Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 53


__ADS_3

Likenya ya, Komennya juga, Votenya juga deh HEHEHE ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Ingat Loh! Othor maksa para Readers nih! ๐Ÿคจ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


******


Perjalanan dari rumah sakit kerumah Ibu Irena memakan waktu satu jam lebih. Akhirnya mereka sampai di kediaman Ibu Irena. Rumah yang penuh dengan kenangan bagi Irena.


Setelah Irena keluar dari mobil, disusul kemudian Dika turun. Mereka menuju kedepan pintu pagar yang tertutup.


"Terima kasih", ucap Irena jutek.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah kewajiban ku sebagai suamimu mengantarkan dan memastikan kamu selamat sampai tujuan," ucap Dika sembari tersenyum hangat berharap Irena membalas senyuman itu. Namun Irena sama sekali tak memperdulikan ucapan apalagi senyumannya. Ucapan yang Dika lontarkan membuat dadanya semakin sakit dan menyesakkan.


"Kamu bisa pulang Mas. Nanti biar aku yang sampaikan salam Mas kepada keluargaku dan juga bilang Mas buru-buru mau berangkat kerja jadi gak bisa mampir. Silahkan, Mas bisa pulang sekarang." ucap Irena datar tanpa menoleh suaminya sedikitpun.


"Apa tidak sebaiknya Mas masuk sebentar untuk menyapa Ibu?" tanya Dika.


Irena tak menjawab sepatah katapun.

__ADS_1


"Baiklah, Mas pulang. Kalau ada apa-apa hubungi mas ya." Dika melangkah maju untuk mencium kening istrinya, tapi dengan sigap Irena bergerak menjauh gak ingin dicium oleh suaminya.


Dika menghela nafas, melangkah lesu ke arah mobilnya. Hatinya berkecamuk, Irena masih belum bisa memaafkannya. Ada terbesit rasa takut dalam pikirannya, takut kalau Irena akan mengambil keputusan untuk berpisah dengannya.


Ia sangat ingin mengajak Irena berbicara, membicarakan semuanya, tapi sepertinya tidak untuk saat ini. Ia mengerti kalau Irena butuh waktu untuk menenangkan diri dan mendinginkan amarahnya.


Setelah mobil Dika meninggalkan rumah mertuanya, Irena berhasil masuk ke dalam teras rumah. Tapi saat hendak mengetuk pintu beberapa kali namun hasilnya nihil, pintu tak kunjung dibuka oleh Ibunya. Mungkin Ibunya lagi keluar. Ia melihat jam yang ada ditangannya, waktu menunjukkan pukul lima sore.


"Mungkin Ibu lagi ikut pengajian, masih satu jam lagi baru pulang", gumamnya.


"Aku tinggal tidur dikursi panjang ini saja dulu sembari menunggu Ibu pulang."


Tak terasa hari sudah berubah menjadi gelap, waktu malam pun tiba, namun Irena masih terlelap dibawah alam sadarnya.


Ternyata sudah tiga jam lebih ia menunggu. Samar-samar terdengar suara orang berbincang, yang semakin lama semakin jelas terdengar suaranya.


Kania mengerutkan kening begitu tiba di teras rumahnya, ia seperti melihat ada sosok yang sedang terbaring diatas kursi panjang teras rumahnya. Ia dan Ibunya saling beradu pandang, karena suasana teras begitu gelap belum dihidupkan lampu, jadi gak terlihat jelas siapa yang tertidur di teras rumah mereka.


Kania bersembunyi dibelakang tubuh Ibunya, mendorong dengan pelan tubuh Ibunya agar melangkah ke depan.

__ADS_1


"Astaga, Irena ..." seru Ibunya terkejut begitu sampai di dekat kursi.


Kania langsung menepuk pundak Irena agar ia terbangun, dan berhasil akhirnya Irena terbangun bergeliat kecil sembari mengerjapkan matanya pelan-pelan hingga terbuka lebar.


"Ibu, Kania. Kalian sudah pulang." ucap Irena dengan suara serak, bangun dan terduduk dari tidurnya.


"Astaga Ren, sejak kapan kamu tertidur disini. Kenapa tidak menelpon? Bagaiman kalau ada orang yang berbuat jahat padamu, trus ada yang menculik. Apa yang harus Ibu katakan kepada suamimu, astaga ..." ujar Ibunya sedikit kesal dan menggeram.


Irena tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi-giginya menanggapi kekesalan Ibu dan adiknya. Sudah lama ia tak mendengar ocehan cerewet Ibunya, ia begitu sangat merindukannya.


.


.


.


*semakin banyak like, semakin banyak komen, semakin banyak vote, semakin sering ufdet*


I Love You ๐Ÿ’™

__ADS_1


__ADS_2