Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 138 - Dua Pihak dan Dua Rencana


__ADS_3

Alvin perlahan-lahan membuka kedua matanya dan tanpa ia sadari, saat ini ia sedang berada di dunia dimana ia melihat langit-langit yang berwarna biru muda, mungkin saja gadis tadi membawanya ke tempat ini. Warna biru muda itu melambangkan warna dari sihir Sacred, "Ahh..." Alvin mencoba untuk menggerakan seluruh tubuhnya, tetapi ia tidak bisa bergerak karena tekanan yang menahan seluruh tubuhnya, dimensi itu memiliki tekanan yang besar hingga tubuh Alvin terus terbaring di atas tanah, Alvin mulai menyadari sesuatu tentang dunia itu, ia sebelumnya pernah melihatnya dan dunia yang ia berada sekarang mirip sekali seperti milik Korrina, "D-Dimana aku...? Bagaimana bisa aku tiba di tempat seperti ini...?"


"Kalau tidak salah aku melihat seorang gadis cantik yang memiliki rambut silver---" Tiba-tiba tubuh Alvin bangkit dengan sendirinya lalu ia menghadap ke depan dan melihat gadis berambut silver itu lagi, Alvin langsung membulatkan kedua matanya ketika melihat wajah gadis itu, "K-Kau...!?" Wajah gadis yang berambut silver itu mirip sekali dengan istrinya yaitu Korrina Comi.


"Korrina...?" Tanya Alvin selagi menaikkan alis kanannya, ekspresi yang terlihat kebingungan karena ia melihat Korrina yang memiliki rambut silver, kedua mata warna biru tua, dan dada-nya yang besar, "Ya... Ini aku, istrimu~ Korrina Comi." Korrina tersenyum, dia saat ini sedang menggunakan wujud seratus persen-nya. Alvin tidak bisa merasakan setitik God Lenergy atau kekuatan dewi-nya, Alvin mulai berkeringat karena ini pertama kalinya ia melihat Korrina seperti ini.


"B-Bagaimana bisa...? God Lenergy apa yang kau miliki...? Aku tidak bisa merasakan apapun termasuk keberadaanmu, Korrina..." Ucap Alvin, kedua kakinya bergetar dengan sendirinya ketika melihat Korrina, "Hahahahaha, sebenarnya aku telah menyembunyikan identitasku yang sebenarnya... Aku ini adalah dewi segalanya, Alvin. Omni-Transcendent Korrina." Jawab Korrina.


"Bagaimana...!? BAGAIMANA BISA ISTRIKU DIAM-DIAM JAUH LEBIH KUAT DARI DIRIKU DAN MORTEM!?" Teriak Alvin selagi membulatkan kedua matanya, "Hee... Apakah kau tidak menyadari tentang garis keluarga Comi...?" Korrina mulai muncul di belakang Alvin selagi memeluk lehernya dari belakang mencoba untuk merayunya, "Aku adalah kepala keluarga Comi. Ketika aku masih bayi aku dimasukan darah Succubus..."


"Kenapa aku bisa menjadi kepala keluarga Comi...? Bukannya kau tau Papa-ku mengangkatku menjadi kepala keluarga Comi ketika sebelum dia membunuhku...? Itu artinya aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan menjadi kepala keluarga Comi, contohnya menciptakan ilusi yang lebih kuat dan menjadi seseorang yang loyal kepada suaminya!" 


"A-Apa...? S-Succubus...?" Alvin mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan, ketika ia menyadari fakta bahwa Korrina itu memiliki darah Succubus, ia langsung sadar kenapa Korrina selalu menginginkan benih kehidupan milik Alvin hingga ia bersama Korrina bisa memiliki anak yang berjumlah lebih dari sepuluh, "J-Jadi...? Kau ini hanya menggunakanku sebagai alat 'kah? Kau ini seorang Succubus, seharusnya seorang Succubus itu merayu orang lain bukan hanya aku saja..." Ucap Alvin selagi menunjukkan rautan wajah yang kesal, Alvin mulai memiliki pikiran aneh tentang Korrina bisa saja selingkuh atau ia hanya menggunakan Alvin sebagai alat saja untuk memenuhi nafsu-nya.


