
Pagi ini Dika memulai kembali aktifitasnya dengan rutinitas yang pasti begitu sangat padat. Sebagian pekerjaan yang ia tinggalkan beberapa hari kemarin pasti belum disentuh siapapun karna memerlukan tanda tangannya. Kepalanya dibuat pusing karna beberapa pekerjaan.
Sepulang dari honeymoon Irena dan Dika saling memberikan dan merasakan kehangatan. Kini bukan hanya sebatas teman tidur tapi juga tempat bagi Dika pulang usai kewalahan bekerja.
Setiap hari ia merindukan istrinya, sepanjang hari dalam hatinya timbul rasa ingin segera cepat pulang kerumah untuk berbagi keluh kesahnya.
Saat jam kerja usai, Dika langsung keluar ruangan menuju basement. Dika berjalan menuju mobilnya. Tampak ada Eko dan beberapa karyawan di basement juga.
Dika yang berada di belakang tetap berjalan mendahului mereka, "Deluan ya." Kata Dika sambil lalu.
"Ya hati-hati bro!" sahut Eko dari belakang.
"Wah payah nih semenjak nikah bawaannya ingin buru-buru mau pulang aja ya, padahal baru juga pulang honeymoon", goda Eko
Semua karyawan yang mendengar terkekeh kecil. Eko adalah sahabat Dika. Ia bekerja di kantor milik Dika. Manajer di kantor. Sudah biasa Eko melontarkan kejahilan seperti itu. Seperti tidak ada batasan antara atasan dan bawahan, tapi itu hanya dilakukan saat di jam keluar kantor. Bagaimanapun mereka harus seprofesional mungkin walaupun mereka sahabat sedari kecil.
Dika mulai masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman. Ia nyalakan mobilnya dan keluar dari basement menuju rumah.
Jarak antara rumah dan kantor tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai dirumah. Tinggal dirumah hunian elite bukanlah hal yang diinginkan Irena. Tapi rumah yang saat ini mereka huni sudah lama dibeli Dika untuk istrinya jikalau menikah nanti. Dan memang benar setelah menikah, rumah yang dulu dibeli atas nama Dika kini beralih nama menjadi milik Shirena Indira.
Bukan hal yang sulit untuk seorang pengusaha muda tajir melintir melakukan hal itu. Irena seperti bak seorang ratu saat dirumah. Dika tak memperbolehkannya untuk melakukan pekerjaan rumah. Irena hanya boleh memasak saja, karna Dika sangat menyukai masakan rumahan, apalagi masakan yang dibuat istrinya tercinta.
Pekerja yang menyelesaikan pekerjaan rumah hanya boleh seorang wanita, ia tak memperbolehkan lelaki manapun untuk menjadi pekerja dirumahnya. Wanita berusia 50 tahunan yang sudah lama mengikutinya sedari kecil. Disediakan rumah sederhana dibelakang rumah untuk mereka tinggal. Bahkan supir yang dipekerjakan untuk menemani Irena pun seorang wanita. Tapi untuk sore hari semua pekerja sudah selesai melakukan pekerjaannya. Dan mereka bisa kembali kerumah inap mereka untuk beristirahat. Tapi jika Irena dan Dika memerlukan sesuatu, mereka akan menelpon mereka.
Dan untuk Dika sedari dulu terbiasa menyetir sendiri, jadi ia tak begitu memerlukan seorang supir untuk dirinya.
__ADS_1
Irena yang sedari gadis memang sudah terbiasa memasak, ia tak canggung lagi untuk melayani suaminya.
"Sayang .. kamu dimana? Aku lapar nih." teriak Dika.
Irena yang tak mendengar kedatangan Dika asyik memasak untuk makan malam mereka nanti.
Dika tersenyum saat melihat Irena sibuk di dapur hanya menggunakan kaos putih tipis selutut dengan rambut dicepol keatas yang memperlihatkan leher jenjang yang sedikit berkeringat miliknya karna memasak.
Ia berjalan dan mendekat, "Istriku begitu asyik memasak sampai-sampai kedatangan suaminya tak terusik sedikitpun".
Irena membalikkan badannya, "Oh kamu sudah pulang. Maaf aku gak dengar, ini hari pertamaku memasak. Aku belum terbiasa dengan semua barang-barang dan bahan-bahan untuk memasak. Makanya agak lelet HIHIHII."
Dika langsung memeluknya, "Baru saja sehari gak ketemu aku sudah kangen banget sama kamu, bawaannya mau cepat-cepat pulang makan masakan kamu sehabis itu baru makan kamu untuk hidangan penutupnya" ucap Dika menggoda Irena.
"Uhh, begitu rupanya ya. Pinter banget kalau bicara. Udah aah, aku gerah banget. Sehabis masak aku mau mandi lagi sepertinya. Ini udah selesai. Tinggal di hidang di meja makan aja sih, kamu mau bantuin?"
"Yakin? Yaudah kamu aja yang beresin semuanya ya. Aku mau langsung mandi" ucap Irena mengerjai suaminya.
"Loh jangan dong, masa iya aku semua yang beresin. Kita minta tolong si mbok aja kalau kamu capek"
Dengan cepat Irena menahan tangan Dika saat mencoba untuk menelpon si mbok, "JANGANN!! Kasihan si mbok pasti capek juga. Kita berdua aja yang selesaikan. Gak lama kok"
"Baiklah .. setelah itu baru kita mandi. Mandi berdua juga biar cepat selesainya." ucap Dika.
Irena yang mendengar perkataan Dika langsung melirik tajam, "Dasar suami mesum! Pulang kantor kok yang aneh-aneh mikirnya ishh! Ayo kita bersihkan ini semua"
__ADS_1
"Ya sambil menyelam minum air lah. Lagian haus juga sehabis beres-beres" goda Dika lagi.
"Ishh alasan kamu aja itu!" gerutu Irena.
*****
"Oke semua sudah beres, sekarang waktunya untuk mandi terus sholat sehabis itu baru kita makan ya" kata Irena sembari berjalan menuju kamar.
Irena yang lagi asyik berbicara tak mendengar sepatah katapun dari suaminya. Ia melirik ke sudut manapun tapi tak juga melihatnya.
"Ini manusia kemana ya? Kok malah menghilang. Yasudah lah, mungkin lagi di ruangan kerja kali ya" ucap Irena dalam hati.
Saat masuk kedalam kamar, ia melihat suaminya baru saja keluar dari kamar mandi. Masih bertelanjang dada hanya menutup bagian bawahnya dengan handuk.
Tatapan Irena begitu lekat ke arah suaminya. Sejenak ia terdiam dan hanya berdiri. Seakan kaki nya tak bisa ia gerakkan.
Dika yang melihat istrinya terdiam, langsung datang ke arahnya. Dalam hati Irena berkata, "Jangan mendekat jangan mendekat, aku gak yakin akan kuat, meleleh adek bang kalau lihat beginian."
.
.
.
HHAHAHAHA sepertinya Irena udah mulai terpesona nih dengan babang Dika. Jangankan Irena, Othor pun yang membayangkannya aja udah traveling kemana-mana nih 😂😂
__ADS_1
*Semakin banyak Like, semakin banyak komen, semakin banyak vote, Othor akan semakin sering ufdet loh*