Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 111


__ADS_3

"Sekarang aku mengerti kenapa kamu diberi pilihan untuk tinggal disini, ternyata takdir ingin kita bertemu kembali setelah melalui berbagai macam masalah dan penantian."


Kalimat itu menghentikan gerakan tangan Irena yang sedang menyiapkan sarapan.


Kali ini Irena berbalik dan penasaran apa yang dimaksud Bryan dengan perkataannya itu, "Maksud kamu?"


"Ya, sedari dulu sampai saat ini aku berharap ada sebuah keajaiban yang bisa mempersatukan kita lagi. Walaupun kemungkinan itu sangatlah kecil, tapi jauh di lubuk hati ku yang paling dalam. Aku masih sangat mencintaimu, Ren."


"Maaf kalau aku harus mengatakan ini, tapi memang begitulah keadaannya. Aku juga gak bisa memaksa kamu, biar takdir Tuhan yang mempersatukan kita."


Irena melupakan niat memasaknya, malah duduk dihadapan Bryan. "Kamu nggak marah?"


Bryan menggeleng tanpa beban, "Tuhan sudah menentukan pilihan jalan hidup kita, jadi biarkan saja."


"Tapi kenapa kamu nggak berjuang sama sekali untuk merebut kembali yang seharusnya jadi milikmu?"


"Kamu sendiri? Masih sudi menerima suami yang sudah berkhianat?"


Irena terdiam.


"Terkadang kita memang harus merelakan mereka yang mau pergi, Ren. Demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Percuma juga ditahan kalau pada akhirnya, ia kan tetap memilih yang lain. Aku percaya, semua itu akan terganti dengan yang lebih baik lagi."


"Lihatlah sekarang, dengan apa yg terjadi. Mungkin saja ini permulaan yang baik yang ditakdirkan Tuhan untuk kita bersama lagi."


Kata-kata Bryan ini menjadi cambukan untuk Irena, membuatnya tersemangati untuk meninggalkan Dika. Akan tetapi, Irena tak ingin semudah itu membiarkan para pengkhianat berpesta setelah kepergiannya, harus ada balasan dari rasa sakit yang sudah mereka timbulkan.


****

__ADS_1


Hari ini Irena memutuskan untuk pulang kerumahnya. Seperti yang Dika minta, ia menghubungi suaminya itu lebih dulu agar rencananya tidak cepat-cepat ketahuan. Irena akhirnya siap menghadapi Dika dan Rebecca. Karna dia pun masih ingin bermain-main dengan kedua pengkhianat itu.


"Kamu mau pergi?" Tanya Irena saat Bryan datang ke ruang makan dengan pakaian rapi.


"Iya, aku harus ke kantor. Kamu nggak papa kan disini sendirian?" Bryan duduk dan memakan sarapan yang Irena buat.


"Hemm, sepertinya aku akan kembali kerumah Ibu. Agar lebih terkesan kalau aku memang berada disana."


"Terimakasih untuk semuanya Bryan, aku berhutang banyak sama kamu."


Bryan menatap Irena lekat. Aneh rasanya ia merasa enggan berpisah, padahal kapan saja Irena bisa menghubunginya untuk meminta bantuannya. Kebersamaan kali ini benar-benar sangat berarti baginya. Begitu juga sebaliknya dengan Irena, ia pun merasakan hal yang sama. Bahkan kebersamaan mereka, menciptakan ruang khusus di hati Irena. Yang tanpa sadar, semakin membesar memungkinkan untuk menggeser posisi Dika.


"Terimakasih untuk sarapannya, selalu enak." Bryan berdiri untuk bersiap-siap mengantar kepulangan Irena.


"Tunggu!" Irena ikut berdiri dan mendekati Bryan. Dia berhenti di hadapan pria itu. Mengangkat tangan untuk merapikan dasi Bryan yang miring.


Bryan tersenyum.


"Hahaha." Bryan tertawa.


"Dengan senang hati, Ren. Kamu juga hati-hati." Ucap Bryan pada Irena.


****


Sesampainya dirumah Ibu Irena. Di dalam mobil Irena tidak bisa mengalihkan matanya dari Bryan. Wajah pria itu tiba-tiba mendekat, ia sangat sadar apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak ingin terlalu larut dalam euforia kenyamanan, Irena memalingkan wajah. Bryan pun menjauh kembali.


"Sorry ..." Lirih Irena sembari meremas tangannya.

__ADS_1


Bryan tersenyum. "Aku tau ini terlalu cepat, Ren. Tapi kamu harus ingat kalau aku akan selalu menunggu sampai kamu siap. Aku nggak akan memaksa, jadi gunakanlah waktu mu untuk memikirkannya."


Irena tersenyum salah tingkah. "Terima kasih." Ucapnya lagi, lalu membuka pintu mobil dan keluar.


Bryan pergi bersama dengan mobilnya, dia nggak bisa berlama-lama disana. Irena menoleh kebelakang untuk melihat mobil Bryan yang pergi, tapi tidak terlihat karna telah diganti dengan mobil lain yang lewat.


Ia berjalan menuju rumah Ibunya. Menyalakan ponsel dan menghubungi Dika.


"Haloo sayang ..." Ucap Dika.


"Don't call me sayang, Brengsek!" Hatinya merasa panas tiap kali ada panggilan sayang dari suaminya.


"Aku sudah siap, kamu jadi jemput aku kan? Kamu dimana?" Tanya Irena berusaha tenang.


"Jadi dong, ini aku hampir sampai. O-iya aku bersama Rebecca, katanya dia ingin ikut menjemputmu karna beberapa hari ini kamu sulit untuk dijumpai, ponsel mu juga tidak bisa dihubungi."


"Wow, kebetulan sekali kalian bisa bersama ya. Tentu saja aku sangat senang. Cepatlah datang, aku sangat merindukan kalian."


Irena langsung mematikan telepon, duduk dengan tangan yang begitu kuat meremas ponsel.


"Tentu saja kalian bersama, karna kalian tinggal bersama disaat aku tidak ada. Bagaimanapun mereka harus mendapatkan balasannya." Ucap Irena dengan emosi yang memuncak, tapi ia harus menunggu pasangan pengkhianat itu dengan sikap yang tenang.


.


.


.

__ADS_1


*Hadeh, kelakuan si kucing garong buat greget aja, ihhh!!! Gimana menurut kalian?*


See you next 💙


__ADS_2