"Apa yang kau pikirkan, Alvin... Tentu saja aku tidak akan pernah selingkuh darimu, Comi memiliki warisan mutlak tentang istri dan suami, jika seorang istri dari keluarga Comi selingkuh atau menghianati suaminya maka kekuatan yang aku miliki akan hilang dan pindah kepadamu Alvin, aku juga akan perlahan-lahan mati..." Korrina mulai menunjukkan cincin yang ada di jari manis-nya, "Jika aku dan kau sudah menikah maka aku akan selamanya milikmu, tidak ada yang bisa menyentuhku... tidak ada yang bisa menarik perhatianku kecuali dirimu..." Korrina mulai menjilat pipi Alvin hingga kedua pupil matanya perlahan-lahan berubah menjadi warna biru tua, "... ..."


"Kau tahu kenapa aku bisa memiliki wujud ini...?"


"Hmm...?"


"Ras iblis golongan Succubus memiliki kemampuan tersembunyi yang bernama Blessing Love, kemampuan tersembunyi yang dimiliki iblis golongan Succubus, jika Succubus melakukan sebuah hubungan dengan seseorang maka dia akan bertambah kuat karena seseorang yang sedang melakukan hubungan itu akan memberi Succubus itu kekuatan yang besar sekali."


"Ada kemampuan khusus bagi seorang Succubus yang sudah memiliki suami, mereka akan mendapatkan kemampuan khusus yang bernama Blessing Love of Husband, kemampuan itu... Aku memilikinya karena aku ini istrimu Alvin dan aku setiap hari selalu mendapatkan hadiah benih kehidupanmu loh, itu artinya aku bertambah kuat setiap saat hingga bisa menciptakan ilusi yang mustahil..."


"Aku mencintaimu, hehehe... Aku tidak menyesal selama ini bisa mencintaimu..."


"Kau berbohong."


"Ya, aku berbohong, aku sangat mencintaimu." Ucap Korrina hingga membuat Alvin mulai tergoda dengan suaranya yang terdengat dekat sekali, "Bukannya dulu kau ini Omni-Touri dan aku hanya bisa menikmati benih kehidupan seorang Omni-Touri bukan...? Itu artinya aku juga akan bertambah kuat hingga bisa melampuimu~" Korrina mencium pipi Alvin lalu ia mulai muncul di depan Alvin selagi menyilangkan kedua lengannya.


"Kau sudah bangun 'kah? Ayo kita pikirkan rencana agar mencegah kebangkitan Bamushigaru." Ucap Alvin, Korrina mulai tertawa, "Hahahahahaha!"


"Apakah kau sendiri yang ingin mengalahkannya, Korrina...?"


"Tidak akan pernah, aku tidak mau membantu dengan wujud sempurna ini. Jika aku menggunakannya dan menunjukkan kekuatan ini kepada semesta Touri maka aku baru saja menghancurkan keseimbangan Touri dan itu artinya Touri bisa saja hancur." Ucap Korrina hingga ia menjentikkan jarinya, Alvin tiba-tiba langsung berbaring di atas kasur selagi menatap Korrina yang berdiri di depannya, "Sadarlah tempat, Korrina...! Suaramu itu berisik!?" Tanya Alvin selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


"Hehehe..." Korrina tersenyum jahat hingga kedua pupil matanya mulai melambangkan hati, "Bodo amat...!!!" Korrina melompat menuju arah Alvin lalu ia duduk di atas perut, "Aku akan merusak tubuhmu hingga kau memiliki kekuatan yang baru...!!! BERSIAPLAH!!!" Korrina tersenyum jahat hingga ia langsung menjetikkan jari.


"Apa yang---"


SWWOOOSSSSHHHH!!!!  


