
Pikiran Irena pun mulai bercampur aduk, rasa penasarannya semakin kuat.
"Mau ngapain wanita itu disini? Sama siapa dia? Dan siapa lelaki itu? Kenapa ia tampak terlihat tidak asing bagiku." Gumam Irena dalam hatinya.
"Tidak mungkin. Tidak ya Allah jangan sampai." Irena menghela nafasnya perlahan.
Perasaan penuh dengan kecurigaan yang sangat besar semakin tak terbendung lagi. Iya rapikan semua barang-barangnya, kemudian langsung menghampiri meja tempat Rebecca dan lelaki itu duduk.
"Mas Dika, kamu ngapain disini?" Tanya Irena tapi seketika ucapannya pun langsung terhenti.
"Aku ... Maaf, saya salah orang." Ucap Irena.
"Dasar wanita gila. Sekarang udah jelas kan siapa yang gila, saya atau kamu?"
"Makanya kalau punya suami itu di servis baik-baik dong, jangan gak kelayapan kemana-mana."
"Ya mungkin kalau gak sama aku, bisa jadi sih sama yang lain. Ya kita kan gak ada yang tau ya."
"Tapi kasihan juga sih kalau memang terjadi, malah istrinya lagi hamil."
"Udah ahh, pergi sana pergi. Salah orang kan? Hemmm ..."
Rebecca merasa sangat puas dengan situasi yang terjadi saat ini. Tampak wajah Irena yang sangat malu karna dilihat-lihat oleh orang disekitarnya. Apalagi ia mengira kalau itu adalah suaminya."
__ADS_1
"Ini loh sayang, dia mikirnya aku itu merebut suaminya. Makanya bawaannya curiga terus kali ya. Maklum sih aku, mungkin karena lagi hamil juga." Ucap Rebecca lagi.
"Maaf Mas, permisi." Irena langsung pergi meninggalkan mereka.
Saat Irena pergi, Rebecca tersenyum jahat karna rencana awalnya sudah berhasil.
"Ini masih awal permulaan Irena sayang. Masih banyak lagi permainan yang akan aku mainkan denganmu, HAHAHAA" Gumamnya dalam hati sambil tersenyum tipis.
Rebecca sudah mempersiapkan berbagai macam rencana untuk mempermainkan Irena dan Dika hingga akhirnya rumah tangga mereka akan hancur dan berharap Dika akan kembali padanya.
*****
Irena tiba dirumah saat sore hari, suasana hatinya yang masih kacau membuatnya sedikit lelah dan ingin segera rebahan ditempat tidurnya sesegera mungkin.
Saat hendak merebahkan badan, tiba-tiba handphone berbunyi panggilan telepon dari Ibu.
"Wa'alaikumsalam sayang. Ren, gimana keadaan kamu sayang? Baik-baik aja kan? Bayi kami sehat kan?" Tanya Ibu.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Semua baik-baik saja aman terkendali. HEHEHEE"
"Ahh kamu, banyak kali gaya. Hemm ..."
"Oh iya Ren, Ibu mau tanya deh. Ibu coba hubungi Bryan kok gak diangkat ya. Awalnya sih Ibu mikirnya mungkin di lagi sibuk ya. Tapi Ibu coba hubungi lagi tetap gak diangkat juga, hubunginya pun pas udah selesai jam kerja juga."
__ADS_1
"Kira-kira kenapa ya, Ren? Ibu kok jadi khawatir ya dengan hubungan kalian?" Tanya Ibu penasaran.
"Yaampun Ibu ... Kenapa malah khawatir sama orang lain sih. Bukannya khawatir sama menantunya sendiri, hemm ..."
"Kalau menantu sih ngapain dikhawatirkan, kan ada kamu disampingnya."
"Ibu khawatir sam Bryan karna dia kan sendirian disini Ren, Ayah dan Ibunya di Jerman sana. Malah lagi sakit lagi. Dia udah Ibu anggap seperti anak sendiri, jadi wajar dong Ibu khawatir. Dia anak baik-baik, gak neko-neko dari dulu-dulunya. Jadi ya Ibu senang aja lihat dia."
Ibu Irena terlalu semangat menceritakan semuanya kepada Irena, hingga akhirnya Irena berpikir ... "Loh, sebentar-sebentar. Ibu kenapa bisa tau segalanya tentang Bryan ya. Irena yang lebih kenal dia malah gak tau. Aneh banget."
"Ehh.. Ehh ... Kenapa kamu harus tau tentang dia. Gak perlu tau juga kamu kan, Ren. Bryan itu udah cerita banyak dong sama Ibu. Kartu AS nya aja ada ditangan Ibu. HAHAHA."
"Ibumu ini kan pinter, jadi ya gitu deh ..."
"Kenapa? Kamu penasaran ya gimana Ibu bisa tau? Udah deh, kamu gak perlu tau. Yang penting urus aja tuh suami kamu biar gak mengulah lagi."
"Maaf ya Ibu buat kamu kesal. Ibu cuma becanda. HIHIHIII .." Ucap Ibu membuat Irena merasa sedikit kesal.
.
.
.
__ADS_1
See you next, Readers 😘
Happy weekend 💙