
15 menit berlalu, Dika berdiri di depan istrinya itu. Ia tatap lekat wajahnya. Irena enggan menatap Dika sementara Dika mendekat kearahnya. Dika memeluk Irena yang sedang duduk mematung. Air mata Irena jatuh di dada Dika namun buru-buru dihapus Dika. Irena menatapnya sekilas lalu menundukkan pandangannya, tak tau harus mengatakan apa. Lututnya terasa lemas tak mampu berdiri.
Dika menggendongnya, "Kamu menangis? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu berlari seperti itu?"
Irena memalingkan wajahnya dan memeluk erat tubuh suaminya. Dika yang masih belum mengerti apa yang terjadi.
"Kamu ingin kita cepat pulang kan?" tanya Dika.
Lantas Irena malah menjawab, "Kenapa ? Kenapa dia harus hadir lagi Dik? Aku melihatnya, aku yakin itu dia. Itu Rudi! Aku yakin itu Rudi!"
"Rudi? Kenapa kamu masih mengingatnya? Aku ini sekarang suamimu! Aku mengerti bagaimana perasaan mu padaku. Kamu belum sepenuhnya mencintaiku makanya kamu terus mengingat dia. Yang ada hanya imajinasi mu, itu hanya khayalanmu Ren!"
"Kamu kenapa bahas Rudi lagi? O-iya aku lupa. Kamu terpaksa ya kan menikahiku? Iya aku lupa kamu terpaksa. Tapi aku selalu berusaha menjalaninya membahagiakan kamu sebaik yang aku bisa!" gerutu kesal Dika sembari menurunkan Irena duduk di kursi balkon kamar mereka.
"Maaf aku gak bermaksud melukaimu, kata-kataku memang benar aku melihat Rudi. Kamu harus percaya Dika, aku memang melihatnya. Aku gak mungkin salah lihat" ucap Irena kembali meyakinkan suaminya.
"Trus kalau itu memang Rudi kenapa? Kamu mau balik ke dia dan meninggalkan aku? Itu mau kamu? Oke aku percaya apa yang kamu lihat. Baiklah jika suatu saat apa yang kamu katakan itu benar, kamu boleh pergi bersamanya. Aku relakan kalau itu yang bisa membuat hidupmu jauh lebih bahagia" ucap Dika kemudian ia pergi meninggalkan Irena untuk menenangkan diri.
Untuk beberapa saat lalu hatinya begitu merasa bersalah kepada istrinya, tapi setelah itu kini hatinya berubah menjadi begitu sakit dan kesal.
Irena pun merasa bersalah, jujur dalam hatinya ia tak ingin melukai hati suaminya. Semua hanya salah sangka, tak ada maksud ingin kembali dengan Rudi masa lalunya, ia juga tau diri kalau saat ini ia sudah menjadi seorang istri dengan ikatan yang sangat sakral. Tak mungkin dirinya melakukan ha seburuk itu. Ia pun berlari mengejar Dika kedalam kamar.
Dengan tatapan nanar, "Maaf kata-kataku melukaimu. Aku gak tau kenapa aku seperti itu, aku juga seharusnya gak mengingat itu semua."
Dika yang merasa kesal, hatinya yang sakit namun pelukan Irena meluluhkan itu semua. Tak ia pungkiri perasaan cintanya jauh lebih besar dari pada rasa kesal dan amarahnya saat ini.
Irena berusaha mengajak Dika bicara, memeluknya dan membuatnya berbalik arah menghadap ke arahnya. Merasa tak tahan, akhirnya Dika berbalik ke arah Irena.
Ditatapnya lekat wajah suaminya itu, tangannya mengelus pipi Dika dan bibirnya tersenyum, "Kenapa jadi kamu yang marah? Bukannya aku yang seharusnya marah padamu? Kenapa sekarang jadi terbalik? Oke baiklah, kita lupakan semua hal tak penting yang terjadi di Maldives ini, dan sekarang saatnya kita untuk kembali kerumah."
"Aku berharap setelah ini hubungan kita akan baik-baik saja Ren. Tolong jangan seperti ini lagi. Ucapan ku yang tadi aku juga minta maaf, aku tak ingin kehilangan kamu. Aku juga gak ingin kamu pergi seandainya pria yang kamu lihat itu memang Rudi." Kata Dika sembari tersenyum dan membalas pelukan erat istrinya.
