Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 14


__ADS_3

Pagi ini Irena tertidur dikamar tamu yang berada dilantai bawah. Ia merasa lelah. Lelah hati dan pikiran juga. Rasanya malas untuk naik keatas.


Ketika bangun dan hendak membuka mata, tiba-tiba ia teringat dengan kejadian tadi malam. Bangkit duduk dan kemudian membaringkan tubuhnya kembali saat mengingatnya. Ia menepuk jidat dan menggerutu "Ya Allah tadi malam itu akuuuu ..."


Ia langsung meraih ponselnya melihat galeri foto penuh dengan foto selfie dirinya dan Rudi, ia bolak-balik men-scroll dari atas kebawah. Begitu banyak. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasa malu.


Tiba-tiba mata Irena berbinar cerah saat melihat panggilan telepon dari Rudi, ia berpikir panjang untuk mengangkat panggilan itu. Ia merasa deg-degan, tidak berselang lama panggilan itu pun akhirnya berhenti.


"Hufttt, bisa copot jantung ku nih" ucap Irena.


Tapi ada chat WhatsApp masuk dari Rudi,


"Good morning, saya cuma mau bilang meeting hari ini dibatalkan. Kamu bisa datang dengan tidak terburu-buru lagi seperti biasanya"


"Oh cuma mau ngabari meeting ya. Mungkin akunya yang terlalu ke-geeran. Alhamdulillah deh" gumam Irena.


Senyum Irena kembali merekah, tapi entah kenapa ia merasa berbagi cerita dengan Rudi begitu menyenangkan dan menenangkan. Mungkin pelan-pelan ia menjadi kagum pada Rudi.


"Rudi itu sebenarnya lelaki baik sih yang pernah aku kenal, tapi ... Duhhh! Kok jadi malah mikirin dia sih. Astaghfirullah Irenaaa, sadar sadar dong!" ucap Irena sambil berjalan kembali ke kamar tidurnya untuk mandi dan bersiap-siap ngantor.


*****


"Dika, are you okay?" tanya Ibu Dika.


"Yes, Mom. I'm Okay before i meet her" jawab Dika.


"Kalau memang Irena menolak kamu mungkin itu karena dia belum begitu kenal dekat, kamu harus perjuangin dong, kalau kamu stop sampai disini entar dia berpikir kalau kamu cuma main-main aja dong sama dia"

__ADS_1


"Semenjak ibu tau kalau dia menolak kamu, Ibu sih gak pernah lagi kontekan sama Ibunya Irena, Ibu masih bingung mau ngomong apa sama Ibunya, tapi nanti deh coba Ibu bicarakan lagi ya" ucap Ibu Dika.


"Untuk saat ini aku cuma bisa diam mengagumi dan mencintaimu dari jauh Ren. Ketika kamu dengan siapapun itu pilihanmu, dalam hatiku selalu mendoakan mu yang terbaik", ucap Dika dalam hati.


Sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan Irena, entah mengapa ia begitu merindukan gadis itu. Hari ini memang ada jadwal meeting di Coffee Shop miliknya dengan klien. Dan rencananya pagi ini ia akan kesana, tapi kalau pagi ini ia kesana, ia pasti berjumpa dengan gadis itu.


Ia beranjak dari duduknya dan menghela napas, "Ahh sudahlah sebaiknya aku siap-siap, kalaupun memang kami harus bertemu mungkin itu takdir Allah yang mengharuskan aku terus berjuang, tapi kalau tidak mungkin kami tidak berjodoh"


Selama perjalanan, Dika terus memperhatikan kantor Irena, siapa tau ia bisa melihat gadis itu walau dari kejauhan. Tapi sayang sekali tidak terlihat.


Tiba sesampainya di tempat, Dika masuk dengan perasaan deg-degan. Matanya tertuju pada gadis berbaju biru dan hijab putih yang sedang duduk membelakangi dirinya. Ia sadar dan tau kalau gadis itu pasti Irena. Ya, Irena yang sedang duduk menikmati breakfast nya.


