
Tidak bisa dipungkiri, Vanesha sangat iri dengan kehidupan Irena. Impian dirinya untuk bisa menikah dengan Bryan, harus pupus karna Bryan tidak mencintainya hanya menganggapnya sebagai adik. Hingga akhirnya Vanesha menjatuhkan pilihan pada Dika untuk menjadi pasangannya.
"Kamu yakin akan menikah dengan Dika, Nesh? Aku takut kamu akan menyesal setelah menikah dengannya." Tanya Bryan saat bertemu di lobby hotel.
Vanesha meremas kedua tangannya kuat, menghembuskan nafas perlahan. "Serius lah, Bry." Jawab Vanesha mantap.
Bryan menghela nafas kasar frustasi dan mengusap wajahnya kasar, seakan bingung mau dimulai dari mana pembicaraan yang akan ia jelaskan pada Vanesha.
"Begini deh, sebaiknya kamu cari tau lebih banyak tentang calon suamimu itu. Banyak hal yang harus kamu pikirkan sebelum melangkah ke hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan."
Wajah Vanesha merengut, melipat tangan di dada. "Kamu jangan khawatir, Bryan. Aku sudah mengetahui semua tentang calon suamiku. Lagian kenapa kamu harus repot-repot memberitahuku semua ini." Ucap Vanesha.
"Apa kalian semua saling mengenal? Sepertinya aku harus mendengarnya langsung darimu, Bryan." Sambungnya.
"Dan lebih baik lagi kalau kamu mendengarnya langsung dari pria itu, Vanesha. Kamu harus memikirkannya lagi, jangan sampai salah melangkah." Jelas Bryan.
Vanesha melotot, merentangkan tangan hendak meraih ponselnya untuk mengangkat ponselnya yang berdering. "Wait ..." Kata Vanesha menatapnya.
Setelah selesai menerima panggilan telepon, ia berkata, "Sebaiknya kamu urus saja istrimu itu, jangan terlalu khawatir tentang pernikahan ku. Pikirkan saja pernikahan kalian yang sampai saat ini belum bisa mempunyai keturunan. Kamu tau sendiri kan, Om William pasti sangat kecewa saat mendengar ini." Ketusnya, lalu pergi meninggalkan Bryan tanpa permisi.
*****
"Mas, apa kata Vanesha?" Tanya Irena saat Bryan tiba dikamar.
Bryan menggelengkan kepala, "Vanesha wanita yang sangat kerasa kepala, sayang."
"Apa aku saja yang harus berbicara dengannya?" Tanya Irena meminta pendapat Bryan.
"Sudahlah, Vanesha juga wanita yang cerdas. Ia pasti sedang memikirkan dan mencari tau apa sebenarnya yang terjadi. Ia pasti lebih mengerti."
__ADS_1
"Baiklah, Mas. Semoga saja."
*****
"Sayang!" Geram Vanesha.
Dika menoleh dan berjalan menghampiri Vanesha yang tengah duduk di sofa kamar.
"Kamu kenapa? Ada masalah? Sepertinya terjadi sesuatu." Kata Dika.
"Apa penyebab Bryan sampai mendatangiku hanya untuk memberitahu tentang Dika? Apa masih ada sesuatu yang disembunyikan Dika dariku? Tapi sepertinya semua sudah aku ketahui, bahkan masa lalu akan sikap buruknya dengan istrinya dulu. Dan aku rasa Dika memang benar-benar sudah berubah. Apa ini ada hubungannya dengan Irena juga?" Gumamnya dalam hati terus bertanya-tanya.
Vanesha beegulat dengan bayangan-bayangan mengerikan yang ada di kepalanya. Apa pun itu, dirinya tidak akan mundur karna hanya ucapan Bryan. Tapi memang seharusnya ia juga mencari tau lebih tentang Dika.
"Enggak, sayang. Aku tadi baru ketemu Bryan di lobby. Ya, biasalah udah lama gak ketemu juga kan." Jawabnya asal.
"Kamu sama Bryan ada hubungan saudara atau gimana? Sepertinya kalian sangat akrab sekali." Tanya Dika lagi takut semuanya terbongkar kalau Irena adalah mantan istrinya dulu.
"Hemm, apa jangan-jangan kalian sudah saling mengenal?" Tanya Vanesa memancing.
Dika membenarkan duduknya menghadap ke Vanesha, seakan ada sesuatu yang serius untuk dibicarakan.
