
"Jaga Bryan ya buat aku ..." Bisik Vanesha saat berjalan mendekati Irena.
Irena terkekeh, "Aku sangat mencintainya, sudah tentu aku akan menjaganya dan menjaga pernikahan kami."
"Hem, baiklah. Aku hanya memastikan saja." Jawab Vanesha sembari menuangkan air kedalam gelasnya.
Gerakan tangan Irena terhenti, menoleh ke arah Vanesha. "Kenapa? Apa kamu begitu mencintai suamiku?"
Vanesha tersenyum mengangguk, "Kenapa kamu ingin tau?" Balasnya berbalik.
"Aku hanya memastikan saja apa kamu benar-benar mencintainya atau hanya membutuhkannya saja."
Vanesha terdiam, lalu berkata "Kita sama-sama butuh, Ren. Cuma posisi kita saja yang berbeda. Tapi aku sekarang tau, kalau sepertinya kamu terlihat takut saat ini. Ingat satu hal, aku tidak serendah itu untuk merebutnya darimu." Ia tersenyum dan berjalan keluar dari ruang dapur.
Irena terdiam mendengarnya, "Lantas kalau dia nggak ingin merebut Bryan, kenapa dia berkata seperti itu tadi. Aneh!" Gumamnya.
"Sayang ..." Bryan datang ke dapur.
"Kamu bicara sama siapa?" Tanya Bryan.
"Eng-enggk gak ada bicara sama siapa-siapa. Aku dari tadi diam aja disini. Kamu salah dengar tuh " Jawabnya ngeles.
"Baiklah, ayo kita makan. Biar Tere nanti yang nyiapin semuanya. Mereka semua sudah ngumpul." Kata Bryan.
"Irena ..." Vanesha memanggil, Irena menoleh.
"Ayo bantu aku angkat semua ini. Mama Rita menyuruh kita membawa semuanya ke meja makan."
"Oke, aku akan bantu kalian." Sambung Bryan, ia pun berjalan ke arah istrinya. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya melirik ke arah Irena. Ia khawatir Vanesha mengatakan yang tidak-tidak pada Irena. Karna sebelumnya ia sempat melihat Vanesha berjalan menuju dapur.
Mengerti arah pandangan Bryan dan sedikit mendengar ucapannya, Vanesha pun langsung berkata, "Aku tadi ke dapur hanya ingin berkenalan saja dengan istri kamu. Nanyakin gimana resep bisa dapatin hati kamu."
Irena hanya mengangguk setuju dengan ucapan Vanesha, "Iya kita ngobrol-ngobrol biasa aja kok." Irena menatap mata Bryan yang juga tengah menatap matanya, membuat Bryan percaya.
*****
Bryan menoleh ke arah Irena yang hanya diam dan terlihat murung. Bryan menoleh lagi, kini ia tau apa penyebab istrinya menjadi pendiam seperti itu.
"Ren ..." Panggil Bryan.
"Mas, aku ke toilet dulu ya." Ucap Irena.
"Mau aku temenin?" Tanya Bryan.
"Enggak dong Mas, kayak anak kecil aja." Kekehnya.
Semua yang mendengar ucapan Bryan, tersenyum geli.
__ADS_1
"Aduh Bryan, kamu yang aneh-aneh aja deh. Papa sama Mama saat masih jadi pengantin baru gak gitu-gitu kali deh. Lebay kamu." Kata William.
Bryan hanya tersenyum menggaruk kepala. "Nggak papa dong, Pa. Sama istri sendiri kok."
"Hahahaha ..." Semua tertawa.
*****
"Kalian yakin gak mau terima tawaran Papa untuk tinggal di Jerman?" Tanya William yang masih belum puas dengan jawaban anaknya.
"Yakin dong, Pa. Papa itu terus yang ditanya dari tadi. Papa tenang aja, kami pasti akan sering-sering datang lagi kesini. Mending Papa sama Mama aja yang stay di Indonesia ikut kami." Jawab Bryan.
"Ya nggak bisa dong. Kan bisinis Papa lebih banyak disini semuanya. Yang di Indonesia cuma satu, yang kamu pegang sekarang." Sambung William.
"Yasudah, kalian hati-hati ya. Sehat-sehat. Cepat kasih cucu buat kami."
"Pasti dong, Pa. Mohon doanya ya Pa, Ma." Kata Irena.
"Iya kalian buruan deh kasih ponakan buat aku juga ya." Sambung Vanesha tersenyum.
