
Rudi sedang menatap wajah gadis di galeri foto handphonenya. Seorang gadis yang hadir dalam kehidupannya, tapi ia tidak bisa memilikinya, Rudi seperti kewalahan.
Rudi menatap kembali wajah Irena yang sangat dekat dengannya, "mau kamu suka atau enggak, boleh saya bertanya sekali lagi Ren?"
"Hemm, kenapa Pak tanya aja? Biasa juga bapak kalau bertanya gak pernah harus izin dulu ke saya kan, malah jutek banget kalau bicara HEHEHEE" sambung Irena.
"Tadi itu Dika yang dijodohkan sama kamu kan? Kenapa kamu menolaknya? Saya lihat dia cukup tampan ya walaupun gak setampan saya, milyarder muda, dia juga pemilik Coffee Shop didepan kantor kita loh, he's so perfect as a man!"
Mereka lama terdiam, tiba-tiba terdengar suara kekehan kecil dari mulut Irena.
"Bagaimana Bapak bisa tau semua tentang dia? Jangan-jangan bapak yang suka sama dia ya HAHAHAHAA"
Loh , kok Irena malah terkekeh ya?
"Kamu tertawa?" tanya Rudi.
Irena kembali terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Loh kok kita jadi bahas orang lain ya, kayaknya kita lagi di dunia pekerjaan deh, udah ahh!"
"Sebenarnya banyak banget pertanyaan yang pengen aku ajuin sama kamu, tapi aku takut kamu risih dengan semua itu"
Suasana diantara mereka begitu hening. Rudi terus menatap Irena. Sementara Irena sibuk dengan berkas-berkas yang ada dimeja kantornya untuk persiapan perjumpaan dengan customernya.
"Reenn ..." panggil Rudi.
"I--ya Pak"
"E--nggak ada, cuma mau manggil kamu aja" jawab Rudi.
Irena kembali menggelengkan kepalanya. Dalam hati bertanya kenapa dengan Rudi. Aneh banget.
******
Sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah. Ya itu Irena pulang kerja diantar Rudi. Ingin rasanya Rudi singgah sebentar, tapi tidak mungkin karna sudah mau Maghrib.
Saat membuka pintu mobil, Irena melihat ada mobil di teras rumahnya. Mobil siapa ini pikirnya. "Apa Ibu membeli mobil baru?"
__ADS_1
Saat hendak masuk kedalam rumah, Irena dikejutkan dengan keberadaan Dika di sofa ruang tamu tengah duduk bersama dengan Ibunya.
Irena menggerutu dalam hatinya. Kenapa sih Ren? Kenapa Dika disini? Mau apa lagi sih, apa belum cukup jelas penolakan yang sudah aku lakukan padanya?
"Irena ..." panggil Dika.
Irena tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya aku mau beres-beres dulu, kamu lanjutin aja ngobrol sama Ibu dulu. Capek banget soalnya" ucap Irena.
Rudi menunggu Irena sebentar, katanya sih sebentar. Tapi Irena memang wanita yang kejam, bukan sebentar tapi satu jam lebih ia menunggu, hingga habis sholat Maghrib pun, Irena belum juga keluar dari kamarnya.
Ibu memanggil Irena, "Ren, kamu sudah selesai beres-beres? Kasihan dong Dika nungguin kamu dibawah. Jangan gitu dong, gak sopan loh.
"Masa bodoh!" gerutu Irena.
Ia terpaksa membuka pintu kamarnya dan mulai berbincang dengan Ibunya "Bu, Irena kan sudah menolak perjodohan ini. Kenapa Dika malah datang lagi. Ngeyel banget sih jadi cowok"
Ibu tersenyum melihat tingkah anaknya itu sembari berkata "Ren, Dika itu kesini mau mengobrol dengan kamu. Mungkin ada sesuatu hal penting yang ingin dia katakan sama kamu. Tolong beri dia kesempatan Ren, Ibu mintak tolong sama kamu. Dia baik dan juga dari keluarga baik-baik, Ibu juga udah kenal lama dengan keluarga mereka. Apalagi yang membuat kamu ragu, tolong Ibu nak. Jangan buat Ibu putus asa kalau sampai perjodohan kali ini gagal"
"Demi Ibu Ren, buat Ibu bahagia sekali ini saja. Janji sama Ibu" pinta Ibu Irena sembari memegang erat kedua tangan Irena.