Ia genggam erat kedua tangan wanita itu, menatapnya lekat sembari merapikan anak rambut yang terlihat tidak rapi. "Kamu wanita yang baik, Nesh. Wanita yang pintar dan cerdas. Aku tau tatapan wajah ini, tatapan curiga dan keraguan. Bukankah kita sudah sangat mengenal diri masing-masing."
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu. Mantan istriku yang pernah aku ceritakan sama kamu adalah Irena. Dan Bryan adalah pria yang membantu Irena disaat aku menyakitinya. Aku juga nggak tau, kalau akhirnya kita semua akan bertemu disaat seperti ini. Semua ini benar-benar membuat aku frustasi, apalagi saat mengingat sikapku yang dulu sangat menyakiti Irena. Aku sangat menyesal dan kembali merasa bersalah."
"Wanita itu kembali lagi dihadapan ku. Wanita yang seharusnya bisa aku lupakan. Wanita yang seharusnya tidak aku jumpai lagi. Karna itu akan membuatku mengingat semuanya. Rumah tangga kami, penyesalan dan pengkhianatan."
"Aku sudah memikirkannya, apapun keputusanmu setelah aku mengatakan ini aku sudah sangat siap untuk menerimanya. Aku nggak ingin kamu terluka, seperti aku melukai Irena dulu. Kamu berhak bahagia, kamu wanita yang sangat baik dan pengertian, Nesh." Lirihnya.
__ADS_1
Vanesha mengerjapkan mata beberapa kali, kemudian menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, menghembuskan nafas panjang. "Kalian semua saling mengenal?" Gumamnya pelan.
"Kenapa setiap pertemuan yang nggak diinginkan selalu saja membuat aku sakit hati." Ia memejamkan mata dan menempelkan tangan di dada.
Dika masih saja menatapnya tajam, bibirnya juga masih tertutup tanpa berkata, membantah ataupun menyahut.
"Padahal waktu dulu setelah orang yang aku cinta lebih memilih wanita lain, aku selalu berusaha memfokuskan diri untuk mencari pasangan lain dan akhirnya menikah. Keinginanku terwujud saat bertemu denganmu. Walaupun aku tidak begitu yakin apa kita bisa menjalin hubungan seserius ini."
Tanpa diinginkan, air matanya berderai melepas sesak dalam dadanya. Ia tersenyum getir, padahal dirinya sudah lama tidak menangis. Namun, pertemuan kali ini mampu
membuatnya mengeluarkan air mata.
"Bagaimana mungkin kita diingatkan kembali ke masa-masa menyakitkan itu? Aku kira semua itu sudah berakhir."
Dika meraih pergelangan tangan Vanesha, mendekatkan diri lalu memeluknya. "Kamu jangan khawatir, kita sudah sejauh ini untuk bisa melewati semuanya. Aku akan selalu membahagiakan kamu bagaimanapun caranya. Aku nggak ingin lagi kehilangan, apalagi wanita yang akan menjadi istriku. Kamu percaya padaku, kan?"
Vanesha tak menjawab, ia hanya ingin melepas tangisnya sampai ia merasa lebih tenang.
"Aku masih terlalu bingung harus bereaksi seperti apa. Haruskah aku pergi saja? Melihat mereka semua berdiri nyata di hadapanku, sungguh menyakitiku. Sangat sakit, terlebih saat calon suamiku menyebut wanita itu adalah mantan istrinya. Kenapa harus dia, dari milyaran wanita di dunia ini?" Batin Vanesha.
Vanesha mencoba menenangkan semua rasa sakit dalam hatinya. "Seperti kamu, Dik. Aku juga akan bersikap yang sama. Tenang saja, aku juga sudah ahli dalam menyembunyikan perasaan." Ucap Vanesha tersenyum dan juga membalas pelukannya.
"Aku tau kita berdua sedang tidak baik-baik saja, Nesh. Bagaimana mungkin kita bisa baik-baik saja saat berhadapan dengan sumber rasa sakit yang kita rasakan selama ini. Jujur, sangat sulit untuk berpura-pura baik-baik saja. Bahkan aku tak memiliki keinginan untuk bertahan hidup dikala itu, karna tidak ada kesempatan untuk kami bisa bersama lagi. Kini berhadapan dengannya lagi setelah sekian lama, rasanya masih sama menyakitkannya saat ia meminta kami untuk berpisah. Bahkan kali ini tampaknya lebih menyakitkan." Batinnya lirih.
.
.
.
__ADS_1
Loh, kenapa malah jadi Dika yang terlihat lebih tersakiti nih 🤪