Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 10


__ADS_3

Rudi yang masih tampak gelisah berniat untuk datang dan memberitahu keadaan Irena kepada keluarga Irena. Ia datang membawakan buah, roti serta obat-obatan dan juga motor milik Irena. Ya dia, Rudi Chaniago Bos Direktur dikantor Irena.


"Tokk..."


"Tokkk..."


"Tokk..."


"Assalamualaikum, permisi ..." ucap Rudi.


"Wa'alaikumsalam" jawab Ibu Irena.


"Siapa ya? Sepertinya saya pernah melihat kamu, tapi siapa ya? Sebentar saya ingat-ingat dulu ya hemm. Eh kelamaan, silahkan masuk dulu deh"


"Oh kamu Bos nya Irena ya? Iya saya ingat. Loh Irena nya mana ya?" tanya Ibu.


Rudi menghela napasnya sejenak kemudian berkata "Begini Bu, sebenarnya kedatangan saya kesini saya mau memberitahu bahwa Irena tadi jatuh pingsan dikantor, tapi sudah dibawa kerumah sakit dan dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan perutnya kosong belum makan. Jadi Ibu nggak perlu khawatir atau bagaimana. Semua udah diurus, mungkin sebentar-sebentar lagi dia bisa pulang"


"Ini saya bawakan buah dan segala macam keperluan, titipan dari karyawan karyawan kerja Irena. Saya sekalian lewat jadi saya bawakin saja titipan mereka ini"


Ibu Irena merasa panik saat mendengar apa yang terjadi denga anaknya, tapi entah kenapa kepanikannya berubah menjadi agak tenang saat mendengarkan penjelasan Rudi. Ucapan yang sangat sopan dan menenangkan hatinya.


"Ohhhh, iya makasih loh ya Pak Bos udah repot-repot nyempatin datang kerumah. Saya mau coba telepon Irena dulu mau tanya bagaimana kabarnya sekarang, biar saya nyusul kerumah sakit ngelihat dia" ucap Ibu.


"Eh iya sepertinya saya langsung balik saja nih, sudah mau Maghrib juga" kata Rudi ingin buru-buru pergi sebelum Irena pulang dari rumah sakit.


"Maghrib disini aja Pak Bos, sambil nunggu Irena. Udah repot-repot kesini kok cepat balik, Maghrib disini saja ya" pinta Ibu Irena.


"Gak usah Bu, saya balik sekarang saja. Besok-besok kalau apa saya mampir kesini lagi" ucap Rudi sambil keluar dari rumah Irena.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu. Assalamualaikum ..."


"Wa'alaikumsalam ..." jawab Ibu Irena.


*****

__ADS_1


Tidak berapa lama Rudi pulang, Irena pun sampai dirumah dengan Dika. Ia berjalan pelana menuju kamar di tuntun oleh Dika, karena Irena masih terlihat lemas.


"Kamu langsung pulang saja, gak usah masuk. Saya bisa sendiri. Gak usah repot-repot dan gak usah cari perhatian orang dirumah ya. Mengambil kesempatan dalam kesempitan itu ciri-ciri orang gak baik, iya gak baik seperti kamu" ucap Irena kesal.


"Idih, kejam amat neng. Masih sakit begini aja masih bisa kejam ya. Udah jangan bawel, ayok berdiri yang bener disamping saya biar saya tuntun, kita kepelaminan. Eh masuk kedalam rumah maksud saya" ucap Dika


Dari jauh Ibu berteriak memanggil Iren.


"Ren, Irenaaaa kok bisa sih, kamu baik-baik aja kan? Yang mana masih sakit? Ayok kedalam cepat, kamar udah Ibu beresin buat kamu istirahat"


"Gimana mau cepat Bu, jalan aja kayak ayam sakit. Kelihatannya aja kuat selama ini ya Bu, ternyata baru sakit begini aja udah K.O" canda Dika.


Ibu tersenyum, ia menahan tawa mendengar candaan Dika. Bukan hanya tampan doang, humoris juga ternyata ya.


"Yaudah, kalau begitu Dika langsung balik saja ya Bu. Irena sudah sampai rumah kan sudah jauh lebih baik sepertinya" ucap Dika pamit pulang.


"Gak masuk dulu nak, Maghrib dirumah saja" pinta Ibu Irena.


"Nggak usah Bu gak apa-apa. Nanti Dika singgah dimesjid saja sekalian arah pulang" jawab Dika.


