
*semakin banyak Like, semakin banyak vote, semakin banyak komen, semakin sering ufdet*
Happy Reading 💙
******
"Kamu tidak bisa menjawab Mas?" tanya Irena hampir menangis.
Suasana menjadi begitu hening, semua sibuk dengan pemikiran masing-masing menduga-duga jawaban apa yang akan Dika berikan.
"Kamu pasti memilihku kan, Mas. Kamu pasti lebih mencintaiku dari pada wanita ini. Semua kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan saat bersamanya." ujar Rebecca dengan menatap sinis ke arah Irena.
"A-ku aku belum bisa memutuskan." jawab Dika lirih.
"Dan aku yakin kamu pasti lebih memilihku, Mas" sambung Rebecca dengan yakin.
"Apa benar Mas? Tapi tolong beritahu apa kekuranganku? Aku akan perbaiki." tanya Irena dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tinggalkan Rebecca, kita pergi dari kota ini dan mengulang semuanya dari awal lagi. Kamu mau kan?" tanya Irena lagi dengan lembut kearah suaminya.
Rebecca yang mendengar perkataan Irena yang mencoba membujuk Dika, kini mengepalkan tangan menahan emosinya.
__ADS_1
Dika masih saja tetap menunduk, menghela nafas kasar. Ia sangat frustasi, menggeram mengacak rambutnya.
"Aku tidak bisa." jawab Dika sendu tanpa menatap Irena.
Seketika Irena lemas mendengar jawaban suaminya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia sudah mampu memberi kesempatan pada Dika, namun Dika menolaknya. Sementara Rebecca tersenyum bernafas lega mendengar jawaban Dika.
"Untuk kali ini aku memang bodoh. Karna berpikir kamu akan menerima kesempatan yang akan aku berikan." ucap Irena dengan air mata yang mengalir di wajah sendunya.
"Aku minta maaf Ren, mungkin aku sudah menyakitimu." ucap Dika menyesal.
"Bukan mungkin, tapi nyatanya kamu benar-benar sudah menyakitiku."
Irena langsung melepaskan cincin pernikahan mereka dan memberikannya kepada Dika.
"Aku tunggu surat cerai darimu, Mas. Aku gak ingin melihat kamu lagi di hidupku. Jangan pernah temui aku lagi karna aku tidak mengenal dirimu, bagiku kamu orang asing."
Sejak kepergian Irena, Dika dan Rebecca masih saling berdiam diri. Entah kenapa Dika mulai ragu dengan keputusannya. Hatinya merasa sakit saat Irena melepaskan cincin pernikahan mereka. Apakah ini rasa penyesalan yang dikatakan Irena.
Dika berniat hendak mengejar kepergian Irena, tapi sepasang tangan menggenggam erat lengannya, "Kamu mau kemana?"
Rebecca menatap Dika aneh, "Kamu pikir Irena akan memaafkanmu kalau kamu sekarang berbalik mengejarnya. Kamu sendiri kan yang sudah menolak kesempatan yang ia berikan padamu."
__ADS_1
"Maafkan aku, Rebecca. Aku tidak bisa denganmu."
Entah kenapa ia mencerna jelas apa yang dikatakan Rebecca hingga akhirnya ia urungkan niatnya untuk mengejar istrinya.
"Arrggghh ..." teriak Dika keras sembari menghempas kasar tangan Rebecca.
Ia terduduk kembali, terdiam gak habis pikir dengan apa yang ia lakukan terhadap sang istri. Menggeram memandang sinis sekilas ke arah Rebecca kemudian beranjak pergi tanpa sepatah katapun.
Everything has ended! Kini pernikahan mereka akan berakhir karna kebodohan Dika sendiri. Saat ia diberikan kesempatan ia malah melepaskannya. Selanjutnya bagaimana ia harus menjelaskan semuanya kepada Ibunya, apalagi Ibu mertuanya.
"Cinta itu sulit dimengerti. Mempunyai awal yang tak disangka dan akhir yang tak pernah terpikirkan. Aku bisa berjuang selama kamu menginginkannya. Luka ini akan sembuh seiring dengan kebahagiaan yang hadir. Tapi jika takdir berkata kita tak bisa lagi bersama, aku berharap digariskan pada takdir yang lebih indah."
.
.
.
*Hikss .. Hikss .. Hikss ..
Othor ikut berbela sungkawa atas kesedihan Irena ya, Ren. Sini Othor peluk, Ren. Sini .. sini ... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1