Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 138


__ADS_3

"Hallo, Pak." Sapanya.


Mata Vanesha berbinar, bahkan semakin terlihat lebih berbinar setelah menjawab panggilan telepon itu dengan sangat antusias. Sementara Dika berusaha mendengarkan pembicaraan mereka, membuka telinga lebar-lebar, sembari menatapnya diam.


Sementara wajah Dika berubah menjadi gelap tak secerah tadi. Bahkan kini Vanesha tersenyum lebar setelah panggilan telepon berakhir. Menjadi seorang Designer terkenal di seluruh dunia, impian terbesarnya sebentar lagi akan segera terwujud.


"Ada apa?" Tanya Dika cemas yang masih menunggu jawabannya.


"Ada salah satu designer memintaku datang ke London untuk menampilkan semua karya-karyaku. Ini adalah impian terbesarku, menjadi seorang Designer yang dikenal banyak orang di seluruh dunia." Ucapnya antusias.


"Ma, Pa ... Finally, my dreams becomes true!!" Teriaknya pelan histeris.


Dika semakin cemas saat mengetahuinya, ia juga nggak tau harus ikut senang atau tidak. Namun, dia merasakan firasat buruk atas jawaban yang akan diberikan Vanesha padanya.


Vanesha menatapnya lekat, "Dik, maafkan aku. Kamu tau ini adalah impianku dari kecil. Aku nggak bermaksud untuk menolak atau menunda pernikahan kita. Hanya saja, aku harus memfokuskan ini. Aku menerima lamaran mu, tapi aku mohon kamu untuk bersabar menungguku. Ini impian terbesarku, impianku dari kecil akan menjadi kenyataan."


"Bisakah kita kembali membicarakannya setelah aku pulang dari sana?" Tanyanya tanpa merasa bersalah.


Dika diam terpaku, hancur sudah semua rencananya. Tapi apa ia harus kembali menunggu wanita yang dicintainya? Ia tampak tidak yakin, dan terpaksa harus mengangguk.


"Beneran nggak papa, sayang?" Tanyanya lagi.


"Iya, nggak papa, sayang. Aku baik-baik saja." Jawab Dika lesu.


"Baik-baik saja apanya. Kamu tidak bisa berkata seperti itu dan pergi begitu saja, Nesh!" Sambung Papa Vanesha geram.


"Tapi Pa, aku nggak meminta banyak darinya. Aku hanya ingin Dika menungguku. Aku yakin Dika pasti memberiku waktu dan bisa menerima keadaan ini."


"Kamu sama sekali tidak merasa bersalah? Dia sudah terlalu sering menunggumu. Jangan salahkan dia jika suatu saat nanti dia akan memilih pergi darimu, Nesh. Papa juga seorang pria, pasti mengerti apa yang saat ini Dika rasakan."


"Baiklah, kalau begitu kami berpisah saja!" Lagi, Vanesha mengatakan hal itu. Namun sungguh, Vanesha tak pernah berpikiran dan bermaksud untuk berpisah dengan Dika. Tapi kata-kata yang keluar seperti rasa garam yang ditaburkan diatas luka bagi Dika.

__ADS_1


"Aku juga lelah hidup seperti ini, aku nggak ingin melepas impianku untuk menikah denganmu, Dik. Sekarang tidak ada alasan untuk kita berpisah dan bersama lagi."


Dika masih saja diam terpaku, ia benar-benar dibuat hancur malam ini. Tak percaya Vanesha akan mengatakan itu dengan begitu mudah. Seolah dirinya tak memiliki arti untuknya. Kata-katanya sungguh menyakitkan, tak ada perasaan bersalah dalam kata-katanya.


"Sayang, kamu ... Mama tau kamu sedih, dan kami semua mengerti dengan impianmu. Kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Dan kamu tau kan, itu nggak akan membuat kalian bisa kembali lagi." Ucap Mama Vanesha.


"Vanesha memang benar, Ma. Tidak ada seorang pun yang bisa mencegah impiannya. Meskipun aku melarangnya, dia akan tetap pergi, bukan."


Vanesha tampak kesal dengan tanggapan Dika,l lalu pergi meninggalkan Dika begitu saja tanpa berkata-kata. Kemudian disusul oleh kedua orang tuanya. Sementara Dika masih terdiam ditempatnya. Dika menatap lirih kepergian mereka. Tidak cukupkah penantiannya selama ini? Dan sekarang Vanesha memilih untuk berpisah tanpa memikirkan perasaannya.


Dengan perasaan kecewa, Dika melemparkan kotak cincin itu hingga hancur seperti hatinya yang terasa hancur berkeping-keping setelah dihantam kenyataan yang begitu pahit. Jika seperti ini jadinya, dia nggak akan berusaha keras untuk bisa mencintai Vanesha sekuat tenaga yang akhirnya mengantikan posisi Irena didalam hatinya.


