Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 13


__ADS_3

Irena menatap ke arah Ibu dan adiknya yang sedang duduk dimeja makan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sedari jam 8 malam, mereka hanya terdiam duduk makan dan tak terucap satu kata pun.


Ada apa dengan mereka ini? Situasi ini membuat aku jadi semakin nggak nyaman.


tanya Irena dalam hati. Gadis itu menghembuskan napas beratnya.


"Dari tadi Irena perhatikan kok pada diam semu sih, lagi pada sakit gigi ya?" tanya Irena sambil mengupas buah jeruk.


"Emm .. nggak ada apa-apa sih kalau aku. Ibu tuh yang kayaknya ada apa-apa. Coba deh kakak tanya sendiri" jawab Kania.


"Sepenting itu ya Ibu kasih penjelasan ke kamu?" tanya Ibu.


Irena terkejut "Ibu! Ayolah Bu, Irena tau apa alasan Ibu seperti ini. Anggap saja kami memang tidak berjodoh, toh orangnya sampai sekarang juga tidak kelihatan batang hidungnya"


Ibu mengerutkan dahinya dan berkata dengan nada keras "Jangan kamu kira Ibu tidak tau ya Ren alasannya kenapa, kamu yang menolak mereka. Kamu masih saja egois, kamu tidak memikirkan perasaan orang yang ada disekitar kamu. Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan, kita semua juga ngerasain. Tapi jangan jadikan itu sebagai kekhawatiran yang buat diri kamu sendiri jadi menderita. Ibu juga capek kalau kamu begini terus. Penderitaan kamu penderitaan bagi kami juga"


Seketika amarah Ibu Irena pecah menjadi tangisan, air mata berlinang menetes ke kedua pipinya. Sudah lama Irena nggak melihat Ibunya seperti ini. Malah Ibunya yang ia lihat selalu tegar cerita, kini bisa jadi selemah ini hanya karna dirinya. Dirinya yang egois.


Irena masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya, ia nggak ingin situasi semakin kacau kalau ia terus menjawab apa yang dikatakan ibunya. Lebih baik ia memenangkan dirinya dan merenungkan apa yang telah ia perbuat begitu menyakitkan Ibunya.


"Apa aku seegois itu? Apa aku salah menolak mereka? Aku juga ingin pilihanku sendiri, aku juga ingin seperti gadis-gadis lainnya, menikah, punya keluarga. Tapi memang belum waktunya saja"


Tiba-tiba ponsel Irena berbunyi, Irena langsung beranjak melihat siapa yang menelponnya semalam ini.


"Assalamualaikum", ucap Rudi.


"Wa'alaikumsalam, hemm ada apa ya Pak?" tanya Irena.


"Saya ada didepan rumah kamu, bisa kamu keluar sebentar? Tadinya mau ngajak kamu keluar makan malam sekalian ngobrol. Tapi pas didepan rumah saya lihat tampak sepi. Jadi saya lewat saja


Wahh, kok bisa kesini ini orang? Apa dia mendengar keributan kami tadi?


tanya Irena dalam hati.

__ADS_1


"E--iya sebentar ya Pak, saya siap-siap dulu"


"Siap-siap kemana? E--nggak usah" jawab Rudi yang belum siap bicara tapi Irena langsung mematikan ponselnya saat.


Irena mengganti bajunya dan bersiap-siap. Kebetulan sekali disaat ada keributan, Rudi datang dan ia ingin keluar juga untuk lebih menenangkan dirinya.


Irena hanya berpamit kepada Kania, "Dek, kakak pergi sebentar dulu ya, cari angin. Kunci rumah udah kakak bawa kok, kalau kakak pulang agak malam"


"Loh kakak mau kemana?" tanya Kania.


Irena tidak menjawab pertanyaan Kania, gadis itu langsung pergi meninggalkannya.


Ia hanya memakai baju casual biasa dan memakai sendal jepit Fipper Slipper. Dengan gaya seadanya, karena bagi Irena memakai sendal jepit lebih nyaman baginya. Kecuali disaat moment-moment tertentu.


Irena mengetuk dan langsung membuka pintu mobil Rudi "Ayok jalan Pak"


Rudi tampak syok, maksud hati hanya ingin memberikan makanan pada Irena tapi Irena malah berpikir bahwa mereka akan pergi keluar. Dengan waktu yang semalam ini, ia tampak merasa gelisah.


"HAAA! Kamu mau kita pergi? Ini sudah malam loh. Nanti Ibu kamu marah?" tanya Rudi.


