
"Bryan, makasih banget ya. Makasih ....
banget, kamu udah nolongin kita."
"Kamu yakin gak mau makan malam disini aja? Ibu udah masak banyak banget kayaknya tuh."
Irena dan Dika mengantar Bryan keluar.
"Gak apa Ren, lagian tadi aku kan udah izin juga ke Ibu. Next time aku pasti usahain bisa ikut dinner sama kalian kok. Mungkin memang kebetulan belum rejeki aku aja kali bisa ikut gabung."
"Iya lain kali diusahain dong ya. Aku juga makasih banget ya bro udah repot-repot bantuin." Kata Dika.
"It's okay. Sama-sama bro." Jawab Bryan.
"Oke, saya pamit balik dulu ya."
"Jaga baik-baik Irena dan bayinya." Ucap Bryan.
"Pasti, thanks Bro."
Irena memberikan senyum tipis manisnya saat mendengar Bryan mengatakan hal itu.
*****
"Bryan sudah balik Ren?" Tanya Ibu.
"Sudah Bu." Jawab Irena.
"Duhh sayang banget ya dia gak ikutan dinner sama kita. Padahal pasti dia capek banget tuh bantuin kamu packing barang-barang."
"Ya mau gimana lagi, Bryan nya ada urusan juga kan. Masa iya kita paksain."
"Iya sih, yaudah ayo kita makan. Suami kamu mana Ren?"
__ADS_1
"Diatas Bu, sebentar Irena panggil dulu ya."
"Mas ..."
"Mas ..."
Tak ada balasan panggilan juga dari Dika.
"Mas ..." Saat ketiga kalinya Irena memanggil dan membuka pintu kamar, sekilas Irena mendengar suaminya sedang bertelepon dalam keadaan marah tapi saat ia masuk pembicaraan itu langsung terhenti.
"Mas, siapa Mas?" Tanya Irena kesal.
"Engg-enggak, bukan siapa-siapa."
"Siapa Mas? Kamu masih mau membohongiku?" Tanya Irena dengan nada keras.
"Aww!!" Irena sedikit merasakan sakit dibagian perutnya, mungkin karna ia berbicara dengan nada yang keras.
"Maaf sayang, tadi itu Rebecca. Dia tiba-tiba saja mengubungi Mas, ia tau kamu sudah balik lagi kerumah kita." Jawab Dika merasa bersalah.
"Trus kenapa kamu tidak bilang? Kamu mau merahasiakan semuanya lagi dariku? Kamu memang gak ada kapok-kapoknya ya." Irena kesal.
"Bukan, bukan begitu. Mas hanya takut kamu jadi kepikiran, Ren. Mas gak mau kamu jadi kenapa-kenapa karna wanita itu."
"Tapi kamu tenang aja, Mas akan selalu menjaga kamu dan bayi kita. Mas akan cari cara untuk menyingkirkan wanita itu dari kehidupan kita. Kamu jangan khawatir ya. Percaya sama Mas." Ucap Dika meyakinkan istrinya.
Dika mengecup lembut dahi istrinya sembari mengelus bayi yang ada didalam perut Irena, agar Irena lebih tenang. Hingga perlahan menuju bagian bawah tepat dibibir tipis menggoda milik Irena yang pastinya sangat ia rindukan juga.
Tapi sebelum sampai puncak bibirnya, Irena langsung memalingkan wajahnya.
"Oke, we'll see what happened." Ucap Irena.
"Oh iya kamu tadi mencari Mas kenapa ya? Pasti kamu kangen kan?"
__ADS_1
"What?? Kepedean banget kamu, Mas."
"Masa sih? Yakin?" Dika kembali mendekati Irena dan memeluk erat tubuh istrinya.
"Apaan sih Mas? Lepasin gak? Orang aku cuma mau manggil kamu untuk makan kok." Jawab Irena.
"Ren ... Irena. Gak butuh makan kalian ya. Kangen-kangenannya entaran aja dong. Masih panjang juga waktunya. Ibu sama Kania sudah lapar nih." Teriak Ibu dari bawah.
"Nah tuh, kamu udah percaya sekarang kan. Ibu sampai teriakin kita begitu."
"Iya Bu, sebentar." Balas teriakan Irena.
"Iya deh, Mas percaya. Tapi nanti kita lanjut lagi ya, janji loh." Ucap Dika.
"Apaan sih Mas. Garing banget."
Irena langsung keluar kamar menuju ruang makan.
"Loh Ren, Mas serius loh ini. Ren .. Irena.."
Dika langsung berjalan menyusul Irena ke ruang makan sembari berteriak memanggil istrinya.
.
.
.
See you next, Readers 😉
Ayo dong, Jangan lupa like coment votenya 💙
Thankyuuu ...
__ADS_1