***


Shira membuka pintu ruangan dimana Alvin dan Korrina sedang berada, ketika ia masuk ke dalam ruangan tersebut, ia sadar bahwa Alvin dan Korrina tiba-tiba menghilang, "E-Ehh...? Alvin dan Korrina kemana?" Tanya Shira kepada Rina yang sedang duduk di atas kursi sendirian, "Mungkin Papa dan Mama bikin adik lagi!!! Hahaha~" Perkataan Rina mampu membuat semua Legenda yang ada berada di ruangan itu mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat lelah dan canggung, "Dewa bodoh itu, seberapa banyak anak yang dia inginkan?" Tanya Arata.


"Rumornya bukan Kakek loh yang mau membuat anak sebanyak sepuluh lebih, Nenek Rina bilang bahwa Nenek Korrinalah yang menginginkan anak sebanyak-banyaknya." Ucap Methode.


"Itu benar, Mama-ku memang sangat mencintai Papaku hingga sekarang mereka mungkin sedang membuat adik baru untuk Rina!" Ucap Rina.


"Ehh... Adik lagi...!?" Tanya Aiko dengan ekspresi yang kecewa, itu artinya ia tidak akan bisa dimanja oleh Alvin, "Ehhhhhh... Kenapa harus Mama dan Papa membuat adik baru lagi..." Tanya Aqrila dengan ekspresi kecewa.


"Adik lagi ya... Itu artinya..." Agfi melirik ke arah Rina yang sedang berdiri di depan mereka bertiga, "Tutup mulut kalian...!!! PAPA MILIKKU!!!" Teriak Rina hingga membuat Aiko dan Aqrila ketakutan kecuali Agfi yang hanya bisa menunjukkan ekspresi datar-nya, ia mulai memegang dagunya.


Di sisi lainnya, Haruki sedang duduk di bawah pohon yang besar, letaknya lumayan jauh dari laboratorium itu. Mortem mendarat di depan Haruki yang terlihat ekspresinya seperti hampa termasuk kedua pupil matanya yang terlihat kosong, "Haruki, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Mortem.


"... ..." Haruki hanya bisa diam selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat suram, Mortem duduk di sebelah Haruki lalu ia mulai menatap wajahnya, "Ada apa...? Apakah kau sedih bahwa Kakakmu Kotone itu meninggal...?" Tanya Mortem, Haruki mulai menatap ke depan masih dengan ekspresi yang sama seperti tadi, "Entahlah..."


"Bisakah kamu memberitahuku kenapa kamu bersikap seperti ini...? Ini bukan dirimu yang sebenarnya, Haruki. Setidaknya beritahu aku kenapa kamu bersikap seperti ini, aku akan berusaha untuk membantumu." Ucap Mortem, ia mulai tersenyum dan mencoba untuk menyemangati Haruki yang terlihat bersedih.


"Kak Kotone... mati..." Ucap Haruki pelan.

__ADS_1


"Di balik kematian Kotone, setidaknya dia memiliki alasan kenapa ia ingin mengorbankan diri demi keselamatan Virra dan yang lainnya untuk pulang." Jawab Mortem hingga Haruki hanya bisa menjawab pertanyaan itu dengan anggukan saja, "Hm..."


"Bisakah kau menenangkan dirimu ini dan kembali ke dirimu yang biasanya, dirimu yang selalu terlihat biasa dan berbeda dari Legenda petarung yang lain...?"


"Memangnya kau tahu diriku...?"


"Tentu saja aku tahu, kau adalah Shichiro Haruki yang memiliki tujuan yang berbeda dari Legenda petarung lain... Jika kau terus sedih dan depresi seperti ini maka Kotone yang berada di dunia kematian akan menyesal dan merasa bersedih melihat adiknya Shichiro Haruki terlihat sedih dan depresi. Bahkan Dias, Nina, dan Suzuka saja terlihat seperti mengikhlaskan kepergian Kotone, Sasha, dan Reimei!" Ucap Mortem hingga membuat Haruki perlahan-lahan sadar bahwa terus bersedih dan depresi tidak akan bisa membangkitkan kakak-kakaknya yang sudah mati.


"Hm..." Haruki mengangguk, "Dendam..."


"Dendam...? Apakah kau dendam kepada organisasi Seraph?" Tanya Mortem.