"Aku ... " kata Irena pelan.
__ADS_1
Irena mendongakkan kepalanya keatas. Dika memperhatikan baik-baik apa yang akan dikatakannya.
"Kenapa?" tanya Dika.
Dengan raut wajah yang kesal Irena berkata, "Aku sepertinya cemburu dengan Rebecca!"
Dengan senyum yang lebar, Dika menjawab keraguan istrinya itu, "Itu tandanya kamu cinta sama aku. Percayalah, tidak ada yang terjadi antara aku sama dia. Itu hanya perasaan berlebihan mu saja karna sudah masuk perangkap ku."
"Perangkap?" tanya Irena heran.
"Selamat Anda kenak PRANKKKK!!!!"
"HAHAHAHAHA HAHAHAHAHA HAHAHAAA"
Dika terkekeh berat, ia tak menyangka rencana yang dilakukannya membuka aib istrinya yang kini mengakui kalau dirinya sangat mencintai suaminya.
"Kamu? Seriously?" gerutu Irena.
"Ya. Semua ini hanya rencana ku dan asistenku. Jadi Rebecca itu memang benar asistenku. Aku lah yang menyuruhnya untuk lebih sering menelpon, apalagi saat kita lagi bersama." ucap Dika menjelaskan panjang lebar.
"Isshhh! Kamu!!!" Irena berbalik arah dan pergi meninggalkan Dika.
Berjalan menuju sudut kamar dan mengambil kopernya, dengan raut wajah kesal dan menghentakkan kaki seolah terlihat benar-benar marah.
"Jangan marah dong sayang, aku kan sudah jujur. Masa iya kamu gak percaya hemm" ucap Dika yang bingung kalau Irena benar-benar kembali marah.
"Udah sana! Jangan ikuti aku! Aku mau kita urus ..." ucapan Irena terhenti sekejap.
Dika yang ketakutan istrinya melakukan hal yang tidak waras langsung berpikir kalau akan ada kata-kata keluar urus perpisahan dari mulutnya. Bisa saja kan karna baru kenak prank, yang ada balasannya malah lebih parah lagi pikirnya.
"Urus kepulangan kita karna aku ingin mengulang honeymoon kita kembali. Selamat Anda kenak PRANKKK!!!" ucap Irena yang membalas balik prank suaminya.
"HAHAHAA kenapa? Kamu kira aku akan melakukan hal-hal yang gak waras kan?"
__ADS_1
Dika yang mengetahui apa yang dikatakan istrinya kini bernafas lega. Ia bisa saja mati berdiri kalau sampai Irena mengatakan hal yang dipikirkannya.
"Oh kamu berbalik ngerjain aku ya hemm" ucap Dika.
Dika langsung menarik tubuh istrinya, ia peluk erat dan mengelus kepala Irena. "Baiklah, akan kita atur untuk ulangi honeymoon kita. Dan pastinya akan kita ulangi juga prosesi menanam bibit dan bercocok tanam di kebun"
Irena mendongakkan kepala, "HA! Berkebun?" ucap Irena heran.
"Iya berkebun membuat anak loh, ishh kamu ini sok polos banget sih eummm" Ucap Dika terkekeh menjelaskan.
Ia kulum bibir mungil istrinya.
"Cupp!"
"Oh tapi gak usah jauh-jauh yang dekat-dekat saja. Sesampainya dirumah kita bahas lagi kita akan kemana ya. Tapi kali ini kami aja yang memilih dimana tempatnya, gak papa asal servisan nya memuaskan aja HAHAHA"
"Oh istriku udah mulai lebih agresif sekarang ya, udah lebih pintar ya. Baiklah asal tahan aja ronde berkali kali. Biar hasilnya terkena sasaran. Palingan juga nanti kamu yang minta ampun huuuhhh"
"Oke kita lihat aja siapa yang akan bertahan. Siapa takut!" tantang Irena balik.
.
.
.
Dear Andika Mahesa dan Shirena Indira, kenapa kalian buat pikiran Othor jadi travelling kemana mana ya. Ternyata hanya PRANK!!
Kalian memang ya ishh!
Dan Dear Readers tercinta ...
Sementara pikiran Othor lagi traveling dibuat mereka, mana nih Like Vote dan Komennya, Othor nungguin nih 😂😂
__ADS_1