Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 22


__ADS_3

"Ahh! Akhirnya ketemu tempat tidur juga. Nyaman banget" ucap Irena sembari merebahkan badannya ditempat tidur kamar hotel yang sudah dihias selayaknya kamar pengantin penuh dengan bunga mawar bertebaran diatasnya.


"Lebih nyaman lagi kalau ada aku disamping kamu kan? Ganti dulu dong bajunya, masa iya kamu mau tidur dengan baju begitu" ucap Dika yang ikut merebahkan badannya disamping Irena.


"Kamu ngapain disini? Sana pesan kamar satu lagi, tapi awas jangan sampai ketahuan sama Ibu ya, awas aja!" celetuk Irena


"Kenapa harus dua kamar? Kita kan udah sah suami istri, jadi ngapain harus pesan kamar lagi.Jangan yang aneh-aneh deh kamu" gerutu Dika sembari mencium kening istrinya.


"Duuh kenapa aku jadi deg-degan begini. Astaghfirullah, sadar Irena sadar" gumam Irena dalam hatinya.


"Kenapa diam? Kamu takut? Takut aku akan memperkosa istriku sendiri? HAHAHAHAA"


Irena masih terdiam, hati dan pikirannya berkata tidak. Tapi tubuh terasa kaku untuk beranjak, berada didekat Dika seperti ini ada rasa kenyamanan yang mulai menghampiri.


"E-iya, terserah kamu deh. Bodo amat kamu mau tidur dimana, asalkan jangan disini, jangan dekat aku apalagi sampai melewati batas" ucap Irena sembari mengarahkan telunjuknya ke arah tempat tidur yang sedang mereka tiduri.


"Batas? Batas yang mana? Aku gak ngerasa ada batasan diantara kita, emang sejak kapan ada batasan antara suami istri? Bukannya semua yang ada di kamu udah jadi milik aku? Kenapa harus ada batasan?" ucap Dika menggoda Irena berharap ada something special yang terjadi diantara mereka, selayaknya seorang suami istri yang menghabiskan malam pertamanya setelah menikah.


"Sudah sana pergi, aku mau tidur. JANGAN GANGGU!!" celetuk Irena mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh.


"HAHHAHAHAAA enak? Mau lagi?"


"Aduuh, pinggangku!" Dika mengerang kesakitan.


Wajah Irena sontak berubah menjadi gelisah. Irena tampak bingung dan takut terjadi apa-apa dengan Dika, karena wajah suaminya benar-benar terlihat kesakitan. Rasanya ingin melihat apakah suaminya baik-baik saja, tapi bukannya menemui sang suami, ia malah berlari menuju kamar mandi.


"Ahh, dia kan laki-laki kuat, badan kekar masak jatuh begitu aja udah kesakitan. Gak mungkin, palingan juga pura-pura" gumam Irena.


"Irena? Kamu mau kemana?"


Irena pergi begitu saja meninggalkannya, tidak sekalipun menatap kearahnya.


Cepat-cepat Irena menyalakan kran air dengan sangat kuat.


"Irena? Are you okay?" tanya Dika lagi yang berada didepan pintu kamar mandi.


Setelah beberapa lama dikamar mandi, Irena membuka pintu kamar mandi. Dika mundur mempersilahkan istrinya itu untuk lewat.


Irena bergegas lewat dan menjauhkan diri dari Dika.


"Aku kira kamu kenapa-kenapa loh" kata Dika.


Dika terus mengekor dibelakang Irena, berjalan mengikuti Irena yang duduk ditempat tidur sembari memakan beberapa kue diatas meja.


Irena mengatur napas dan berkata "Kamu kenapa sih ngikut mulu, sana mandi ganti baju. Aku tadi cuma BAB loh, kebanyakan makan diacara tadi. Jadi baru tersalurkan sekarang semuanya keluar"

__ADS_1


"Ohhh! Aku kira kamu kenapa, soalnya tiba-tiba aja lari begitu" jawab Dika.


"Kamu gak ikut mandi? Atau mau aku madikan? Eh maksudnya aku ambilkan baju ganti setelah mandi"


Irena mengerutkan keningnya, "Isshh! Mesum banget sih!"


Dika terkekeh, "Emm, ya semacam itulah"


Irena langsung melebarkan matanya, menatap Dika kemudian menggeleng tanpa berkata apa-apa.


"Aduh pinggangku" Dika pura-pura kesakitan.


"Kasihan ya, HAHAHHAAAA" ucap Irena.


"Tapi yang lebih kasihan lagi kita"


"Kita? Kenapa?" tanya Irena penuh heran.


"Ya kita. Kita udah halal, udah nikah. Tapi saling berjauhan, jangankan dekat untuk bisa mengobrol, melakukan hal yang lebih dari sekedar mengobrol aja gak bisa"


Pipi Irena merah merona seketika. Ia paham apa yang dimaksud oleh suaminya itu, dan tanpa disadari ia pun mulai berpikiran mesum juga.


Sontak Irena langsung berdehem, memalingkan wajahnya yang memerah agar tak terlihat karna ucapan suaminya.


"Kalau begitu ..."


Cup!


Dika mengecup bibir istrinya.