"Bukan hanya organisasi Seraph melainkan organisasi yang bernama Ad Exitium..." Ucap Haruki, ia ternyata mengetahui bahwa Seraph sepertinya bekerja sama dengan organisasi paling bahaya di semesta Touri yaitu Ad Exitium, "Ad Exitium... Kalau tidak salah organisasi itu sudah hancur bukan...?" Tanya Mortem.


"Walaupun organisasi itu hancur, masih saja ada ras yang akan mendirikan organisasi berbahaya itu kembali. Dan saat ini sepertinya Seraph dan Ad Exitium sedang bekerja sama bersama untuk mencoba membangkitkan Bamushigaru dan mencuri...." Haruki tiba-tiba menjeda percakapannya karena ia baru teringat sesuatu bahwa memberitahu sesuatu yang di incar oleh Ad Exitium itu cukup beresiko, "...mereka mengincar harta pusaka milik kami."


"Harta pusaka Shichiro...?"


"Ya, sebuah buku."


"Jangan-jangan semacam Grimoire gitu...?" Tanya Mortem.


Haruki mengangguk, "Grimoire of... Oath..." Mortem mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan karena dia sebagai Omni-Touri sepertinya tidak mengetahui Grimoire of Oath, "G-Grimoire of... Oath...?" Mortem mulai berpikir bahwa Korrina dan Alvin bisa saja mengetahui informasi lebih tentang Grimoire of Oath.


"Ya... Seperti Grimoire pada normalnya, namun, grimoire yang satu ini berbeda dan aku tidak akan memberi tahu informasi ini kepada siapapun." Ucap Mortem.


"Aku akan menjaga rahasia tentang Grimoire itu."


"Tidak mau."


"Bagaimana caranya agar aku tahu...?"


"Setidaknya mereka masih bisa melihat sisi baik-mu saat ini, Haruki. Tetapi di alam dimana mereka hidup dengan damai dan tenang. Aku yakin mereka bertiga masih melihatmu dari atas sana dari dunia dimana para kematian hidup dengan damai."


"Mereka tidak akan memujimu jika dia melihat kau mengalami kesedihan berat dan depresi juga."


"Aku hanya ingin mereka bertiga melihatku hingga aku bisa memiliki pekerjaan dan hidup yang damai, aku hanya ingin mereka melihat diriku bahwa aku bisa menjadi seorang petarung ."


"Di detik-detik saat ini, aku tahu mereka pasti melihatmu. Pikirkan lah mereka bertiga mati seperti bangsa Legenda yang layak, mereka mengorbankan diri agar kita semua bisa mencegah kebangkitan Bamushigaru! Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu!" Ucap Mortem hingga membuat Haruki membulatkan kedua matanya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.


"Mungkin kau benar..."


"...Tidak, kau benar!" Haruki tersenyum.


"Jadi apa yang akan kau lakukan mulai dari sekarang ini?" Tanya Mortem selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang bahwa Haruki terlihat seperti kembali bersemangat, "Aku tahu apa yang aku harus lakukan sekarang...! Membantu kalian tentunya!" Ucap Haruki.


"Baiklah!!!" Haruki bangkit dari atas tanah selagi mengepalkan tinju kanannya, "Ayo kembali, dewi Mortem!" Ucap Haruki selagi mengulurkan tangannya kepada Mortem dan melihat hal itu membuatnya tersenyum lebar dan tulus, "Hmm! Ayo!" Mortem langsung menggandeng tangan Haruki.


***


Mortem bersama Legenda yang lainnya mulai menatap hologram yang sedang menunjukkan peta untuk pergi menuju kuil dimana mereka , "Sepertinya kita semua bersamaan harus masuk ke dalam kuil dimana Bamushigaru tersegel dan informasi mengatakan bahwa kita bisa mencegah kebangkitan Bamushigaru dengan cara lain." Ucap Virra, ia mulai membuat peta yang terbuat dari kertas melalui mesin pencetak hologram.


