-tiba beregenerasi. "Tidak..."



"Selvia." Methode bangkit dari lantai dan ia menghampiri Selvia, lalu ia mulai berbaring di sebelahnya dengan senyuman.



"Kakak..." Selvia mulai menangis karena sebuah tanduk yang tumbuh lagi di kepalanya.



"Aku benci tanduk ini..."



"Jangan membenci kepada hal yang kamu punya, Selvia. Itu indah kok, mereka itu hanya iri karena kamu ini iblis baik hati." Methode mengusap rambut Selvia dengan senyuman.




"Jangan menangis dan mencoba untuk memotongnya lagi... Aku akan selalu membantumu dan melindungimu. Itu sebuah janji." Methode tersenyum.



"Terima kasih, Kakak..." Selvia tersenyum.



Beberapa menit kemudian, mereka berjalan menghampiri dapur untuk mencari sebuah makanan. Methode membuka kulkas dan tidak ada apapun yang bisa dimakan. "Tidak ada apa-apa, Selvia."



Methode melirik kepada Selvia. "Kamu mau makan apa? Kita berburu saja."



"Kalau kita berburu... Hmmmm... Aku ingin daging Minomaru!" Selvia tersenyum.



"Wahhhh! Aku juga mulai berpikir ingin daging Minomaru." Methode dan Selvia pergi keluar dan Methode tidak melupakan untuk mengunci rumahnya.



"FIRE SAINT WINGS!!!" Sayap Methode mulai muncul di punggungnya. Selvia terkesan melihat itu. "Whoaaa!"



(Info: Unleash Full Potential adalah sebuah sihir milik Korrina yang mampu membuka potensi yang lebih. Sekarang Methode dan Selvia sudah melampui dengan Homura dan Shira tetapi mereka juga harus terus berlatih dalam menggunakan kekuatan mereka.)



Methode mengangkat Selvia, lalu mereka terbang dengan sangat cepat menghampiri gua Minomaru.



***



Setelah beberapa kemudian, mereka tiba di hutan Furou. Mereka langsung mendarat di depan gua Minomaru. Methode mulai tersenyum karena tidak sabar untuk mengalahkan sebuah Minomaru. "Aku tidak sabar..."



Tiba-tiba Mortem dan Virra mulai muncul diam-diam di pohon yang mereka tidak ketahui. Mortem tersenyum. "Kekuatan cucu-cucuku sekarang seperti sudah melampuiku, kecuali Methode... Dia sudah sepenuhnya melampui aku karena dia sering diam-diam berlatih."



"Hmph... Mama memang membantu membuka potensi mereka dari kecil ya?"



"Jangan terbawa suasana. Mereka masih harus belajar dan bahkan mereka melampuiku di wujud ini, bukan wujud terakhirku."



"Iya, iya, aku tahu, Kakak... Itu hanya aku merasa sangat senang melihat Saint Legenda yang akur dan bahkan bisa melihat Iblis baik dengan kedua mataku. Itu memang sangat menakjubkan."



"Hmph... Kau harus berterima kasih kepada Shira dan Homura karena telah membuat anak Saint Dewa."



"Kau juga." Virra terkekeh.



Methode tersenyum. "Mari coba ini!!!" Tiba-tiba sebuah api berwarna biru mulai muncul di tanah yang Methode injak. Seluruh tubuhnya mulai memanas bagaikan api yang sangat kuat.



"Api suci ya? Itu terlihat sama seperti Mama..." Mortem terkejut dan terkesan.



"Kekuatan Mama dan Papa mulai memenuhi tubuhku... Aku ingin menjadi seorang Legenda yang lebih kuat dari Mama!!!" Api-api mulai mengelilingi tubuh Methode.

__ADS_1



"Dia belum sepenuhnya tau bahwa dia sudah melampui Mamanya..." Mortem tersenyum.



"Aku juga, kakak... Aku akan melampui Papa!!!" Selvia mengeluarkan aura kegelapannya.



Mortem dan Virra tersenyum. Tiba-tiba insting Mortem mulai mengatakan sesuatu kepada Mortem bahwa ada sebuah bahaya. "Ahh... Virra, mari kita pergi."



"Ehh? Kemana?"



"Kota Nekoramiya." Mortem tersenyum.



"Baiklah..." Mortem dan Virra langsung menghilang dengan sangat cepat karena sebuah urusan. Virra mengharapi untuk melihat kekuatan mereka lebih, tetapi mereka harus pergi.



***



Disuatu tempat, dimana raja iblis dari kota Muudou berada. Kota itu tidak jauh dari Legenia. Tiba-tiba seorang Iblis menghampiri tahtahnya dengan wajah yang serius dan kesal. Dan iblis itu adalah Rxeonal.



