
Sudah beberapa bulan setelah pertemuannya dengan Dika, Irena tidak pernah lagi berjumpa dengannya. Bahkan di Coffee Shop pun ia tidak terlihat. Ingin rasanya bertanya, tapi itu tidak mungkin.
Ibunya pun tidak pernah mempertanyakan tentang mereka bahkan untuk bertanya tentang pernikahan pun sudah tidak pernah lagi.
Irena merenung dan berpikir apa ia yang terlalu menutup diri. Banyak mereka yang dijodohin tapi mereka baik-baik saja. Tapi jaman sekarang orang tua juga harus lebih berpikir modern dong, kalau anaknya gak mau sama yang satu, kan masih ada yang lain. "Tapi salah aku nya juga sih, dijodohin kali pun akunya aja yang tetap gak mau"
Rudi datang dan duduk tepat dihadapan Irena untuk makan siang.
"Kamu kenapa melamun? Lagi mikirin apa? Kayaknya otak kamu penuh dengan pikiran-pikiran gak penting ya. Lihat aja tuh wajah kamu mulai ada kerutannya" ucap Rudi.
Sejak kapan ia disini, apa ia dengar ucapanku tadi. Lagian tumben bener ia disini, didepan aku lagi.
"Ya biasalah Pak, masih berpikir tentang jodoh" jawab Irena.
Rudi terbatuk dan keselek saat mendengar perkataan Irena. "Terkejut saya"
"Terkejut kenapa pak?" tanya Irena.
"Udah putus asa banget kayaknya kamu ya, sampai-sampai dipikirin segala masalah jodoh. Apa bedanya dengan saya. Hidup saya tetap berlanjut kan, gak ada masalah. Fine fine aja. Kalau memang udah ketemu jodohnya kenapa harus dilama-lamain coba, kamunya terlalu pemilih sih" ucap Rudi.
"Saya kira pria yang kemarin itu pacar kamu. Pas dengar kalian dijodohin ya kaget juga, kaget banget pun. kirain kamu udah mutusin buat nikah dengan dia"
"Emangnya kenapa kalau dijodohin, kalau emang jalannya udah begitu ya gak masalah juga kan"
"Tapi masalah buat saya hemm. Shittt apaan sih Rud kok malah kasih nasehat begitu kedia. kalau dia beneran mau nikah sama pria itu gimana coba. bisa galau stres berat hidup aku" gumam Rudi dalam hati.
__ADS_1
Irena menghela napas "Gimana ya Pak, nikah itu bukan kebutuhan mendesak banget bagi saya. Menikah itu berarti membangun sebuah keluarga, hidup bersama keluarga. Bisa jadi partner juga dalam hal apapun. Itu jadi hal yang indah banget dijalani, pasti bahagia banget rasanya, saya masih takut semua itu hilang begitu saja. Rasa sakit kehilangan itu butuh bertahun-tahun Pak untuk nyembuhinya. Gak semudah itu bisa menemukan seseorang yang selalu ada buat saya dan berjanji tidak pergi begitu saja. Saya takut banget kehilangan orang yang sangat sayangi. Saya takut aja itu terjadi lagi" ucap Irena yang tak sadarkan diri mengingat kembali masa-masa itu.
Kenapa ia malah menceritakan semuanya pada Rudi. Apa Rudi orang yang tepat untuk menceritakan keluh kesah yang terpendam selama ini
Deg!
Irena menggelengkan kepalanya sembari menahan tangis. Dadanya terasa sakit seperti tertusuk pisau yang sangat tajam saat sekilas menceritakan keluh kesahnya. Tangisnya pecah.
Rudi beranjak berdiri, mengambil tisu dari meja sebelah, memberikannya kepada Irena lalu menatap Irena. Mencoba menenangkan.
"Aku rindu ayahku, aku ingin dia datang memelukku ketika aku menangis. Aku ingin dia selalu jadi partner memberiku motivasi disaat aku terpuruk. Aku benci saat dia pergi, aku benci!