Vanesha memegang kedua tangan Irena, "Maaf ya yang di dapur tadi, aku nggak ada maksud apa-apa kok . Hanya memastikan aja kamu benar-benar akan menjaga Bryan ku. Soalnya aku perhatikan kamu tegang banget sih dari tadi." Kekehnya.
"E-iya nggak papa kok. Kalau ada waktu, main-main ke Indonesia ya."
Rita merangkul lengan Irena dan mencium keningnya. Memeluk erat tubuh menantu kesayangannya itu. "Mama titip Bryan ya, sayang."
Setelah selesai berpamitan dan saling berpelukan untuk melepas rasa rindu nanti, Irena dan Bryan masuk kedalam mobil untuk pergi ke bandara.
"Bye semuanya ..." Ucap Irena dan Bryan bersamaan.
Semua menatap kepergian mereka, perlahan mobil yang dinaiki Irena dan Bryan menghilang.
Vanesha tersenyum meski sedih. Ia kembali mendongak saat sebuah tangan menyentuh bahunya. Ia tersenyum melihat Rita yang menatapnya khawatir.
"Vanesha baik-baik aja kok, Tante." Rita tau ucapan itu bukanlah pernyataan yang sebenarnya.
"Kamu mau langsung balik?" Tanya Rita.
"Iya Tante, Om. Vanesha langsung balik ya. Terimakasih loh untuk sarapannya."
"Iya, kamu hati-hati ya. Titip salam sama Mama Papa kamu." Kata William.
Vanesha mengangguk dan menaiki mobil mewah berwarna merah menyala miliknya.
*****
"Kamu lagi ngapain sayang?" Tanya Bryan saat melihat Irena membuka lemari pendingin.
__ADS_1
Irena berjinjit " Lagi cari bahan makanan buat dimasak dong." Matanya masih mencari kesana kemari, tapi tetap saja tak menemukan apa-apa.
"Nggak bakal ketemu sayang, aku gak pernah belanja apa-apa." ucapnya.
"Mas, rumah kamu memang selalu sepi begini ya? Nggak ada ART atau satpam gitu?" Tanya Irena penasaran.
"Nggak ada, sayang. Mas kan jarang pulang ke rumah. Lebih sering meeting diluar kota atau kemana aja." Jawabnya.
"Terus setelah menikah bakalan sering keluar kota juga dong, bakalan jarang pulang kerumah." Lirihnya.
"Ya, enggak dong. Semua sudah Mas atur. Kamu tenang aja, Mas gak mungkin dong ninggalin istri Mas dirumah sendirian. Yang ada entar bakalan gak jadi-jadi baby kita." Bryan mendekati istrinya lalu memeluk pinggangnya dari belakang, saat Irena mencuci tangan di wastafel.
"Lagian jarang dirumah, kenapa harus beli rumah sebesar ini sih." Kesalnya lagi.
"Ya, ingin aja. Siapa tau suatu saat butuh, dan ternyata memang butuh kan. Buat kamu." Bisiknya ke telinga Irena.
Irena memercikkan air dari keran wastafel. Bryan tetap tak perduli, ia hanya ingin terus memeluk istrinya yang masih tampak sibuk mencuci tangan.
Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi. "Kamu pesan makanan?" Tanya Irena.
Bryan menggeleng, "Biar aku yang buka pintunya, mungkin itu Ibu sama Kania bawa makanan untuk menantu kesayangannya."
Irena hanya tertawa. "Kepedean kamu!"
"Mas, ini ada kiriman paket." Ucap kurir pengantar paket.
"Paket? Tapi saya tidak memesan apapun." Jawab Bryan.
"Ada kiriman paket maksud saya, Mas."
"Oh, telinga saya sepertinya sudah mulai gak bersahabat. Baiklah, sini saya ambil."
Bryan membawa masuk kiriman paket itu, lalu membukanya bersama dengan Irena diruang makan. "Dari siapa Mas?" Tanya Irena.
"Nggak tau nih. Gak ada nama pengirimnya sih."
Saat membuka kotak persegi berwarna coklat itu, ada ucapan gift dan setangkai mawar putih beserta kalung didalamnya. "Sepertinya ini buat kamu, sayang." Bryan menunjukkan kalung itu.
"Kalung? Dari siapa ya, Mas? Apa dari Kania?" Tanyanya heran sembari membaca kartu ucapan bertuliskan "Selamat atas pernikahanmu, semoga kamu selalu bahagia dengan pilihan hidupmu yang baru." Tanpa nama dan alamat pengirim dikartu ucapannya.
.
.
.
Hayoo dari siapa itu? Coba tebak 😂😂
__ADS_1