Rxeonal duduk di atas kursinya dengan wajah yang marah. "Dimana Oyora dan Yagami berada, hah!? Mereka lama sekali untuk mengambil cucuku..." Rxeonal memukul meja yang berada di sebelahnya dengan sangat marah.



Budak Rxeonal yang bernama Tora menghampiri Rxeonal, lalu ia mulai berlutut kepadanya. "Maaf untuk memberitahumu ini, tuan... Mereka berdua telah mati..."



Rxeonal langsung terkejut mendengar kedua pasukannya yang ia pikir sangat kuat dan layak kalah begitu saja. Rxeonal bangkit dari kursi dengan wajah yang sangat kesal. "Siapa!? Siapa yang melakukan itu!?"



"Saint Legenda Shira dan Naoki..."



"Sialan!!!" Rxeonal mulai merasa sangat kesal. Ia berbalik arah dan mulai melihat jendelanya yang sangat besar. Rxeonal menutup kedua matanya. "Tora... Aku memerintahkanmu dan Raito untuk mengalahkan mereka sekarang juga... Hancurkan mereka."



"Jangan coba-coba untuk gagal!!!" Rxeonal menoleh kepada Tora dengan wajah yang sangat marah.



Tora menunduk kepada Rxeonal. "Akan aku usahakan, tuan... Demi dirimu ini." Tora berjalan pergi.



Rxeonal duduk kembali di kursinya dengan wajah yang sangat kesal. "Aku akan memberi mereka pelajaran... Liat saja nanti."



***



Shira dan guild member lainnya pergi berjalan-jalan untuk mencari member lain, mereka telah menghabiskan lebih dari 2 jam untuk mencari member baru yang layak, tetapi mereka tidak menemukannya.



"Perjalanan kita ke sini sepertinya sia-sia." Skyla menyilangkan kedua lengannya.



"Seharusnya aku tidak ikut saja..." Ucap Naoki dengan sangat kesal.



Shira berhenti berjalan, lalu ia melihat mereka dengan wajah yang sangat serius. "Kau bilang ingin mencari seseorang yang layak... Tetapi lihatlah kau ini, Naoki..."



"Maafkan aku, Shira... Tapi sepertinya kita tidak akan pernah mencari supporter atau tanker yang sangat layak---"



BAAAAAAAMMMM!!!



Suara ledakan mulai bermunculan di pulau Yusouwa dan itu sangat dahsyat sekali. Shira dan yang lainnya mulai terkejut, lalu melihat sekitar dengan sangat serius.



"Ledakan...?" Megumi terkejut.



Banyak sekali monster bayangan mata satu mulai berterbangan dan menghancurkan kota-kota. Monster itu bernama Ctuhu. satu Ctuhu melihat Shira dan yang lainnya. Ctuhu itu langsung menyerang Shira dengan laser di matanya.



"Sial!" Shira menembak Light Shot kepada Ctuhu itu dengan sangat cepat.



BAAAMMM!!!



Ctuhu itu menghilang. Dan tiba-tiba Tora dan Raito muncul di atas rumah, itu tepat di depan kedua mata Shira dan yang lain. Shira merasakan aura jahat di dalam merek, dan bahkan bisa melihat tanduk mereka. "Iblis..."



"Cih... Kenapa harus ada ras Iblis segala..." Naoki mulai pemanasan untuk bertarung lagi dengan dua iblis.



"Kalian ternyata disini... Tempat yang tidak memiliki Force field sama sekali..." Tora menyilangkan kedua lengannya.



"Hmph... Itu bagus, kita bisa menghancurkan mereka bersama dengan pulau ini seperti yang kita lakukan di Yuuwa." Raito tersenyum dengan sangat jahat.



"Apaa...!?" Shira mulai marah mendengar itu.



Disuatu Tempat.



Mortem dan Virra mulai berjalan di ruang bawah tanah yang sangat dalam dan hanya seorang Legenda yang layak bisa masuk ke dalam itu, karena ruangan bawah tanah itu sangat dalam sekali.



Setelah mereka tiba di tempat yang paling dalam, mereka berhenti dan mulai tersenyum. "Beruntung sekali kau ada disini..." Mortem tersenyum.



Ternyata seseorang yang mereka cari adalah seorang Universal Saint Legenda, ia menoleh kepada Mortem dan Virra.



"Ahhh... Ternyata Kak Mortem dan Virra datang berkunjung ya..."



"Haruka... Kita butuh bantuanmu." Mortem tersenyum.



"Tentu saja, kakak." Tiba-tiba kedua lengan Haruka terhalangi oleh aura waktu.



__ADS_1


__ADS_2