Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 118


__ADS_3

Rebecca sudah tidak bisa menunggu, ia mendatangi ke rumah Dika untuk mencari bantuan. Tepat sekali hanya ada Dika dirumah.


"Aku sedang pusing, tolong pergilah." Dika langsung mengusir Rebecca begitu melihatnya.


"Mas, aku benar-benar butuh uang sekarang. Jhonatan sudah lima bulan menunggak cicilan apartemen ku. Sampai saat ini, dia nggak bisa dihubungi. Pemiliknya memintaku untuk melunasi semuanya dalam waktu satu minggu ini." Rebecca yang belum mengerti posisi Dika saat ini, berusaha untuk menemukan jalan lewat Dika.


Dika yang sedang banyak pikiran pun, mendadak emosi setelah mendengar tuntutan Rebecca, "Memangnya apa urusanku dengan semua itu?! Apa aku yang menyuruhmu membeli properti disana?" Emosinya.


"Kamu lupa seberapa sering dulunya kamu datang menemui ku? Tempat itu membantu kita bersembunyi selama ini dari istrimu. Sudah jelas itu menjadi tanggung jawabku juga!"


"Memangnya siapa yang lebih dulu merayuku?!"


"Mas, kamu menghamili aku disaat kalian kehilangan anak dalam rahim Irena! Tapi aku lebih memilih diam dan membiarkan mu sibuk mengurusi istrimu yang seperti patung tidak bisa bicara bahkan gak bisa memberikan pelayanan terbaik untukmu di ranjang disaat kamu membutuhkan. Aku rela menggugurkan kandunganku agar rumah tangga kalian baik-baik saja."


"Apa sekarang aku harus memberitahu istrimu tentang kita?"


"Jangan pernah kau lakukan itu atau aku akan membunuhmu, Becc." Mata Dika berkilat penuh dengan emosi.


"Kalau begitu beri aku uang." Rebecca menantang.


"Uang?" Dika tertawa, lalu mendekati Rebecca, "Kamu mau uang?"


Rebecca tidak menjawabnya, karna itu sepertinya bukan seperti pertanyaan.


"Kalau kau mau uang, kenapa tidak meminta saja kepada suami mu. Kalau tidak, pergilah melacur. Jual dirimu pada pria hidung belang lainnya."


"PLAK!"


Tamparan mendarat di wajah Dika. Dirinya menjadi kian emosi, mencekik Rebecca dan mendorong wanita itu ke tembok. "Kamu berani memukulku wanita ******?!" Bentaknya.


Wajah Rebecca membiru, kesulitan bernafas. Ia kesulitan melepaskan tangan Dika dari lehernya.


"Aku menyesal terperdaya oleh wanita sepertimu. Seharusnya aku tidak mengkhianati Rebecca." Kesalnya.


Tiba-tiba ...

__ADS_1


"Hentikan! Kamu bisa membunuhnya." Terdengar suara Jhonatan.


Jhonatan dengan cepat melepaskan tangan Dika. Rebecca terkejut dengan kehadiran suaminya yang ada disana.


"K-kamu mendengar semuanya?" Tanyanya panik dengan terbatuk-batuk sekaligus pucat ketakutan.


Jhonatan tidak menjawab. Dia melangkah mendekati keduanya bersama dengan Irena yang menyusul dari belakang.


Ada yang berbeda dari penampilan Irena saat ini, wanita itu benar-benar terlihat cantik, berjalan dengan anggun.


"Irena, sayang ... kamu dari mana?" Dika terpesona dengan penampilan baru Irena. Selama ini dibilang Irena selalu berpenampilan sederhana, sehingga alasan itulah yang terkadang membuat Dika bosan sehingga menyeleweng.


"Rebecca, kamu meneleponku berkali-kali ada apa?" Tanya Jhonatan.


Rebecca berlari ke arah Jhonatan. "Mas, aku didatangi oleh pemilik apartemen. Dia bilang cicilan ku sudah menunggak selama lima bulan. Aku nggak percaya, Mas. Pasti ada kesalahan kan?" Tanyanya nggak tau malu.


Jhonatan tersenyum tipis begitu juga dengan Irena, "Aku memang sudah berhenti membayar cicilan mu. Bukan hanya apartemen saja, begitu juga dengan mobilmu."


