
"Wajahmu memerah?" tanya Dika yang kini tepat berada dihadapannya.
Irena menggigit bibir bawahnya sembari dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Aku menginginkanmu", bisik Dika ke telinga Irena.
Irena tak berani menegakkan kepalanya, tubuhnya kini benar-benar menegang. Ia merasakan nafas Dika menelusup hangat ke lehernya dan aroma tubuhnya yang begitu segar membuat dirinya sudah pasti akan tergoda dan dengan senang hati menyerahkan apapun yang akan dilakukan suaminya.
Dika mulai mengecup kening Irena dan menyentuh pipinya dengan lembut, ia tegakkan kepala Irena dan terlihat lah wajah Irena yang tampak merah merona.
Saat Dika tersenyum nakal, Irena mulai sadar bahwa dirinya berada dalam bahaya. Dalam hati Irena berucap, "Bisa bisanya dia menggodaku seperti ini. Oh oh oh dia sudah mulai hapal dengan kelemahan ku."
Azan mulai berkumandang, Irena dengan sigap langsung mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
"Eh sudah azan ya, aduuh aku mau mandi dulu nih. Hari ini kita gak usah jamaah dulu ya, kamu deluan aja" ucap Irena sembari masuk ke kamar mandi.
*****
"Bagaimana? Enak?", tanya Irena ragu.
"Hemm .. hemm .. eumm ..." ucap Dika.
Irena sedari tadi menunggu jawaban Dika, tapi Dika terus saja berucap seperti itu. Seolah mau menjawab tapi terlalu lama memberi jawaban hingga akhirnya makanan habis disantapnya.
__ADS_1
"Eumm eeumm terus Isshh!", gerutu Irena.
"Seperti yang kamu lihat makanan ku habis kan? Itu artinya enak dong, kamu sih terlalu ketakutan banget. Lagian aku juga udah tau kalau masakan kamu pasti enak. Itu juga alasan aku bisa sangat mencintai kamu. Kamu jago masaknya. Ibumu sudah menceritakan semuanya dari A sampai Z tentang mu"
"Mu mu mu .. kayaknya harus ada panggilan lain deh untuk kita. Kira-kira apa ya? Menurut kamu gimana?" tanya Irena.
"Kamu yang suka memanggil dengan sebutan itu, kalau aku sih selalu manggil sayang ke kamu, tapi kamu gak pernah tuh manggil dengan sebutan sayang balik." Ucap Dika dengan penuh keluh.
Irena mencoba untuk bernegosiasi dengan Dika, "Emm sayang ya? Gimana ya? Apa gak ada yang lain?"
"Sebutan itu sudah sangat bagus sekali. Lama kelamaan kamu juga nanti akan terbiasa" jawab Dika.
"Baiklah, SAY ... YANGGG!!" Ucap Irena ragu.
"O-iya by the way .. aku sepertinya ingin kembali bekerja. Seharian di rumah hanya memasak buat aku jadi bosan."
Irena berdiri dan berjalan ke arah Dika. Ia kalungkan tangannya di leher Dika dari belakang, "Please, boleh ya?"
"Oh jadi begini caranya kalau lagi ada maunya ya, eumm ya ya yaa pinter ya." Kata Dika sembari melepaskan tangan Irena dari lehernya dan menariknya duduk ke pangkuan.
Suara sexy Dika menelusup ke telinga Irena, "Kenapa bosan sayang?"
"Ya mungkin aku terbiasa bekerja, jari-jari ini sayang banget rasanya kalau hanya digunakan untuk bermain dengan handphone, bolak balik mencsroll laman Instagram dan facebook", jawab Irena.
__ADS_1
Dika meremas jari-jari tangan Irena kemudian mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Baiklah akan Mas pikirkan", ucap Dika.
"Mas?" tanya Irena heran.
"Ya mulai sekarang panggil aku Mas aja, sedari tadi aku memikirkannya sepertinya itu sebutan yang cocok" jawab Dika.
Irena tersenyum, ia berharap suaminya akan bersikap manis seperti ini memberikan hari-hari penuh dengan tebaran cinta.
Dika terus memanjakan Irena, memberikan percintaan yang hampir membuatnya lupa akan bernafas. Yang selalu tau bagaimana cara membuat segala beban yang mengganjal bebas terlepas hingga dirinya selalu memikirkan namanya.
.
.
.
Haloo Readers!
Othor cuma mau bilang gini ajalah gak usah panjang kali lebar kali tinggi HEHEHE
*Semakin banyak Like, semakin banyak Komen dan semakin banyak Vote, semakin sering ufdet*
__ADS_1