Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 71


__ADS_3

Entah berapa lama Irena menangis. Saat tersadar ia berada di kamar tidur rumah ibunya, berbaring dengan Ibunya disamping.


Melewati dua hari bagai melewati ribuan tahun, setiap malam selalu diawali dengan air mata. Untung saja dua hari kemarin adalah hari libur kerjanya. Kesepakatan sudah diambil. Perpisahan menjadi jalan keluar.


Baik keluarga Irena ataupun keluarga Dika tidak ada yang melarang. Gugatan perpisahan sedang di urus agar bisa secepatnya dimasukkan ke pengadilan agama.


"Ren, makan yuk. Ibu buat sambal teri kacang. Ada gulai daun ubi tumbuk juga kesukaan kamu."


Irena tersenyum menoleh ke arah Ibunya yang sedang berdiri didepan pintu kamar. Mengangguk, bangkit lalu meringis merasakan pusing yang teramat sangat.


"Kenapa Ren?" Ibu Irena memegangi kedua tangan Irena menatapnya khawatir.


"Gak apa Bu, cuman pusing aja." Irena memijat dahinya berharap sakit di kepalanya akan hilang.


Tapi percuma, rasa sakit itu semakin menjadi. Irena kembali meringis, Ibu membantunya kembali ke tempat tidur.


"Kamu disini aja. Biar Ibu yang ambil makanannya." ucap Ibunya sembari mengusap kepalanya dengan lembut.


Matanya langsung berkaca, apalagi melihat mata Ibunya yang memerah. Ia tau Ibunya pasti sedih melihat kondisinya yang seperti ini.


"Tidak usah, Bu. Kita makan sama-sama aja diluar." Irena menahan tangan Ibunya yang akan pergi.


Ibunya mengangguk, tersenyum lalu duduk di tepi ranjang memijat kepalanya. "Udah mendingan?" tanya Ibunya setelah beberapa menit terlewati.


Irena mengangguk, lalu duduk. "Terimakasih, Bu." ucap Irena dengan senyuman tipis.


"Sama-sama anak Ibu sayang."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan. Ada Kania disana sedang mencemili sambal teri kacang yang ada di piringnya. "Kalian lama sekali sih, Kania udah lapar banget nih."


Ibu Irena tertawa sementara Irena hanya memperlihatkan senyum tipisnya. Duduk di meja makan membuat Irena merasa mual mencium aroma yang tak sedap. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan satu tangan. Membuat Ibu dan adiknya kebingungan.


"Kenapa kak?" tanya Kania sembari mengambil sambal teri kacang ke piringnya.


Irena menggelengkan kepalanya, bangkit dan berlari ke kamar mandi saat rasa ingin memuntahkan sesuatu akan terjadi. Sampai dikamar mandi, ia hidupkan kran air dan muntah disana.


"Ren, kamu kenapa?"

__ADS_1


Ketukan pintu diabaikan. Irena meneteskan air mata saat rasa mual masih tersisa namun tak ada lagi yang keluar dari mulutnya. Setelah merasa sedikit lega, ia berkumur dan berjalan lemas menuju pintu. Ibunya dan juga Kania sudah menyambutnya di depan pintu dengan berbagai pertanyaan.


"Gak tau Bu, perut Irena sakit." keluh Irena memegang perutnya.


Kania dan Ibunya saling melirik, entah apa yang sedang mereka pikirkan dengan wajah yang terlihat sangat tidak enak. Kemudian Irena dibantu Ibunya kembali ke kamar. Mengusapkan minyak kayu putih ke perutnya. "Ibu buatin teh hangat ya."


Irena mengangguk pelan. "Terimakasih, Bu." Ibunya membalas ucapannya dengan anggukan dan pergi meninggalkannya.


Sepeninggalan Ibunya, Irena terus mengusap perutnya. Ada ketakutan dalam hatinya, namun ia langsung menepis ketakutan itu.


Meyakinkan diri sendiri, jika dirinya tidak mungkin hamil. Bagaimana mungkin ia bisa hamil dengan kondisi kesehatan Dika yang seperti itu.


Setelah lima hari kemudian, keyakinan yang dirinya rasakan kini telah pupus. Setelah berkali-kali mengalami muntah-muntah dan rasa sakit di kepala. Akhirnya Irena memutuskan untuk ke dokter setelah pulang bekerja.


Nyawa bagai hilang saat dirinya dinyatakan hamil. Rasa haru senang dan khawatir bercampur jadi satu. Bagaimana mungkin? Apa ini kuasa Allah, Dia menitipkan seorang anak di rahimnya.


