
Jangan pernah menyesal atas kejadian atau peristiwa apapun yang pernah kamu alami, sekalipun itu begitu pahit bagimu. Yakinlah tidak ada takdir yang kejam.
Takdir baik ataupun buruk, semuanya adalah baik untuk kita. Melupakan masa lalu memang tidak semudah itu, tapi kamu harus yakin, bangkit dan optimis untuk melangkah maju demi masa depan yang lebih baik.
"Tetaplah yakin Allah memberikan yang terbaik untuk kita Ren, begitu juga dengan aku yang yakin bahwa kamu memang jodoh yang Allah takdirkan untukku" ucap Dika sembari menghapus sisa air mata Irena yang masih bercucuran.
Irena masih saja terdiam dalam pikirannya. Ia berpikir tentang perkataan Ibunya yang sangat menginginkan perjodohan ini.
Setelah mengetahui yang ia alami, Dika tetap saja bisa menerimanya. Tapi hatinya sudah jatuh ke pelukan Rudi. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani pernikahan nanti tanpa cinta.
"Apa semua ini harus ku paksakan? Dan aku terima perjodohan ini?"
Dika kembali menggenggam tangan Irena, dia ingin mencoba meyakini dan melamarnya saat ini juga.
"Oh tidak di dalam mobil ini? It's not romantic! tapi mungkin aku harus secepat mungkin mengatakannya, selagi keberanian ku lagi memuncak, Oke mungkin ini saatnya"
Dengan melamar di dalam mobil Mercedes-Benz mewah miliknya ini, suasana masih tampak terlihat romantis, ia tampak begitu cool dan gentle, tak sedikitpun ia memperlihatkan wajah gugup. Ia begitu yakin.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan izin Allah dan juga restu kedua orang tua kita, izinkan aku untuk menikahi kamu, aku berjanji dengan segenap hati aku, dengan ketulusan hati aku untuk bisa menjaga kamu. Untuk bisa menjadikan kamu satu-satunya di hidupku Ren, kamu mau kan?"
Irena terkejut saat mendengar ucapan Dika, ini terlalu cepat dan dadakan. Mungkin ini memang rencana Ibunya dan Dika sebelum Irena pulang kerja.
"Maaf Dika, aku rasa ini terlalu cepat. Aku belum bisa menjawabnya saat ini juga. Maaf!"
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang, malam semakin larut. Besok kita juga harus bekerja" Irena menjawab sambil terlihat gugup.
Perkataan yang begitu panjang dengan jawaban yang belum pasti. Dan tentu saja bukan jawaban itu yang di inginkan oleh Dika.
Dika pun menyalakan mesin mobilnya dan bergegas untuk mengantar Irena pulang.
"Yasudahlah, mungkin memang butuh waktu bagi Irena untuk memikirkannya. Semoga yang aku terima nanti adalah jawaban yang sangat aku inginkan, you said YES!"
****
"Bu, Irena capek banget, mau langsung istirahat" keluh Irena menuju tempat tidurnya.
Ibu Irena, Hanum membuka pintu kamar Irena dengan lebar dan duduk di atas ranjangnya.
"Kamu sudah di lamar sama Dika ya?" tanya Hanum dengan kepo.
"Dari mana Ibu tau, berarti benar dugaan ku. Ini semua sudah rencana mereka, sudah kompak banget sepertinya mereka"
Irena berdecak. Pertanyaan sangat malas untuk dijawabnya, tapi kalau nggak dijawab sekarang pasti besok-besok mau gak mau harus tetap dijawab.
"Ibu benar-benar kompak banget ya sama Dika, ngedukung dia banget, pantang menyerah" sahut Irena sambil mengacungkan jempolnya.
Hanum tersenyum "iya dong, gimana? Kamu terima gak?"
__ADS_1
"E--nggak Bu" jawab Irena.
"Loh kenapa sayang? Bukannya kamu sudah berjanji sama Ibu tadi?"
Irena menghela napas "Gak secepat dan semudah itu loh Bu untuk mengatakan Yes, I Will! Ibu cukup doain Irena aja ya, sabar ada waktunya Bu".
Hanum pun ikut menghela napas juga "Jangan lama-lama dong mikirnya, keburu gak hot lagi jawabannya. Kasih Ibu kabar bahagia ya sayang"
Irena tertawa dan berdecak "Udah ahh Bu, Irena mau tidur dulu nih"
"Oke deh iya Ibu pergi" jawab Hanum sembari berjalan menutup pintu kamar Irena.
Dalam lamunannya saat hendak tidur, Irena kembali memikirkan ucapan Dika saat melamarnya didalam mobil tadi.
Saat mengantar pulang, Dika berpesan kalau besok ia dan keluarganya akan datang kerumah Irena untuk membahas perjodohan mereka. Sangat kebetulan sekali bertepatan dengan hari libur Irena cuti kerja.
"Ayah, apa ayah bahagia kalau jalan hidupku seperti ini? Kenapa ayah pergi begitu cepat sebelum angan-anganku bersama ayah bisa tercapai. Aku masih ingat ayah berjanji akan mendampingiku dan menjadi wali terbaikku saat aku menikah nanti. Sekarang siapa yang akan menjadi waliku yah?"
Tak sadarkan diri, Irena kembali meneteskan air matanya. Kantung matanya begitu terasa berat, karena hampir semalaman ini ia menangis.
Ia beranjak mengambil foto ayahnya yang ada dimeja samping ranjangnya. Ia menatap dan memeluk erat foto itu.
"Ayah, aku juga sangat ingin menikah. Tapi aku takut suatu saat harus kehilangan orang aku sayangi seperti aku kehilangan ayah. Aku juga takut dia yang aku anggap baik, ternyata suatu saat membuat aku kecewa seperti ayah yang mengecewakan aku. Sulit rasanya untuk ikhlas menerima kenyataan pahit ini yah, sepuluh tahun lebih Irena masih bisa merasakan kepedihan ini. Irena kangen Ayah. Ayah tolong hadir ya, dalam mimpi Irena walau hanya untuk malam ini saja untuk menenangkan hati dan jiwa ini"
__ADS_1