Virra sudah mengetahui tentang Saint yang mati termasuk Elvis, hal itu membuat Virra merasa kesal hingga ia ingin cepat-cepat mengakhiri semuanya dengan mencegah kebangkitan Bamushigaru dan membasmi semua organisasi Seraph, "Sebenarnya Weapon of Ancient Heroes itu bisa kita hancurkan menggunakan kekuatan penuh kita, tetapi jika satu Weapon of Ancient Heroes hancur maka efek dari ledakannya besar sekali hingga mampu menghancur planet." Ucap Virra selagi memegang Greatsword of Ancient Heroes, "Ledakannya besar sekali hingga melampui ledakan yang dimiliki rudal yang diciptakan oleh Seraph itu."


"Tunggu." Haruki mengangkat tangan kanannya lalu mereka semua mulai menatap Haruki, "Sepertinya organisasi Seraph tidak sendirian... Dengan melihat topeng yang diciptakannya dan rudal yang mereka lesatkan di planet Legendarius, aku tahu mereka pasti bekerja sama dengan Ad Exitium." Ucap Haruki hingga membuat mereka semua bingung.


"Ad Exitium...?" Tanya Shira.


"Ya, organisasi yang terisi oleh bermacam-macam ras tetapi ketua dari organisasi itu adalah seorang manusia yang licik. Organisasi ini hanya mengincar semua harta dan kekuatan yang kuno sekali termasuk sihir Crimson dan sihir Sacred, dulunya mereka pernah mencoba untuk mencuri kekuatan dari Crimson dan Sacred, tetapi mereka gagal karena mereka kehilangan banyak jiwa..." Ucap Haruki.


"Begitu ya... Cukup masuk akal karena manusia memiliki kecerdasan yang terus bertambah tanpa batas hingga mereka mampu menciptakan ras campuran..." Ucap Virra selagi memegang dagunya, "Kalau begitu kita hanya harus berhati-hati dengan Ad Exitium itu..." Ucap Virra.

__ADS_1


"Baiklah, kita mencegah kebangkitan Bamushigaru dengan pergi ke kuil dulu---"


"Tahan dulu, Virra..." Ucap Alvin, Virra melirik ke belakang lalu ia melihat Alvin dan Korrina yang baru saja keluar dari kamar penginapan, mereka semua mulai menatap Korrina dengan tatapan yang terlihat mencurigakan, "... ..." Korrina tersipu lalu ia menghalang wajahnya, "Apa yang kalian lihat...?" Tanya Korrina dengan nada yang lemas.


Mereka semua menghela nafas mereka melihat Korrina dan Alvin datang, mereka sudah jelas tahu bahwa mereka baru saja beres melakukan hubungan dewasa, "Akhirnya dewi yang suci datang..." Ucap Haruki, perkataan itu terdengar cukup sarkasme bagi Korrina, ia langsung menatap wajahnya dengan ekspresi yang kebingungan, "Dewi suci apa...?"


"Bagaimana bisa dewi suci sepertimu pingsan karena racun...? Seharusnya kau tahu bahwa cairan yang kau lihat itu adalah racun dan kau dengan cerobohnya langsung memasukan racun itu ke dalam tubuhmu?" Tanya Haruki hingga membuat Korrina cukup kesal, "Aku tidak terpengaruh oleh racun itu...! Aku hanya trauma!!!" 


"Kau sendiri yang membawa traumanya..."


"Sudah-sudah." Ucap Mortem yang menghentikan mereka berdua, "Aku memiliki ide lain." Ucap Alvin, ia maju ke depan lalu ia mulai menciptakan barrier baru yang menunjukkan planet Legendarius, "Sepertinya saat ini planet Legendarius sedang di serang oleh ras Elf itu, aku tahu bahwa mereka masih berada di sana dan mencoba untuk mencari kuil pahlawan itu." Ucap Alvin, ia mulai menggambar sebuah gadis di dekat planet itu, "Kita membutuhkan peralihan untuk semua Elf itu termasuk dengan pesawat luar angkasanya."


