
"SIAPA? ANDIKA MAHESA?" teriak Kania.
"OMG! Andika Mahesa itu kan pengusaha muda milenial yang lagi viral di tiktok itu. Masa kakak gak tau? Seriously?"
Mata Irena terbelalak, tangannya mulai sibuk dengan ponselnya mencari tau siapa Andika Mahesa di laman instagram. Ia menemukan banyak nama tapi ada juga begitu banyak foto yang sama persis dengan wajah Dika. Irena mengecek satu persatu, dan tentu saja Kania tersenyum tipis melihat apa yang dilakukannya.
Belum sempat ia menemukan mana akun yang asli, Kania langsung merebut ponsel Irena dan menunjukkan akun Instagram milik Dika "ini loh kak, penasaran banget sepertinya HAHAHAAA. Apa jangan jangan kakak udah setuju nih dengan pilihan Ibu ya hayoo"
"Ngg... enggak kok! Cuma mau tau aja apa iya pria sinting seperti itu beneran seorang pengusaha? Atau kami memang pernah ketemu ya sebelumnya, dulu dulu banget sampai kakak pun lupa"
Irena mulai menggerutu "Ahh bodo amatlah. Kenapa aku harus mau tau tentang dia. Bodo amatlah pokoknya"
"Ibu kemana dek? Belum pulang ya? Masa kakak ditinggalin berdua doang sama Dika. Kesal banget tau gak"
"Ibu dikamar tuh kak, udah tidur kayaknya" ucap Kania.
"APAAAA? TIDURR?" teriak Irena.
"Astagaa Ibuuu, ternyata begitu rupanya rencana Ibu ya dek. Main tinggal aja"
"HAHAHAHAA!! Memang iya lah kak. Ya nggak apa dong, kan berhasil juga rencana kami" kata Kania.
"Kami? Berarti kamu juga tau dong?" tanya Irena.
"Cuma tanya rencana Ibu dong, tapi nggak tau siapa pria yang dikenalin Ibu, Ibu cuma bilang sih yang pastinya he's so perfect dan kakak pasti gak akan nolak. Gitu doang sih"
"Jadi gimana? Kakak setuju dengan perjodohan kali ini? Udah deh, jangan ditolak. Kesempatan gak datang dua kali loh, apalagi dengan orang yang sama tampan tajir melintir begitu" goda Kania.
"Hoammm, kita istirahat yuk. Udah malam, besok kakak harus ngantor juga. Takut bangun telat lagi. Udah ya, sana sana. Bye!" ucap Irena sambil menutup pintu kamar.
*****
"Siapa coba yang mau sama pria seperti itu. Tampan tajir tapi kalau modelnya begitu ya siapa yang mau. Amitt amiit deh" gumam Irena sambil memakai hijabnya.
"Tokk ..."
"Tokk ..."
"Tokk .."
"Ren, boleh Ibu masuk?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Aah, Ibu. Iya masuk Bu" jawab Kania.
"Gimana pilihan Ibu kali ini? Kamu pasti gak bisa menolak kan? Ayolah jangan seperti ini sayang"
"Ibu pasti sudah tau jawaban Irena kan Bu? Lagian kami juga baru berjumpa sekali doang, eengg .. enggak deh udah entah berapa kali kami sudah bertemu. Sial terus kalau tiap ketemu sama dia" ucap Irena.
Ibu berjalan mendekati Irena dan menggenggam tangannya, agar Irena tidak marah "Ya Ibu sudah tau hal itu, Dika sudah cerita semuanya ke Ibu pagi ini di telepon, dan dia meminta maaf ke Ibu atas kejadian itu"
"Dia meminta maaf ke Ibu tapi tidak sama sekali sedikitpun sama Iren. Pria macam apa itu? Benar-benar pria sinting" gerutu Irena.
"Hmmm terusssss, sebentar lagi dia datang sarapan disini dan menjemput kamu" Ibu berkata dengan pelan.
"APAAA? Oh tidak Bu tidak. Irena ada meeting pagi ini. Irena harus buru-buru pergi tidak sempat untuk menunggu lagi" Irena langsung buru-buru merapikan hijabnya dan pergi meninggalkan Ibunya di kamar.
Apa lagi yang akan dirancanakan Ibunya kali ini, segala cara sepertinya akan dilakukan agar anaknya menyetujui perjodohan ini dan segera menikah.
"Oh tidak bisa, tidak semudah itu. Aku harus pergi sebelum pria sinting itu datang" gumamnya.
Irena mencari dimana kunci motor ia letakkan, seperti biasa ia selalu menggantungkannya dibalik pintu teras depan, tapi kali ini tidak ada. "Dimana? Apa terjatuh? Astaga disaat Ibu menyebut nama pria sinting itu kesialan ku pun muncul lagi"
Terdengar suara motornya didepan pagar rumah, "itu suara motorku, siapa yang pakai? Apa Kania? Tidak mungkin, Kania mana bisa. Siapa? Ibu?"
Irena berjalan menuju arah suara motornya, ia mengintip dari celah pagar rumah. Tanpa disangka ternyata ada Dika. Dika duduk diatas motornya. Apa yang dilakukan pria itu dengan motorku pikirnya.
Tiba-tiba pagar rumah terbuka. Kepala Irena terpentok pagar. "AWWW!!" teriaknya.
