Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 21


__ADS_3

Jantung berdebar-debar antara gelisah, resah atau belum siap menerima kenyataan pahit bahwa ia akan menikah hari ini.


"Alhamdulillah, terima kasih ya sayang Ibu. Akhirnya kamu berkenan menerima pernikahan ini. Lupakan segalanya yang sudah terjadi ya Nak, mulailah dengan kehidupan mu yang baru nanti. Jadilah istri yang baik dan berbakti untuk suamimu, dan ingat juga semua karena Allah, takdir Allah"


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, dan menghela napas dalam-dalam, ia tak mau Hanum melihat raut wajahnya yang murung di hari yang indah ini


Well, akhirnya penantian panjang seorang Shirena Indira telah berhenti, pilihannya jatuh kepada seorang pengusaha muda yang sangat di idolakan banyak para gadis, fix Andika Mahesa.


Kania menatap iba kakaknya yang terpaksa menikah demi membahagiakan sang Ibu. Apalagi semenjak pria yang dicintainya kini telah tiada, senyum cerianya seakan hilang, yang tersisa hanya wajah sendu dan murung.


"Kania selalu berdoa kak, semoga dengan pernikahan ini, kakak bisa kembali normal menjalani hidup, kakak harus bangkit, Kania yakin Dika pasti bisa membuat kakak lebih bahagia, percayalah kak, akan ada pelangi setelah hujan, percayalah, janji Allah itu pasti"


Tak terasa, suara ijab qobul akan mulai dilantunkan, tubuh Dika rasanya ingin bergetar karna gugup, tapi semua itu bisa dilantunkannya dengan lantang satu napas tanpa putus.


"Saya terima nikah dan kawinnya Shirena Indira Binti Almarhum Bayu Dermawan dengan mas kawin tersebut, tunai"


"Bagaimana para saksi? SAH?"


"SAH!"


"Alhamdulillah"


Semua tampak menghela napas lega, Hanum dan Rina saling berpelukan dengan Irena ketika Dika membacakan qobul dengan sangat lantang, tanpa cacat.


Irena menahan agar matanya gak merah dan air matanya gak keluar. "Aku baik-baik saja, aku harus bahagia di kehidupan baru ku dan keluarga baru ku" batin Irena meringis.


"Aku belum bisa membebaskan diri ini dari masa lalu dan rasa sakit yang baru saja terjadi, aku hanya wanita biasa. Rasanya ingin lari dari tempat ini tapi tak bisa, semua terasa kaku seakan tak bisa digerakkan" .


Suasana pernikahan yang tampak begitu sederhana, tapi tetap terlihat mewah. Banyak bunga dan hiasan-hiasan yang membuat hati dan jiwa tenang memandangnya, udara dan angin sejuk yang berhembus karna acara diadakan diluar ruangan.


Ibu mereka memang ibu-ibu millenial, mereka mengambil tema Garden Party, yang hanya didatangi keluarga dan sahabat-sahabat terdekat.


****

__ADS_1


Sekarang Irena dan Dika sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Semua orang sibuk berfoto dengan pengantin. Semua orang memperlihatkan senyum bahagia. Tapi tidak dengan Irena, ia hanya terdiam dalam lamunan, sesekali buliran air mata jatuh menetes, dan Dika sempat melihatnya.


Matanya seperti buram melihat orang orang karna air mata. Mata yang sayu seakan melihat sosok seseorang ada dihadapannya. Lelaki itu Rudi, ia tampak tersenyum dibalik bibir pucatnya.


Tak lama sosok itu pun menghilang sembari melambaikan tangan dan menghilang lenyap seperti asap. Dan saat itu pula Irena berpikir.


"Kamu datang Rud? Apa kamu bahagia melihat pernikahan ku ini Rud? Jika kamu bahagia disana aku akan mencoba untuk bisa bahagia juga disini"


Seketika lamunannya buyar saat Dika memanggil sembari memberikan minuman untuk dirinya.


"Ren, Ren, Irena!" ucap Dika.


"E-iya. Maaf, terima kasih" jawab Irena.


Dika merasa ada hal yang aneh dengan istrinya. Ia tau ada kesedihan dalam diri Irena, yang belum bisa menerima dirinya sebagai suami. Tapi dengan semangat dan yakin, ia pasti bisa membuat Irena jatuh cinta kepadanya.