"Korrina akan menciptakan sebuah ilusi Shira (Shira: Hah!? Kenapa aku!?), ilusi itu harus menarik perhatian mereka agar semua Elf itu mengejar mereka... Di saat itulah kalian yang memiliki rencana untuk mengunjungi kuil tersebut memiliki kesempatan besar untuk masuk, kalian memiliki satu kesempatan... Jika kalian gagal maka kalian harus bertarung hingga semua Elf itu benar-benar mati." Ucap Alvin.


"Aku memiliki rencana lain selain mengunjungi kuil itu, lebih baik kita menyandera seorang Elf atau Blair dan memaksanya untuk memberitahu kita dimana markas organisasi Seraph Ad Exitium berada, di saat itulah kita bisa mengambil lima Weapon of Ancient Heroes yang tercuri." Ucap Alvin. "Jika rencana itu tidak bisa maka kita harus menghancurkannya saja langsung walaupun itu akan menimbulkan kehancuran."


Virra mulai menemukan informasi yang penting, "Di sini mengatakan... Jika satu Weapon of Ancient Heroes hancur maka kuil itu akan bersinar, contohnya jika Greatsword of Ancient Heroes hancur maka tempat penyimpan untuk pedang ini akan dihilangkan oleh kuil tersebut. Itu artinya Bamushigaru masih bisa bangkit dengan mengumpul empat belas dari Weapon of Ancient Heroes." Ucap Virra hingga membuat Alvin memegang dagunya, "Kita harus menghancurkan semuanya."


"Papa!!! Itu tindakan bodoh! Planet-planet bisa saja hancur!!!" Virra mulai membantah Alvin, ia menghampiri Alvin selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Bukannya lebih baik kita kehilangan beberapa planet daripada kehilangan tiga semesta!?" Tanya Alvin selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


"Lagipula, jika kalian pergi ke kuil itu, bisa saja para Seraph Ad Exitium itu bersembunyi dan siap siap untuk menyerang kalian dengan serangan diam-diam!!!" Ucap Alvin kesal.


"Tidak akan!!! Mustahil!!! Justru rencanaku lebih baik dari dirimu, Papa! Rencanamu itu sangat merugikan!!!" Ucap Virra.


Korrina menjentikkan jarinya hingga Alvin dan Virra terdorong ke belakang, "Mari kita rencanakan ini dengan membelah menjadi dua team... Jika Alvin menghancurkan lima Weapon of Ancient Heroes itu maka Weapon of Ancient Heroes yang kita kumpulkan mampu mencegah kebangkitan Bamushigaru." Ucap Korrina.


"Yang di pihak Virra siapa?" Tanya Korrina hingga hampir semua orang mengacungkan tangan mereka kecuali Korrina, Rina, Aiko, Aqrila, Alvin, dan Agfi, "Itu artinya pihak Alvin hanya terdiri diriku, Rina, Aiko, Aqrila, Agfi, dan Alvin!" Ucap Korrina, Mortem tidak memilih pihak karena dia ini seorang Omni-Touri, jadi dia tidak harus berurusan dengan seorang Mortal.


"Baguslah, sudah ditentukan." Ucap Korrina, "Alvin, mari kita bergegas." Ucap Korrina, Alvin mengangguk lalu ia meraba punggung Korrina, Rina dan adik-adiknya mulai memeluk kaki Alvin, "Satu kesempatan dan satu percobaan... Jika kalian membuat satu kesalahan maka semuanya akan berakhir." Ucap Korrina hingga ia mulai melakukan sihir teleportasi tingkat tinggi, mereka semua langsung hilang.


"Baiklah, semuanya... Kita harus bersiap!" Ucap Virra hingga mereka semua mulai bergegas mengambil senjata mereka dan melakukan beberapa pemanasan, Virra melirik ke arah Shira yang terlihat bingung karena ia tidak memiliki senjata dan dia baru saja selesai melakukan pemanasan, "Shira." Virra menghampiri Shira selagi tersenyum.


"Hmm...?"


"Aku memiliki hadiah untukmu karena sudah mengalahkan Xavier." Ucap Virra hingga ia mulai mengulurkan tangan kanannya ke depan, "Caliburn of Light." Ucap Virra hingga sebuah cahaya muncul di telapak tangan kanannya, sebuah gagang pedang yang berwarna emas dan dilumuri oleh sinar muncul, Shira langsung membulatkan kedua matanya, "Pedang untukku...!?" Tanya Shira.


