Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 131


__ADS_3

Satu tahun kemudian ...


Seorang pria kembali menangis setelah bertahun-tahun berpisah dengan istrinya. Ia terkapar dengan posisi meringkuk di lantai basah kamar mandi. Sementara dari tempat berdiri, didepan pintu Ibunya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dika, kamu jangan begini terus dong Nak. Itu baju kamu basah." Ibunya kembali menatap wajah anaknya saat mematikan keran air. Ia baru menyadari wajah anaknya terlihat pucat dan bibir sedikit membiru.


Ditepuknya pelan pipi sang anak beberapa kali, tapi tak juga memberikan reaksi apapun. Telapak tangannya terasa dingin saat menyentuh tubuhnya. "Dika, Dika ... Bangun Nak!" Lirihnya sembari memindahkan kepala Dika ke pangkuannya lalu mengguncangkan tubuh Dika dengan kencang agar tersadar.


Air mata mengalir dari pelupuk mata Ibunya. Menetes melewati pipi kemudian jatuh ke wajah Dika.


Dengan susah payah ia membopong tubuh anaknya keluar dari kamar mandi, berlari mengambil selimut tebal dari dalam lemari kemudian membentangkannya untuk dijadikan alas tubuh Dika berbaring.


"Bertahanlah, sayang." Lirihnya.


"Bik ... Bikkk ..." Teriaknya, tapi tak kunjung ada respon karna pagi ini Bik Jum pasti sudah berangkat ke pasar.


Lantas ia langsung berlari keluar rumah dengan bertelanjang kaki, keluar dari komplek rumah Dika yang langsung mengarah ke jalan besar untuk memanggil Taxi. Semua orang menatap aneh dirinya karna bereaksi seperti wanita gila. Kegelisahan dan kepanikan sudah tak bisa terbendung lagi, berulang kali menoleh ke kanan kiri depan belakang untuk mencari Taxi yang lewat. Hingga akhirnya, sebuah Taxi berhasil didapatkan dan diberhentikan. Kemudian meminta sang supir untuk mengantarnya kerumah.


Sesampai dirumahnya, Ibu Dika langsung meminta supir Taxi itu membantu membopong anaknya yang berada didalam kamar untuk masuk ke mobil. Setelah itu mereka langsung menuju rumah sakit terdekat.


Dika tak kunjung sadarkan diri, meskipun berbagai cara telah dilakukan Ibunya untuk membuatnya tersadar. Kedua tangannya yang gemetar terus menggenggam erat telapak tangan Dika yang dingin.


*****

__ADS_1


Ibu Dika terduduk lemas di kursi panjang rumah sakit tepat didepan ruangan Dika tengah dirawat. Berbagai macam selang penunjang kehidupan menempel ditubuh anaknya itu. Membuat sesuatu di dalam dada terasa sesak dan merasa sangat bersalah.


"Sesakit itukah anakku? Karna perceraiannya. Apa yang harus Ibu perbuat sekarang, Nak? Apakah perjodohan yang Ibu lakukan dulu adalah jalan yang salah untuk hidupmu?" Batinnya.


Ia berdiri dari duduknya, melangkah goyah sambil berpegangan pada dinding. Mengintip kedalam ruangan Dika lewat pintu jendela kaca persegi. Dika terbaring dengan mata yang masih terpejam. Ingin rasanya ia melangkah masuk, tapi belum diperbolehkan oleh Dokter yang memeriksa.


Saat berbalik badan lalu berjalan kembali ke kursi panjang tempat ia duduki tadi, terlihat seorang wanita baru saja keluar dari lift. Wanita itu merogoh tas yang tersandang di lengan untuk mengambil ponselnya. Lalu ia menghubungi seseorang.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ibu Dika langsung berjalan ke arah wanita itu. Tapi wanita itu langsung berbelok ke arah sebuah koridor lalu mengarah berjalan entah kemana hingga tubuh wanita itu tak terlihat lagi.


*****


Lima bulan kemudian ...


Calon tunangan Dika adalah seorang teman bisnis yang kurang lebih satu tahun sudah menemani dirinya disaat kehidupannya mengalami kehancuran. Perjumpaan mereka dimulai saat Dika memulai bisnis barunya. Wanita itu selalu sabar menemaninya, walaupun ia harus sering bolak balik pulang ke luar negeri. Dengan kebersamaan itulah yang menghadirkan benih-benih kenyamanan hadir di hati mereka masing-masing.


Hari ini Dika menemani calon tunangannya itu yang sedang pemotretan, "Sayang, maaf ya! Pemotretannya belum selesai, mungkin sampai malam nih." Kata Vanesha merasa bersalah padanya.


Dika hanya tersenyum dan mengecup keningnya dengan mesra. "Nggak papa, koper dan keperluan lainnya sudah beres semua jadi tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kita tinggal berangkat ke Bandara aja setelah pemotretan kamu selesai."


"Aku keluar sebentar, nanti kabari kalau sudah selesai." Pinta Dika, dan Vanesha mengangguk patuh.


*****

__ADS_1


Penerbangan yang sangat panjang dan melelahkan tak menyurutkan niat mereka untuk menghabiskan waktu liburan kali ini. Vanesha terus saja memandang wajah sendu calon suaminya itu.


"Kamu yakin akan segera menikahi ku?" Ucapnya pelan sembari menyenderkan kepala ke pundak Dika didalam mobil saat menuju hotel mereka menginap.


Ia peluk erat tubuh Vanesha, lalu mencium keningnya dengan lembut seperti mengisyaratkan akan keyakinan dirinya untuk segera menikahi wanita itu.


"Kita akan liburan disini, jadi jangan bahas sesuatu hal yang membuat liburan kita jadi berantakan. Kamu pasti sudah tau jawabannya, sayang." Ucapnya.


*****


Matahari bersinar sangat cerah hari ini di Swiss. Nyanyian burung-burung yang berkicau sangat merdu, membuat ingin segera memulai liburan pertama hari ini dengan semangat.


Dika melihat sosok tinggi langsing dengan rambut yang hitam bergelombang sedang menyeduh kopi. Dia adalah Vanesha, sosok malaikat yang muncul dalam hidupnya, disaat seluruh dunia meninggalkannya dalam keterpurukan. Disaat dirinya berada di titik terendah dan diceraikan istrinya karna kesalahan dirinya sendiri.


Kesamaan nasib karna sama-sama ditinggalkan oleh orang yang dicintai walau dengan masalah yang berbeda, membuat mereka saling mengerti dan memahami serta memberi dukungan satu sama lain.


.


.


.


Siapa yang masih penasaran tentang hubungan Dika dan Vanesha? See you next 🤗

__ADS_1


__ADS_2