
"Tidak mungkin, tidak mungkin. Tidak."
"Apa maksud kamu Bastian membawa lari semua uang perusahaan?!"
"Bastian tidak mungkin melakukan hal itu, dia tangan kananku." Dika mengambil ponselnya dan mengubungi nomor Bastian. Sialnya, sudah tidak aktif.
"Pak Bastian memindahkan semua saldo perusahaan ke rekening pribadinya, Pak."
Dika semakin murka mendapatkan laporan dari salah satu staff di perusahaannya tentang ketidak hadiran Bastian sudah hampir seminggu, orang kepercayaannya yang mengurus semua aset perusahaan.
"BASTIAN!!!" Teriak Dika dengan sangat keras.
Tanpa sengaja mata Dika menoleh ke arah brankas yang ada dibawah mejanya. Dengan cepat dia langsung mengecek dan mendapati pintu besi itu terbuka dan isi didalamnya hanyalah beberapa lembar uang yang mungkin terjatuh saat diambil dengan terburu-buru.
"Brengsek! Kenapa aku tidak menyadarinya. Hanya Bastian yang mengetahui kode brankas ini."
"Arrggghhh!!" Dika menjerit sembari meremas kuat rambut di kepalanya.
"Cari bajingan itu sampai ketemu!!!" Titahnya.
Isu tentang pengkhianatan Bastian pun mulai terdengar oleh beberapa investor, yang menyebabkan para investor datang untuk mempertanyakan penjelasannya. Begitu pula dengan Bryan, investor terbesar disana. Hingga akhirnya meeting darurat pun dilakukan untuk mencari solusi.
"Bagaimana ini dengan uang kami, Pak Dika?"
"Anda seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih orang kepercayaan. Bagaimana bisa dia mengkhianati Anda seperti ini?"
"Dan project kita juga baru berjalan tiga puluh persen. Dari mana Anda akan mendapatkan dana untuk menyelesaikan tujuh puluh persen project itu lagi?"
__ADS_1
Dika diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat memberatkan pikirannya, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Para investor marah, merasa dipojokkan atas kejadian itu. Hingga para investor menuduhnya telah ikut bersekongkol dengan Bastian. Sementara Bryan tampak tenang, karna senang melihat Dika menderita.
Dika berupaya meyakinkan semua orang, "Bapak-bapak saya mohon tenang. Saya berjanji pasti akan segera menyelesaikan ini semua. Bastian pasti ditemukan."
"Bagaimana kalau uangnya sudah tidak ada?!"
"Ya, betul. Betul itu. Bagaimana?!"
Terlihat cemas di raut wajah Dika. Dia berupaya menghubungi nomor Bastian kembali, tapi tetap tidak aktif. Bagaimana bisa dirinya mengganti semua uang yang hilang, bahkan bila semua aset pribadinya dijual, itu tidak akan cukup.
"Brengsek!! Aku aku bunuh kau, Bastian." Kesalnya dalam hati.
*****
Ditempat yang berbeda, Rebecca juga mengalami kesulitan. Dia didatangi oleh pemilik apartemen yang menagih biaya tunggakan cicilan selama lima bulan. Ternyata sudah lima bulan, Jhonatan tidak lagi membayarkan cicilan apartemennya, padahal biasanya selalu membayar tepat waktu, tidak pernah sampai menunggak meski satu hati saja.
"Tunggu sebentar Bu, saya sedang menghubungi suami saya. Pasti ada kesalahan." Rebecca berulang kali menghubungi Jhonatan tapi tidak kunjung diangkat.
"Begini saja, saya tunggu sampai minggu depan untuk Ibu menyelesaikan semua tunggakan serta sisa pelunasan yang belum dibayarkan."
"Apa Bu? Pelunasan?" Rebecca terkejut mendengarnya.
"Loh, bukannya kita sudah sepakat ya kalau saya akan menyicil setiap bulan sampai lunas?"
"Masalahnya, Ibu sudah menunggak hingga lima bulan lamanya. Saya gak bisa kasih toleransi lagi. Lagian ada orang yang mau membeli apartemen ini dengan harga yang cukup tinggi. Tentu saja, saya akan melepaskannya."
"Nggak bisa gitu dong, Bu. Itu namanya Ibu gak profesional. Saya sudah cicil apartemen ini selama satu tahun lebih, mana bisa main kasih ke orang lain gitu aja." Wajah Rebecca terlihat merah padam, dirinya benar-benar malu karna ada pemilik apartemen lain yang melihat.
__ADS_1
"Kamu nggak baca perjanjian jual beli yang kamu tanda tangani ya? Disana sudah jelas tercantum, apabila kamu tidak membayar selama tiga bulan berturut-turut maka saya berhak mengambil kembali apartemen ini tanpa biaya ganti rugi."
"Masih baik hati saya kasih tempo kamu waktu jadi lima bulan seperti ini."
"Baik, baik Bu. Saya akan pastikan dalam waktu seminggu semua akan terselesaikan."
"Ya sudah, saya tunggu kabarnya ya." Bu Mega pun pergi dari sana.
Rebecca langsung masuk ke dalam dan mencoba menghubungi Jhonatan kembali, "Angkat, Mas. Kamu dimana? Kenapa kamu ngga bayar cicilan apartemen ini?" Rebecca mondar-mandir dengan wajah panik.
"Dika! Ya, Mas Dika. Aku harus minta bantuan Mas Dika." Rebecca mencari kontak Dika dan mengubungi pria itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tidak diangkat.
"Sialan!" Ponsel itu melayang ke arah tempat tidur, dilempar oleh Rebecca setelah usahanya tidak mendapatkan hasil.
.
.
.
Hahahaha ...
Yuk ketawain mereka rame-rame ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£
Lagi kenak mental gak tuh mereka wkwkwkk
See you next, Readers 💙
__ADS_1