Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 37


__ADS_3

Saat ini mereka saling menikmati keindahan malam di kolam renang. Tak banyak yang berenang , hanya beberapa pasangan gila yang sedang dimabuk cinta.


Tapi tak jauh dari kolam renang mereka, ada pantai disana. Kapan saja mereka mau mereka bisa saja langsung kesana. Tapi ini sudah begitu larut malam, Dika tak ingin istrinya jatuh sakit kedinginan hanya karna menuruti setiap keinginan gilanya.


Sekitar pukul 10 malam, mereka balik ke kamar hotel membersihkan diri. Irena sudah selesai bersih-bersih terlebih dahulu, keluar dengan handuk berwarna putih dan handuk lainnya melilit di kepala.


Pakaiannya sudah berganti dengan kaos tipis berwarna merah muda menerawang. Hari ini ia memutuskan untuk tidak memakai baju lingerie se xi miliknya, ia takut akan jatuh sakit kedinginan mengingat baru saja berenang malam ini.


Rambutnya yang tadi ia bungkus handuk, sekarang dibiarkan tergerai begitu saja tanpa disisir. Dika yang baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya bertelanjangkan dada dan memakai boxer pendek yang lebih mirip dikatakan ce lana da lam pun memperhatikan istrinya dengan seksama.


Rambut basah yang sedari tadi dikibas-kibaskan Irena terlihat begitu menarik di mata Dika. Apalagi baju kaos tipis menerawang yang membungkus tubuh istrinya saat ini.


"Awas kutunya keluar dikibas-kibas terus. HAHAHAA ribet amat sama rambutnya" kata Dika dari jauh.


"What? Kutu? Ish jaman sekarang apa masih ada binatang seperti itu? Bukannya udah pada musnah?" tanya Irena kesal.


"Ya bisa aja sih masih ada, apalagi yang dihampiri wanita cantik seperti kamu. Jangankan kutu, pria manapun pasti nempel kalau lihat kamu" goda Dika.


Irena menjawabnya dengan cepat, "Iya kutu yang nempel pasti seperti kamu kan? Kutu yang asli sih gampang dimusnahkan, apalagi kutu nya seperti kamu, pasti jauh lebih mudah untuk disingkirkan. Tapi jangan jadi kutu deh, soalnya takut entar nempelnya kemana-mana lagi."

__ADS_1


"Tergantung nempel nya kemana sih, dipilih-pilih juga sih mana yang lebih menggoda untuk ditempeli" goda Dika lagi.


"Hem .." jawab Irena singkat.


"Kenapa kita jadi bahas kutu ya? HAHAHAHAA" Dika terkekeh kuat.


"Kamu cemburu? Takut aku tergoda dengan yg lain ya? Tenang, aku cuma milik kamu seorang. No woman else"


Irena mengacuhkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Dika, ia tak ingin membahasnya lebih jauh. Karna sampai saat ini ia masih memikirkan siapa Rebecca yang sedari tadi berulang kali menelepon Dika. Dan Dika pun masih tampak enjoy tidak memberitahu dirinya siapa wanita itu.


Irena berdiri membelakangi Dika, masih sibuk dengan rambutnya, menyisirnya perlahan dan mengeringkannya tanpa hair dryer.


Ponsel Dika berdering kembali, Irena melirik tajam ke arah Dika. Dika yang mengetahui hal itu, langsung bergegas keluar kamar menjawab telepon itu. Tak selang beberapa menit, Dika masuk kembali.


Irena yang tahu bahwa Dika pasti akan menjelaskan sesuatu, mengambil gelas dan menuangkan air. Sembari ia minum, Dika memulai pembicaraan "Kamu marah? Jangan terlalu dipikirkan itu siapa. Itu hanya asisten ku menelepon untuk membicarakan beberapa hal yang sangat penting yang terjadi dikantor. Maafkan aku merusak hari-hari bahagian kita dan membuatmu khawatir."


"E-engg enggak gak papa, it's oke. Aku ngerti" jawab Irena cetus.


Irena meletakkan kembali gelas yang masih ada air didalamnya. Hanya sedikit yang ia minum. Tapi saat meletakkan gelasnya, tiba-tiba saja tangan Irena tersenggol kabel hair dryer, gelas itu terjatuh diatas meja dan air tumpah membasahi handphone milik Dika.

__ADS_1


Irena terkejut dan tampak gelisah. Ia benar-benar tak sengaja melakukannya.


"Kamu gimana sih!" Kata Dika kesal saat Irena mencoba membersihkan handphone Dika dengan tisu.


Irena langsung menatap Dika tajam, "Kenapa?!Kamu takut wanita itu gak bisa menghubungi kamu lagi?! Sampai kamu bisa-bisanya membentak dan sebegitu marahnya ke aku!" ucap Irena dengan nada penuh dengan emosi.


"Aku ada urusan penting"


"Sepenting apa? Apa lebih penting dari sekitarmu?!"


"Kamu gak akan paham!"


Mendengar jawaban Dika, membuat Irena kesal dan kecewa. Ia meletakkan handphone Dika kembali di atas meja dan memutuskan pergi meninggalkannya. Suasana seharian ini yang mereka rasakan tampak begitu mulus menenangkan, kini hancur bersamaan dengan hancurnya hati Irena. Semangatnya hilang, bentakan yang suaminya lontarkan padanya membuat hatinya sangat sakit.


.


.


.

__ADS_1


Hayoo yang ingin buru-buru tau siapa siapa siapa ya wanita itu ya? Penasaran kan? Nahloh, vote like dan komennya dulu dong. Biar Othor semakin semangat lanjutin next partnya 💙


"Btw, itu Dika kenapa harus sembunyi-sembunyi sih terima telepon, gak harus gitu juga kali ya kan. Nah kan jadi pada ribut mereka. Jangan sedih ya Ren, ada Othor disini selalu ready meminjamkan bahu untuk kamu bersandar. Hikss .. Hikss .. Hikss .."


__ADS_2