"Tentu saja... Ini hadiah untukmu. Hahaha~" Virra mulai tertawa. Shira mengambil gagangan itu, "Proses kerja hampir sama seperti light blade, tetapi logam dari pedang itu bisa membuat pedang apapun maupun itu pendek, panjang, dan besar. Cobalah untuk memasukan beberapa cahaya ke dalam pedang itu dan menciptakan sesuatu." Ucap Virra hingga Shira mengejamkan kedua matanya lalu Caliburn of Light-nya mulai menciptakan logam yang cukup panjang hampir sepanjang pedang.


"Ini baru yang aku tunggu...!!!" Shira langsung mengayunkan pedang-nya beberapa kali, setiap ia mengayunkan pedang tersebut terdapat partikel dan aura emas yang terlepas dari pedang itu, "Terima kasih, Virra... Aku menyukai pedang ini!" Ucap Shira, Virra tersenyum, "Syukurlah."


"Wahhh... Sepertinya kau mendapatkan pedang yang bagus, Shira." Ucap Arata yang menghampirinya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkesan, "Tentu saja... Akhirnya aku bisa bertarung menggunakan pedang lagi, sudah lama sekali sejak aku bertarung dengan pedang... Terakhir kali aku memegang pedang itu saat aku melawan raja iblis."


"Kalau begitu aku juga akan memberikanmu sedikit hadiah, Shira, karena sudah mengalahkan Xavier... Aku melihatnya dan itu membuatku cukup terkesan dan takjub terhadap kekuatanmu." Arata mulai menunjuk pedang itu menggunakan kedua telapak tangannya, "Wahai dosa Greed yang berada di setiap makhluk hidup, aku memintamu untuk memberi kekuatanmu kepada senjata Shiratori Shira yang bernama Caliburn of Light, Transfer Sins!" pedang Shira mulai terlumuri dengan aura kuning kehitaman hingga munculah sebuah lambang dosa Greed di gagang pedang Shira.


"A-Apa...?" Shira langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "Aku baru saja memberikan kekuatan dosa keserakahan, itu artinya kau bisa menyerap cahaya lagi dan lagi." Shira langsung menepuk punggung Arata, "Terima kasih, Arata!!! Aku akan menjaga pedang ini...! Sekarang nama pedang ini adalah Caliburn of Greed Light!!!"


"Itu artinya kita sudah siap."


Beberapa detik kemudian, mereka semua mulai memegang sebuah tombol yang mampu menteleportasi mereka menuju tempat Legendarius, tetapi tempat yang aman agar para Elf itu tidak menyadari mereka semua, "Kita memiliki satu kesempatan semuanya, jika kita melakukan satu kesalahan maka kesempatan itu akan hilang. Mari kita berusaha keras agar bisa mencegah kebangkitan Bamushigaru!!!"


"YAAAAAAA!!!" Teriak mereka semua hingga mereka langsung menekan tombol itu dan menghilang, Shira tanpa sengaja menekan tombol kembali, "Papa, tombol yang salah." Ucap Eclipse.


"Iya, benar---"


"... ...!!!"


BAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMMMMM!!!!


Tiba-tiba sebuah gelombang kegelapan mengenai laboratorium itu hingga menghancurkan laboratorium tersebut menjadi beberapa bagian kecil, Shira dan Eclipse berhasil melindungi diri mereka sendiri menggunakan barrier cahaya, Shira bisa menyadari keberadaan gelombang yang meluncur menuju arah lab-nya, "A-Apa itu...!?" Tanya Eclipse selagi menatap sekitar.


Sebuah aura kegelapan muncul di depan mereka berdua lalu aura tersebut mulai menampakkan seorang Legenda yang memakai sebuah topeng, "... ..." Shira membulatkan kedua matanya ketika ia melihat Legenda itu, "N-Naoki...!?"

__ADS_1


__ADS_2