"Ini sudah lucu?"


Senyuman muncul di wajah Irena, tapi ia langsung menggantinya dengan mengerutkan dahinya dan melirik tajam ke arah suaminya.


Saat Dika mencoba untuk memajukan wajahnya kearah istrinya.


"Nggak! Stop! Mulut kamu bau loh, makan apa sih? Mandi sana, biar gantian. Sudah jam makan malam. Aku laper, iya laper aku laper banget nih"


Irena mencegahnya dengan cepat dan diwaktu yang tepat. Bayangkan saja kalau sampai bibir itu menyatu lagi dengan bibirnya. Irena pasti jauh lebih malu luar biasa.


Dika memberikan senyum tipis diwajahnya, ia merasa lucu melihat tingkah istrinya yang mencoba menghindar dari serangan bibir tebal dan **** miliknya.


Setelah beberapa lama Dika mandi, kini giliran Irena yang mandi. Ia melepas gaun dan segala benda yang ada ditubuhnya, menyalakan shower. Baru hitungan detik merasakan hangatnya air yang keluar, iya baru teringat lupa membawa handuk.


Sontak ia langsung kebingungan, gak mungkin keluar tanpa sehelai benang pun menempel di badan karna baju yang ia kenakan tadi sudah basah semua.

__ADS_1


Ia berpikir keras sembari terus mandi sampai selesai. Setelah berpikir dalam waktu yang lama, jalan satu satunya adalah meminta Dika untuk mengambilkan handuknya.


Saat ia mencoba memanggil, Dika tidak menjawab sahutannya. Bahkan berteriak berkali-kali pun, Dika tetap gak menjawab.


Merasa putus asa tidak ada jawaban, dia berpikir mungkin suaminya lagi keluar untuk mengambil makanan atau memesannya, karna tadi ia bilang ke Dika bahwa dia sangat kelaparan.


Dengan pelan ia membuka kunci pintu kamar mandi, mengintip untuk memastikan tidak ada siapa-siapa didalam ruangan itu.


Dengan hati yang tenang dan damai, ia mulai bernapas lega. Ternyata benar tidak ada orang, suasana yang begitu hening membuatnya berpikir bahwa suaminya pasti juga tidak ada. Dan dengan percaya diri, Irena mulai berjalan mengambil handuk yang ada di atas tempat tidur yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Saat berjalan lima langkah menuju tempat tidur, tiba-tiba saja ia melihat sosok seorang lelaki sedang memakai headset menatap ponselnya diatas tempat tidur.


Irena membuka mulutnya dan berteriak dalam keheningan, melompat mengekspresikan keterkejutannya sembari menutup dua bagian tubuh yang sangat menantang ditubuhnya.


"Uhukk .. Uhukkk ..." Dika terbatuk melihat kehadiran istrinya yang gak memakai sehelai benang pun.


Dika tersenyum senang melihat kegilaan istrinya sembari berkata "Irena kamu mau menggodaku atau gimana? Tanpa digoda aku juga ikhlas mau sayang HEHEHEHEE"


Irena dengan cepat mengambil handuknya kemudian masuk ke kamar mandi lagi dan memastikan ia menguncinya dengan benar.


Dika tertawa dengan sangat kencang hingga terdengar Irena.


"Ya terus aja tertawa. Senang kali kayaknya lihat istrinya malu seperti ini ya. Ya bagus bagus!" gerutu Irena sembari menarik nafasnya perlahan.


Dika berjalan mendekati pintu kamar mandi sembari berkata "Kenapa harus malu? Aku kan suamimu, jangan marah dong. Udah keluar aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok sebelum kamu menyetujuinya, tenang aja"


Irena belum juga membuka pintunya.


"Ren, ayo dong. Mau sampai kapan kamu didalam. Tapi tadi katanya laper banget, nanti kamu masuk angin. Lagian keburu tutup juga nih restonya.


Irena memejamkan matanya sementara perasaanya mulai resah dan jantungnya berdebar-debar tak karuan. "Jangan sampai otak mesum kami berdua terus berlanjut ya Allah, kalau sama-sama berlanjut aku bisa apa?"


Irena membuka pintu dan secepat kilat berjalan melewati Dika "Kamu tunggu diluar, aku mau ganti baju"


Bukannya keluar, Dika malah berjalan menuju tempat istrinya yang sedang duduk diatas tempat tidur.


"Kamu menyuruhku keluar? Yakin?" goda Dika.


Cup!


Lagi lagi Dika mencium bibir manis istrinya itu. Irena berpikir ada sesuatu hal yang akan terjadi dengan mereka setelah ciuman itu. Irena memejamkan matanya menahan rasa malu.


"Baiklah, aku akan keluar. Jangan lama ya, aku juga udah mulai lapar sepertinya. Tadinya mau makan yang ada didepan mata, tapi sepertinya makanannya belum siap untuk aku santap" ucap Dika sembari mengambil ponsel yang ada disamping Irena.


Irena bernafas lega ternyata yang ada dipikirannya salah. Dan ternyata ialah yang kini selalu berpikir mesum saat berada didekat suaminya.

__ADS_1


__ADS_2