
"Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
Irena menengadah menatap Bryan, cara bicara pria itu sangat meyakinkan. Saat tiba-tiba menatap Bryan, Bryan dengan cepat menarik tubuh Irena ke dalam pelukannya.
"Kamu harus berhati-hati, Ren. Mereka bisa saja melakukan sesuatu yang buruk." Bryan mengingatkan. Bryan melepaskan Irena dan memberi jarak.
"Kamu mau pulang dan menangkap basah perselingkuhan mereka?" Tanya Bryan.
"Aku belum siap, aku takut tidak bisa mengontrol emosi dan akhirnya mereka lepas begitu saja. Bukankah harus ada balasan atas segala kejahatan, Bryan?" Kata Irena.
"Maksud kamu, kamu ingin membalas mereka?"
"Tentu! Perceraian hanya akan membantu mereka untuk hidup lebih bahagia. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, membiarkan mereka menari diatas penderitaan ku selama ini."
"Kamu yakin?" Entah kenapa Bryan merasa tidak yakin Irena mampu melakukan itu. Karna bukankah berdiri tenang didepan pengkhianat adalah perihal yang tidak mudah?
"Sepertinya aku butuh waktu." Irena terduduk lemas. Pikiran dan tubuhnya lelah.
"Persiapkan dirimu lebih dulu sebelum menghadapi mereka." Bryan berdiri dan memegang pundak Irena.
"Tinggal lah di sini selama yang kamu butuhkan, Ren. Aku berjanji akan membantu."
"Kamu yakin tidak mengincar sesuatu dariku kan, Bryan?"
"Aku bukan Mas Dika mu, Irena." Bryan membantu Irena berdiri. Wajahnya terlihat tidak suka dengan tuduhan yang dikatakan Irena.
"I'm so sorry, Bryan. Nggak seharusnya aku ragu setelah apa yang sudah kamu lakukan."
__ADS_1
Bryan hanya tersenyum.
*****
Begitu sampai dirumah, Irena melihat mobil Dika ada dihalaman rumah. Padahal kemarin malam saat dirumah Bryan, Irena memberi alasan bahwa ia tidak pulang kerumah beberapa hari karna akan menginap dirumah Ibunya. Dan pagi ini ia meminta Dika untuk menjemputnya tapi Dika bilang harus ke kantor karna ada urusan pekerjaan yang mendesak dan meminta Irena untuk menginap beberapa hari lagi agar rasa rindu kepada Ibunya bisa terlampiaskan sepenuhnya.
Irena berusaha meyakinkan diri bahwa sepertinya ia harus bersiap tempur mulai sekarang.
Tanpa suara Irena masuk kedalam rumah dengan pintu yang tidak dikunci. Keanehan pun mulai terasa, keadaan didalam tampak hening. Tak ada seorang pun terlihat, bahkan para pekerja entah kemana perginya. Dilantai bawah pun, Dika tidak terlihat sama sekali.
Irena memutuskan untuk naik ke atas, ke kamarnya. Ia berdiri di balik pintu kamar yang setengah terbuka. Terdengar suara aneh dan semakin lama suara itu terdengar sangat jelas. Pasti terjadi lagi pikirnya dan benar saja kali ini benar-benar sudah diluar batas. Dadanya sesak dan bergemuruh.
Dia bisa melihat pemandangan menjijikkan dari sini, dimana Dika dan Rebecca tanpa rasa malu dan bersalah memakai kamar tidur mereka untuk melampiaskan kemaksiatan mereka. Bercinta dikamar yang seharusnya Dika jaga hanya untuk mereka berdua.
"Kenapa harus dilihat?" Tanya Bryan, ikut berdiri di samping Irena.
"Bryan?" Irena terkejut dan berucap pelan.
"Hanya dengan cara ini aku semakin yakin kalau mereka memang brengsek. Bisa-bisanya mereka melakukan ini dikamar kami." Lirih Irena terisak pelan.
Bryan ikut menyaksikan juga perselingkuhan mereka dengan tatapan penuh kebencian. "Sejujurnya aku sangat marah saat tau perselingkuhan yang dilakukan suami mu dibelakang kamu." Ucapnya pelan.
Saat tiba-tiba Irena berbalik melihat ke arah pintu, Bryan dengan cepat menarik Irena kedalam pelukannya dan bersembunyi dibalik tirai. Karna hampir saja mereka ketahuan.
Nafas Irena sesak dengan aroma tubuh Bryan yang maskulin. Tubuhnya terasa sangat kecil saat berada di pelukan pria itu. Seperti selimut yang melindungi dirinya dari dingin. Belum lagi detak jantung yang mulai terasa aneh, ia merasa dirinya sudah mulai gila.
*****
__ADS_1
Irena memikirkan sebuah rencana untuk membalas Dika dan Rebecca. Ia tak ingin menjadi wanita bodoh yang dengan cepat meminta bercerai setelah mengetahui bahwa suaminya berselingkuh.
"Minum dulu, otak mu pasti lelah." Bryan datang dan membawakan segelas kopi. Mereka duduk diatas balkon yang tidak bersampingan dengan rumah Bryan, sehingga bisa dengan bebas menghirup udara.
"Thanks." Irena menerima kopi yang diberikan dan menyeruputnya.
"Sudah punya ide?" Tanya Bryan.
Irena menatap Bryan dan terlihat wajah yang menjengkelkan tersenyum seperti sedang mengejek. "Aku akan mencoba untuk bersikap seperti biasa dihadapan mereka."
"Kamu yakin bisa? Jangan sampai saat kamu melihat wajah merak berdua, kamu malah ingin mencakarnya." Bryan terkekeh.
"Apa aku separah itu?" Irena membela diri.
"Ya, makanya itu kamu harus berlatih dulu. Karna terkadang teori dan praktek itu tidak sama."
Bryan memutar tubuhnya menghadap Irena. "Bayangkan, aku adalah Rebecca dan ..."
PLAK!!
Belum siap untuk berbicara, tiba-tiba tangan Irena terangkat dan menampar pipi Bryan dengan keras.
"Oh, maaf maaf. Astaga!" Irena ingin mengusap pipi Bryan, tetapi ragu.
.
.
__ADS_1
.
*Haloo, Readers. Maaf banget telat up nya. Tapi mudah-mudahan para Readers masih setia menunggu tiap lanjutan episodenya ya. Thankyouuu ...*