Mata Rebecca terbelalak lebar, "K-kenapa, Mas? Bukannya kamu sudah berjanji akan membantuku selama kita menikah?" Rebecca mulai terlihat cemas.


Rebecca mengerutkan dahi, "Merusak rumah tangga orang lain dan rumah tangga kita, itu adalah pekerjaan yang sangat hebat."


Rebecca dan Dika sama-sama terkejut.


Dika langsung memegang tangan Irena, "Sayang, kalian pasti tadi mendengar semuanya kan? Dia yang menggoda aku. Saat kamu lagi bersedih disaat anak kita meninggal, dia selalu saja merayu aku."


"Kenapa kamu menyalahkan aku, Mas?! Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan hamil." Teriak Rebecca marah.


"Diam kau pelacur!" Bentak Dika lebih keras. Dia menunjuk Rebecca sebagai peringatan.


"HAMIL?" Jhonatan semakin menggeram, tapi ia harus menahan emosinya saat ini, biar bagaimana pun Rebecca masih istrinya.


"Jaga bicara Anda tentang istri saya! Anda lebih hina, laki-laki bajingan!" Bentak Jhonatan.


Irena menarik tangannya dari Dika, dan tertawa dengan anggun. "Hei, kenapa kalian bertengkar? Bukankah selama ini kalian begitu kompak bermain dibelakang kami?" Sindirnya.

__ADS_1


Rebecca memanggil Jhonatan dan Dika memanggil Irena secara bersamaan.


"Jho ..." Panggil Rebecca.


"Ren ..." Panggil Dika.


"Sudah cukup, Becc. Aku muak dengan apa yang kamu lakukan dibelakang ku selama tidak ada dirumah." Jelas Jhonatan.


"Ya, aku juga sama. Sudah muak dengan kalian berdua. Selama ini kalian pikir kami nggak tau apa yang sudah kalian lakukan dibelakang? Kami tau setiap detailnya dan apa saja yang sudah kalian perbuat." Desis Irena dengan wajah yang dingin dan menatap tajam keduanya.


"Sayang, tolong dengarkan aku dulu. Kita bicarakan semua ini baik-baik." Lirih Rebecca.


"Nggak ada yang harus dibicarakan lagi, Becc. Aku sudah mendaftar surat perceraian kita." Singkat Jhonatan, tanpa berkata panjang. Karna dia nggak ingin emosinya semakin meluap. Bahkan kedua tangannya yang sedari tadi ingin melayang ke wajah Dika, masih mengepal kuat. Mengingat Bryan sudah memperingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak semua rencana mereka selama ini.


"Aku juga sudah mendaftar perceraian kita ke pengadilan, Mas. Mungkin besok kamu akan menerima surat panggilan untuk sidang pertama kita."


Dika menggeleng, "Nggak ... Aku nggak mau bercerai sama kamu. Ini bukan hanya kesalahanku, dia yang lebih dulu merayuku. Ren, tolong beri Mas kesempatan." Tanpa memperdulikan harga dirinya, Dika berlutut dan memeluk kaki Irena, sama seperti hal yang dilakukan Rebecca pada Jhonatan saat ini.


Rebecca berlutut, hidupnya berada ditangan Jhonatan saat ini. "Maafkan aku, Mas. Aku memang istri yang buruk. Tapi aku benar-benar menyesal. Aku khilaf, aku sudah dibutakan oleh keserakahan dan obsesi sampai melupakan kebaikanmu." Kedua tangannya di satukan.


Tak ada jawaban sepatah kata pun yang keluar dari mulut Jhonatan.


Irena merasa sesak, "Kalian ingin meminta maaf?" Tanyanya yang ingin sekali tertawa.


"Setelah apa yang kalian lakukan dibelakang kami, sekarang menurut kalian kami harus memaafkannya begitu saja?!" Bentak Irena.


.


.


.


Semakin seru kan?


Nah pantengin terus cerita selanjutnya ya, tapi kalian harus jadikan favorite dulu karya Othor ini, biar gak ketinggalan hehehe...

__ADS_1


See you Next, Readers 🤗


__ADS_2