"Ya Allah benarkah itu dia? Inikah jawaban atas doa ku, Engkau pertemukan aku kembali dengan ciptaan-Mu" gumam Dika.


Tapi disisi lain, iya melihat pria keluar dari toilet datang menghampiri Irena. Mereka tertawa bersama tampak dekat dan sangat akrab. Tawa yang belum pernah ia dapatkan saat bersama Irena.


"Kenapa pria itu begitu mudah dekat dengan gadis itu, apa semudah itu?"


tanya Dika dalam hatinya.


Dalam lamunannya, ia berandai-andai jika saja Irena tidak menolaknya dan bisa sedikit memberikan waktu untuk mereka lebih dekat, mungkin Irena dan dirinya bisa lebih jauh melangkah ke hubungan yang lebih serius. Tidak perlu waktu yang lama.


"Heii bro, udah dari tadi disini? Klien udah pada nungguin tuh, aku cari gak nongol-nongol" ucap Yuda teman bisnis Dika.


"E--hh iya pesan aja dulu, pesankan juga untuk mereka ya, aku ada urusan sebentar, sebentar aja, gak lama, okey!" ucap Rudi sembari berjalan meninggalkan Yuda.


Dika berjalan menuju meja Irena. Iya tak sabar untuk bertemu dengan Irena, gak perduli siapa yang duduk disampingnya, selama belum ada kejelasan langsung dari Irena pikirnya "Renn... Kamu disini"

__ADS_1


"HAAAAA!! D--ddika" jawab Irena terbata-bata.


Irena tampak gelagapan melihat kedatangan Dika. Tapi ia mencoba tetap tenang seperti tidak ada terjadi apa-apa diantara mereka.


"Kamu disini? Sama siapa? Sendiri?"


"Enggak, aku kebetulan kesini sama teman" jawab Dika.


"Oh iya kenalin ini Pak Rudi, Bos aku dikantor. Kami memang biasa breakfast disini sih, kebetulan juga dekat dengan kantor kan"


"Yes, ternyata pria ini cuma Bosnya. Hampir saja mulutku gatel mau nanyakin langsung ke Irena. Thanks God, You're the best! gumam Dika.


"Apa? Kamu ngomong apa?" kata Irena sambil melihat jam tangannya. "Eh entar kita sambung lagi deh ya, kayaknya udah jam masuk kantor. Ya kan Pak?"


"HAAA? E-iya iya" ucap Rudi bingung karena jam belum waktunya untuk masuk kantor. Masih ada setengah jam lagi waktu tersisa.


Irena pura-pura terburu-buru. Kopi dan roti yang ia pesan pun belum habis, bahkan setengahnya belum ia habiskan.


"Itu kopinya belum habis. Mau aku pesankan yang baru? Biar bisa ngopi dikantor" tanya Dika.


"E-nggak gak usah, nggak apa-apa. Kami buru-buru nih, udah ya" jawab Irena pergi meninggalkan Dika.


Rudi yang merasa diabaikan, ia pun beranjak dari meja mereka sambil memperhatikan Irena yang memegang tangan Rudi. Entah kenapa Irena tampak berbeda saat berjumpa, seperti semua ini begitu menyakitkan baginya .


Pertemuan yang sangat mengejutkan antara Dika dan Rudi. Satu sisi Irena mulai terlihat nyaman dekat dengan Rudi, tapi tiba-tiba Dika datang kembali tepat dihadapannya dan juga Rudi.


Kecemburuan juga jelas terlihat di wajah Rudi, saat ia memang sudah mengetahui kalau Dika adalah kenalan perjodohan Ibunya Irena.

__ADS_1


"Mencintai seseorang sendirian itu memang menyakitkan. Jika ia bahagia tentu kamu juga akan bahagia. Sampai kapan aku menunggu kamu membalas cintaku Ren, aku ingin menunjukkan kepadamu dengan sangat jelas, tapi kamu tetap acuh. Semua tampak begitu sulit, tapi hatiku enggan untuk menyerah mulai detik ini". Kegalauan Dika dalam hatinya.


__ADS_2