
"PERGI KAU!!" Teriak Irena.
"Hehhh ... Wanita ini bisa-bisanya bertingkah kurang ajar dengan seseorang yang sedang bertamu."
"Pergi seb ...." Sebelum Irena melanjutkan ucapannya, Dika lebih dulu menyela. "Biarkan saja dia masuk, sayang."
"Ngapain sih kasih izin wanita ini masuk? Dia sudah merusak rumah tangga ku." Kesal Irena.
"Sayang, please ..." Dika menatap lembut istrinya.
"Terserah ..." Irena menatap kesal ke arah Rebecca kemudian menyingkir memberinya jalan masuk.
Irena melangkah menuju ruang tamu diikuti Rebecca dan Dika dibelakangnya.
Baru saja Irena mendudukkan dirinya di sofa, tiba-tiba Dika bersimpuh didekatnya. Irena yang reflek langsung berdiri.
"Apa yang kamu lakukan, Mas. Ayo berdiri." Irena memegang kedua lengan Dika membantunya berdiri, kemudian menuntunnya duduk disampingnya.
"Mas minta maaf, mungkin maaf saja gak cukup untuk menghapus luka yang sudah pernah mas torehkan." ucap Dika dengan wajah lesu menyesal.
"Kenapa Mas? Ada apa ini sebenarnya?" tanya Irena penasaran dengan ucapan suaminya, namun jantungnya berdetak begitu sangat kencang.
Dika menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya berat. Seperti ada beban berat dalam hidupnya.
"Mas akan menikahi Rebecca."
Mereka tidak ada masalah, tidak lagi bertengkar atau apapun itu. Pernyataan suaminya begitu kejam. Ada rasa amarah, kecewa dan terkhianati kembali.
"Ini salah mas, semua salah mas. Dia sudah hamil."
"Astaghfirullah." Irena tak sanggup lagi membendung air yang semakin banyak terkumpul di kelopak matanya. Tapi kali ini ia terlihat lebih kuat dan tegar. Bukankah sebelumnya ia sudah pernah merasakan kesakitan, tapi mungkin kali ini sakitnya lebih parah.
"Maafkan Mas, sayang. Maafkan Mas."
"Sudahlah Mas, jangan berbelit. Langsung saja katakan yang sebenarnya padanya." ucap Rebecca sinis.
"Mas Dika memang masih mencintaiku dan ia pasti masih membutuhkanku. Sudah ku katakan padamu dahulu, ia gak akan bisa lepas dariku apalagi menolakku. Apalagi dengan keadaanmu yang sampai saat ini belum juga bisa memberikannya anak. You see ... Dia akan segera menjadi milikku."
"Sudahlah, tinggalkan saja istri mandulmu itu."
__ADS_1
"Mandul? Apa maksudmu?"
"Oh ya ya ya ... Jadi kamu belum tau apa yang sebenarnya terjadi? Aku rasa keluargamu belum memberitahukan apa yang salah dengan dirimu."
"Apa yang sebenarnya terjadi Mas?" tanya Irena histeris.
"Rebecca sedang hamil anakku Ren. Hikss..Hikss...Hikss..." Dika menumpahkan air matanya yang tak mampu ia bendung lagi.
"Kamu yakin itu anakmu Mas? Bagaimana kamu begitu yakin kalau anak yang ada dikandungan Rebecca adalah anakmu?" tanya Irena tegas mengernyitkan dahinya.
"Apa lagi yang kalian lakukan dibelakangku setelah aku memberikan kesempatan padamu? Kamu mengulangi perselingkuhanmu, Mas?"
"Tidak sayang! Mas ..." ucapan Dika terhenti saat Rebecca memotong pembicaraannya.
"Biar aku yang jelaskan Nyonya Shirena Indira yang terhormat."
"Setelah suamimu berkata padamu bahwa ia telah meninggalkanku dan memilih untuk bersamamu, itu semua adalah bohong. Ya ... awalnya aku juga berpikir seperti mu, suamimu akan benar-benar melakukan itu. Tapi maaf, sepertinya aku sudah menjadi candu bagi Mas Dika, dia sudah ketagihan mungkin itu yang ia rasakan."
"Aku bingung apa kamu tidak bisa melayani suamimu dengan baik ya? Atau memberikan kepuasan padanya? Pantas saja kamu gak bisa memberikannya anak." jelas Rebecca.
"Cukup Rebecca!" teriak Dika marah.
Irena yang berusaha kuat menahan sakitnya, sudah mulai gak mampu menahannya lagi. Ia berdiri namun Dika menyentuh tangannya, seketika Irena langsung menepisnya kasar dan berlalu begitu saja.
"Kamu mau kemana Ren, tolong jangan pergi. Maafkan Mas." kata Dika dengan tangisannya.