Kebahagiaan ini justru hadir disaat perceraian dirinya dan Dika terjadi. Namun ia tetap kekeh dengan pendiriannya, ia gak akan membatalkan niatnya untuk bercerai. Karna ia tak ingin hidup bersama Dika lagi.


******


"Tidak... Tidak... Anak itu pasti bukan darah dagingku, Bu." ucap Dika menggeram.


"Kamu jangan asal bicara Dika. Kalau bukan anakmu jadi anak siapa? Bahkan disaat kabar bahagia ini datang, kamu masih belum juga sadar. Atau jangan-jangan kamu ini sudah di guna-guna dengan wanita selingkuhanmu itu ya."


"Ibu sudah benar-benar malu sama keluarga Irena dengan kelakuanmu itu. Bisa-bisanya kamu kembali ke wanita itu, mengulangi lagi perselingkuhan kalian. Terus ngaku-ngaku hamil pula itu."


"Dengan Irena hamil, ini kesempatanmu untuk bisa membatalkan perceraian kalian. Ibu gak mau kalau sampai Irena bukan menantu Ibu lagi. Cepat kamu selesaikan masalahmu itu, jangan berlarut-larut. Ini semua kuasa Allah, kehadiran anak yang dititipkan Allah di rahim Irena adalah jalan untuk kalian bisa kembali lagi."


"Aku gak bisa, Bu. Itu pasti bukan anakku. Gak mungkin Irena bisa hamil, Bu. Aku harus menyelidiki semuanya dulu."


"Terserah! Ibu harap kamu gak menyesal dengan kebodohanmu kali ini. Dan jangan pernah meminta bantuan sedikitpun kepada Ibu kalau sampai Irena tetap kekeh ingin bercerai denganmu." ucap Ibunya dengan emosi.


******


"Maaf Pak, ada yang ingin saya beritahukan." ucap salah satu orang suruhan Dika untuk menyelidiki istrinya.


"Apa? Katakan aja. Aku lagi sibuk." jawab Dika ketus.

__ADS_1


"Ibu Irena sudah hampir sebulan bekerja di PT. ASSA milik Bryan Mcknzie. Dan aktifitas hari-harinya hanya ke kantor setelah itu pulang kerumah, Pak."


"Hanya itu saja yang kau ketahui? Apa ada yang lain?"


"Sejauh ini hanya itu saja, Pak."


"Baiklah. Cari tau juga tentang orang yang bernama Bryan Mcknzie itu sekarang juga. Cepat!" titah Dika.


"Saya sudah kirimkan semua data tentang perusahaan dan pemiliknya, Bryan." Jawab Rendi, asisten sekaligus orang suruhan Dika.


"Oke aku akan melihatnya nanti. Kau bisa pergi. Terus ikuti istriku kemanapun dia pergi dan sama siapa dia pergi. Kabarnya ia sedang mengandung anakku, yang sampai sekarang aku masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan kabar itu. Tetap jaga dan perhatikan baik-baik. Kabari aku kalau ada info baru." titahnya lagi.


"Baik, siap Pak." jawab Rendi.


Dika langsung mengecek email dari Rendi dan melihat semua data tentang Bryan. Betapa terkejut dirinya saat melihat foto Bryan sangat begitu mirip dengan Rudi.


"Rudi? Bryan? Apa-apaan ini? Kenapa mereka berdua terlihat begitu mirip. Dan sekarang Irena bekerja di perusahaannya. Apa jangan-jangan ...."


"Tidak... Tidak... Oh, ****!" geram Dika sembari meremas rambutnya.


"Permainan apa yang sedang kalian lakukan dibelakangku, Ren? Aku sudah yakin kalau itu pasti bukan anakku. Itu anak Rudi. Ya anak Rudi."


"Pantas saja kamu tetap kekeh ingin memintaku segera menceraikanmu. Oke, kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan." gerutu Dika.


Sikap Dika yang dulu penuh dengan kelembutan seketika berubah menjadi arrogant dan temprament . Entah setan apa yang merasuki jiwanya hingga bersikap seperti itu. Hidupnya seakan hancur setelah Irena meminta dirinya untuk menceraikannya dan memilih pergi meninggalkan rumah. Tak ada lagi harapan bahkan kesempatan yang tersisa.


.


.


.


Nah gitu dong, be strong dong Ren. Be strong! 😘


Yuhuu, Othor minta bantuan para Readers dong untuk boom likenya 🙏🙏🙏


Happy Reading, I Love You 💙

__ADS_1


__ADS_2