
"Mas gak ingin kehilangan kamu, Ren. Karna itu ijinkan Mas untuk menjagamu, melindungimu. Mas tau seberapa bahayanya Rebecca kalau dia nekat. Mas gak mau kamu terluka." Ucap Dika saat Irena hendak pergi meninggalkannya.
Tangan kuat Dika memegang kedua tangan Irena, didorongnya tubuh Irena hingga bersandar di pintu kaca pembatas antara balkon dan kamar. Kedua tangan yang kini dipegang Dika, ia lekatkan ke kaca yang Irena sandari kemudian menekankan tubuhnya ke tubuh Irena. Wajahnya begitu sangat dekat hingga hembusan nafasnya sangat jelas terasa.
"Aku tau Mas! Tapi gak seharusnya kamu menyembunyikan apapun lagi dariku. Bukankah kamu sudah berjanji? Atau kamu lebih memilih untuk mengingkarinya?" tegas Irena.
Dika menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Mas menyewa beberapa orang untuk menyelidiki setiap gerak-gerik Rebecca. Dan benar, sore tadi itu memang Rebecca. Dia melihat kita! Kamu tau apa artinya itu? Kamu dalam bahaya besar. Orang-orang ku gak berhasil mendapatkan Rebecca. Entah besok atau lusa atau kapan pun itu, kamu dalam bahaya besar!"
Ia terdiam sejenak dan melanjutkan dengan ciumannya yang kasar tanpa melepas himpitannya. Amarahnya yang gak stabil seperti telah menguasai dirinya, tapi kenapa ia lampiaskan kepada istrinya dengan cara seperti ini pikir Irena.
Perlahan genggaman tangannya mulai mengendur, Irena melepaskan kedua tangannya dari genggaman itu. "Kamu menyakitiku, Mas! Pergilah!"
Bukannya pergi, ia malah bereaksi kembali. Ia memagut bibir Irena dengan liar hingga kini beralih dengan ciuman penuh perasaan. Menghisap seluruh jiwanya dan mengguncang seluruh raga Irena dengan keperkasaannya. Seolah malam ini merupakan malam terakhir Irena bersamanya.
*****
Irena membuka matanya perlahan. Sinar matahari pagi yang masuk ke matanya membuat matanya perih untuk sesaat. Ia edarkan pandangannya, ia melihat Dika masih terlelap tidur disampingnya.
"Mas, bangun. Sepertinya kamu sudah telat ke kantor. Aku akan mandi deluan, setelah itu aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Oh my God, aku lupa ada meeting penting pagi ini. Oke kamu gak usah mandi dulu, biar aku saja yang mandi deluan. Kamu siapkan sarapan dan langsung bawa ke kamar aja."
"Oh iya aku juga hampir aja lupa."
"CUP!" satu kecupan mendarat dibibir Irena dilanjutkan lagi dengan ciuman yang lumayan lama hingga akhirnya Irena yang melepaskan ciuman itu karna mengingat suaminya akan ada meeting penting dikantor.
"Ingat ada meeting penting, Mas. HAHAHAA"
"Ayolah, sebentar saja." pinta Dika manja.
Irena langsung menggelengkan kepalanya, memakai kimono dan berjalan keluar kamar. Sementara Dika sedikit merasa frustasi karna adanya penolakan dari sang istri, memperlihatkan senyuman terpaksanya.
*****
"Sayang, kamu masih ingat permintaanmu untuk bekerja? Kamu masih berniat untuk bekerja kembali?" tanya Dika membuat Irena langsung mendongakkan kepalanya saat memakaikan dasi Dika. Tampak raut wajah sumringah tersenyum manja dari wajah Irena.
__ADS_1
"Aduhh sayang ... Senyuman itu! Buat Mas jadi gak ingin ke kantor dan memilih untuk memakanmu saat ini juga." ucap Dika merasa tergoda dengan senyuman mana istrinya.
"CUP!"
"Baiklah, Mas sudah memikirkannya. Kamu boleh bekerja tapi dengan syarat kamu gak boleh melupakan perhatianmu pada Mas, apalagi kewajibanmu sebagai istri seorang Andika Mahesa. Mas hanya gak mau aja kamu dirumah terus memikirkan tentang wanita itu lagi. Mas akan selalu menjaga mu dimana pun kamu berada. Jangan khawatir dan jangan pikirkan wanita itu lagi. Oke, janji!"
"CUP!" Irena membalas ciuman Dika
"Siap suamiku sayang, aku berjanji."
Mereka berjalan menuju depan rumah. Dika masuk kedalam mobil dan bergegas untuk pergi kekantor.