"Aku tau semua ini tidak mudah bagimu Ren, tapi percayalah. Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang sempurna untukmu, sekalipun aku tidak tau sampai kapan kamu akan bisa mencintaiku dan menerima kenyataan bahwa diriku lah yang ditakdirkan Allah sebagai suami mu" ucap Dika dalam hati.


***


Irena yang masih duduk terdiam, mencoba memperlihatkan kebahagiaannya. Ia sudah mulai gerah tampak kelelahan dan ingin rasanya melepaskan gaun pengantin yang ia kenakan.


"Bu, acara sudah selesai. Bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah lelah nih" pinta Irena kepada Hanum.


"Pulang? Mau pulang kemana? Ibu sudah siapkan tiket untuk kalian berdua loh. Untuk malam ini kalian menginap di hotel ini. Dan besok sorenya kalian berangkat"


"Berangkat? Berangkat kemana Bu? Irena harus kerja besok"


"Aduh sayang Ibu yang cantik yang sekarang udah jadi istri orang, kamu gak usah kerja lagi sayang. Kan kamu sudah jadi istri, sudah dirumah aja. Dika juga udah setuju kok kalau kamu tidak bekerja lagi mulai sekarang. Tugas kamu sekarang bagaimana menjadi istri yang baik buat suamimu. Ingat loh Surga kamu sekarang ada di suami kamu, sayang"


Tiba-tiba terdengar suara batuk kecil dari belakang mereka.

__ADS_1


"Ehemm, iya Ren. Mulai sekarang kamu gak usah bekerja lagi ya. Kamu bisa lakukan apa yang bis kamu lakukan dari rumah, atau kamu bisa membuka usaha yang sesuai dengan hobi kamu misalnya" ucap Dika sambil memeluk tubuh istrinya.


Irena langsung melepaskan tangan Dika. Hanum yang melihatnya hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka berdua.


"E-tapi Bu! Aku pulang kerumah Ibu saja lah. Aku masih ingin terus disamping Ibu" pinta Irena.


"Jangan gitu dong sayang, kamu bisa kapan saja menemui Ibu dan Kania kok. Jangan khawatir. Yang terpenting sekarang setelah kalian menikah, Ibu ingin secepatnya punya cucu loh, duhh gemes banget sih ibu kalau membayangkannya Ren" ucap Hanum.


"Iya sayang, apa yang dikatakan Ibu benar sekali. Ya kan Bu" goda Dika.


"Apaan sih mereka berdua, kenapa jadi kompak begini. Siapa yang akan menolong aku kalau begini ceritanya. Ayo Irena pikir lagi kasih alasan yang masuk diakal" gumam Irena sembari menggenggam erat gaunnya.


"Udah sana sana, kalian pamit juga tuh sama mertua kamu. Setelah itu kalian boleh pergi untuk, ehemmm eheemmm ... " kata Hanum berhenti karna malu untuk melanjutkan pembicaraannya.


"Ishh! Ibuuu ..." sahut Irena sambil memeluk Ibunya dan juga Kania.


Irena dan Dika bergantian berpamitan kepada Hanum.


"Ibu titip anak Ibu ya, Ibu yakin kamu pasti bisa menjaga dan mengambil hatinya. Percayalah, Ibu akan terus mendukungmu" ucap Hanum.


"Terima kasih Bu karna telah mempercayaiku" jawab Dika.


"Have fun ya kak, kakak harus bahagia. Kasih ponakan untuk Kania juga. Hikss ... Hikss ... Hiksss ... " ucap Kania memeluk erat tubuh kakaknya yang gak terasa meneteskan air mata.


"Iya dek, jaga Ibu ya. Jangan sedih dog, kenapa kamu yang sedih. Entar kakak juga ikutan nangis loh, Hikss ... hikss ..."


"Ayo sayang, kita pamit ke Ibu dan keluargaku juga" ucap Dika memegang erat tangan istrinya sembari berjalan.


"Sayang, sayang. Kepalamu peyang!" gumam Irena dalam hati.


Irena mencoba melepaskan genggaman itu, tapi tidak bisa. Genggaman itu terasa kuat dan telah dikunci mati oleh pemiliknya.


"AAWWWW!!" teriak Dika.

__ADS_1


Dika menjerit kesakitan karena istrinya menginjak kakinya dengan sengaja. Tapi bukannya malah melepaskan genggamannya. Tapi kini tangan itu beralih memeluk pinggang Irena , yang membuat Irena terkejut dan terpaku gugup saat berjalan membuat jantungnya berdetak sangat kencang.


__ADS_2