
"Aku gak salah lihat nih?" tanya Irena dalam hati melihat Dika sedang duduk dengan kaos hitam celana jeans hitam yang saat ini begitu mempesona dimatanya.
Tetapi semua buyar, ketika waiters di resto hotel tempat mereka makan menyenggol badannya. "wah jadi halu begini aku, Astaghfirullah"
Dika menatap Irena yang berjalan menuju meja tempatnya duduk, mereka bersiap untuk makan karena makanan baru saja datang.
"Gimana? Enak?" tanya Dika.
"Emm yummy, delicious! apa karna aku lagi laper banget kali ya, Uhukk Uhukk.." ucap Irena yang tiba-tiba tersedak.
Dika menghampiri Irena dan menepuk bahunya "Aduh gimana sih istri aku nih, pelan-pelan dong makannya. Tuh jadi keselek kan"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Irena malah kembali tersedak mendengarnya.
Setelah Irena cukup tenang, Dika kembali ketempat duduknya.
Sudah satu jam mereka makan, Dika terus menatap layar handphone nya melihat hasil foto pernikahan mereka yang baru saja dikirim fotografer. Dika tersenyum bahagia melihatnya.
"Kenapa lah ini orang, aku kan jadi malau kalau orang ngiranya suamiku gila senyum-senyum sendiri gitu" gumam Irena.
__ADS_1
Dika yang sedikit mendengar apa yang dikatakan istrinya itu langsung menoleh kearahnya "kenapa sih ngomel mulu? Kalau udah kenyang itu biasanya orang diam, bukannya malah mengomel"
"Mas mas, sini bentar deh. Bisa ambilkan foto saya sama istri gak? Biasalah manten baru Mas HEHEHEE" ucap Dika memanggil salah satu waiters.
"Oh boleh Mas, sebentar ya" jawab waiters.
Dika memindahkan kursinya disebelah Irena, dengan sigap melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Irena merasa gugup dengan tangan yang melingkar di pinggangnya itu.
Setelah beberapa jepretan selesai, waiters mengembalikan handphone milik Dika.
"Terima kasih ya mas" ucap Dika.
"Gimana? Bagus ya fotonya, mungkin karna ada akunya sih disitu jadi kelihatan bagus" canda Dika.
"Ishh, pede banget sih!" gerutu Irena.
"Ayolah kita balik ke kamar, aku sudah mulai mengantuk, apalagi lihat foto itu jadi buat aku makin mengantuk"
"Wah gak sabaran banget sih, sabar dong" ucap Dika sembari memegang tangan Irena dan berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Irena yang terkejut akan yang dilakukan suaminya, berasa tidak bisa bergerak. Badannya kaku, tangannya seperti sudah dikasih lem oleh Dika gak bisa dilepas.
Saat masuk kedalam kamar, mereka mengganti pakaian tidur mereka. Dika yang sudah memakai kaos hanya menanggalkan celana jeans nya saja. yang sebelumnya sudah ia pakai boxer pendek sepaha.
"Ih, kamu jangan disitu! Jangan buka disitu!" teriak Irena.
"Apa sih sayang, masih ada boxer lagi loh. Lagian ada atau enggaknya boxer gak masalah dong. Ngapain harus malu didepan istri sendiri" goda Dika sembari berjalan ke arah Irena.
"Eh eh mau ngapain? Jangan dekat, jangan berani kamu ya!" ucap Irena sembari berjalan mundur kebelakang tapi kini terhalang dinding yang ada dibelakangnya.
"Kamu seperti itu seolah-olah aku ini mau memperkosa kamu saja. Hemm padahal kalau aku mau bisa aja sih. Udah kewajiban kamu juga kan?" kata Dika sembari memperhatikan tubuh istrinya yang memakai kaos tipis selutut yang sudah digantinya sedari pulang makan tadi.
"Matanya jangan liar kali gitu lah. Please, sudah ya pergi sana jangan gini dong buat aku takut" pinta Irena yang memalingkan wajah Dika kesamping agar tidak melihat dirinya.
"Oke baiklah, aku tidak ingin membuat istri ku mati berdiri di awal pernikahan" ucap Dika.
Dika pergi sembari tersenyum dengan kelakuan istrinya. Irena yang masih berdiri kini sedikit bisa bernafas lega akhirnya Dika pergi, yang sebenarnya juga penasaran merasakan kelembutan sentuhan dari suaminya itu. Cuma dia harus menahan salivanya agar tidak terburu-buru, walau ia tau sangat berdosa ketika ia menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim.
"Kenapa Ren? sebenarnya semakin aku melihatmu, aku semakin tidak mampu untuk menjauhi mu. Hati dan pikiranku ingin memelukmu. Belum lagi aku harus menahan otak mesum ku ini" batin Dika mulai berontak.
__ADS_1