
Malam telah berganti pagi. Silau cahaya pagi membangunkan dirinya dari tidurnya yang lelap. Sedari malam ia terus berpikir apakah dirinya akan menceritakan semuanya kepada Ibunya. Dan keputusannya adalah iya. Dia harus berbagi cerita saat ini.
Ia bangkit dari tidurnya kemudian bergegas mandi setelah itu menuju meja makan untuk sarapan.
Setelah semua rutinitasnya selesai, ia melangkah menuju kamar Ibunya yang saat ini sedang merapikan pakaian yang ada di lemari.
"Tokkk ... Tokkk ... Tokkk ..."
"Bu ... Boleh Irena masuk?" tanya Irena.
"Silahkan sayang, memang ada yang ngelarang. Ibu yakin ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada Ibu" jawab Ibu Irena.
"Hemm .. sepertinya dugaan Ibu sangat meyakinkan sekali." ucap Irena.
"Yes, of course. Ibu sangat tau betul bagaimana anak Ibu." jawab Ibunya dengan penuh keyakinan yang sebenarnya sudah tau apa yang akan dikatakan anaknya nanti.
"Baiklah, sepertinya Ibu sudah tau semuanya. Dan sepertinya mertua ku sendiri yang sudah memberitahu Ibu kan." jelas Irena.
"Hemm .. Iya sayang Ibu sudah tau semuanya. Dan sekarang semua keputusan ada ditanganmu. Kamu yang menjalani kamu tau mana yang terbaik untuk hidupmu selanjutnya. Ibu akan mendukung apapun keputusanmu. Ibu hanya ingin meminta maaf padamu, kalau ternyata ... pilihan Ibu salah, sayang", ucap Ibu Irena lirih mengeluarkan buliran air mata yang tak bisa ia tahan keluar dari kedua matanya.
"Ibu yakin kamu mampu melewati semua ujian ini. Keep strong anak Ibu." ucap Ibunya memberi semangat sembari memeluk erat Irena.
"Baiklah Bu, sebelumnya Irena juga pernah merasakan sakit yang lebih parah dari ini. Hanya saja masalahnya berbeda. Jadi bagaimanapun sakitnya, hanya butuh waktu saja untuk menghilangkan rasa itu. Irena hanya tak ingin merasakan luka yang untuk kedua kalinya." batin Irena.
Sebelum ia pergi menemui Dika, ia ingin berkunjung ke suatu tempat terlebih dahulu.
__ADS_1
Satu tangkai mawar putih telah ia bawa, kakinya terus melewati gundukan tanah. Melangkah masuk lebih dalam dan akhirnya terhenti tepat didepan satu gundukan tanah, batu nisan bertuliskan Bayu Dermawan. Irena berjongkok dihadapan makam ayahnya.
Irena meletakkan bunga mawar setelah selesai membacakan doa. "Ayah, maaf Irena baru datang berkunjung lagi kesini."
"Yah, ayah akan tetap mendukung apapun keputusan Irena nanti kan?"
"Andai Ayah masih ada, pasti bakalan ada yang melindungi Irena saat berbagi cerita saat ini. Irena seperti sendirian sekarang ini, yah." Irena menghapus air matanya.
"Kalau saja mengakhiri hidup dihalalkan, pasti akan Iren lakukan untuk bisa bertemu ayah. Tapi Irena gak berpikir sebodoh itu. Ayah pasti akan memarahi Irena kalau sampai seperti itu. Ayah pasti lebih bahagia kalau Iren berhasil melewati ujian ini, ya kan?" Irena berkata lirih karna dadanya terasa begitu sesak.
"Ayah tenang saja disana, Iren pasti bakalan jadi wanita kuat. Ayah pasti bangga mempunya anak seperti Iren."
"Iren pulang dulu ya, Yah." Irena melangkah meninggalkan pemakaman.
Irena datang terlambat dua puluh menit dari waktu yang telah dijanjikan. Dika dan Rebecca yang sudah datang terlebih dahulu hanya saling diam.
"Kenapa gak hubungi aku aja, biar aku yang jemput." kata Dika dengan nada lembut.
Irena yang mendengarkan ucapan suaminya itu hanya memberikan senyuman atas jawabannya. Tampak Dika membenarkan duduknya, sementara Rebecca tampak cemberut.
Dengan sinis Rebecca berkata, "Langsung saja apa maksud kamu mengajak kami bertemu?"
"Baiklah .."
"Sejauh mana hubungan kalian selama ini di belakangku?"
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan lebih detail kepadamu, dan yang seperti kamu ketahui juga kami memiliki sebuah hubungan. Bukan hanya pacaran, tapi melainkan hubungan layaknya seorang suami istri!!" ucap Rebecca dengan lugas.
Rebecca terus berbicara dengan penuh percaya diri. "Aku harap secepatnya kamu menggugat cerai mas Dika biar kami bisa segera menikah, gak perlu sembunyi-sembunyi lagi dibelakangmu."
"Kenapa kamu bisa sebegitu percaya dirinya kalau aku akan menggugat cerai suamiku?"
"Arrghh .. Kamu!!" Rebecca geram atas apa yang Irena katakan.
"Aku hanya memberikan satu kesempatan padamu mas. Karna gak adil rasanya jika aku langsung meminta cerai tanpa memberimu kesempatan."
"Aku menikah denganmu karna aku menerima sepaket kekurangan dan kelebihanmu. Dan saat ini mungkin kamu sedang memperlihatkan kekuranganmu dengan berselingkuh, aku bisa menerimanya." papar Irena sembari tersenyum lembut menatap Dika.
Dika memandang istrinya dengan tatapan bersalah, kemudian menundukkan kepala begitu melihat wajah sendu sang istri.
"Aku ingin menanyakan satu hal padamu mas sebelum aku mengambil keputusan. Aku mohon kamu jawab dengan jujur."
Irena berbicara dengan suara lembut tapi terdengar tegas, "Siapa yang kamu inginkan tetap bertahan disisimu, Mas?"
.
.
.
*Hayoo ... Dika pilih yang mana? Istirnya atau si mbak mbak Rebecca itu? Entahlah, hati siapa yang tau. Galau Dika. Dika galauuu .....!!! HAHAHAA
__ADS_1
Sebelum Othor lanjut next partnya, mana nih Like Vote dan Komennya. Jangan keasyikkan baca jadi lupa ya 😘😘😘