
Udara begitu panas menerpa wajah siapapun yang keluar dari rumah. Baru saja hendak keluar ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan dirumah yang hampir habis, sekarang perut Irena seolah berteriak minta diisi.
Irena menyeberang jalan menuju ke cafe terdekat dekat supermarket. Ia arahkan pandangannya mencari cafe favoritnya.
Sambil menikmati makan siang, Irena membaca beberapa pesan yang masuk di handphonenya. Suaminya mengirimkan pesan whatsapp yang belum ia baca.
Dika mengajaknya makan siang. Sementara dirinya sedang menikmati makan siangnya. Diliriknya jam yang ada ditangannya, Dika mengirimkan pesan itu satu jam yang lalu. Ia pun membalas whatsapp dari suaminya, mengatakan kalau ia baru saja membaca pesannya dan meminta maaf karna gak bisa memenuhi ajakan untuk makan siang bersama dan sekarang dirinya sedang berada di cafe dekat supermarket. Setelah selesai membalas pesan, Irena kembali menikmati makan siangnya.
Setelah selesai dengan makan siangnya, ia bergegas keluar untuk berbelanja. Seorang pelayan menghampiri dirinya dan memberikan sebuah amplop coklat.
"Ini apa? Dari siapa?" Irena menerimanya dan bertanya kepada pelayan itu. Pelayan itu berkata ia juga tidak tau dari siapa kemudian berbalik berjalan meninggalkan Irena.
Irena menuju supermarket dan masuk kedalam toilet. Ia membuka coklat amplop itu. Sebuah foto dan foto itu adalah dirinya yang sedang membalas pesan whatsapp dari Dika ketika sedang makan siang tadi.
"Siapa yang mengambil foto ini? Ini kan barusan! Sepertinya aku gak ngerasa ada yang aneh saat di cafe tadi." batinnya heran.
Irena kembali memasukkan foto itu kedalam amplop dan menyimpannya kedalam tas. Ia kembali melanjutkan niatnya untuk berbelanja sembari menunggu Dika yang akan menjemputnya saat pulang kerja nanti.
*****
Sore pun tiba, gerimis hujan mulai membasahi jalanan. Irena melihat Dika datang menjemputnya di lobby depan. Ia menghampirinya dan Dika tersenyum manis padanya. Dika menggandengnya, membukakan pintu mobil dan menunggu Irena masuk sebelum dirinya menyusul Irena masuk.
Sebelum Dika melajukan mobilnya, ada seseorang yang mengetuk pintu mobil dari arah kaca jendela Irena. Seseorang berpakaian lusuh datang mendekat memberikannya amplop coklat seperti yang diterimanya tadi siang.
"Maaf, Bu. Tapi ini dari siapa ya?" tanya Irena.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan cepat dan menghilang saat Irena sedang memperhatikan amplop pemberiannya.
Irena menatap Dika yang mengerutkan dahinya, penuh dengan rasa penasaran. Saat semua belanjaan sudah selesai dimasukannya ke bagasi, Dika mulai melajukan mobilnya menuju rumah. Dengan cepat Irena membuka amplop itu, ada tiga foto dirinya disitu. Pertama saat ia memilih bahan makanan yang akan dibeli, kedua saat ia membayar belanjaan di kasir dan yang ketiga saat Dika membukakan pintu mobil di lobby supermarket tadi.
__ADS_1
Tangan Irena bergetar. Siapa yang melakukan ini semua pikirnya. Sementara Dika yang melihat sekilas isi amplop itu, memberhentikan mobilnya, mengambil semua foto-foto itu dari tangannya dan mengamatinya.
"Masih ada lagi, Mas." kata Irena mengeluarkan amplop yang ada di tas.
"Tadi saat makan siang, aku juga dapat amplop seperti itu. Seorang pelayan yang memberikannya padaku." jelas Irena kepada Dika yang memasang raut wajah penuh tanya.
Dika melempar semua foto yang ia pegang ke kursi belakang. Wajahnya nampak geram. Irena sangat jelas melihatnya dari dekat. Dika mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi seseorang. Wajahnya nampak emosi. Ia menekan suaranya, tapi Irena masih bisa mendengarnya. Tidak lama, setelahnya ia kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju ke arah jalan pulang tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Dika kembali mengambil foto-foto itu, membawanya ke kamar sembari akan menelpon. Entah siapa yang akan dihubunginya lagi.