"Mas pergi dulu ya, kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung kabari Mas."
"Iya sayang, see you ..."
Irena kembali masuk kedalam rumah lalu menuju kamarnya. Mengambil laptopnya untuk memeriksa apakah ada balasan email dari beberapa perusahaan yang pernah ia coba lamar beberapa hari kemarin.
Ternyata ada email masuk dari salah satu perusahan yang memberitahukan bahwa ia diterima bekerja dan masuk mulai pagi ini.
"Wah, rezeki istri Sholeha nih. Baru aja Mas Dika ngasih izin boleh kembali bekerja, eh Alhamdulillah langsung ada panggilan kerja."
"Wait me my new job." teriaknya.
Irena tampak senang sekaligus bingung karna ia harus ke kantor hari ini juga, bahkan ia belum sempat untuk memberitahu suaminya.
Sesampainya tiba di kantor tempat ia mulai bekerja, Irena langsung menanyakan kepada resepsionis depan. "Mba, saya Shirena Indira. Karyawan baru sebagai Manajer Operasional. Kira-kira saya harus jumpai siapa ya?" tanya Irena
"Oh Ibu Irena ya. Ibu bisa jumpai Pak Bryan Mcknzie atasan Ibu. Bapak sudah menunggu Ibu di ruangannya. Ruangannya ... Mba masuk aja ke lorong jalan sebelah sana, nanti ada terlihat ruangan Pak Bryan, HRD sekaligus pemilik perusahaan kita ini."
"Hemm ... oke saya mengerti. Terimakasih ya Mbak. Perkenalkan saya Shirena Indira, kalau Mba atas nama siapa ya?"
"Oh saya Tania Mbak. Selamat bergabung ya. Semoga betah bekerja disini." jawab Tania.
"Iya pastinya Mbak, mohon bimbingannya juga ya. Baiklah, saya masuk kedalam dulu ya Mba." pamit Irena.
__ADS_1
Irena berjalan menuju ruang HRD sekaligus ruangan pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Irena mengetuk pintu saat tiba didepan ruangannya.
"Tokkk...Tokkk....Tokkk...."
"Masuk."
"Silahkan duduk, Ibu Shirena Indira."
Irena pun masuk kedalam. Saat berjalan beberapa langkah, Irena tampak tidak asing melihat pria yang ada dihadapannya saat itu. Ia menggelengkan kepalanya, seolah sedang berkhayal padahal semua yang ia lihat saat ini adalah nyata.
"Rudi.....?" ucap Irena pelan.
Irena terus melangkahkan kakinya hingga ia sekarang terduduk di depan meja kerja pria itu tanpa mengerjapkan matanya sama sekali.
"Halloo, Selamat siang Ren. Apa kabar?" ucap pria itu seakan telah mengenal lama dirinya.
"Rudi? Kamu benar Rudi? Aku gak lagi mimpi kan?"
Ya pria itu memang Rudi, Rudi Chaniago. Pria dimasa lalu Irena yang pernah sangat ia cintai namun meninggal tepat didepan matanya karna kecelakaan. Tapi sekarang ia hadir tepat dihadapannya kembali, gak kurang sesuatu apapun.
"Kamu bukannya su....dahh ..."
"Sudah mati?" tanya Dika.
"Ya aku memang sudah mati bagi semua orang. Biarlah mereka tetap berpikir seperti itu. Tapi ini memang aku Ren, Rudi mu. Pria yang dulu sangat mencintaimu, tapi yasudahlah semua itu hanya masa lalu. Mulai sekarang kamu bisa memanggilku Bryan. Ya beginilah hidupku sekarang, nama baru perusahaan baru dan kehidupan yang baru."
"Begitu juga dengan dirimu, dengan kehidupan rumah tangga bersama pria yang pasti begitu sangat kamu cintai, Andika Mahesa siapa yang gak mengenal dia dan mampu menolaknya. Aku rasa kamu juga seperti mereka, hingga akhirnya kamu lebih memilih menikah dengannya. Aku yang memilih mundur dengan berpura-pura sudah mati untuk kebahagiaan orang yang dulu sangat aku cintai."
"Kamu masih mengingat semua itu bukan?" tanya Dika dengan tatapan penuh arti. Tatapan cinta dan rindu yang sudah lama terpendam, namun tatapan itu beralih ke kalung liontin yang Irena pakai di lehernya, walaupun tidak terlihat sepenuhnya. Tapi Rudi masih sangat ingat dengan liontin pemberiannya itu.
.
.
.
__ADS_1
*semakin banyak like, semakin banyak vote, semakin banyak komen, semakin sering ufdet*
Thankyou Readers, Happy Reading 💙