Selama diperjalanan Rudi masih tampak gelisah dan berpikir, apa iya tidak apa-apa membawa anak gadis orang semalam ini? Memang masih jam 9 lewat, tapi... "Oke, saya mau ke toilet sebentar ya"


Rudi memberhentikan mobilnya di toilet SPBU, ia memilih untuk mencoba menghubungi Ibu Irena.


"Untung saja sedari awal kerja nomor Ibunya aku save jadi bisa aku telepon sebentar untuk minta izin bawa anaknya" ucap Rudi dalam hatinya.


*****


Ibu Irena masih tampak sedih dan kesal dengan keributan malam ini. Ia terus memikirkan Irena bahkab saat ia lagi mencuci piring. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi ...


"Assalamualaikum Bu" ucap Rudi grogi.


"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" jawab Ibu Irena.

__ADS_1


"Ini saya Bu, Rudi. Ibu masih ingat? Yang kemarin datang kerumah antar buah saat Irena sakit. Masih ingat sama saya"


"Oh iya Bos nya Iren kan? Ada apa ya? Irennya ada dikamar, apa ponselnya tidak aktif sampai Bapak menelpon ke nomor saya?"


"Oh nggak nggak Bu, saya cuma mau bilang E---nggg itu Irena lagi sama saya, tadinya saya cuma mau nganterin makanan buat Ibu dan keluarga, tapi Irena mikirnya saja ngajakin keluar. Padahal maksud saya bukan begitu Bu, nggak ada maksud apa-apa. Saya takut Iren pasti belum izin sama Ibu, apalagi sudah semalam ini pasti Ibu nggak mungkin kasih izin keluar. Makanya saya langsung telpon Ibu aja biar gak ada salah paham kan" ucap Rudi yang tampak takut Ibu Iren akan marah.


"Oh iya nggak apa-apa saya ngerti kok, gak masalah. Dia udah izin sama saya, yaudah hati-hati ya. Jangan jauh-jauh juga perginya dan jangan malam-malam banget baliknya. Gak enak sama tetangga nanti dipikirin yang macam-macam. Titip Irena nya ya sama kamu" jawab Ibu Irena yang menyetujui.


"Iya pasti Bu, terima kasih Bu, sekali lagi maaf banget ya maaf banget" ucap Rudi.


"It's okay, selama itu membuat Irena lebih tenang dan nyaman. Ibu mau lanjut lagi nih, lagi cuci pring soalnya, jaga Irena ya Pak Bos. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" jawab Rudi.


Ada rasa cemas dan takut dalam diri Ibu Iren, tapi ia juga bisa mengerti kenapa anaknya seperti itu. Mungkin ia memang butuh ketenangan setelah keributan yang terjadi tadi.


Tapi nggak dipungkiri ia juga tampak senang, kelihatannya ada pria yang membuatnya nyaman, tidak biasanya Irena pergi dengan pria manapun, tapi dengan Rudi ia sendiri yang memilih untuk pergi. Mungkin ini langkah awal untuk ia bisa dekat dengan pria.


Rudi balik ke mobil sembari berkata "maaf saya lama ya, tadi barusan saya telepon Ibu kamu. Gak mungkin dong saya pergi gitu aja, bawa anak gadis kesayangannya lagi. Bisa kenak blacklist jadi calon mantu dong saya" canda Rudi.


"Oke, kamu mau kemana kita sekarang?" tanya Rudi.


OMG! Telepon Ibu, gak salah tuh? Berani banget.Tapi tau darimana dia nomor Ibu? Kalau aku tanya entar dia malah kege-eran. Besok-besok aja deh ditanya, ucap Irena dalam hatinya.


"Hemm, kita ke Cafe Live Music aja deh Pak, biar lebih tenang, saya juga agak lapar sih sedikit gak banyak HEHEHEE"


"Uhukk .. Uhukk .. Mulai sekarang kalau lagi diluar kantor kayaknya lebih enak panggil Rudi aja deh, jangan kamu panggil Bapak. Kelihatan tua banget saya nanti. Bisa?" tanya Rudi.


"Rudi! Rrrrruuuu...diiii"


HAHAHHAHAHAAA!


Irena tertawa lepas saat memanggil nama Rudi. Matanya berbinar cerah kembali. Geli rasanya mungkin karena belum terbiasa.

__ADS_1


Saya senang dan bahagia banget saat melihat kamu tertawa begini Ren, sebisa mungkin saya akan berusaha membuat kamu bahagia. Terima kasih ya Allah, Engkau hadirkan ia didalam hidupku Dan terima kasih juga Ren, kamu mengizinkan saya untuk lebih dekat dengan kamu, ucap Rudi dalam hatinya sembari tersenyum tipis seperti kumisnya.


__ADS_2