******


"What? Kamu membatalkan pernikahanmu?" Bryan kaget saat Vanesha menceritakan semua padanya.


Bryan menatap Vanesha yang hanya diam disampingnya dengan cemas. Sesekali menolehnya dengan air mata yang mengalir di pelupuk mata. Dia lebih tenang saat melihat Vanesha seperti itu, itu lebih baik untuk pikiran dan jiwa yang masih terguncang. Tapi bagaimana mungkin pria seperti Dika yang akan menjadi suami Vanesha. Ia sungguh tak akan pernah rela bahkan menyetujuinya. Karna ia sangat mengenal tabiat buruk pria itu saat bersama istrinya dulu.


"Aku baik-baik saja, Bryan." Jawabnya dengan senyum miris.


"Seharusnya aku dari awal sudah mengetahui kalau Irena adalah wanita yang pernah menjadi istri Dika. Tapi aku juga gak bisa menyalahkan Dika sepenuhnya, lagi pula mereka bukan suami istri lagi. Bukankah sepantasnya aku bisa menerima semua tabiat masa lalunya yang buruk itu, Bry?" Ia mencurahkan segala kesedihannya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus meninggalkan segala harapan dan impianku yang besar ini?"


Bryan tau semua yang terjadi pada mereka berdua, tidak sepenuhnya salah Dika. Tapi bagaimanapun ia harus ikut andil dalam masalah ini.


"Apa kamu sungguh benar-benar mencintai Dika? Atau hanya pelampiasan kepadanya karna aku menolak perjodohan kita?" Tanya Bryan ragu.


"Heii, tentu saja aku sangat mencintainya, Bryan. Tidak ada hubungannya denganmu."


"Aku tau, aku hanya ..." Bryan menjeda ucapannya saat Irena datang dan masuk ke dalam ruangan kantornya.

__ADS_1


"Haii ..." Sapa Irena.


"Haii, Ren." Balas Vanesha lesu.


"Sepertinya kalian lagi serius ngobrol. Mas, aku nanti balik lagi." Ucapnya pelan, setelah meletakkan bekal makan siang untuk Bryan.


"E-tidak, tidak ... Kamu tidak harus pergi. Akan lebih baik kalau kamu juga tau semuanya."


"Ya, baiklah. Kalian ngobrolin apa?" Tanya Irena heran.


"Vanesha membatalkan pernikahannya dengan Dika. Ya, dia udah tau kalau kamu adalah mantan istri Dika. Begitu juga apa yang sudah Dika lakukan pada kamu dulu." Lanjut Bryan dengan lugas menjelaskan.


"Apa? Aku sungguh tidak tau kalau kalian sudah saling mengenal. Aku juga gak pernah terpikir apalagi membayangkan akan berjumpa lagi dengannya." Ucap Irena.


"Aku tau, aku juga tidak menyalakan kalian apalagi dengan masa lalunya. Ia juga sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kesalahan terburuknya itu, bukan. Aku nggak akan mempermasalahkan hal itu dalam hubungan kami."


"Aku hanya bingung untuk memilih, dia atau impian terbesarku." Ucapnya lirih merasa frustasi pada dirinya sendiri.


"Aku mohon, jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nesh. Kamu tidak bersalah dalam hal ini, semua orang punya impian dalam hidupnya. Kamu berhak mendapatkan keduanya, impianmu dan juga cintamu."


"Coba pikirkan lagi dengan hati dan pikiran yang tenang, insha Allah kamu akan mendapatkan jawabannya." Irena duduk di samping Vanesha dan menggenggam tangannya, memberikan ketenangan dan kekuatan untuk dirinya.


"Tapi kamu harus ingat, semakin besar impianmu maka semakin besar juga badai yang akan menghadangnya. Karna pasti akan ada serpihan yang jatuh karna badai besar itu. Jadi, kamu harus kuat saat itu terjadi, Nesh."


Ruangan menjadi hening, cukup lama Vanesha berpikir. Sepertinya dirinya lah yang menyulitkan hubungan mereka. Hingga akhirnya suaranya pun terdengar, "Aku masih belum tau, Ren. Tapi kamu benar, aku harus memikirkannya dengan baik. Aku nggak ingin nantinya akan menyesali keputusan yang akan aku ambil. Aku harus mencari jalan terbaik untuk hubungan kami." Ucapnya, lalu memeluk tubuh Irena seperti layaknya sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.


.


.


.

__ADS_1


Yeay, akhirnya mereka rujuk. Eh maksudnya Irena sama Vanesha berbaikan 🤣🤣


__ADS_2