"Kebahagiaan Ibu tapi tidak dengan kebahagiaan ku Bu, Ibu terlalu berharap berlebihan padaku. Apa aku harus menerima perjodohan ini? Bagaimana dengan Rudi? Hari demi hari aku lalui dengannya, dan aku akui aku mulai menyukainya juga. Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang?"
kegalauan mulai menghampiri pikiran Irena.
"Ayo nak, pergi temui Dika. Dia sudah menunggu kamu dibawah dari tadi"
"Ibu duluan saja, nanti aku nyusul. Ajak Dika makan malam bersama kita juga Bu, dia pasti belum makan malam" kata Irena.
"Baiklah kalau begitu" ibu turun kebawah mengajak Dika untuk makan malam.
Dika sudah menolaknya, tapi Ibu memberitahu bahwa Irena lah yang menyuruhnya untuk ikut makan malam bersama dengan mereka.
Dika menyetujuinya. Terdengar suara hentakan sendal melangkah di tangga, itu Irena datang menuju meja makan. Dika terus menatap kedatangan Irena.
Suasana begitu hening. Kila menoleh kearah Dika dan menghela napasnya.
__ADS_1
"Ayok dimakan, anggap saja dirumah sendiri. Apa yang ada dimakan aja, jangan khawatir gak minta bayaran kok sehabis makan nanti"
Seketika semua terkekeh dengan candaan Irena.
"I--ya, Ren" ucap Dika.
Sehabis makan malam, Irena beranjak dari duduknya dan kembali ke kamar. Ia ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Ia turun kembali kebawah dan mengajak Dika pergi untuk mengobrol diluar saja agar suasana lebih tenang.
Irena pamit kepada Ibu dan adiknya , begitu juga dengan Dika. Dengan sopan ia meminta izin keluar membawa Irena sebentar.
Saat mobil berjalan, suasana begitu hening, tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka selama diperjalanan. "Kamu cantik Ren" puji Dika tiba-tiba.
"Basi banget sih ini orang!" gerutu Irena dalam hatinya.
"Yah, aku kan cewek pasti cantik, gak mungkin ganteng, saingan dong kita" celetuk Irena kesal.
"Setiap orang pasti pernah mengalami sakit hati dan kecewa karna kehilangan. Nggak mudah bagi aku untuk bercerita ke siapapun Dik, bahkan teman terdekat ku sekalipun"
"Mimpi-mimpi masa kecil yang seharusnya bisa aku nikmati bersama ayahku, harus ku lepas bahkan belum sempat untuk ku raih"
Irena mulai menaikkan suaranya dengan nada tinggi.
"Aku gak habis pikir, apa yang membuat kamu yakin dengan aku. Aku hanya seorang gadis biasa loh, nothing special from me!"
"Please, hentikan perjodohan ini. Kamu hanya akan menyesal karena hidup bersamaku. Gak ada rasa cinta sedikitpun untuk kamu"
Irena duduk menghadap ke arah Dika, ia akan bercerita perihal masa lalunya, sepuluh tahun lebih ia menyembunyikan masa lalunya yang terpendam itu, dan akhirnya ia akan menceritakannya kepada Dika.
"Tolong pergi dan lupakan aku Dika, kamu pasti sudah tau kan cerita orang-orang tentang Ayahku. Berita di koran bahkan di televisi. Ya itu benar Dika, yang mereka semua katakan benar, ayahku memang seorang mafia narkoba, ia menjadi buronan sampai keluar negeri sana. Karna itu, aku tidak pantas berada di sampingmu, apalagi jadi bagian dari keluarga terpandang seperti kalian. Kalian pasti akan malu, jadi tolong lupakan aku Dika!"
Irena menangis tersedu-sedu sembari menghapus air mata yang terus membasahi kedua pipinya.
Dika menggenggam kedua tangan Irena, sembari berkata "apapun itu masa lalu yang kamu alami, aku tidak peduli Ren, aku juga sudah mengetahuinya sedari dulu, tapi itu bukan hal penting yang bisa membuat aku pergi dan melupakan kamu semudah itu. Kamu tetap Irenaku, Irena yang baik hati yang sangat aku sayangi"
"Bahkan ia sudah tau semua tentang aku dan keluarganya. Tapi kamu tidak tau apa yang sangat aku sesali saat kematian ayahku kan? Nobody knows!"
Gumam Irena dalam hatinya, ia ingin melanjutkan ceritanya, tapi mulutnya sudah gak mampu untuk berbicara lagi, dadanya begitu sesak saat ini.
__ADS_1