Hikss ... Hiksss .."
Tangisan Irena semakin kencang dan menangis tersedu-sedu. Rudi gak mengira tangis Irena jadi seperti ini. Rudi tidak tega melihatnya, apalagi dilihat semua orang tapi ia tidak perduli.
*****
"Terimakasih Pak membawa saya kesini, saya juga gak sadar kalau bakalan menangis sekencang ini, apalagi ditempat makan seperti itu. Untung saja tidak banyak orang yg makan ya" ucap Irena.
Tapi air mata Irena kembali mengalir deras, membasahi kedua pipinya.
"Ren, terkadang kita harus menerima bahwa tidak semua harapan yang indah bisa menjadi kenyataan. Dan yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengikhlaskan. Walaupun sangat berat dilakukan, tapi Allah punya rencana yang jauh lebih indah untuk hidup kamu" ucap Rudi.
Irena terdiam sejenak, ia pun mengambil tisu dari dalam tas dan menghapus air matanya. Akan tetapi pandangannya masih terlihat kosong menatap bunga-bunga indah yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Pak, sepertinya saya lagi pingin sendiri disini. Maaf kalau saya menceritakan ini kepada Bapak. Saya jadi merasa gak enak" ucap Irena sambil tersenyum tipis.
Ingin rasanya Irena mengungkapkan semua yang ada dipikirannya kenapa ia begitu trauma dengan rasa kehilangan. Tapi ia mencoba menahannya saja.
"Ren, apa kamu menyayangi saya?" tanya Rudi dengan wajah yang serius.
"A--paaa? Maksud bapak?" tanya Irena terheran-heran.
Rudi menghela napas sambil berkata "semakin lama saya kenal kamu, rasa kagum saya sama kamu semakin bertambah. Karna selama ini saya berpikir kita hanya dua orang asing yang dipertemukan oleh Allah dan tidak mungkin bisa dipersatukan. Tanpa saya sadari, saya takut banget kehilangan kamu Ren"
"Ren, maaf selama ini saya berbohong sama kamu. Perihal saya selalu tampil arrogant didepan kamu, itu untuk menutupi rasa sayang saya sama kamu"
"Tapi pak ..." Irena masih tampak bingung harus menjawab apa.
"Iya saya tau Bapak bukan seperti itu, saya juga sering memperhatikan Bapak dari sudut pandang yang berbeda. Dari sikap dan sifat yang tersembunyi dari diri Bapak. Saya gak pernah melihat hal-hal negatif, selalu hal positif yang saya lihat agar kita pun kerja bisa lebih tenang"
"Untuk perihal pertanyaan itu, saya bingung harus jawab apa Pak. Rasa sayang saya ke bapak seperti halnya atasan dan bawahan yang saling menghargai dan menghormati" ucap Irena sambil memberikan senyuman tipis manisnya.
"E--ehh it's okay. Gak usah dipikirkan. Anggap saja saya nggak pernah bertanya hal ini sama kamu" ucap Rudi menghela napasnya.
"Sepertinya kamu udah kembali normal, udah gak sedih dan nangis lagi kan? Berarti saya berhasil dong buat kamu tenang" ucap Rudi.
"Iya Alhamdulillah Pak udah lumayan tenang sih, tapi sekarang saya malah jadi haus, tenggorokan jadi kering juga ya habis nangis HEHEHEHE"
"Yaudah kita cari Cafe didekat sini, gak mungkin juga kita balik ke Cafe disitu. Malu dong kamu nangis-nangis begitu tadi"
__ADS_1
Malu sama orang di Cafe itu sih gak masalah bagi Irena, yang jadi permasalahannya sekarang adalah ucapan Rudi tadi yang membuat dirinya jadi grogi dan malu sendiri.
Sepertinya malam nanti Irena malah jadi gak bisa tidur memikirkannya. Aneh sih tapi gak nyangka aja.