Sekali lagi Dika membohonginya, dia merusak janji suci pernikahannya lagi. Dan sekarang ia ingin menikahi wanita lain, yang tengah hamil anaknya. Ia kembali menemui mereka setelah keluar dari kamar mengambil amplop putih berlogo rumah sakit. Mempercepat langkahnya dan menghapus sisa air mata.
Untuk beberapa detik hanya ada keheningan, Dika pun membuka isi amplop itu. Secarik kertas itu memperlihatkan hasil tes kesehatan antara dirinya dengan Irena yang tertulis jelas bahwa dirinya yang tidak sehat, bisa dikatakan mandul.
Dika yang seolah tak mempercayai semua itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu lihat sekarang? Siapa yang sebenarnya tidak sehat? Aku atau kamu? Kamu punya mata yang masih dengan jelas untuk melihat bukan?"
"Dan untuk anak yang ada di rahim milik Rebecca. Apa kamu masih yakin kalau itu anakmu?" tanya Irena penuh dengan amarah.
Dika menatap lekat ke arah Rebecca dengan penuh emosi mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya tangan itu melayang ke wajah Rebecca, tapi ia tak mungkin melakukan itu kepada seorang wanita. Sementara Rebecca terlihat sangat ketakutan karna kebohongannya akan kehamilannya.
"Sekarang aku minta kamu pergi dan jangan pernah menampakkan wajah mu dihadapan ku apalagi keluargaku. PERGI!!!!" teriak Dika.
__ADS_1
"Kamu akan menyesal melakukan ini padaku Dik. Dan kau!! Aku pastikan hidupmu akan lebih buruk dari sebelumnya." Ucap Rebecca sembari menyenggol tubuh Irena yang ada didepannya ketika hendak berjalan keluar rumah.
"Sebaiknya kamu cepat bertaubat. Sebelum hal buruk yang justru akan berbalik datang padamu." geram Irena.
Selang berapa lama Rebecca pergi, Irena lebih memilih untuk berdiam diri, duduk di pelataran balkon kamarnya. Ia butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan pikirannya. Entah apa yang harus ia lakukan pada suaminya yang masih saja terus menyakitinya, dengan berselingkuh kembali pada wanita itu.
Dika memberanikan diri untuk datang menemuinya, menatapnya dalam. Betapa ia merasa bersalah pada wanita satu-satunya yang ia cintai itu.
"Aku sadar posisiku saat ini. Ternyata kamu mengorbankan dirimu agar aku berpikir kalau kamu yang tidak sehat, tapi ternyata akulah pria yang mandul gak bisa memberikan keturunan untukmu. Kenapa kamu melakukan itu, Ren?"
" Yang pertama, aku hanya ingin menjaga pernikahan kita. Aku tak ingin ada pertengkaran tentang masalah anak. Aku mengerti semua orang pasti menginginkannya. Jadi saat kita ke dokter, aku meminta dokter untuk mengatakan pada kita saat itu juga kalau kita berdua sehat, tapi biarlah dia memberitahukan mu secara personal bahwa diriku lah yang mandul. Agar tak ada kecurigaan dan hati yang tersakiti."
"Yang kedua, setelah aku memberimu kesempatan lagi, aku mengira bahwa kamu gak akan pernah mengulang perselingkuhanmu dengan wanita itu ataupun wanita lain. Tapi ternyata aku salah, Mas! Kau ...."
"Hikss ...Hiksss... Hiksss ...." tangisan Irena pecah. Isakan tangisnya semakin kuat.
"Dan yang terakhir, aku jadi sadar suamiku gak akan berselingkuh jika aku istrinya bisa memberikan apa yang ia butuhkan, terutama kebutuhan biologisnya."
Setiap perkataan Irena bagai panah yang menghujam dadanya. Ia tak menyangka begitu kuat dan besar pengorbanan istrinya selama ini untuk rumah tangga yang mereka jalani.
"Maafkan Mas, sayang. Maafkan Mas." lagi dan lagi Dika meringkuk dilantai sembari memegang kaki istrinya.
"Ribuan maaf yang kamu katakan gak akan bisa mengobati rasa sakit ini, Mas."
"Pergilah menjauh dari ku untuk sementara waktu. Biarkan aku sendiri agar aku lebih tenang dan bisa berpikir jernih."
"Atau kamu mau aku saja yang pergi dari rumah ini, kerumah orang tua ku."
"Jangan sayang, jangan kesana. Tolong pikirkan lagi. Berikan kesempatan lagi untuk Mas. Maaf kan suamimu ini, sayang."
Irena hanya terdiam, tak ingin menolehkan matanya ke wajah suaminya. Bahkan disaat Dika pergi meninggalkannya pun, ia tak sedikitpun mengalihkan pandangannya. Tarikan napasnya saat berjalan terdengar masih begitu berat, Irena segera menutup pintu dan menguncinya. Tangisannya pun kini semakin kuat.
.
.
.
*Wahh! Selingkuh tiada akhir ini mah ceritanya, baru aja bahagia udah sedih lagi dedek Irenanya. Sini Othor peluk, Ren ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1