
Dear Readers tercintanya Othor 💙
**Sebelum lanjut membaca next partnya, budidayakan setelah membaca tiap episodenya meninggalkan tanda kepemilikan ya alias "BOOM LIKE" .. Duarr .. Duarrr .. Duarrr ....
HEHEHE 😂
Happy Reading 💙**
******
"Walaupun Dika itu anak Ibu, Ibu tak akan membelanya karna dia memang salah. Kamu jangan tahan Ibu. Ibu tau kamu pasti terluka, begitu juga dengan Ibu. Lepaskan Ibu Ren!" geram Rina.
"Tidak apa Bu, ayo kita kembali ke mobil saja. Dokter sudah menunggu kita."
"Mungkin hanya rekan kerjanya saja, nanti dirumah Irena tanyakan ke Mas Dika."
"Baiklah, tapi lihat saja kalau sampai ternyata wanita itu memang benar selingkuhannya. Ibu gak akan segan-segan untuk memukulinya habis-habisan." Rina mendengus kasar.
"Jangan, Bu." mohon Irena.
"Astaga sayang, hatimu terbuat dari apa Ren. Kamu masih saja membelanya disaat seperti ini. Ayo kita pulang." geram Rina sembari menarik tangan Irena keluar dari Coffee Shop.
Mereka pun masuk kedalam mobil.
"Dengar ya Ren, ingat begitu Dika tiba dirumah kamu tanyakan siapa wanita tadi," Rina mengingatkan Irena.
"Setelah itu kamu langsung telepon Ibu. Kalau memang ternyata benar wanita itu selingkuhan Dika. Ibu sesegera mungkin datang kerumah kalian dan akan menghabisinya."
Keluar dari Coffee Shop tadi, mereka langsung menuju ke dokter kandungan.
Disepanjang perjalanan Irena hanya diam, namun air matanya sesekali masih jatuh membasahi pipinya. Rina yang tau menantunya pasti sangat sakit melihat semua itu. Ia hanya bisa menghela nafas sembari mendengus kasar mengingat kelakuan buruk anaknya.
__ADS_1
"Kamu yakin kita akan ke dokter, Nak? Apa kamu mau kita pulang kerumah saja? Atau kamu mau kerumah Ibu? Biar hatimu lebih tenang," tanya Rina.
"E-iya Bu, kita pulang saja ya Bu. Kepala Irena sedikit pusing. Mungkin karna tadi sarapannya sedikit kali ya." jawab Irena.
Rina tau jawaban menantunya itu hanyalah sebuah alasan klise untuk menutupi kesedihannya.
"Irena pulang kerumah saja ya Bu, istirahat dirumah".
"Baiklah, Ibu tau hatimu pasti sangat terluka. Kamu harus tetap semangat. Tenang, Ibu akan selalu berada di sampingmu. Ibu akan selalu menemanimu. Walaupun kamu menantu, tapi Ibu sudah menganggap kamu sebagai anak Ibu sendiri. Jadi kamu jangan takut ya Nak", jelas Rina menyemangati Irena.
Sesampainya dirumah, hatinya sangat gundah. Haruskah ia mempertanyakan kepada suaminya perihal yang ia lihat tadi atau pura-pura diam seolah tak terjadi apapun.
Suasana dirumah terlihat sepi begitu ia tiba dirumah. Mata bengkak dan wajah sembab sedari perjalanan pulang kerumah tak perlu ia tutupi. Hanya Rina, Ibu mertuanya yang melihat raut wajah itu.
Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering. Setelah selesai minum, ia menuju kamarnya. Irena menghela nafas lirih, ia butuh mendinginkan pikirannya. Janjinya untuk bertemu dengan dokter kandungan terpaksa harus di undur sampai waktu yang belum tau kapan akan bertemu lagi.
Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan untuk hati dan otaknya. Berendam dengan air dingin dan aromaterapi mungkin sedikit bisa menghilangkan beban pikirannya.
Ia ambil pakaian dress selutut hitam polos tanpa lengan kemudian langsung ia kenakan. Dengan lesu ia baringkan tubuhnya sejenak diatas tempat tidur sembari menutup perlahan matanya untuk mengistirahatkan kekacauan yang ada di dalam otaknya.
Tak begitu lama tidur, ia melirik jam di atas balas tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul enam sore. Tak biasanya suaminya belum pulang jam segini. Biasanya tepat jam lima sore ia sudah berada dirumah.
Ia berjalan menuju meja rias, memoleskan sedikit bedak untuk menutupi raut wajahnya yang sedikit satu. Irena menatap dirinya di cermin, walaupun sudah ditutupi dengan riasan namun wajahnya tetap terlihat sayu.
"Kringg ..."
"Kringg ..."
"kringg ..."
Handphone Irena berbunyi. Terdengar panggilan masuk, dilihatnya nama suaminya yang tertera, dengan segera Irena menggeser tombol hijau menjawab panggilan telepon.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas", kata Irena.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Mas lembur. Malam ini kamu makan sendirian gak papa kan? Mas makan di kantor. Jangan ditunggu, setelah itu kamu istirahat, tidur duluan aja." kata Dika.
"Iya, Mas", jawab Irena.
"Mas ...", panggil Irena sedikit ragu.
"Kenapa sayang?", tanya Dika.
"E-ngg enggak papa. Jangan telat makan ya Mas" jawab Irena yang sebenarnya ingin mempertanyakan perihal kejadian siang tadi.
"Iya sayang, Mas kembali kerja lagi ya", Dika langsung memutuskan sambung teleponnya terlebih dahulu.
Irena terus memandangi layar handphone nya yang gelap.
"Hikss ..."
"Hikss ..."
"Hikss ..."
"Apa kamu benar-benar lembur Mas? atau hanya alasan kamu aja biar lebih lama menikmati waktu berduaan dengan wanita itu?", ucap Irena sembari menangis terisak kecil kemudian berubah menjadi tangisan dan air mata yang terjatuh semakin deras.
.
.
.
*Sekian ufdetan Othor untuk hari ini ya. Di mohonkan kepada Readers tercinta untuk meninggalkan jejak Like Komen dan Vote nya, Othor memaksa nih!* 😂😂
__ADS_1