Irena berdiri dan mendongakkan kepala keatas, ada pria besar tinggi dihadapannya. Tepat dihadapannya. Kepalanya sejajar dengan dada pria itu. Ia terkejut dan sontak langsung minggir menundukkan kepalanya kembali.
"Astaghfirullah!" ucap Irena.
"Apa yang kamu lakukan dengan motorku? Mau maling ya? Mau kalau aku teriak maling biar orang pada dengar semua?"
Dika hanya tersenyum manis mendengar perkataan Irena. Ia menyuruh Irena bergegas naik ke motor. "Sudah naik dan ikut saja, gak usah banyak alasan. Kamu pasti senang kan dijemput sama Harry Potter? Ya walaupun jemputnya enggak pakai sapu terbang?"
"Haa? Harry Potter? Darimana Dika tau?" pikirnya.
"Itu motorku bukan motor kamu, bagaimana ceritanya dijemput. Dasar aneh!" gerutu Irena.
Dari balik jendela rumah, Irena melihat jelas Ibu dan adiknya mengintip mereka berdua. Irena melontarkan tatapan sinis dari depan pagar ke arah mereka, "Awas saja kalian ya? Arrgh!"
Jam ditangan sudah menunjukkan pukul delapan, kalau terus mengobrol bisa terlambat pikirnya. Irena berencana mau mengambil helm miliknya, sebelum ia melakukannya, Dika sudah mempersiapkan semuanya. Memakaikan Irena helm dengan sangat hati-hati takut merusak hijab milik Irena.
__ADS_1
Wajah Irena berubah menjadi merah seperti sedang memakai blush on, padahal hari ini ia lupa untuk memakainya karena terburu buru ingin cepat pergi. Jantungnya dag Dig dug, terpaku dengan apa yang Dika lakukan walau hanya sebatas memakaikan helm saja.
Pertanda apa ini? Hatiku rapuh? Ah tidak mungkin. Mungkin aku hanya terkejut saja dengan perlakuan yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan. Maklumlah selama ini semua ku lakukan dengan sendiri pikirnya.
Irena mencoba menepis setiap perasaan yang muncul dalam pikirannya.
Motor mulai melaju. Irena duduk dibonceng seorang pengusaha muda dan sukses. Semua wanita pasti mengenal Dika. Selama perjalanan Irena merasa orang orang memperhatikan mereka. Irena menundukkan kepalanya.
Seharusnya kenapa harus ia harus malu. Bukannya ini adalah sesuatu hal yang sangat mengesankan dan membahagiakan bagi setiap wanita.
Dalam hati Irena ingin rasanya cepat-cepat sampai. Karena ia sudah enggak tahan menahan kebelet pipis. Mungkin karena terlalu senang atau grogi dibonceng Dika.
"Bisa agak ngebut bawa motornya? Aku mau cepat nih sudah telat mau meeting, bawa motor kok kayak cewek saja, pelan banget. Emak-emak aja kalah sama kamu, tuh lihat tuh" ucap Irena.
Lagi-lagi yang Irena terima hanyalah senyuman manis dari Dika. Irena hanya bisa terdiam menahan rasa kesalnya.
*****
"Kenapa berhenti di Coffee Shop? Ahh sudahlah" Irena langsung berlari menuju toilet.
Setelah keluar, Irena terkejut Dika berdiri menunggunya didepan toilet sambil memegang tas kerjanya.
"Itu tasku? Kenapa bisa sama dia? Astaga tadi karena buru-buru ketoilet aku titip kedia ya. OMG! Irena. Kenapa sih bodoh banget"
"Sudah? Ini tas kamu dan ini kopi buat menemani kerja kamu, didalam juga ada cemilan roti" ucap Dika.
Dari sudut beberapa barista memperhatikan mereka. Mereka berbisik-bisik.
"Aku tidak ada menyuruh kamu untuk beli kopi. Lagian hari ini aku gak ada rencana mau ngopi, jadi ini buat kamu aja ya" ucap Irena memberikan kembali kepada Dika.
"Yakin gak mau? Ini ada Caramel Machiato dan juga Oatmeal Scones loh. Yakin gak mau? Anggap saja ini permintaan maaf saya yang kemarin. Yang berlalu biarlah berlalu, kita lupakan saja. Damai itu indah loh, apalagi kalau kamu terima ini. Jauh lebih indah pastinya" ucap Dika.
"Oh iya, perkenalkan aku Andika Mahesa. Biasa dipanggil Dika sih. Kamu?"
"Haa? Perkenalan lagi? Bukannya sudah saat dinner?" jawab Irena.
"Iya tapi saat itu kamu lagi marah banget, rasanya kurang pas moment untuk berkenalan" ucap Dika.
"Hemmm ..." balas jawaban Irena.
Irena langsung meninggalkan Dika dan pergi menuju kantornya. Ia berhasil merebut kunci motor yang ada ditangan Dika. Ternyata selama pembicaraan ia memutar otak bagaimana caranya agar nanti pulang ia tidak harus berjumpa lagi dengan Dika.
__ADS_1
Kopi yang disiapkan Dika jelas tidak diambil Irena. Toh ia juga bisa memesannya lagi, kan Coffee Shop dekat dengan kantor Irena. Ia bisa juga memesan lewat aplikasi Online pikirnya.
Dika hanya bisa tersenyum. Mungkin emang Dika hobby nya senyum kali ya HAHAHAHAA. Senyum bahagia bisa dekat dengan Irena.