Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 113


__ADS_3

Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa akan lebih baik kalau kita berdua dulu. Bermesraan setiap hari, tanpa adanya pihak ketiga." Irena membelai wajah Dika, tapi matanya mengarah pada Rebecca.


"Pihak ketiga?" Wajah Dika mulai cemas.


"Ya, pihak ketiga. Anak kita." Jawab Irena.


"Oh, hahaha kamu benar." Barulah wajah Dika dan Rebecca menjadi lebih rileks.


"Mas, kita udah lama nggak bercinta." Bisik Irena ke telinga Dika sembari menciuminya.


"Sayang ..." Dika sedikit menolak.


"Hemmm ..." Irena hanya bergumam dan terus memberi rangsangan. Dielusnya milik Dika agar segera bernafsu.


Rebecca mulai terpancing, sepertinya ia terlihat marah. "Ehemm, sebaiknya aku pulang aja deh. Jhonatan sepertinya sudah menungguku dirumah." Rebecca pun tau diri dan segera pergi.


"Baiklah, hati-hati. Kamu bisa pulang sendiri kan, Becc? Atau mau diantar sama suamiku?" Sindir Irena.


"Oh, nggak usah, Ren. Aku bisa sendiri. Taxi ku sudah menunggu diluar." Jawabnya sembari pergi meninggalkan mereka.


Irena terus saja melanjutkan godaannya, siapa tau Rebecca masih diarea rumahnya dan sedang mengintip kebersamaan mereka. Itu jauh lebih bagus.


"Sayang, nanti ada orang." Dika berusaha menolak, tapi pancingan Irena mulai membangkitkan gairahnya.


"Kamu udah nggak mau menyentuhku lagi, Mas?" Irena merajuk dengan nada bicara manja.


"Tentu aku mau." Dika ******* bibir Irena dengan rakus.

__ADS_1


Dika terangsang, Irena bisa merasakan itu dari ketegangan milik Dika didalam sana yang ia genggam. Dibalasnya ciuman sang suami pengkhianat dengan rasa jijik dan mulai merasakan dada yang sedang diraba-raba.


"Astagaa ... Aku lupa!" Irena tiba-tiba memekik, membuat Dika melepaskan ciuman mereka.


"Apa?" Dika terkejut.


"Aku sedang menstruasi, Mas." Irena berpura-pura memasang wajah penuh penyesalan.


"Ayolah, sayang. Kamu jangan bercanda. Bukannya tadi kamu yang memulai duluan untuk mengajakku bercinta dan sekarang kamu bisa lihat sendiri aku sedang turn on." Dika mulai kesal.


"Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar lupa." Irena memelas.


Dika mulai terlihat gusar. Pria yang sedang tegang dan tidak dapat menyalurkan, tentu akan memiliki wajah yang kusut sepertinya.


"Perutku rasanya sudah lapar. Kita makan yuk. Setelah itu baru kita tidur." Irena turun dari pangkuan Dika dan berjalan menuju meja makan memegang tangan Dika untuk mengikutinya.


Dika menggaruk kepalanya dengan kasar. "Baiklah, kamu duluan saja. Aku mau ke kamar mandi dulu." Ucapnya sembari menaikkan resleting.


*****


"Sayang, kamu tidurlah. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan untuk bahan meeting besok. Aku nggak ingin kamu terganggu. Aku keluar dulu ya." Ucap Dika saat Irena naik ke tempat tidur.


"Iya sayang, jangan terlalu malam kamu tidurnya ya. Aku kesepian gak ada kamu dikamar ini saat tidur." Pinta Irena.


Irena berpura-pura tidur saat Dika keluar dari kamar. Begitu pintu ditutup dari luar, dia pun bangun. Diam-diam mengintip dari lubang kunci. Dika sudah tidak ada. Dia pun sangat hati-hati saat membuka pintu untuk melihat apa yang sedang dilakukan Dika.


Dari lantai dua itu, Irena melihat Rebecca dan Dika masuk kedalam ruangan kerja.

__ADS_1


"Bisa-bisanya kalian melakukan ini didalam rumah disaat aku ada! Pasti mereka sedang ..."


Ucapan Irena terhenti karna ponsel yang ada ditangannya bergetar. Dari Bryan.


"Hai, pasti kamu sedang sibuk menguntit pasangan berselingkuh itu ya. Serius amat. Awas nanti gak bisa tidur loh. Setelah itu nangis deh." Canda Bryan.


Irena kembali masuk kedalam kamar. "Apaan sih kamu? Biasa aja kali. Aku sudah sedikit membalas mereka, aku rasa itu sudah mengobati rasa sakit ku."


"Kamu nggak akan pernah tau apa yang akan dilakukan seorang Shirena Indira kedepannya nanti. Jadi tunggu saja." Ucap Irena penuh dengan keyakinan.


"What? Kamu nggak berniat untuk membunuh mereka disana kan? Jangan buat aku takut, Ren."


"Ya enggak lah. Udah gila kali aku sampai segitunya. Udah kamu tenang aja, kita akan bermain cantik agar balasan yang mereka dapatkan setimpal, Bryan." Jawabnya.


"Hem, baiklah. We'll see. Kamu harus tetap hati-hati." Kata Bryan terus menutup teleponnya.


Walaupun memikirkan mereka dibawah sana membuatnya kembali resah dan rasa sesak menyergap dadanya, ia akan terus berjuang untuk tetap terlihat tegar. Ia hanya menyakinkan diri bahwa akan selalu ada orang untuk mendukungnya.


"Matahari tak akan pernah lupa kapan ia harus terbit, seperti aku ... tatkala mengingat kesalahanmu."


"Ketika semua cinta yang pernah ku beri tanpa arti, biarkan saja rasa itu mati. Tuhan, tunjukkan padaku. Dimana aku bisa tersenyum ..."


.


.


.

__ADS_1


Haloo, Readers 💙


See you next ....


__ADS_2