Irena segera memanaskan makanan yang tadi sempat dibelinya di cafe tempat ia makan siang. Setelah selesai, ia pun masuk kamar dan melihat Dika sudah selesai mandi. Bau harum sabun yang di pakai Dika memenuhi seluruh ruang kamar tidur mereka. Ia lirik sekilas suaminya yang tampan itu, tapi ia terlihat sedang berpikir keras.
BergegasvIrena pun masuk ke kamar mandi. Sesudah mandi, Irena memakai kimono dan mengikat simpulnya dengan seadanya. Lalu menghampiri Dika yang baru saja mematikan panggilan teleponnya.
"Mas ..." panggil Irena.
Dika menoleh tersenyum pada Irena yang ikut duduk disampingnya di sofa kamar mereka.
"Mas juga belum tau pasti. Tapi dugaan sementara mas, kemungkinan Rebecca." jawabnya ragu.
"Tapi aku gak sedikitpun melihat keberadaannya di dekatku mas, apalagi saat di cafe ataupun di supermarket tadi." ucap Irena heran.
Dika menarik tubuh Irena mendekat, kemudian menyenderkan kepala istrinya itu ke dadanya mengeratkan pelukannya. Mencoba menenangkan istrinya. "Jangan khawatir, gak usah dipikirkan. Mas akan menjagamu."
"Ya aku penasaran aja. Kenapa Rebecca mengirimkan foto-foto itu? Untuk apa coba?" Irena mendongakkan kepalanya melihat bagaimana reaksi Dika saat dirinya bertanya.
Wajahnya masih saja emosi, tapi seketika berubah sedikit lembut menenangkan saat menyadari Irena sedang menatapnya. "Mungkin aja dia bermaksud meneror kita. Seolah dia selalu mengawasi di manapun kita berada."
Entah apa yang akan terjadi saat ini ataupun esok. Ingin rasanya Irena menyingkirkan hal-hal buruk dari pikirannya. Ia hanya ingin menikmati saat-saat kebersamaan antara dirinya dan suaminya, seperti saat ini.
__ADS_1
******
Siang ini Irena berniat mengantarkan makan siang untuk suaminya. Saat tiba didepan pintu ruang kantor Dika yang berwarna coklat gelap berkayu tebal, ada sedikit celah untuk bisa mengintip apakah Dika ada di ruangannya atau tidak. Irena sengaja datang tanpa memberitahunya. Irena mulai masuk melangkahkan kakinya pelan-pelan, namun Dika menyadari kedatangan istrinya itu dan tersenyum lebar ke arahnya.
"Surprise ... I'm coming, Mr. Andika Mahesa. This is your lunch." Irena mengucapkannya dengan raut wajah ceria.
Dika berdiri menghampirinya, memeluknya dan mencium keningnya lama. Ia membawa Irena duduk di sofa yang berada di sudut ruang meja kerja. Namun terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk!" ucap Dika dengan suara berat.
Sekretaris nya masuk setelah mengangguk hormat, lalu menyerahkan amplop coklat pada Dika. Dika yang menerimanya heran mengernyitkan dahi.
"Dari siapa?" tanya Dika menatap tajam ke arah wanita muda itu.
"Maaf, Pak. Kata resepsionis yang menerima, ada seorang laki-laki datang memberikan amplop coklat itu untuk Ibu Irena." kata wanita itu sembari menunjuk ke arah Irena sopan dengan Ibu jarinya.
"Ya sudah, kamu boleh keluar." kata Dika tanpa melihat ke arah wanita itu lagi karna sibuk membuka amplop coklat itu.
Saat mengetahui isi amplop itu, bola mata Dika membesar. Itu foto Irena saat melangkah masuk kedalam kantor Dika.
"Ini fotoku lagi, Mas." keluh Irena.
.
.
.
Haloo Readers, Happy Reading 💙
__ADS_1
Thankyou ya, yang udah nyempetin baca tiap episodenya Othor. Yang udah rajin Like Vote dan Komen juga. Big thanks for you, Guys 😘😘
*semakin banyak Like, semakin banyak Vote, semakin banyak Komen, semakin sering Ufdet*