
"Ren ..." Bryan melambaikan tangannya dihadapan Irena. Membuyarkan lamunan wanita itu yang sedang merenung dan berpikir, akan maju atau mundur.
Jika ia mundur, bukan hanya Bryan yang akan tersakiti tapi kedua orang tua Bryan juga. Dirinya nggak mungkin mengecewakan orang-orang yang sudah menerima apa adanya dirinya.
"Bryan, semoga kamu memang yang terbaik untukku." Lirihnya mengucapkan pada Bryan, sembari memeluk erat tubuh pria itu.
*****
"Apa semuanya nggak terlalu cepat untuk kalian, Nak? Ibu bukannya tidak menyetujui hubungan kalian. Coba kalian pikirkan lagi." Ucap Ibu Irena ketika mereka menceritakan tentang lamaran Bryan hari ini.
"Ibu hanya tidak ingin kamu hancur untuk kedua kalinya. Tapi kalau memang kalian sudah yakin, apapun itu keputusan kalian Ibu tetap mendukung asalkan itu yang terbaik."
"Saya sudah pernah kehilangan Irena Bu. Disaat ada kesempatan seperti ini, saya nggak akan menyia-nyiakannya lagi. Saya akan selalu berusaha memperjuangkan masa depan kami, nggak akan pernah membiarkan Irena terjatuh dua kali seperti masa lalunya." Ucap Bryan penuh keyakinan, tapi Irena sangat tau saat ini wajah gusar dan gelisah yang ditunjukan Bryan.
Tanpa sadar air mata membasahi pipi Irena melihat kesungguhan Bryan.
"Apa kalian sudah memberitahu rencana pernikahan kalian pada kedua orang tua, Bryan?" Tanya Ibu Irena lagi.
"Mereka sudah tau, dan mereka sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Dan sekarang hanya tinggal menentukan kapan tanggalnya saja." Jawab Bryan.
"Baiklah, Ibu serahkan semuanya pada kalian. Ibu percaya sama kamu, Bryan. Jaga Irena dengan sebaik-baiknya." Tangisan bahagia seorang Ibu pecah disaat harus melepaskan anaknya lagi kepada pria lain.
******
"Kalau begitu, besok kita urus segala surat-surat dan keperluan untuk ke KUA. Karna aku sih ingin lebih cepat. Yah, kalau bisa secepatnya." Lirik Bryan pada Irena saat duduk di teras rumah.
Pembicaraan dengan keluarga Irena telah selesai. Wajah bahagia Bryan masih jelas terlihat. Irena memperlihatkan senyum manisnya melihat wajah bahagia itu.
Suara gaduh terdengar, mengagetkan dua insan yang sedang berbahagia. Irena berjalan ke arah pagar depan rumahnya.
"Ada apa sih, Dek? Bikin keributan aja deh!"
"Nih, mantan selingkuhan suami kakak yang nggak tau diri masih aja datang bertamu kerumah kita. Dasar wanita psycho!" Kesal Kania menahan amarah.
Irena melihat keluar, tepat di samping pagar Rebecca sedang berdiri dengan wajah kusut dan pakaian lusuh.
"Ngapain kamu kesini, Becc?" Tanya Irena heran.
__ADS_1
"Siapa sayang?" Bryan menyusul.
"Ren, maafkan atas semua kesalahanku. Aku benar-benar menyesal. Tolong bantu aku, Ren. Aku nggak tau harus kemana. Kamu tau sendiri aku tidak punya siapa-siapa lagi disini. Jangankan orang tua, keluarga ku sendiri pun aku nggak tau mereka ada dimana." Rebecca berlutut memegang kaki Irena.
"What!! Minta maaf, kemarin-kemarin kemana aja. Baru sekarang menyesalnya." Ucap Kania sinis.
Irena menghela nafas kasar, ia tak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi. Jangan sampai hatinya luluh melihat keadaan Rebecca yang benar-benar sangat memprihatinkan.
"Maaf, Becc. Aku juga nggak tau harus menolong kamu bagaimana. Tolong pergi dan jangan kembali." Irena pergi kedalam untuk mengambil sesuatu.
"Nah ini, ini ada uang buat keperluan kamu. Aku harap ini bisa membantu kamu. Dan aku mohon jangan pernah lagi datang kesini."
"Kenapa Ren? Apa kita tidak bisa lagi untuk berteman? Aku sadar aku salah, Ren. Aku mohon maafkan aku." Lirihnya.
"Sudah ayo kita masuk saja." Bryan menarik tangan Kania dan Irena untuk masuk kedalam kemudian dia balik lagi untuk menemui Rebecca.
