Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 72


__ADS_3

Hari ini Bryan memanggil Irena ke ruangannya. Tapi karna kondisi Irena yang lagi gak mood, ia memilih mangkir saja berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Irena mengambil alih tugas luar untuk bertemu beberapa klien.


Saat hendak melangkahkan kaki keluar gedung terdengar suara yang menggema ke seluruh gedung memanggil nama dirinya lewat pengeras suara. Baru kali ini ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Bryan, gak seperti dikantor yang lama dulu kalau Irena gak menjawab panggilannya ia akan langsung datang keruangan Irena.


"Panggilan untuk Shirena Indira bagian Operasional, harap datang ke kantor saya. SEGERA!!!"


"Udah sinting nih orang, apa dia ingin semua orang di gedung tau kalau dia mencariku. Arrrghh !!!"


Tania resepsionis yang mengenal Irena, terkekeh sinis menatapnya curiga. Ia seperti buronan yang lagi dicari-cari polisi. Tanpa memperdulikan tatapan sinis itu, Irena dengan buru-buru berjalan ke ruangannya kembali.


Irena sangat terkejut, Bryan sudah berada disana. Berdiri dengan gaya angkuhnya sama seperti dulu tidak berubah.


"Ayo cepat! Ada tempat yang harus kita kunjungi!" Perintahnya sembari berjalan keluar gedung dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. Irena pun mengikutinya.


Dengan ragu, Irena memandangi mobil Bryan.


"Kok bengong!! Budek ya?" Tanyanya dengan galak.


Walaupun ragu, Irena tetap masuk kedalam tapi memilih duduk di kursi bagian belakang, bukan disampingnya.


"Wah! Saya udah seperti supir aja ya." kesal Bryan yang sontak membuat Irena terdiam.


Bryan melajukan mobilnya tapi dengan tiba-tiba saja dia mengerem mendadak mobilnya, membuat jidat Irena kepentok kursi depan.


"Aduuuhhhh ..." Irena meringis kesakitan.


"Hem ... Bisa bicara juga akhirnya, kirain bisu mendadak." ejek Bryan tertawa geli.


"Diam itu emas, Pak. Siapa tau dengan diam bisa ngumpulin emas banyak-banyak jadi kaya mendadak." jawabnya ngasal.


Bryan kembali terkekeh.


"Kebanyakan halu kamu. Gak berubah-rubah, ada.... aja jawabannya kalau lagi salah."


Mata Irena memandang ke arah keluar. Ia baru menyadari satu hal. Ini jalan ke arah Cafe Bistro. Dan tepat seperti dugaannya mobil berhenti di parkiran cafe itu.


"Kita kesini mau ngapain Pak?" tanya Irena bingung.


"Oh kita mau berenang disini. Ya mau makanlah!" tegas Bryan.

__ADS_1


"Tapi Pak sebentar lagi jam pulang kantor, saya belum absen pulang. Bisa kena potong gaji saya kalau gak absen sesuai jam pulang kantor." jawab Irena.


"Haloo Irena, kamu masih belum sadar saya ini siapa kamu? Bukankah kamu lagi pergi dengan saya, mereka pasti sudah tau juga. Udah biar itu jadi urusan saya nanti."


"Sudah turun! Saya udah lapar gak keburu makan siang tadi." ucapnya.


Mereka akhirnya turun dari mobil dan jalan beriringan masuk ke Cafe Bistro. Menuju tempat duduk yang sama saat terkahir kali mereka makan. Membuat mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu."


"Tanya apa , Pak?" tanya Irena canggung karna sudah lama ia dan Bryan gak pernah mengobrol lagi semenjak kematian palsu Bryan.


"Kamu dan suamimu .... Apa kabar?"


"Emm maksud saya, baik-baik aja kan?"


"Alhamdulillah baik, Pak." jawab Irena.


"Kamu masih tetap sama Ren seperti lima tahun yang lalu, tetap manis dengan senyuman itu." gumam Bryan.


Mereka sudah memesan makanan kepada pelayan. Setelah itu terlibat obrolan yang seru, menceritakan kehidupan mereka selama tidak bertemu. Sesekali terdengar gelak tawa dari meja mereka.


