
Tepat dihadapannya, Irena memakai baju yang menonjolkan paha putih mulusnya yang luar biasa begitu menggoda Dika. Menyesal rasanya kalau dibiarkan begitu saja pikirnya.
Dika benar-benar sudah gila dibuat oleh istrinya itu walaupun saat ini hanya punggung Irena yang membelakanginya, terlihat dari sofa tempat ia tidur. Terlihat begitu menakjubkan tapi ia harus mampu menahan diri, begitu menyiksa.
"Luar biasa ciptaan-Mu ya Tuhan!! Arghh!!" gerutu Dika sembari menggelengkan kepalanya yang didalam otaknya berisi pikiran-pikiran halu.
"Kenapa!!" tanya Irena yang sekilas mendengar suara berisik yang mengganggu tidurnya.
"E-nggak papa, banyak nyamuk ya disini" jawab Dika bingung.
"Nyamuk? Apa iya hotel bintang lima begini banyak nyamuk? Udah gak waras kamu ya?"
__ADS_1
"HEHEHEE iya juga ya" ucap Dika.
Dika mencoba meraih kembali kewarasannya. Mencoba menahan segala kehaluan yang ada dibenaknya. Malam semakin larut, namun mata belum terpejam. Dika yang biasa tidur di ranjang tidur yang empuk kini harus tidur di sofa.
Hal yang sangat ia tidak biasa ia lakukan, pernah sekali sewaktu ia harus menginap dikantornya karna kerjaan yang begitu banyak, ia tampak begitu lelah, tidak ada tempat tidur disana, akhirnya ia memilih tidur di sofa kantor, tapi bukannya menikmati tidur, badannya terasa begitu remuk redam, gak ada kenyamanan sama sekali tidur di sofa baginya, jadi ia memilih untuk pulang kerumah.
Dika mengambil langkah untuk tidur di ranjang tempat Irena tidur, ranjang yang begitu lebar hanya untuk Irena sendiri, bahkan lebih dari cukup untuk mereka berdua tidur.
Berjalan mengendap-endap dan langsung memastikan apakah Irena sudah tertidur, melambaikan tangannya di wajah Irena dan mengguncang tubuhnya. Irena tidak merasa terusik sama sekali, ia tetap tertidur dengan sangat lelap. Alhamdulillah, ada secercah harapan malam ini pikirnya.
Dengan tatapan masa bodoh dan tak tahu diri, Dika langsung merebahkan tubuhnya tepat disamping Irena. Wajah mereka kini saling berhadapan. Jantungnya terasa berdetak sangat kencang, ia pandangi terus wajah istrinya yang tampak begitu lelah. Dika tersenyum, pikiran aneh mulai terlintas dibenaknya, namun seketika ia tersadar dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak Dika! Tidak sekarang! Kamu tidak boleh melakukan apa-apa. Bisa dekat dengan dirinya sampai bisa menikah saja sudah Alhamdulillah" gumamnya.
Dika memutuskan untuk tidur saja, dari pada semakin memikirkan hal-hal aneh yang mencoba mengganggu sistem kerja otaknya melebihi kapasitas yang seharusnya.
Selang beberapa detik memejamkan matanya, tubuh Irena bergerak. Dika mematung dan memperhatikan Irena yang kini bergeser semakin dekat kearahnya, tidak ada jarak sedikitpun antara mereka. Wajah Irena kini bersembunyi di dadanya. Ia mencoba menahannya, tapi tangannya malah menuntunnya untuk memeluk Irena sekarang.
Dika tersenyum lega akhirnya ia bisa memeluk istrinya walaupun Irena dalam keadaan tak sadar. Ia tersenyum kekeh, memperhatikan wajah sang Istri yang tampak begitu polos dan manis dalam tidurnya. Namun dalam hitungan detik, Dika kembali mematung karna lagi-lagi Irena melakukan hal yang tanpa ia sadari, ia memeluk tubuh Dika seperti layaknya memeluk guling.
"Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang? Dengan jarak kami yang sedekat ini, otak mesum ku mulai berontak kembali? Gak mungkin aku curi start duluan, ya Allah makhluk ciptaan-Mu ini kenapa begitu sulit untuk diraih seperti Benteng Cina saja" gumam Dika sembari terus memeluk tubuh istrinya merasakan kehangatan dan kenyamanan yang membuat dirinya ikut tertidur juga.
Oke segini aja dulu untuk part ini ya ☺️
__ADS_1
Author mau para Readers tinggalin jejak sedikit aja nih, like komen sama votenya dong! Biar author semakin semangat updatenya HEHEHE 😘
I Love You !!!!!