"Yasudah Ibu antar ya"


"Apaan sih Bu? Loh ini kenapa kakak?" tanya Kania.


"Sudah didalam saja kalau mau cerita, tuntun dulu kakak kamu ini ke kamar. Ibu ada urusan sebentar dengan pria tampan ini" gumam Ibu Irena.


Irena melirik ke arah Ibu, memperhatikan setiap gerak gerik mereka sambil jalan kedepan mengantar Dika.


"Awas patah lehernya neng, serius amat ngelihatnya" candaan Dika lagi.


"Apaan sih, wekk. Baper banget jadi orang" gerutu Irena.


*****


"Ibu perhatikan sepertinya kalian semakin dekat ya Ren" ucap Ibu ketika membantu mengganti pakaian Irena.

__ADS_1


"Nggak tau deh Bu, pusing kepala Iren. Bukan saatnya ngebahas orang lain dengan kondisi Iren yang seperti ini Bu" keluh Irena.


Kata pusing alasan yang sangat membantu untuk menghentikan pembicaraan mereka tentang Dika.


"Oh iya, tadi Bos kamu datang loh. Siapa ya namanya Ibu Lupa, Rudi katanya. Itu Bos kamu kan ren? Tampan ya Ren, kayak Bos Direktur yang di sinetron sinetron itu. Baik banget loh, dia bawakin kamu buah dan lain lainnya. Tuh ibu letak dimeja kamu" ucap Ibu Iren sambil menunjuk ke arah meja.


"HAA? Bos Iren datang Bu? Serius Bu? Ibu salah orang kali, gak mungkin lah"


Irena seakan gak percaya kalau Bos nya itu datang kerumahnya. Jangan kan kerumah, dirumah sakit aja tidak ada kelihatan batang hidungnya sama sekali. Masa iya mau datang kerumah. Gak dia banget.


"Iya gak mungkin dong Ibu bohongin kamu. Tapi Ibu perhatikan nih ya Ren,dari raut wajahnya sih kelihatan banget dia khawatir sama kamu. Ibu sih awalnya mikir, apa dia pacar kamu gitu ya kan. Tapi mana mungkin Bos Direktur besar gitu bisa suka sama anak Ibu" ucap Ibu Iren.


"Apaan sih Bu, udah deh jangan ngeledek terus. Makin tambah pusing kepala Iren jadinya" gerutu Irena.


"Udah deh Bu, Iren mau istirahat dulu. Mana tau besok sudah enakan badannya jadi bisa ngantor lagi. Kasihan Pak Chan gak ada yang bantuin kerjaan nya nanti"


"Jangan cari penyakit dong Ren, kamu masih sakit loh. Fokus kesehatan kamu dulu lah, kerjaan kan masih banyak karyawan lain yang bisa ngerjain. Jangan jangan apa yang Ibu bilang beneran ya, kamu pacaran sama Bos kamu itu ya. Jadinya gak ketemu sehari kamunya gak bisa" goda Ibu Iren.


"Kania kania, tolong tutup jendela dan pintu kamar kakak dong. Banyak nyamuk nih dikamar kayaknya. Udah ya Bu, Iren mau tidur"


"Iya deh iya, gitu aja ngambek. Huuhh" ucap Ibu Iren.


Irena mencoba menepis segala kemungkinan yang ada dipikirannya. Kenapa malah jadi kepikiran sama si Bos. Tapi apa iya bos nya khawatir dengannya. Ahh mungkin cuma alasan Ibu aja untuk ngeledek dirinya dalam pikirannya.


"Kringgg ..."


"Kringgg ..."


"Kringgg ..."


Pria yang sedang dipikirkan Irena tiba-tiba menelpon. Betapa terkejutnya Irena melihat nama yang menelponnya. Pak Rudi Chaniago.


"Baru aja dipikirin, udah nongol aja nih orang"


"Assalamualaikum" ucap Rudi.

__ADS_1


"Walaikumsalam, iya Pak kenapa Pak? Maaf ya Pak kerjaan saya gak beres hari ini ya?" tanya Iren.


Masih saja memikirkan masalah kerjaan. Padahal kesehatannya lah yang terpenting bag Rudi saat ini. Tapi Rudi menepisnya, ia bertingkah seolah-olah tidak ada rasa khawatir dalam dirinya untuk memikirkan Irena.


__ADS_2