Dika udah gak bisa lagi menahan kesabarannya, ia memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Sayang," panggil Dika lembut.


Irena merasa tegang saat mendengar suara yang familiar memanggil. Menolehkan kepala, terlihat Dika berdiri tepat disampingnya.


"Mas Dika, ngapain kamu kesini!" Ucap Irena kesal.


"Tentu saja menemui kamu, istriku dan juga bayi kita." ucap Dika sembari mengelus lembut perut Irena.


"Kita bukan lagi suami istri, Mas."


"Aku belum menceraikanmu, jadi secara hukum aku masih suamimu."


Menghela napas panjang Irena memeluk perut, mengelusnya dengan sayang. "Aku berjanji akan melindungi anak ini apapun yang terjadi. Bahkan meski kehilangan nyawa sekali .... pun." ucapnya dalam hati saat merasakan sakit di bagian perutnya lalu terjatuh pingsan disamping suaminya.


"Sayang , kamu kenapa? Bangun sayang." panggil Dika.

__ADS_1


Bryan yang melihat Irena terbujur lemas dipangkuan suaminya, ingin rasanya segera membawa Irena kerumah sakit. Tapi saat hendak menyentuh Irena, Dika melirik tajam ke arahnya membuat dirinya mengurungkan niatnya.


Dika pun menggendong Irena masuk kedalam dan membawanya ke rumah sakit. Sementara Bryan mengikuti mobil Dika dari belakang.


"Sayang, bangun dong. Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit. Kamu harus kuat ya." ucap Dika gelisah, takut terjadi hal yang buruk dengan istrinya yang sebenarnya masih sangat ia cintai. Cuma karena kecemburuannya dengan pria masa lalu istrinya membuat dirinya selalu emosi, entah kerasukan setan apa.


******


"Dok, bagaimana dengan istri saya?" tanya Dika yang terus saja gelisah sedari tadi sembari berjalan menemui Dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Irena. Dengan Bryan yang mengikutinya dari belakang ingin juga segera mengetahui hasil pemeriksaan Dokter.


"Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Ibu dan bayinya sehat. Ibu Irena hanya kecapean aja. Apakah akhir-akhir ini Ibu Irena pernah mengeluh kalau tubuhnya terasa lemas, sering pusing atau sakit di bagian perutnya? Sepertinya ia sedang mengalami stres berat."


"Emmm ...." Dika gak tau harus berkata apa. Karna selama ini Irena tidak tinggal bersamanya. Jadi bagaimana mungkin ia tau tentang semua itu.


"Baiklah, saya sarankan Ibu Irena untuk sementara banyak beristirahat. Kondisi Ibu hamil harus selalu sehat dan happy, karna kalau tidak seperti itu bisa mempengaruhi perkembangan janin yang ada di kandungannya. Bisa saja akan mengalami keguguran, mengingat ini masih memasuki usia kehamilan dua bulan." jelas dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih." jawab Dika lesu.


Dika langsung masuk kedalam ruangan untuk melihat istrinya. Sementara Bryan kembali duduk terdiam di depan pintu ruangan itu.


Bryan yang sudah mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga wanita yang sangat ia cintai, hanya mengepalkan tangan menahan emosinya.


"Bukannya memberikan istrinya kebahagiaan tapi suaminya malah memberikan kesakitan yang tiada henti-hentinya." gerutunya kesal.


Mendengar semua kabar tentang kehidupan Irena membuat dirinya kesal dan marah akan kebodohan dirinya sendiri saat di masa lalu, kini penyesalan membumbung tinggi. Kabur memalsukan kematian nya dan membiarkan Irena menikah dengan pria seperti Dika adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.


Ia berjanji pada dirinya mulai saat ini akan terus menjaga dan memperhatikan Irena walaupun hanya dari kejauhan. Jika suatu saat nanti Irena akan berpisah dengan Dika, ia akan merebut kembali Irena dan menjadikannya Irena sebagai istrinya dan menjaga anak yang ada di rahimnya. Gak perduli sekalipun jika dunia akan menentang kebersamaan mereka.


.


.


.


See you in the next part 💙


*Happy Reading*


Jangan lupa bantu Othor untuk boom likenya ya 😘

__ADS_1


__ADS_2