Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 120


__ADS_3

Disaat dua orang pengkhianat berada diantara hidup dan mati, Irena justru sedang merayakannya bersama dengan Bryan dan Jhonatan dirumah Bryan. Mereka saling bersulang minuman dan berbagi cerita.


"Gimana cara kamu meyakinkan Bastian untuk melakukan itu?" Tanya Jhonatan.


"Dia sangat setia pada Dika, bahkan mereka sudah seperti saudara."


"Mudah saja, Jho. Semua orang dibutakan oleh uang. Aku bilang padanya untuk menikmati semua hasil curiannya dan pergi sejauh mungkin. Serta memastikan dia nggak akan pernah tertangkap." Bryan tersenyum licik.


"Gimana kalau Dika benar-benar melapor pada polisi? Bastian pasti akan mengaku kalau semua adalah atas perintah kamu." Tanya Irena penasaran.


"Dika nggak akan menggali kuburannya sendiri, Ren. Sama aja dia membongkar kebusukannya didepan para investor lain. Kalau selama ini dia juga banyak melakukan korupsi dana besar dari mereka semenjak satu tahun belakangan ini." Kekeh Jhonatan.


"All I do for you, Ren." Goda Bryan.


Irena tersenyum. Dan keduanya mengangkat gelas.


Ponsel Jhonatan berbunyi, kesekian kalinya Rebecca menelpon. Dia hanya melirik tanpa berniat menerimanya. "Dia bingung banget pasti sekarang." Ucapnya menatap layar.


"Are you okay?" Tanya Irena merasa kasihan.


"Ya, It's okay. Seharusnya dia nggak serakah, jadi nggak akan kehilangan semuanya." Lirih Jhonatan.


"Sebentar lagi pun mungkin saja Dika akan membuangnya ke jalanan." Sambungnya.


*****


Tempat yang paling aman untuk Irena saat ini adalah di rumah Bryan. Dia harus melindungi Irena dari kemungkinan terburuk yang bisa saja Dika lakukan sebelum sidang perceraian mereka.


"Kamu merasa puas sekarang?" Tanya Bryan setelah mereka duduk dengan tenang di kamar Irena.

__ADS_1


Kedua tangan Irena terlihat gemetar dan air matanya menetes. Dengan sigap Bryan membawanya kedalam pelukan, tapi itu malah membuatnya semakin menangis. "Aku nggak salah kan, Bryan? Mereka sangat pantas mendapatkan semua ini kan?" Tanyanya ketakutan.


"Kamu nggak salah, ini hukuman buat mereka." Bryan mempererat pelukan.


"Menangis lah sepuasnya. Aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan sekarang. Memang gak gampang untuk menyakiti orang lain, karna hati kamu terlalu baik. Tapi percayalah, mereka pantas mendapatkan semua ini."


Irena tidak segan-segan lagi mengulurkan tangan memeluk pinggang Bryan. Dia merasakan lega sekaligus terluka. Bryan mengusap punggung Irena dengan lembut. Dipeluknya lebih erat seperti menyelimuti dengan tubuhnya.


"Menangis lah, dengan begitu kamu akan merasa lega. Luapkan segalanya."


Mendengar semua itu, Irena semakin terdorong untuk meneriakkan rasa sesaknya. "Seharusnya mereka lebih menderita dari pada ini, Bryan. Aku harusnya lebih jahat lagi. Aku harus kesana, tadi itu belum apa-apa."


Sebelum Irena bertindak lebih jauh, Bryan lebih dulu menenangkannya, "Kamu nggak perlu bertindak sendiri, Ren. Tadi itu baru permulaan. Kamu akan melihat mereka lebih menderita nanti. Just wait and see."


Irena menangis kembali, "Terimakasih Bryan, untuk semuanya."


*****


Bryan begitu setia menemani Irena, hingga menyewa kuasa hukum terbaik untuk membantu memenangkan kasus ini. Hari demi hari terus berjalan, sidang perceraian Jhonatan lebih dulu selesai dari pada Irena. Dan hasil sidang akhirnya memutuskan mereka untuk berpisah.


Sidang perceraian Dika dan Irena memasuki babak akhir hari ini. Putusan akan dibacakan dan Irena berharap bisa memenangkan gugatannya. Meskipun sampai mati Dika tetap ingin mempertahankan rumah tangga mereka, tapi keputusan Irena untuk bercerai sudah final. Terlalu sulit untuk memaafkan pengkhianatan suaminya itu yang entah sudah berapa kali, terlebih lagi dirinya sudah hilang rasa.


"Kamu sudah dengar, kan? Tadi Bang Rizal bilang gugatan kamu pasti diterima. Dika terbukti berselingkuh, dan itu sangat fatal."


Dika akhirnya datang, sama seperti sebelumnya dia memasang wajah mengemis penuh rasa kasihan. Seakan korban yang patut diberi keadilan. Melihat Irena matanya berkaca-kaca, berharap dimaafkan.


Hakim ketua mulai membuka sidang. Satu persatu isi putusan dibacakan. "Setelah mempertimbangkan dan menyimpulkan atas dasar bukti-bukti dan keterangan saksi, maka ... Kami mengabulkan gugatan penggugat."


Mendengar itu, ketegangan Irena pun mulai sirna. Hatinya lega luar biasa, sampai tidak fokus lagi dengan apa yang di bacakan oleh Hakim tersebut. "Bryan ..." Ucapnya pelan sangat ingin memeluk Bryan, tapi harus menahan diri.

__ADS_1


"You win, Ren." Ucap Bryan bahagia.


Belum selesai Hakim membacakan isi putusan, Dika sudah berteriak tidak terima. Emosinya menjadi memuncak.


"INI TIDAK ADIL!!!"


Dika berdiri dan hendak mendatangi Irena, tapi langsung ditahan oleh beberapa pihak yang ada disana.


"Pak Hakim, saya tidak terima keputusan ini. Saya tidak mau menceraikan istri saya!!!" Dika kembali berteriak.


"Pak Dika, saya mohon Anda untuk tenang sampai putusan ini selesai dibacakan." Ketukan suara palu terdengar memperingatkan Dika yang masih saja membuat keributan.


Dika masih saja tidak bisa tenang, akhirnya dia diusir dari ruang sidang dan diamankan. Bahkan teriakannya masih saja terdengar padahal sudah berada diluar ruangan.


Irena sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan Dika saat ini. Statusnya sudah sah bukan lagi seorang istri Andika Mahesa. Kini air mata kebahagiaan pun mengalir, sangat bersyukur luar biasa.


.


.


.


Siap yang senang nih, hayo? Hahahaa ...


Semoga kedepannya kehidupan Irena lebih baik lagi ya. Karna yakinlah ...


"Akan ada pelangi setelah hujan" 🙏🤪


See you next, Readers 🤗

__ADS_1


__ADS_2