"Dan ini ... Aku ada sedikit tambahan buat kamu. Aku mohon jangan pernah ganggu hidup kami lagi. Aku rasa kamu sudah cukup puas bisa menghancurkan hidup wanita yang sangat aku cintai. Jadi tolong, pergilah!" Ketus Bryan.
*****
"Hem, gak nyangka seorang Andika Mahesa bisa berada ditempat seperti ini ya. Tapi kalau dilihat-lihat cocok juga sih." Kekeh Rebecca.
"O-iya, jangan kege-eran kamu, Mas. Aku kesini cuma mau kasih tau, kalau wanita pujaan hatimu itu sebentar lagi akan menikah dengan pria lain. Dan kamu pasti tau siapa pria itu." Rebecca mencoba memprovokasi Dika tentang Irena.
Rebecca tetaplah Rebecca, seorang wanita psycho yang gak akan pernah puas sebelum hidup Irena benar-benar hancur. Tapi dengan pernikahan Irena yang sebentar lagi akan dilaksanakan, membuat dirinya berputar otak bagaimana cara untuk menggagalkannya.
"Maksud kamu, Irena akan menikah dengan Bryan?" Ucap Dika lesu.
"Yes, tentu saja. Siapa lagi menurut kamu selain pria itu, emang ada yang lain?" Jawabnya.
"Brengsek!! Seharusnya aku menyadari kedekatan hubungan mereka sedari dulu. Mereka berani-beraninya menipuku, nggak taunya mereka juga bermain dibelakang ku selama ini." Kesal Dika.
"Baiklah, aku pergi sekarang." Rebecca meninggalkan Dika dengan kekesalannya, tapi saat hendak melangkahkan kaki, ia berhenti.
"Tapi perlu kamu ketahui, Becc. Selama akad belum terucap, aku masih ada waktu untuk merebut Irena dari pria sialan itu! Mereka akan melihat apa yang bisa aku lakukan nanti."
Rebecca semakin tersenyum senang melihat kemarahan Dika yang berhasil ia manfaatkan, lalu berjalan pergi meninggalkan Dika.
__ADS_1
*******
"Sudah pergi tuh manusia gak tau malu, bang?" Tanya Kania pada Bryan, membuat Irena melirik kearahnya.
"Kamu bisa lihat sendiri kan, Dek?" Jawab Irena.
"Loh, kenapa jadi kakak yang emosi sama Kania? Hem, masih dibelain aja tuh wanita. Udah buat hidup kakak hancur padahal."
"Duhh .... Jadi emosi jiwa dan ragaku." Kania masih saja merepet melampiaskan kekesalannya, sembari berjalan masuk ke kamarnya.
Bryan mendekati Irena mencoba menenangkannya. Saat dirinya hendak mulai bicara, Irena langsung mengatakan, "Setiap manusia pasti punya kesalahan, Bryan. Bukan berarti kita berhak menghakimi mereka. Aku bukannya membela Rebecca, tapi aku hanya mengingatkan kalian untuk tidak terus berprasangka buruk dengan orang lain."
"Kamu mengerti maksudku kan, Bryan?" Irena kembali menegaskan.
"Iya, sayang. Pria ini sangat mengerti." Tangan pria itu menggenggam kedua tangan Irena, kemudian mereka berpelukan.
"Aku tidak salah memilihmu menjadi istriku, wanita baik dan tulus seperti kamu. Aku sangat beruntung, sayang." Sambungnya.
*****
Di samping tembok dibalik jeruji besi penjara, seorang pria tengah duduk bersandar gelisah dengan pikirannya. Tawa dan senyum seorang wanita mengusiknya, hingga akhirnya tersadar saat memikirkan seorang pria mendampingi wanita itu.
Lalu mengusap wajah dengan kesal, setelah mengingat perkataan Rebecca yang juga terus terngiang-ngiang ditelinga.
"Ya Tuhan, apa ini balasan atas perbuatan ku pada wanita baik dan tulus seperti Irena?" Gumamnya.
Dika masih saja berkutat dengan pemikirannya sendiri, wajah frutasi dan emosi tampak terlihat jelas. "Beri Mas kesempatan lagi, Ren. Mas nggak akan menyia-nyiakan kamu." Dia luapkan kekesalannya dengan mengepalkan kedua tangan lalu melayangkan sebuah tinju ke dinding tembok penjara yang ada dibelakangnya.
"Hei, kau sudah tidak waras. Apa yang ada di otakmu? Kalau mau mati jangan disini, nyusahin orang aja nanti." Ucap salah satu pria berbadan kekar emosi, yang berada didalam satu sel penjara dengan Dika.
.
.
.
Sudah tak bersama lagi baru deh menyesal 😂
__ADS_1