Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 47


__ADS_3

Setelah pembicaraan ditelepon antara dirinya dan mertuanya, Irena akhirnya menyetujui usulan mertuanya untuk periksa ke dokter kandungan pagi ini. Irena mengedarkan pandangannya ke arah luar jendela kamar. Sejenak ia melamun memikirkan semua kegelisahan yang ia pendam, mulai dari kebiasaan baru suaminya yang selalu menerima telepon di pagi hari sebelum berangkat kerja yang sekilas pernah ia dengar.


"Dia bilang aku jemput? Jemput siapa? Apa setiap pergi kerja ada yang ia jemput? Tapi siapa?", gumam Irena dalam hatinya.


Dan yang kedua masalah dirinya yang tak kunjung hamil dan sekarang mertuanya mulai mempertanyakannya.


"Bagaimana kalau memang aku gak bisa punya anak? Bagaimana kalau ternyata aku tidak sehat?", ucap Irena pelan dengan wajah lesu menahan tangisnya.


Irena benar-benar dilanda rasa takut. Bagaimana kalau nasib mengatakan ia tidak sehat. Apakah mertua dan suaminya masih akan mempertahankannya?


Terlalu banyak pikiran buruk yang mulai menghampiri pikirannya, pemikiran yang belum tentu berakhir buruk tapi kini dirinya sudah ketakutan terlebih dahulu.


Ia mencoba untuk merilekskan pikirannya, ia berucap pelan, " tenang Ren, tenang!! Sekarang jangan pikirkan apapun dulu, ketakutan yang ada dipikiranmu saat ini belum tentu akan terjadi. Lebih baik sekarang kamu bersiap-bersiap karena sebentar lagi mertuamu akan datang menjemputmu. Oke rileks rileks huuhh .. hahhh .. huhhhhh ..."


*****


Rina akhirnya datang menjemput Irena. Irena masuk kedalam mobil Ibu mertuanya itu. Mereka mulai melaju menuju ke dokter kandungan, sambil bercerita, bercanda dan tertawa. Walaupun masih ada rasa ketakutan, ia merasa sedikit lega sejenak melupakan kegundahan hatinya.

__ADS_1


Ia berusaha menunjukkan sikap seolah dirinya baik-baik saja.


Ketika mereka melewati Coffee Shop, tanpa sengaja Irena melihat pria yang mirip suaminya. Namun suaminya gak sendiri, sekilas ia melihat ada seorang wanita seumuran dengan dirinya.


Irena yang sedikit penasaran pun ingin berhenti untuk memastikan apakah benar pria itu suaminya atau dia yang hanya salah lihat.


"Pak stop, stop Pak!", perintah Irena.


"Maaf Bu, Irena sangat ingin membeli cake di Coffee Shop itu. Kita berhenti sebentar ya Bu. Irena kesana dulu", pinta Irena.


"O-iya baiklah, Ibu juga mau ikut dong. Mau beli kopi juga", jawab Rina.


Langkah Irena terhenti, diam terpaku ditempatnya menyaksikan kejadian di depannya. Pandangannya sangat lekat tak lepas sedikitpun dari objek yang ada di didepan, kakinya lemas, jantungnya seakan di tusuk ribuan jarum, hatinya terluka dan dadanya sesak menahan tangis.


Rina Ibu mertuanya yang terlebih dahulu jalan masuk kedalam merasa menantunya tidak ada disampingnya pun berhenti dan berbalik. Ternyata Irena tertinggal dibelakang.


Ia menatap menantunya mematung terdiam gak bergerak sedikitpun dengan pandangan lurus ke arah salah satu meja pelanggan. Ia pun mengikuti arah pandangan mata Irena. Dirinya terkejut, tangan kirinya yang lagi memegang tas terkepal kuat beriringan dengan tangan kanannya yang menutupi mulutnya karna terkejut. "Astaghfirullah Dika!"

__ADS_1


Rasanya ia hampir pingsan, amarahnya meledak menghampiri anaknya itu mewakili menantunya menanyakan apa maksudnya berkelakuan seperti itu dengan wanita lain.


Rina hampir melangkah, namun terhenti saat tangannya di tarik oleh Irena.


"Kita pulang saja, Bu." Ajak Irena dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Kita harus kesana Ren, Ibu harus menanyakan kepada Dika apa maksudnya semua ini. Apa dia bermaksud berselingkuh di belakangmu, Nak!"


"Walaupun Dika itu anak Ibu, Ibu tak akan membelanya karna dia memang salah. Kamu jangan tahan Ibu. Ibu tau kamu pasti terluka, begitu juga dengan Ibu. Lepaskan Ibu Ren!" geram Rina.


.


.


.


Haloo Readers tercinta 💙

__ADS_1


Othor minta boom like nya dong 🙏🙏


Gak kasihan apa ya lihat Othor ngemis-ngemis minta di Like Like 😂😂😂


__ADS_2